Breaking

Post Top Ad

Your Ad Spot

17 Desember 2017

Selendang LOTIS, dan Pernyataan Cinta Mutlak Gadis Dawan

Referensi pihak ketiga

Pernyataan cinta kepada seseorang yang dicintai, terkadang hal itu tidak terlepas dari pengaruh budaya atau tradisi turun temurun suatu komunitas masyarakat, yang tentunya mempunyai keunikan  tersendiri.

Contohnya, memberikan apel sebagai pernyataan cinta di Australia, memberi sendok di Wales, di Italia memberi sabuk, di Cina seorang wanita akan memberikan sumpit sebagai pernyataan cinta untuk pria yang dicintainya, dan masih banyak lagi keunikan lain dalam mengungkapkan rasa cinta kepada pasangan kekasih.
Kendati dilihat dari jenis "barang" pemberian yang terbilang sangat sederhana,  tetapi tentunya  memiliki nilai yang begitu eksotis bagi para pelaku tradisi ini.

Soal mengungkapkan perasaan cinta, zaman sekarang bisa dibilang sangat sederhana; Cukup dengan mengirim emoji hati, si dia sudah pasti  mulai berbunga bunga.  
Namun lain dulu, lain sekarang.
Kalau dulu, prosesnya  rumit rumit romantis.  Butuh waktu sedikit lama untuk  mempersiapkan batin, mental,  beberapa paragraf  pantun, dan sesuatu barang  yang bisa mewakili perasaan  yang  belum bisa  ter-uraikan  dengan kata kata.

Di Indonesia yang terkenal dengan kemajemukkan  suku dan budayanya ini,  mempunyai kebiasaan menyatakan cinta yang beragam.
Khususnya di kawasan Jawa, setangkai bunga  begitu kental dan identik dengan pernyataan cinta seseorang kepada orang yang dicintainya.
Selain itu, ada juga suku suku tertentu yang mungkin memiliki keunikan sendiri dalam hal ini,  yang memang  belum kita ketahui.
Salah satunya yaitu selendang LOTIS/SOTIS yang merupakan pernyataan cinta  gadis gadis yang bermukim di kaki gunung Mutis dan sekitarnya dalam kawasan suku Dawan, Timor.

Pada masa masa dahulu, masyarakat suku Dawan mempunyai standar tersendiri yang menjadi tolak ukur bagi seorang pemuda atau pemudi dinyatakan  belum atau sudah memenuhi syarat   untuk menikah.
Syarat syarat tersebut dikenal dengan istilah Fani Benas Na'aik  untuk pria, dan ike Suti Ankeo, untuk  wanita.
Fani Benas Na'aik berarti, seorang pria muda yang ingin menikah harus sudah lihai bekerja kebun/ladang.  Begitu pula bagi wanita muda ketika sudah pandai menenun, pertanda sudah memenuhi standar untuk menerima lamaran dari pria.

Ironisnya, tradisi persyaratan persyaratan pernikahan  ini sudah semakin usang seiring zaman bergeser.
Modernisasi bukan hanya menghadirkan budaya budaya baru, namun lambat laun membuat redup pengaruh budaya leluhur  kita sendiri.   Salah satu contoh  yang paling nyata adalah   kerajinan tangan berupa Tenun Lotis/Sotis, atau Futus yang merupakan budaya yang paling membanggakan kaum perempuan suku Dawan Timor yang kian terlupakan, bahkan oleh wanita suku Dawan sendiri.

Wanita wanita Dawan pada masa dahulu tidak memakai kata kata puitis atau sejenisnya untuk mengungkapkan perasaan cinta mereka pada kekasihnya.  Sebaliknya pernyataan rasa cinta itu tersirat mutlak pada paduan warna benang  motif Lotis atau Sotis yang begitu indah dan menawan. Karena mereka yakin bahwa cinta tidaklah cukup hanya dengan kata kata.
Uniknya, para pria pada masa itu seakan sudah sangat memahami pernyataan cinta itu, tanpa perlu mempertanyakan, apa lagi menuntut atau meminta minta bukti yang lain.

 Di saat cinta datang menyapa gadis gadis Dawan, tak ada alasan untuk menepis rasa lelah yang menggayuti  hati dan tangan, demi merancang sesuatu yang bisa jadi sangat spesial untuk orang yang dicintai.
Gadis Dawan akan mencurahkan segenap pikiran dan kemampuannya, bahkan nyaris seluruh waktunya untuk menenun.

Dalam konteks ini, keluarga juga turut andil memberi dukungan dan motivasi. Terlebih ibu si gadis yang selalu setia mendampingi anak gadisnya  guna mewujudkan hasil tenunan yang indah, dan tentunya membanggakan pasangan kekasih yang akan memakainya. Sebab wanita Dawan percaya, kehormatan suami tergantung sepenuhnya pada  kreatifitas tangan mereka.

Sementara sebagai balasan cintanya,  pria akan berusaha sekuat tenaga menunjukkan hasil panen yang melimpah dari kebunnya terhadap si gadis.
Dengan begitu, janji yang tersirat dalam istilah Fani Benas Na'aik dan ike Suti Ankeo adalah kenyamanan (wanita) dan kehormatan (pria).

Jati diri seorang gadis dalam budaya Dawan pada masa dahulu, ditentukan oleh hasil karya tangannya sendiri. Sebab semasa populer-nya,  selain  sebagai satu satunya cara  gadis gadis suku Dawan menyatakan cinta, selendang Lotis juga menjadi tolak ukur kehebatan atau kemahiran menenun seorang gadis.
Pujian dan sanjungan akan mengalir dari seluruh penghuni desa, ketika seorang gadis dengan begitu cerdik merajut dan mengawinkan beraneka warna benang menjadi corak yang indah.

Hal ini tentu berbanding terbalik dengan fenomena perempuan zaman now yang mulai kehilangan jati diri, dengan tanpa  malu malu, membanggakan  budaya barat di tengah tengah muram-nya  budaya sendiri      yang bukan hanya menuai cemoohan, tetapi kadang justru  berujung pada "pujian nakal", bahkan bisa berdampak  pelecehan dan kekerasan seksual dari mereka yang masih kurang memahami emansipasi dan kebebasan berekspresi versi budaya barat.

Pernyataan cinta gadis gadis suku Dawan pada sehelai selendang Lotis/Sotis mungkin hanya berupa kisah usang  bagi muda mudi zaman sekarang.   Namun cinta gadis Dawan dan pemberian selendang Lotis kepada kekasihnya, bisa menjadi contoh manifestasi cinta yang nyata,  tulus dan murni.


©2018 Elangmutis.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar di sini

Post Top Ad

Your Ad Spot

Pages