Ketika musim durian dan musim rambutan datang silih berganti, tetapi status kamu masih bertahan di angka Satu, maka terkadang penilaian-penilaian negatif untuk diri sendiri mulai hadir dan bikin sesak rongga dada.
Mempersalahkan diri sendiri atas nasib yang tak se-beruntung orang lain khususnya dalam hal pendamping hidup, justru hanya akan memperburuk keadaan diri sendiri.
Sehingga adakalanya pertanyaan kapan kawin kedengaran seperti menabur garam dan cuka di atas luka bakar, jika pasangan hidup yang diimpikan tidak juga menampakkan batang hidungnya, sedangkan waktu terus saja berlalu tanpa mampu kamu hentikan.
Terkadang timbul reaksi yang berbeda dari setiap orang terhadap realita hidup yang satu ini. Ada yang pasrah saja menerima kenyataan hidup menyendiri sambil berharap akan ada seseorang yang mungkin sudah dipersiapkan Tuhan baginya.
Namun tidak sedikit kaum lajang yang mulai mencari-cari kesalahan diri, bahkan ada yang malah mempersalahkan orang lain atas nasib sial yang menimpanya tersebut.
Seperti misalnya, mempersalahkan ibu yang sudah mengandung, atau ayah yang memang tidak bisa mengandung. 😀
Bahkan adakalanya ada yang mulai beranggapan kalau kehadiran jodoh nya terhambat akibat guna guna mantan.
Padahal tanpa sadar, pola pikir pola pikir seperti ini yang justru Memblokir jodoh kamu sendiri.
Untuk mengetahui lebih detail gaya hidup dan pola pikir apa saja yang selalu menjadi penghalang bagi jodoh kamu, berikut ini ada 5 faktor yang kamu yakini benar, tapi justru hal itulah yang menjadi palang pintu bagi tamu yang selama ini kamu nanti-nantikan.
Here goes.......
Terlena dengan kata "Menanti yang Terbaik dari Tuhan."
Sungguh, saya salut dengan prinsip seperti ini, dan juga turut gembira bahwa mereka yang punya pemikiran realistis seperti ini umumnya terkesan menikmati kesendirian.Akan tetapi seiring berlalunya waktu, jika yang dinantikan tidak kunjung tiba, maka meskipun masih setia dengan pemikiran yang sama, namun jauh di dasar hati tidak ada lagi keikhlasan terhadap prinsip tersebut.
Apabila kamu punya keyakinan dengan prinsip "menanti yang terbaik dari Tuhan", maka cobalah untuk merenungkan kata Ora Et La Bora.
Tidak ada agama mana pun di dunia yang mengajarkan orang untuk berdoa lalu duduk berdiam diri menanti hasil doanya turun langsung dari langit kan? Oleh sebab itu, tidak ada salahnya kamu berpegang teguh pada prinsip menanti yang terbaik dari Tuhan. Tetapi bila tidak ada realisasi dari prinsip tersebut, maka hal itu sama saja kamu sementara melipat kedua tangan tetapi berusaha untuk memeluk gunung.
Pada umumnya mereka yang berulang kali gagal mendapatkan pasangan hidup mempunyai prinsip seperti ini, yang pada akhirnya terlena dengan harapan bahwa jodoh itu akan datang dengan sendirinya.
Padahal kamu juga pasti tau bahwa di dunia ini tidak ada yang gratis. Bahkan mie instan pun perlu keluar biaya baru bisa memperolehnya. Sama halnya dengan jodoh, kamu harus berusaha menjemputnya. Bukan hanya berharap datang jodoh tapi kamu terus berlindung di balik "tembok" prinsip kamu.
Andai kata menanti yang terbaik dari Tuhan saat ini terasa tak berujung, maka kamu tidak perlu kecewa lalu meninggalkan keyakinan tersebut, tetapi keluarlah dari kurungan prinsip kamu itu dan lakukan sesuatu untuk harapan tersebut dengan mencari dan menemukan pasangan hidupmu.
Ada beberapa cara sederhana untuk membantu kamu mencari dan menemukan jodoh kamu, dan salah satu yang menurut saya sangat mudah untuk kamu coba adalah Memperluas jaringan relasi kamu.
Apabila selama ini kamu hanya bergaul akrab dengan orang-orang yang kamu kenal, maka cobalah untuk 'berani' terbuka dengan orang-orang baru dan menjalin persahabatan dengan mereka. Tentunya dengan catatan bahwa tidak semua orang bisa kamu jadikan sahabat, karena tidak semua manusia itu baik.
Terlalu Banyak Tingkah Menentukan Pasangan Hidup.
Apabila kamu punya keyakinan dengan prinsip "menanti yang terbaik dari Tuhan", maka cobalah untuk merenungkan kata Ora Et La Bora.
Tidak ada agama mana pun di dunia yang mengajarkan orang untuk berdoa lalu duduk berdiam diri menanti hasil doanya turun langsung dari langit kan? Oleh sebab itu, tidak ada salahnya kamu berpegang teguh pada prinsip menanti yang terbaik dari Tuhan. Tetapi bila tidak ada realisasi dari prinsip tersebut, maka hal itu sama saja kamu sementara melipat kedua tangan tetapi berusaha untuk memeluk gunung.
Pada umumnya mereka yang berulang kali gagal mendapatkan pasangan hidup mempunyai prinsip seperti ini, yang pada akhirnya terlena dengan harapan bahwa jodoh itu akan datang dengan sendirinya.
Padahal kamu juga pasti tau bahwa di dunia ini tidak ada yang gratis. Bahkan mie instan pun perlu keluar biaya baru bisa memperolehnya. Sama halnya dengan jodoh, kamu harus berusaha menjemputnya. Bukan hanya berharap datang jodoh tapi kamu terus berlindung di balik "tembok" prinsip kamu.
Andai kata menanti yang terbaik dari Tuhan saat ini terasa tak berujung, maka kamu tidak perlu kecewa lalu meninggalkan keyakinan tersebut, tetapi keluarlah dari kurungan prinsip kamu itu dan lakukan sesuatu untuk harapan tersebut dengan mencari dan menemukan pasangan hidupmu.
Ada beberapa cara sederhana untuk membantu kamu mencari dan menemukan jodoh kamu, dan salah satu yang menurut saya sangat mudah untuk kamu coba adalah Memperluas jaringan relasi kamu.
Apabila selama ini kamu hanya bergaul akrab dengan orang-orang yang kamu kenal, maka cobalah untuk 'berani' terbuka dengan orang-orang baru dan menjalin persahabatan dengan mereka. Tentunya dengan catatan bahwa tidak semua orang bisa kamu jadikan sahabat, karena tidak semua manusia itu baik.
Terlalu Banyak Tingkah Menentukan Pasangan Hidup.
Salah satu contoh yang sangat memprihatinkan dari poin ini yang sering kali saya dengar dari banyak muda-mudi zaman sekarang adalah perbaiki keturunan. Istilah perbaiki keturunan selalu merujuk pada fisik dan latar belakang seseorang yang mau dijadikan pilihan pasangan hidup.
Umumnya mereka yang menganut pola pikir seperti ini mempunyai standar sendiri-sendiri untuk orang yang akan menjadi pasangan hidupnya. Standar tersebut selalu berorientasi pada rupa, warna kulit, kedudukan, status sosial, mapan, kaya dan standar tinggi lainnya.
Terlalu ba-tingkah mengharapkan Mr. Sempurna atau Mrs. Sempurna hanya justru mempersulit diri sendiri untuk memperoleh pasangan hidup.
Terlalu Fokus memikirkan Tanggung Jawab.
Umumnya mereka yang menganut pola pikir seperti ini mempunyai standar sendiri-sendiri untuk orang yang akan menjadi pasangan hidupnya. Standar tersebut selalu berorientasi pada rupa, warna kulit, kedudukan, status sosial, mapan, kaya dan standar tinggi lainnya.
Terlalu ba-tingkah mengharapkan Mr. Sempurna atau Mrs. Sempurna hanya justru mempersulit diri sendiri untuk memperoleh pasangan hidup.
Terlalu Fokus memikirkan Tanggung Jawab.
"Bahwa, saya akan menikah setelah saya sukses, atau saya hanya mau menikah kalau saya sudah punya rumah sendiri".Pemikiran pemikiran seperti ini kedengaran memang prinsip yang baik, sangat baik malah.
Namun, adakalanya banyak orang yang sibuk mengejar impiannya, justru lupa dengan waktu yang terus berlalu dan usia yang semakin bertambah tua.
Banyak pria dan wanita yang terus menunda untuk menikah sampai akhirnya menyandang predikat bujang lapuk dan perawan tua, hanya karena rasa khawatir dan ketakutan yang berlebihan: " Saya mau kawin pakai duit apa?, atau habis menikah mau makan apa, dan tinggal di mana?"
Orang yang menikah setelah sukses itu hebat, memang. Tetapi fakta dari beberapa pasangan yang mengambil komitmen untuk menikah walau tak punya apa-apa dan sepakat untuk memulai semuanya dari nol, menjadi bukti jika materi tidak selalu harus dijadikan standar untuk mengukur suatu hubungan.
Oleh karena itu, berpikirlah se-rasional mungkin . Jodoh itu hal yang sebenarnya tidak rumit sangat. Hanya saja cara berpikir kita yang membesar-besarkan sesuatu yang belum tentu terjadi, sehingga mempersulit jodoh itu tak kunjung datang.
Tidak seimbang menata diri
Namun, adakalanya banyak orang yang sibuk mengejar impiannya, justru lupa dengan waktu yang terus berlalu dan usia yang semakin bertambah tua.
Banyak pria dan wanita yang terus menunda untuk menikah sampai akhirnya menyandang predikat bujang lapuk dan perawan tua, hanya karena rasa khawatir dan ketakutan yang berlebihan: " Saya mau kawin pakai duit apa?, atau habis menikah mau makan apa, dan tinggal di mana?"
Oleh karena itu, berpikirlah se-rasional mungkin . Jodoh itu hal yang sebenarnya tidak rumit sangat. Hanya saja cara berpikir kita yang membesar-besarkan sesuatu yang belum tentu terjadi, sehingga mempersulit jodoh itu tak kunjung datang.
Tidak seimbang menata diri
Pada umumnya mereka yang baru sepintas melihat tampilan fisik atau rupa seseorang lalu nekad mengambil keputusan untuk menjalin hubungan jangka panjang, pada akhirnya kecewa.Pada akhir akhir ini banyak orang yang sangat berhati-hati dalam memilih pasangan hidupnya, karena yang diharapkan bukan hanya bisa dipercaya menjadi teman setia sehidup semati, tapi bisa juga diandalkan sebagai ibu atau ayah yang mampu memberi teladan yang baik untuk anak anak mereka kelak.
Kepribadian kamu merupakan faktor terpenting yang paling menentukan pasangan kamu nyaman dan bertahan atau justru frustrasi lalu pergi menjauh.
Cantik dan ganteng itu merupakan daya tarik nomor satu, entah itu cantik atau ganteng hasil kamera editan, pun itu tidak menjadi soal. Yang penting kamu berhasil membuat seseorang mendekat.
Namun, jika seseorang sudah tertarik oleh sisi luar kamu dan mendekat, maka yang jadi pusat perhatian dia selanjutnya adalah kepribadian atau sisi dalam dari diri kamu.
Apabila orang tersebut menemukan kepribadian kamu tidak seimbang dengan rupa, otomatis dia mulai ragu-ragu untuk memilih kamu jadi pasangan hidupnya.
Oleh sebab itu, perhatian kamu haruslah seimbang antara kedua hal tersebut.
Jika selama ini kamu mempunyai kebiasaan mulut kasar, maka cobalah untuk bersikap ramah dengan orang lain. Apabila kamu sulit untuk mendapatkan pasangan hidup hanya karena sudah terlanjur dicap wanita murahan atau pria berengsek, maka cobalah untuk berubah dan buktikan kepada orang-orang bahwa kamu tidak seburuk itu, dengan menata pribadi kamu seganteng atau secantik mungkin.
Trauma dengan pengalaman pahit masa lalu.
Kepribadian kamu merupakan faktor terpenting yang paling menentukan pasangan kamu nyaman dan bertahan atau justru frustrasi lalu pergi menjauh.
Cantik dan ganteng itu merupakan daya tarik nomor satu, entah itu cantik atau ganteng hasil kamera editan, pun itu tidak menjadi soal. Yang penting kamu berhasil membuat seseorang mendekat.
Namun, jika seseorang sudah tertarik oleh sisi luar kamu dan mendekat, maka yang jadi pusat perhatian dia selanjutnya adalah kepribadian atau sisi dalam dari diri kamu.
Apabila orang tersebut menemukan kepribadian kamu tidak seimbang dengan rupa, otomatis dia mulai ragu-ragu untuk memilih kamu jadi pasangan hidupnya.
Oleh sebab itu, perhatian kamu haruslah seimbang antara kedua hal tersebut.
Jika selama ini kamu mempunyai kebiasaan mulut kasar, maka cobalah untuk bersikap ramah dengan orang lain. Apabila kamu sulit untuk mendapatkan pasangan hidup hanya karena sudah terlanjur dicap wanita murahan atau pria berengsek, maka cobalah untuk berubah dan buktikan kepada orang-orang bahwa kamu tidak seburuk itu, dengan menata pribadi kamu seganteng atau secantik mungkin.
Trauma dengan pengalaman pahit masa lalu.
Pengalaman buruk masa lalu, bila dibiarkan mengendalikan emosi dan pikiran kita, akan menjadi biang kerok tidak menentu-nya masa depan kita.
Mereka yang pernah berulang kali dikhianati lalu ditinggal pergi pasangan kekasihnya, terkadang merasa bimbang dan takut untuk mengambil komitmen tentang sebuah hubungan baru, karena takut tersakiti lagi.
Trauma masa lalu bila terus dipelihara, akan menjadi batu sandungan untuk kamu bisa mendapatkan pasangan hidup. Karena luka lama yang terus membekas di dalam benak kamu, tentu akan memunculkan asumsi negatif terhadap semua orang yang hendak mencoba untuk mendekati kamu. Apabila kamu terus mempertahankan keyakinan bahwa semua lelaki itu Berengsek atau semua cewek itu matre, jalang/nakal, maka sudah bisa dipastikan kamu akan sulit menemukan pasangan hidup.
Trauma atau luka batin akibat cinta yang tidak sehat di masa lalu yang terus membayangi kamu, tentu tidak mudah untuk disembuhkan. Tetapi saya percaya, jauh di lubuk hatimu ada kerinduan akan cinta yang bisa membuat kamu bahagia bukan?
Andai betul, maka bangkit sudah dari masa lalu kamu, dan berlarilah menjemput kebahagiaan itu. Jangan pedulikan berapa kali kamu terjatuh saat mencoba. Ingatlah bahwa kejadian hari kemarin tidak mungkin sama dengan hari ini, esok dan seterusnya.
©2016 Mutis.com
Mereka yang pernah berulang kali dikhianati lalu ditinggal pergi pasangan kekasihnya, terkadang merasa bimbang dan takut untuk mengambil komitmen tentang sebuah hubungan baru, karena takut tersakiti lagi.
Trauma masa lalu bila terus dipelihara, akan menjadi batu sandungan untuk kamu bisa mendapatkan pasangan hidup. Karena luka lama yang terus membekas di dalam benak kamu, tentu akan memunculkan asumsi negatif terhadap semua orang yang hendak mencoba untuk mendekati kamu. Apabila kamu terus mempertahankan keyakinan bahwa semua lelaki itu Berengsek atau semua cewek itu matre, jalang/nakal, maka sudah bisa dipastikan kamu akan sulit menemukan pasangan hidup.
Trauma atau luka batin akibat cinta yang tidak sehat di masa lalu yang terus membayangi kamu, tentu tidak mudah untuk disembuhkan. Tetapi saya percaya, jauh di lubuk hatimu ada kerinduan akan cinta yang bisa membuat kamu bahagia bukan?
Andai betul, maka bangkit sudah dari masa lalu kamu, dan berlarilah menjemput kebahagiaan itu. Jangan pedulikan berapa kali kamu terjatuh saat mencoba. Ingatlah bahwa kejadian hari kemarin tidak mungkin sama dengan hari ini, esok dan seterusnya.
©2016 Mutis.com

