Breaking

Post Top Ad

Your Ad Spot

26 Agustus 2018

Dewa Langit; Interpretasi Yang Keliru Mengenai Uis Neno


Sejak zaman dahulu, manusia sudah cenderung mengikatkan diri pada kesakralan..  Mulai dari penetapan tempat sakral, waktu sakral, hingga upacara atau ritual  sakral.
Oleh karena itu, Mircea Eliade, seorang antropolog sekaligus filsuf,  pertama kali mengetengahkan gagasan  mengenai manusia sebagai makhluk religius (Homo Religiosus).

Menurut Eliade, manusia sejak awalnya cenderung bersifat religius.  Manusia ingin bisa bersentuhan dengan zat yang lebih tinggi.  Dengan demikian maka  mereka tergerak melakukan sakralisasi dengan menetapkan hal hal sakral di lingkungan sekitar.

Mungkin gagasan inilah yang menjadi acuan beberapa penulis yang sering saya jumpai dalam beberapa artikel  yang bersinggungan  dengan kehidupan religius masyarakat Timor. 
Namun, yang  menjadi polemik adalah interpretasi yang keliru mengenai Uis Neno, yang selalu diartikan sebagai Dewa Langit.

Dalam tulisan ini, saya hanya ingin meluruskan, bahwa tidak sepatutnya Uis Neno diterjemahkan secara "harfiah" sebagai dewa langit, yang sebetulnya jauh panggang dari api.
Hal ini  dikarenakan,  mereka terkesan asal menulis tanpa mencari tahu sebab_akibat, dan waktu (kenapa dan kapan)  julukan Uis Neno ini mulai dipergunakan.

Para leluhur masyarakat Timor  zaman dahulu, seperti gagasan Mircea Eliade,  memiliki corak kehidupan religius  tersendiri yang dikenal dengan sebutan  Fua Pah. 
Fua Pah ini dapat diartikan sebagai bentuk penyembahan kepada penghuni alam (Pah Tuaf), yang pada praktiknya menjurus pada ciri kepercayaan Animisme.

Yang harus digaris bawahi adalah bahwa;  Sejarah kehidupan religius masyarakat Timor tidak pernah menyebutkan nama, rupa, dan atau adanya penyembahan kepada dewa dewi. 
Sebagai esensi keyakinan dalam Fua Pah,  mereka mengenal  Pah Tuaf  atau Uis Pah  yang harus dihormati atau dijaga perasaannya melalui se-sajian dalam berbagai ritual.

Semenjak masuknya agama Kristen, perlahan lahan Fua Pah ini mulai ditiadakan.  Begitu pula dengan tempat tempat ritual  yang sudah jarang dikunjungi lagi.  Sebab  tempat tempat yang dahulunya dianggap sakral tersebut sudah  tidak lebih  sebagai peninggalan masa Kegelapan.

Penyebaran  ajaran Kristen di Timor berkembang pesat dan menjangkau hingga pelosok pelosok pulau Timor seiring diterjemahkannya Alkitab dalam bahasa Dawan.
Dari terjemahan tersebut,  nama Uis Neno mulai dikenal, dipercaya, dan diagung-agungkan sebagai sosok tunggal pencipta sekaligus  penguasa alam semesta dan segala isinya.

Nah, dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa, sebutan Uis Neno ada setelah masuknya ajaran agama Kristen. Hal ini mengindikasikan  jika  Uis Neno  adalah Tuhan Allah (dalam Alkitab), bukan dewa langit, serta  tidak ada kaitannya dengan kepercayaan leluhur masyarakat Timor dalam Fua Pah.

Walau tidak setuju,  saya tetap menghargai pendapat beberapa penulis yang terlanjur menerjemahkan Uis Neno secara harfiah sebagai dewa langit.
Saya paham,  mereka tentu mempunyai alasan tersendiri yang melatarbelakangi opini tersebut.
Salah satu hal yang mempengaruhi  pendapat umum mengenai Uis Neno adalah adanya dualisme kepercayaan yang berkembang dalam masyarakat Timor, antara Uis Pah dan Uis Neno.  Yang pada artikel sebelumnya; kekristenan-dan-gaya-hidup-konservatif-masyarakat-Timor-dalam-'balutan'-adat-yang-masih-terus-eksis.html  ,   saya coba mengulas  sedikit mengenai praktik kepercayaan leluhur (Uis Pah) yang masih terus dipertahankan, sementara di sisi lain, mereka merupakan penganut agama Kristen.

Dengan adanya dualisme kepercayaan tersebut, bisa saja membuat beberapa kalangan yang belum betul betul memahami sejarah kehidupan religius masyarakat Timor, akan sulit, bahkan keliru ketika hendak menginterpretasikan sebutan Uis Neno.
Masalahnya terletak pada Uis Pah yang sudah dikenal luas sebagai Penguasa Bumi atau Dewa Bumi. Dengan demikian, tentu Uis Neno tidak lain adalah Penguasa Langit atau Dewa Langit.


Demikian sedikit klarifikasi dari saya tentang interpretasi yang keliru mengenai Uis Neno, yang tidak seharusnya diterjemahkan secara harfiah. Karena sebutan Uis Neno mulai ada semenjak Alkitab diterjemahkan ke dalam bahasa Dawan.




©2018 Mutis.com


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar di sini

Post Top Ad

Your Ad Spot

Pages