Breaking

Post Top Ad

Your Ad Spot

16 September 2018

Analogi Gua Plato dan Dualisme Orang Orang Merdeka


Referensi pihak ketiga
Seperti kebanyakan filsuf pada zaman dahulu, Plato sering kali menggunakan perumpamaan atau analogi dalam menyampaikan ide  atau gagasannya.

Maksudnya adalah agar memudahkan  orang awam mencerna atau memahami maksud dari setiap ide atau gagasan yang dikemukakan.
Salah satu analogi Plato yang paling terkenal adalah Allegori of the Cave ( Perumpamaan Gua), dalam bukunya Republic. wikipedia

Dalam analogi ini, Plato bermaksud memperkenalkan gagasannya tentang realitas dan transendensi kepada pembaca nya.
Mungkin secara garis besar maksud perumpamaan beliau ini adalah bahwa apa pun yang kita lihat dan dengar, bisa saja hanya berupa refleksi dari realitas yang lebih tinggi.
Dari analisis  ini lah, saya terinspirasi untuk menulis artikel ini, dengan maksud mencoba mengaplikasikan Analogi Gua Plato dari sudut pandang  Kristen.

Lantas, seperti apa analogi Plato itu.? Serta bagaimana implementasinya dalam kehidupan kekristenan kita.?
 Here goes......

Di sini, Plato menganalogikan sekelompok orang yang ditawan sejak lahir.
 Tangan, kaki, dan kepala mereka dirantai sedemikian ketat, sehingga seumur hidup mereka hanya bisa menatap ke arah dinding gua depan mereka.

Di belakang mereka ada api unggun besar, sehingga  apabila ada orang atau binatang lewat, maka bayangannya akan terpantul pada dinding depan tawanan tersebut. Begitu pula suara dari orang atau binatang itu akan menggema sampai ke telinga para tawanan.

 Karena seumur hidup hanya melihat pantulan dan mendengar gema suara, para tawanan  sepakat memberi "nama" pada bayangan dan gema itu karena mereka menyangka bahwa semua itu merupakan kenyataan sesungguhnya

Selanjutnya Plato mengatakan;
 Bagaimana jika salah satu dari tawanan ini kita lepas dan menyeretnya keluar gua. Dia akan merasakan kesakitan yang amat sangat. Badan nya   akan terasa kaku setelah dilepaskan dari ikatan rantai yang membelenggunya sejak lahir. Matanya akan terasa perih melihat cahaya matahari. Dia  benar benar tidak akan merasa nyaman pada awal awal menjadi orang bebas.

Akan tetapi, lama kelamaan  tubuh dan mata si orang bebas ini akan menyesuaikan diri. Setelah melihat dunia luar gua, pengetahuannya bertambah dan dia mulai menyadari bahwa ada kenyataan yang melampaui bayangan dan gema di dalam gua. 

Semua yang dia lihat dan dengar selama ini bukanlah kenyataan sebenarnya, melainkan hanya sekadar Refleksi dari kenyataan yang lebih tinggi.


Seandainya orang yang sudah bebas ini kembali menemui teman temannya di dalam gua, apa yang akan terjadi.?

Bisa jadi, dia akan dikucilkan karena perbedaan persepsi mengenai kebenaran. 

Apabila dia mencoba melepaskan mereka, akan menimbulkan rasa sakit yang amat sangat sehingga kemungkinan dia akan dibenci, bahkan dibunuh.

Pada akhirnya, penilaian teman teman orang bebas ini tidak  akan ada bagus bagusnya terhadapnya. 

Karena pandangan mereka  yang tidak lagi searah, boleh jadi teman temannya yang hanya percaya kepada  bayangan dan gema suara, akan menganggap orang bebas ini sebagai orang linglung, atau sakit jiwa. 


Kira kira seperti itu analogi gua dari Plato.
Mungkin kita bertanya tanya, apa sebenarnya yang dimaksud Plato dalam analogi nya tersebut.?

Beberapa orang  menganalisis  perumpamaan gua Plato ini dalam beragam perspektif. 
Akan tetapi, saya memiliki opini tersendiri yang mana menurut saya, ada  korelasi yang sangat erat antara analogi tersebut dengan kehidupan religius umat manusia.
Dengan demikian, di sini saya akan coba mengimplementasikan-nya ke dalam konteks kehidupan Kekristenan.
Untuk lebih jelasnya, kita akan membahas analogi gua Plato step by step......
Bagian 1; 
Orang orang tawanan
Pertama tama kita membayangkan orang orang yang dikurung atau ditawan dalam gua.

Karena seumur hidup hanya menatap ke arah dinding gua, dan hanya melihat bayangan dan mendengar gema,  mereka mengira kalau bayangan dan gema itu adalah realitas sesungguhnya.
Dunia mereka hanya sebatas dinding di depan mereka. Begitu juga pengetahuan mereka hanya seputar bayangan dan gema.

Terkadang kita cenderung cepat  "mengamini" apa yang kita persepsi-kan  sebagai kenyataan sebenarnya.  
Padahal bisa saja ada kenyataan yang jauh lebih tinggi dan luas dari yang kita lihat dan dengar tersebut.
Umumnya manusia, pendapatnya tentang realitas selalu dibatasi oleh persepsi. 

Kehidupan religius leluhur kita pada zaman dahulu misalkan. 
Persepsi mereka tentang kebenaran hanya sebatas pada objek objek tertentu pada alam sekitar mereka. 
Kepercayaan mereka sangat identik dengan tawanan  gua dalam analogi Plato ini. 
Mereka tidak menyadari jika gunung, pohon besar, batu besar, dan objek objek tertentu lainnya yang mereka sembah merupakan karya cipta dari suatu Kuasa yang melampaui segala akal.

Terkadang beberapa kalangan berlagak angkuh dan merasa paling benar, padahal bisa saja apa yang kita yakini hanya sekadar refleksi dari kenyataan yang jauh lebih tinggi.

Bagian 2;
Orang Merdeka
Lebih lanjut Plato berkata; Bagaimana jika salah satu dari tawanan ini kita lepas dan menyeretnya keluar gua. Dia akan merasakan kesakitan yang amat sangat. Badannya kaku, dan matanya perih melihat  matahari.

Suatu proses reformasi memang selalu ada harga yang harus dibayar.  

Dalam Kekristenan, ada istilah yang disebut Lahir Baru.  
Arti yang paling konkret dari istilah tersebut adalah suatu pertobatan, yakni meninggalkan kehidupan lama dan menerima kehidupan baru.

Melupakan kebiasaan lama yang sudah dibawa sejak lahir, memang prosesnya tidak semudah membalik telapak tangan. 

Kita akan merasa  seperti orang yang baru dilepas dari ikatan rantai yang sudah sejak lama membelenggu. Merasa asing, tersakiti, dan kaku,  ketika pertama kali melalui proses lahir baru tersebut. 
Begitu juga dengan mata (hati) kita yang sudah lama dikuasai kegelapan dan ilusi dunia, akan terasa perih ketika dimasuki cahaya (kebenaran Kristus).

Tidak mustahil jika banyak orang Kristen  yang  sebenarnya sudah terhitung orang orang merdeka, namun gaya hidupnya masih seperti tawanan. 

Meskipun belenggu di tangan, kaki, dan kepala mereka sudah dilepas, akan tetapi mereka enggan  untuk meninggalkan keindahan dunia (kegelapan dan ilusi dalam gua). Karena memang suatu pertobatan itu proses awalnya tidaklah  mudah.

Inilah pola hidup orang orang Kristen yang belum betul betul lahir baru, yang saya sebut dualisme orang orang merdeka.  Disebut orang Kristen, sementara di sisi lain  gaya hidupnya tidak mencerminkan Kekristenan sama sekali. 

Bahkan sebagian orang Kristen  masih terus memegang teguh keyakinan leluhur mereka.  
Di tempat saya, Timor, ada istilah Uis Pah dan Uis Neno menjadi salah satu contoh dari dualistis kita orang orang merdeka. 

Hal ini jika menurut analogi Plato berarti, rantai di tangan, kaki, dan kepala  kita sudah dilepaskan, namun kita enggan untuk beranjak meninggalkan tempat nyaman kita dan terus menatap bayangan dan mendengar gema.  


Bagian 3;
Kembali Ke Gua
Pada bagian terakhir Plato mengatakan, seandainya orang yang kita lepas tadi kembali ke dalam gua menemui teman temannya, apa yang akan terjadi.?
Kemungkinan dia akan dibenci, bahkan dibunuh karena perbedaan keyakinan atau persepsi mengenai realitas di luar dan di dalam gua.

Menjadi pembawa kabar baik  merupakan suatu pilihan hidup yang bisa dikatakan ekstrem.  keras, menyedihkan, dan tragis. 

Si pembawa kabar baik memberitahukan apa yang dia saksikan mengenai dunia maha lain yang tidak dapat kita lihat dengan mata yang masih terpaku pada bayangan bayangan  ilusi di dinding gua. 

Akan tetapi si pembawa kabar baik ini umumnya sulit mengkomunikasikan kebenaran realitas di luar gua yang melampaui akal itu, sehingga bisa jadi dia dianggap orang gila atau sakit jiwa.

Di dalam Alkitab, kita dapat merujuk  fakta yang dialami orang bebas yang kembali ke dalam gua, dalam analogi Plato tersebut pada kisah hidup  para Hamba Tuhan, mulai dari Nabi Nabi, Tuhan Yesus, para Rasul, hingga para Penginjil.
Banyak Nabi Nabi, dan Rasul Rasul  yang memiliki kisah hidup yang tidak jauh dari intimidasi, caci maki, penolakan, bahkan pada akhirnya dibunuh dengan cara yang tidak manusiawi.

Itulah sebabnya hanya sedikit orang yang benar benar mendedikasikan segenap hidupnya menjadi pembawa kabar baik untuk keselamatan umat manusia. 

Sementara hamba yang lain, asal dapat bayaran sudah cukup, karena sulit untuk mengambil risiko seperti yang dialami pembawa pembawa kabar baik terdahulu.

Pada akhirnya sebagai orang Kristen, masing masing kita renungkan sendiri.
Kita memang sudah menjadi orang bebas atau merdeka tentunya. Namun, apakah kita sudah benar benar lahir baru, atau masih tetap berputar putar di dalam gua dan enggan meninggalkan keindahan bayangan bayangan ilusi kegelapan gua.?
Jawabnya berpulang pada niat  masing masing kita untuk berusaha hidup dalam terang Kristus.


©2018 Elangmutis.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar di sini

Post Top Ad

Your Ad Spot

Pages