![]() |
| Referensi Pihak Ketiga |
Sampai saat ini, jodoh masih merupakan sebuah misteri bagi mereka yang masih bertahan hidup melajang.
Menyangkut hal yang satu ini, mereka seakan masih saja terus hidup dalam bayang bayang ilusi. Mereka reka, siapa, di mana, dan seperti apa gerangan dia yang sudah ditakdirkan menjadi belahan jiwanya.
Terkadang sebagian orang terkesan pasrah pada keadaan, dan membiarkan hidupnya mengalir apa adanya. Meski sebenarnya hati kecilnya merintih ketika waktu terus berlalu, sementara tak seorang pun datang menghampirinya.
Sebagian lainnya malah tidak terima dengan keadaan mereka dan cenderung memaksakan kehendak melawan takdir. Mengabaikan norma dan etika hanya karena ingin cepat cepat mendapatkan pasangan hidup, yang justru merusak harga diri mereka sendiri.
Persoalannya adalah, apa harus dikejar kejar, atau lebih baik duduk manis dan menunggu dia datang dengan sendirinya.
Secara logika, jodoh itu identik dengan cinta antara dua insan berlainan jenis. Tanpa cinta jodoh tidak memiliki alasan, seumpama pohon tanpa akar, atau rumah tanpa fondasi.
Walau kadang kadang beberapa pasangan jodoh, harus bersusah payah membangun cinta mereka belakangan setelah disatukan jodoh.
Saya terkesan dan merasa sedikit yakin dengan suatu ungkapan bijak, "cinta jangan dikejar kejar, jodoh datang sendiri".
Kita dapat membuktikan ungkapan bijak ini setiap hari, dengan melihat atau bahkan merasakan sendiri, terpelanting dan jatuh bangun mengejar cinta yang kadang malah membuat hati kita dipenuhi bekas luka.
Sedangkan beberapa orang terlihat santai dan malas berurusan dengan cinta atau pun jodoh, namun tiba tiba saja menikah.
Jadi, usah bersusah payah mengejar cinta, atau sesuatu yang menyangkut jodoh karena hal itu merupakan wewenang Yang Maha Kuasa.
Ada baiknya semakin mendekatkan diri dengan Tuhan. Duduk manis dan biarkan Tuhan melakukan bagian-Nya.
©2018 Elangmutis.com


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar di sini