![]() |
| Foto:Renungan harian Kristen./ |
Alkitab penuh dengan wahyu dan sejarah, perintah dan nasihat, ajaran dan arahan.
Tidak terlalu banyak kitab Perjanjian Lama dalam Alkitab yang mengandung pergulatan filosofis, yang mengantar kita ke kamar-kamar batin dari pergulatan dialektis penulis dengan masalah-masalah universal kehidupan yang terdalam. Dalam hal ini, Pengkhotbah dan Amsal adalah pengecualian.
Pengkhotbah adalah salah satu kitab, selain kitab Amsal yang bisa dikatakan paling jujur dan sangat relevan terkait realitas kehidupan sesungguhnya.
Pengkhotbah, dalam bahasa Ibrani dikenal sebagai Kohelet, dan Ecclesiastes dalam bahasa Inggris; adalah salah satu kitab dalam Alkitab yang ditulis berabad abad sebelum Masehi.
Sampai saat ini, kitab Pengkhotbah masih diperdebatkan banyak sarjana Alkitab terkait siapa penulisnya.
Sebagian sarjana mengaitkannya dengan raja Salomo, sementara yang lain meragukannya.
Terlepas dari kontroversi yang ada siapa pun penulisnya, mari kita fokus pada isi kitab ini yang diawali dengan kata yang sangat menarik:
"Segala sesuatu sia sia"
Inti kitab Pengkhotbah (Kohelet) adalah gagasan tentang Havel yang berarti "kesia-siaan, atau ketidak-berartian". Havel juga berarti embun atau uap: Bahwa hidup adalah sia sia, seperti embun atau uap yang ada sesaat, lalu menghilang.
Tulisan ini tentu menimbulkan kesan bahwa, Kohelet merupakan seseorang yang *nihilis, dan ajarannya cenderung pesimistis.Dari kesan tersebut, banyak orang yang enggan membaca kitab Pengkhotbah, dikarenakan bertentangan dengan harapan, impian atau angan angan masa depan mereka.
Akan tetapi, fakta sains dan realitas kehidupan membuktikan kebenaran gagasan atau ajaran Kohelet: Bahwa hidup ini akan mengalir menuju sesuatu yang saya lebih suka menyebutnya sebagai ketiadaan.
Faktanya, setelah meninggal, tak seorang pun membawa serta apa pun yang diusahakan-nya selama ia hidup Seperti kata Pengkhotbah; semuanya sia sia!
Selain kesia-siaan, Kohelet juga mengatakan:
"segala sesuatu ada waktunya".
Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal;
Ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam; dan seterusnya, (baca Pengkhotbah 3:1-8).
Maksud Kohelet adalah; bahwa hidup hanya serangkaian momen, dan masing masing momen akan mengalir ke momen berikutnya.
Hal ini bukan bermaksud bahwa hidup itu tidak berarti, tetapi hanya untuk menunjukkan kepada kita bahwa hidup itu sesuatu yang cair. Layaknya pasang surut laut; bukan berarti tidak memiliki tujuan, tetapi tujuannya adalah mengalir.
Pengkhotbah mengajarkan kepada kita agar menjaga keseimbangan hidup; bahwa, tidak seharusnya kita memaksakan diri untuk melawan atau pun mengubah arah arus yang mengalir yang berarti, momen yang terjadi saat ini, tidak bisa kita ubah menjadi yang lain: Karena segala sesuatu ada waktunya.
Dalam hal ini, Kohelet tidak mengangkat satu momen lebih dari momen yang lain; tertawa lebih baik dari menangis, atau cinta lebih baik dari benci dan lainnya. Ia hanya mengatakan bahwa semuanya (cinta, benci, tertawa, menangis) akan terjadi, dan tentunya masing masing memiliki momen-nya sendiri.
Makna inti dari pengajaran Pengkhotbah adalah untuk santai menjalani kehidupan ini.
Kita tidak akan bisa, atau pun berhak untuk mengubah apa pun yang ada, atau sementara terjadi, menjadi yang lain.
Kita hanya dianjurkan untuk bersantai di dalamnya, dan dengan sendirinya kita akan dibawa kepada (momen) apa yang berikutnya. Mungkin saja ini bertentangan dengan *intuisi, tetapi sains membuktikannya dalam teori pasang surut laut.
Kitab Pengkhotbah sangat ideal sebagai referensi hidup yang paling tepat untuk generasi kita saat ini, karena ia menawarkan kepada kita cara untuk menjalani kehidupan ini dengan bijak di dunia yang "liar" seperti yang kita alami saat ini, dengan anjuran sederhana, praktis, dan menarik;
*Nihilis = Paham aliran filsafat sosial yang tidak mengakui nilai nilai sosial, kemanusiaan, keindahan, dan segala bentuk kekuasaan.
Mereka merasa berhak hidup menurut kemauan sendiri.
*Intuisi = kemampuan mengetahui atau memahami sesuatu tanpa perlu dipelajari.
"Makanlah dengan sederhana, minum dengan bijak, temukan pekerjaan yang memberimu sukacita, dan kembangkan beberapa persahabatan yang penuh kasih".
Source: my Jewish Learning
Mereka merasa berhak hidup menurut kemauan sendiri.
*Intuisi = kemampuan mengetahui atau memahami sesuatu tanpa perlu dipelajari.
©2020 Jurnal Beta


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar di sini