Karena gaya hidup modernisasi inilah, orang orang yang sebenarnya kepada mereka budaya budaya itu diwariskan justru merasa gengsi hanya karena malu dibilang kuno dan kampungan.
Oko Mamat (Kotak Sirih-Pinang) adalah salah satu dari sekian banyak keunikan budaya orang Timor. Sebagai simbol keakraban, Oko Mamat berperan penting dalam setiap interaksi sosial masyarakat Timor. Oleh sebab itu, Oko Mamat akan selalu menjadi yang terutama pada setiap upacara adat, pertemuan keluarga, maupun dalam aktivitas kehidupan setiap hari.
Makan sirih pinang merupakan kebiasaan hampir semua masyarakat kawasan bagian Timur Indonesia, seperti Ambon dan Papua. Kebiasaan serupa juga masih dipakai segelintir orang tua di Sarawak Malaysia. Meskipun hal makan sirih pinang tersebut pada setiap suku atau daerah berbeda-beda dalam implementasi-nya.
Khususnya di Timor, selain sebagai tempat menyimpan Mamat(sirih-pinang -kapur), Oko Mamat juga berfungsi sebagai alat perantara penyampaian maksud dan tujuan tertentu dari satu pihak ke pihak lain. Misalnya dalam prosesi adat perkawinan suku dawan, juru bicara masing2 mempelai setiap kali hendak menyampaikan suatu permintaan atau jawaban dari satu pihak ke pihak lain, akan ada seseorang yang bertugas membawa dan menaruh Oko Mamat tersebut tepat di depan pihak lawan bicara tersebut sebagai tanda penghormatan. Isi dalam Oko Mamat dalam prosesi adat serupa ini biasanya berupa uang perak atau uang kertas yang tidak ditentukan nilainya.
Selain itu, kegunaan Oko Mamat tidak bisa di pisahkan dengan berbagai aspek kehidupan sehari-hari suku2 di Timor.
Di pelosok2 Timor, Oko Mamat dan Alu(saku)Mamat selain selalu ada di meja ruang tamu, kedua barang wajib ini pun tidak akan ketinggalan setiap kali mereka bepergian ke mana2. Tujuan-nya adalah ketika setiap kali berpapasan dengan orang lain, mereka akan meluangkan waktu beberapa menit untuk Manlo'en.
Manlo'en artinya saling memberi dan menerima Mamat dari dan kepada seseorang yang mereka jumpai di tengah jalan dan atau apabila mereka bertamu ke rumah orang lain.
Tradisi Manlo' en tersebut mencerminkan betapa Santun-nya orang Timor dalam kehidupan sosial mereka sehari-hari, yang pada dasarnya merupakan bentuk penghargaan akan keberadaan orang lain.
Bagi orang Timor sendiri, jika dengan alasan tertentu sengaja menyangkal atau sekadar untuk menghilangkan budaya Oko Mamat dan Manlo' en, bermakna modernisasi telah menguras habis integritas diri dan membuat mereka kehilangan jati diri mereka sendiri.
Eim het mam'... ma ta' lon fatu mese....Au Feto, Au Olef, Au tataf, Au Aina, ma Au Ama...
©2016 Elang Mutis

