Pernyataan cinta kepada seseorang yang dicintai, terkadang hal itu tidak terlepas dari pengaruh budaya atau tradisi turun temurun suatu komunitas masyarakat, yang tentunya mempunyai keunikan tersendiri.
Contohnya, memberikan apel sebagai pernyataan cinta di Australia, memberi sendok di Wales, di Italia memberi sabuk, di Cina seorang wanita akan memberikan sumpit sebagai pernyataan cinta untuk pria yang dicintainya, dan masih banyak lagi keunikan lain dalam mengungkapkan rasa cinta kepada pasangan kekasih.
Kendati dilihat dari jenis "barang" pemberian yang terbilang sangat sederhana, tetapi tentunya memiliki nilai yang begitu eksotis bagi para pelaku tradisi ini.
Soal mengungkapkan perasaan cinta, zaman sekarang bisa dibilang sangat sederhana; Cukup dengan mengirim emoji hati, si dia sudah pasti mulai berbunga bunga.
Namun lain dulu, lain sekarang.
Kalau dulu, prosesnya rumit rumit romantis. Butuh waktu sedikit lama untuk mempersiapkan batin, mental, beberapa paragraf pantun, dan sesuatu barang yang bisa mewakili perasaan yang belum bisa ter-uraikan dengan kata kata.
Di Indonesia yang terkenal dengan kemajemukkan suku dan budayanya ini, mempunyai kebiasaan menyatakan cinta yang beragam.
Khususnya di kawasan Jawa, setangkai bunga begitu kental dan identik dengan pernyataan cinta seseorang kepada orang yang dicintainya.
Selain itu, ada juga suku suku tertentu yang mungkin memiliki keunikan sendiri dalam hal ini, yang memang belum kita ketahui.
Salah satunya yaitu selendang LOTIS/SOTIS yang merupakan pernyataan cinta gadis gadis yang bermukim di kaki gunung Mutis dan sekitarnya dalam kawasan suku Dawan, Timor.
Pada masa masa dahulu, masyarakat suku Dawan mempunyai standar tersendiri yang menjadi tolak ukur bagi seorang pemuda atau pemudi dinyatakan belum atau sudah memenuhi syarat untuk menikah.
Syarat syarat tersebut dikenal dengan istilah Fani Benas Na'aik untuk pria, dan ike Suti Ankeo, untuk wanita.
Fani Benas Na'aik berarti, seorang pria muda yang ingin menikah harus sudah lihai bekerja kebun/ladang. Begitu pula bagi wanita muda ketika sudah pandai menenun, pertanda sudah memenuhi standar untuk menerima lamaran dari pria.
Ironisnya, tradisi persyaratan persyaratan pernikahan ini sudah semakin usang seiring zaman bergeser.
Modernisasi bukan hanya menghadirkan budaya budaya baru, namun lambat laun membuat redup pengaruh budaya leluhur kita sendiri. Salah satu contoh yang paling nyata adalah kerajinan tangan berupa Tenun Lotis/Sotis, atau Futus yang merupakan budaya yang paling membanggakan kaum perempuan suku Dawan Timor yang kian terlupakan, bahkan oleh wanita suku Dawan sendiri.
Wanita wanita Dawan pada masa dahulu tidak memakai kata kata puitis atau sejenisnya untuk mengungkapkan perasaan cinta mereka pada kekasihnya. Sebaliknya pernyataan rasa cinta itu tersirat mutlak pada paduan warna benang motif Lotis atau Sotis yang begitu indah dan menawan. Karena mereka yakin bahwa cinta tidaklah cukup hanya dengan kata kata.
Uniknya, para pria pada masa itu seakan sudah sangat memahami pernyataan cinta itu, tanpa perlu mempertanyakan, apa lagi menuntut atau meminta minta bukti yang lain.
Di saat cinta datang menyapa gadis gadis Dawan, tak ada alasan untuk menepis rasa lelah yang menggayuti hati dan tangan, demi merancang sesuatu yang bisa jadi sangat spesial untuk orang yang dicintai.
Gadis Dawan akan mencurahkan segenap pikiran dan kemampuannya, bahkan nyaris seluruh waktunya untuk menenun.
Dalam konteks ini, keluarga juga turut andil memberi dukungan dan motivasi. Terlebih ibu si gadis yang selalu setia mendampingi anak gadisnya guna mewujudkan hasil tenunan yang indah, dan tentunya membanggakan pasangan kekasih yang akan memakainya. Sebab wanita Dawan percaya, kehormatan suami tergantung sepenuhnya pada kreatifitas tangan mereka.
Sementara sebagai balasan cintanya, pria akan berusaha sekuat tenaga menunjukkan hasil panen yang melimpah dari kebunnya terhadap si gadis.
Dengan begitu, janji yang tersirat dalam istilah Fani Benas Na'aik dan ike Suti Ankeo adalah kenyamanan (wanita) dan kehormatan (pria).
Jati diri seorang gadis dalam budaya Dawan pada masa dahulu, ditentukan oleh hasil karya tangannya sendiri. Sebab semasa populer-nya, selain sebagai satu satunya cara gadis gadis suku Dawan menyatakan cinta, selendang Lotis juga menjadi tolak ukur kehebatan atau kemahiran menenun seorang gadis.
Pujian dan sanjungan akan mengalir dari seluruh penghuni desa, ketika seorang gadis dengan begitu cerdik merajut dan mengawinkan beraneka warna benang menjadi corak yang indah.
Hal ini tentu berbanding terbalik dengan fenomena perempuan zaman now yang mulai kehilangan jati diri, dengan tanpa malu malu, membanggakan budaya barat di tengah tengah muram-nya budaya sendiri yang bukan hanya menuai cemoohan, tetapi kadang justru berujung pada "pujian nakal", bahkan bisa berdampak pelecehan dan kekerasan seksual dari mereka yang masih kurang memahami emansipasi dan kebebasan berekspresi versi budaya barat.
Pernyataan cinta gadis gadis suku Dawan pada sehelai selendang Lotis/Sotis mungkin hanya berupa kisah usang bagi muda mudi zaman sekarang. Namun cinta gadis Dawan dan pemberian selendang Lotis kepada kekasihnya, bisa menjadi contoh manifestasi cinta yang nyata, tulus dan murni.
©2018 Elangmutis.com


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar di sini