![]() |
| Referensi; youtube.com |
Pada umumnya, Timor tidak dapat dipisahkan dengan beberapa kebiasaan yang sudah begitu melekat erat dalam sanubari orang-orangnya. Bahkan sebagian orang yang berasal dari luar Timor tapi pernah hidup dan sempat beradaptasi dengan budaya Timor, pasti sudah tidak asing lagi di telinganya setiap kali mendengar kata Pesta, Sirih-Pinang, Sopi, dan Dansa.
Tetapi bagi mereka yang baru menginjakkan kaki di Timor, tentu akan mulai meragukan pendapat umum bahwa orang-orang Timor tidak semiskin seperti yang ada dalam data statistik pemerintah setelah menyaksikan tradisi pesta orang Timor.
Betapa tidak, anggaran untuk satu pesta perkawinan di Timor dapat menjamin satu keluarga kecil bisa makan 4 sehat 5 sempurna selama kurang-lebih 5 sampai 6 bulan dan bahkan lebih.
Belum lagi kalau biaya diadakannya pesta tersebut dihitung mulai dari "pesta-pesta kecil" sebelum dan sesudah tolas kabin.
Ada beberapa tahapan pesta kecil sebelum diadakannya tolas kabin yang saya rangkum sebagai berikut;
Bua Puah Pisa Maon Tuka (Kumpul Keluarga)
Meski sebenarnya masih termasuk bagian dari pesta perkawinan (Tolas Kabin), akan tetapi kumpul keluarga tidak bisa dikatakan pesta, karena hal ini diadakan oleh masing-masing keluarga dari kedua mempelai secara terpisah dan sesederhana mungkin tanpa dansa-dansa.
Namun yang menjadi pertimbangan saya untuk mencantumkan kumpul keluarga sebagai salah satu dari beberapa rangkaian pesta-pesta kecil adalah faktor budget.
Kumpul keluarga diperkirakan bisa berlangsung 5 sampai 6 kali dalam suatu Tolas Kabin.
Dengan demikian, bisa kita bayangkan berapa anggaran yang dikeluarkan yang empunya Hajatan tersebut khusus untuk makan-minum dsb.
Meski pun terkesan merugikan jika dinilai dari sudut pandang ekonomi, tetapi inilah tradisi kita, yang dari padanya kita mendapat sebutan manusia-manusia yang berbudaya.
Tujuan utama dari Bua Puah Pisa Maon Tuka adalah untuk membantu meringankan tanggungan anggota Famili yang punya hajatan tersebut.
Sebab yang terpenting dari kumpul keluarga adalah bukan pada materi yang dikumpulkan, tetapi rasa solidaritas antar famili yang selalu diutamakan.
Sulat Amnasi (Lamaran dari Orang Tua Mempelai laki-laki)
Di beberapa daerah lain, biasanya lamaran seperti ini hanya dihadiri oleh orang tua mempelai laki-laki, plus orang tua mempelai wanita dan beberapa saksi dari tokoh agama atau tokoh masyarakat dan pemerintah setempat, jika memang perlu.
Akan tetapi berbeda dengan lamaran menurut tradisi suku Dawan yang bisa dikatakan nyaris sama meriahnya dengan tolas kabin.
Meski hanya dihadiri oleh kerabat keluarga dekat dari kedua mempelai, akan tetapi sulat amnasi bisa di anggap merupakan pesta terbesar ketiga dari bunuk hauno(tunangan) dan tolas kabin.Rangkaian acara dalam prosesi sulat amnasi hanya sederhana namun biaya untuk tolas sulat amnasi jika dihitung-hitung bisa setengah dari budget tolas kabin.
Bunuk Hauno (Tunangan)
Tunangan dalam tradisi Dawan merupakan pesta terbesar kedua dari tolas kabin, karena tamu undangan yang jauh lebih banyak dari tolas Sulat Amnasi, sehingga anggaran yang dikeluarkan pun tentu sedikit lebih besar dari tolas sebelumnya (Sulat Amnasi).
Misalnya dalam tolas sulat amnasi, undangan yang hadir hanya mungkin keluarga dekat dari kedua mempelai. Tetapi setelah berlanjut ke bunuk hauno, keluarga-keluarga dekat tersebut menyebarkan undangan lagi kepada orang-orang terdekat mereka. Sehingga dapat kita bayangkan kemeriahan dari tahapan pesta bunuk hauno tersebut.
Terkadang demi menghemat biaya, ada sebagian orang yang membuat kebijakan dengan cara menyisipkan prosesi tunangan ini beberapa menit atau kurang lebih satu jam sebelum resepsi pernikahan, sehingga tidak perlu lagi hitung-hitungan soal anggaran pesta Pertunangan karena sudah di gabungkan dalam satu paket pesta.
Namun, ada beberapa kalangan yang ingin mendapat sanjungan atau ujian, dengan berusaha mengadakan Pesta perkawinan tahap demi tahap, dengan masing-masing tahap berlainan waktu. Pujian tersebut sering berupa sebutan "Atone" yang berarti laki atau jantan.
Tolas kabin (Pesta Perkawinan)
Tolas kabin merupakan final dari semua rangkaian pesta-pesta kecil di atas.
Tolas kabin diawali dengan pembuatan teng(tenda), yang sering diadakan seminggu sebelum hari pernikahan.
Artinya seminggu sebelum tolas kabin, keluarga dari mempelai laki-laki sudah harus hadir dan berkumpul dengan keluarga mempelai wanita di rumah kediaman mempelai wanita.
Perlu diketahui bahwa pesta perkawinan suku Dawan hanya boleh diadakan di rumah mempelai wanita.
Malam Pertama Tolas Kabin disebut pesta adat, atau sering disebut juga dengan istilah malam Picah Bok.
Saya sendiri tidak tau pasti istilah picah bok tersebut asal-muasalnya dari mana. Namun dalam budaya suku Dawan, pada malam adat tolas kabin ini merupakan malam prosesi penyerahan Oe Maputu Ai Malala atau Belis.Malam pertama Tolas Kabin hanya dihadiri oleh keluarga-keluarga terkait dari kedua mempelai. Akan tetapi kemeriahan acara tersebut bisa berlangsung hingga pagi hari, oleh karena adanya satu mata acara yang paling dinanti-nantikan oleh kalangan muda-mudi dan sebagian tua-tua keladi, yakni acara dansa.
Entah sejak kapan tradisi dansa ini hadir dan "menodai" budaya asli suku Dawan dan dengan pelan tapi pasti seni budaya seperti Bonet, He'o Bijol, dan tarian Ma'ekat mulai pudar pengaruhnya oleh dansa yang sebenarnya merupakan budaya barat.
Malam kedua dari tolas kabin adalah malam spesial untuk tamu undangan.
Tidak ada istilah Dawan untuk tradisi tolas kabin pada malam tersebut, karena mungkin saja tradisi ini merupakan adopsi dari budaya pesta perkawinan modern. Hal itu terbukti dengan tidak adanya prosesi adat sedikit pun pada malam kedua tersebut, selain menerima tamu, resepsi dan diakhiri dengan dansa.
Lagu lagu Timor dan beberapa lagu country dari beberapa biduan dan biduanita seperti Alan Jackson, Dolly Parton, Kenny Rogers, Oscar Harris dan lain lain, sudah begitu akrab di pendengaran para tetamu yang hadir.
Tak jarang pula irama lagu lagu tersebut menimbulkan efek yang kurang menyenangkan, seperti debu debu yang beterbangan, sehingga dansa tidak lagi menjadi olah raga yang menyehatkan.
Terkadang juga arena dansa berubah menjadi ring tinju, ketika tangan, kaki, atau anggota badan lainnya tidak sengaja saling bersentuhan dengan pasangan lain dan mendapat respons emosional dari salah satu pasangan tersebut, apabila minuman "adatnya" kelebihan dosis.
Selalu begitu dinamika yang terjadi di arena dansa pada setiap upacara perkawinan.
Namun perlu dicatat bahwa, tidak semua pesta perkawinan terjadi hal hal yang kurang menyenangkan seperti yang saya sebutkan di atas.
Pada malam kedua tolas kabin tersebut, tuan pesta tidak lagi bisa membedakan dengan pasti para tetamu yang hadir di dalam tenda, antara yang dapat undangan resmi, maupun yang cuma sekadar mendengar kabar burung. Akan tetapi tuan pesta selalu tidak kesah soal ini, dan justru berterima kasih karena turut memeriahkan pestanya.
Tentunya dengan catatan bahwa, selama anda sopan dan tidak menjadi biang kerok keributan dalam pesta tersebut, maka semua yang hadir ⟶yang dapat undangan resmi maupun yang si pendengar kabar burung, sama derajat sebagai tamu yang Terhormat.
Pagi menjelang, hingar-bingar musik dansa pun tak lagi terdengar, dan para tetamu mulai melangkah keluar meninggalkan arena dansa, menandakan bahwa tolas kabin telah berakhir.
Namun bagi keluarga pihak laki-laki, masih ada satu pesta lagi yang akan berlangsung di rumah mempelai laki-laki.
Pada umumnya pesta ini hanya di hadiri oleh keluarga besar mempelai laki-laki. Tujuan diadakannya pesta tersebut yaitu untuk menyambut kehadiran anggota keluarga Baru (mempelai wanita). Pesta penyambutan ini pun tidak kalah meriah dengan pesta pada malam kedua di rumah mempelai wanita.
Rangkaian acara pada pesta ini juga hampir sama, ada tamu undangan, makan-makan, dan diakhiri dengan dansa-dansa.
Begitulah keunikan tradisi pesta perkawinan suku Dawan di Timor.
Entah tanggapan atau penilaian dari orang-orang luar suku Dawan buruk atau pun baik, itu merupakan hal yang wajar.
Kita sebagai manusia yang berbudaya sudah sepantasnya menjunjung tinggi budaya kita masing-masing, seburuk apa pun penilaian orang lain terhadap budaya itu.
Yang menjadi perhatian kita adalah, jangan sampai meniru atau mengadopsi budaya-budaya dari luar yang tidak kompatibel dengan yang sudah menjadi tradisi turun-temurun dari leluhur kita. Karena jika demikian, lambat laun keaslian budaya kita akan hilang terkubur , dan kita pun menjadi tidak tahu dari mana asal kita sebenarnya.
Catatan:
* Ada banyak daerah dalam kawasan suku Dawan, dan masing-masing daerah mempunyai tata cara dan sebutan yang beragam untuk tolas kabin.
* Tradisi pesta perkawinan suku Dawan ini dinilai pemerintah sebagai kegiatan pesta pora, atau diartikan sebagai bentuk kegiatan pemborosan yang mesti di rombak.
* Selain materi Anggaran pesta yang terbilang boros, pemerintah juga menganggap tolas kabin sebagai kegiatan yang memboroskan waktu. Karena pesta perkawinan di Timor, umumnya diadakan pada waktu musim kemarau. Waktu di mana seharusnya seorang petani mempersiapkan ladang atau kebun untuk menyambut musim tanam (musim hujan).
Salam dari Atone Pah Meto...
©2016 Mutis.com

