Breaking

Post Top Ad

Your Ad Spot

15 Juni 2019

Pernikahan Zaman Now dan 3 Elemen Dasar Untuk Menghindari Perceraian



Makna pernikahan sudah semakin pudar seiring zaman bergeser.  Pernikahan yang semestinya adalah sebuah ikatan sakral yang berlangsung seumur hidup, kini menjadi semacam "kontrak jangka panjang" yang dibangun atas dasar selera setiap orang.

Jika pada zaman dahulu, perceraian merupakan sesuatu yang tabu, beda halnya 
dengan zaman sekarang, dimana perceraian sudah menjadi sesuatu yang wajar, bahkan dianjurkan. 
Dalam hal ini, hubungan perkawinan seumpama media sosial,  di mana orang dapat melakukan koneksi dan dis-koneksi kapan pun dia mau tanpa rasa bersalah.

Ironis-nya, orang menjadi semakin tersendiri,  merasa tidak laku, serta terjebak pada sebuah audisi abadi yang dituntut untuk terus menerus menyenangkan pasangannya agar tidak di-dis-koneksi atau di-delete.

Meskipun  saya belum menikah, tetapi saya sudah cukup sering menyaksikan proses yang dilalui beberapa pasangan pernikahan menuju sebuah perceraian. 
Dari pengalaman tersebut, saya melihat secara acak beberapa faktor  yang melatarbelakangi hancurnya suatu hubungan pernikahan. 
Rata rata konflik demi konflik  hingga hancurnya suatu rumah tangga terjadi sebab mereka  mengabaikan 3 elemen penting yang sangat dibutuhkan dalam suatu hubungan perkawinan.  
 
Jadi,  untuk menghindari konflik rumah tangga yang bisa jadi berujung perceraian kelak nanti. sebaiknya kamu mempelajari 3 elemen penting berikut ini;

1. Kemampuan untuk mencintai dan menerima diri sendiri.
Poin ini merupakan elemen  paling penting ketika kamu ingin membina suatu hubungan.
Sekuat apa pun pasangan kamu berusaha, ia tidak akan pernah berhasil membahagiakan kamu selama kamu tidak bahagia dengan dirimu sendiri.
  
Orang yang  tidak bahagia dengan dirinya sendiri,  ketika berada dalam suatu hubungan, akan terus "menyedot" kebahagiaan dari pasangannya, dan menuntutnya  untuk selalu berperilaku sesuai keinginannya.

Tanpa belajar untuk mencintai diri sendiri dan mengakui kelemahan yang ada, maka seseorang akan terus melakukan teknik manipulasi untuk mengatur  suatu pola hubungan demi menyenangkan ego-nya.

Berbicara tentang 'ego" berarti kita berbicara tentang pria.  Ego dan pria merupakan dua kesatuan yang tak terpisahkan.
Sayangnya, ego berulang kali menjadi biang kerok kehancuran sebuah hubungan. Atau jika pasangan wanitanya memilih  bertahan dalam hubungan itu, maka harus rela menjadi budak ego.  

Banyak pria yang merasa "kurang" dengan diri sendiri, , akan berusaha mendekorasi diri dengan berbagai macam hal       seperti kekayaan, atau karir, lalu menganggap perempuan sebagai aksesoris untuk membangun ego-nya.

2. Membangun visi, cita cita, serta tujuan bersama.
Sebelum menikah, tentunya membutuhkan banyak waktu untuk kamu dan pasangan mempersiapkan diri.
Mempersiapkan diri, di sini bukan terkait pro-sesi pernikahannya, tetapi untuk membuat rencana ke depan           terkait visi, cita cita, dan tujuan bersama.

Visi, cita cita, dan tujuan bersama, ini bisa berupa; berapa anak yang kamu inginkan, rumah sebagai tempat nyaman membangun keluarga, apa yang nanti dijadikan sumber penghasilan untuk menghidupi keluarga, serta bagaimana menjalani hari tua bersama.

Suatu hubungan perkawinan jika tidak memiliki visi, cita cita, atau tujuan bersama, akan sulit menemukan titik temu ketika terjadi konflik, dan hubungan yang sudah retak tersebut bisa jadi mustahil dibangun kembali. 

3.Komunikasi, dan kesediaan untuk berkompromi
Hampir kebanyakan kasus perceraian dipicu oleh ketiadaan komunikasi, dan kesediaan untuk berkompromi.
Ketika terjadi konflik, masing masing pihak merasa paling benar, dan merasa diri menjadi korban dari hubungan tersebut.

Padahal semestinya komunikasi, kerendahan hati untuk bersedia berkompromi, adalah cara  paling ampuh yang bisa mencairkan ego masing masing pihak dalam merekonsiliasi hubungan, sehingga tercipta saling pengertian dan memaafkan kesilapan satu sama lain.
Keterbukaan antar pasangan sangat krusial dalam menjaga keharmonisan dan keutuhan suatu hubungan pernikahan.

Dalam situasi situasi tertentu, banyak pasangan yang hanya bersandar pada komitmen tanpa menghiraukan elemen elemen yang saya sebutkan di atas, pada akhirnya tidak berdaya menghindari perselingkuhan, yang sebagian lainnya berujung pada perceraian.

Tidak dipungkiri jika komitmen dalam suatu pernikahan memang penting. Akan tetapi ibarat pohon, komitmen merupakan pohon yang berfungsi sebagai penopang, sementara 3 elemen di atas adalah akar dari pohon tersebut, yang berfungsi menghidupi, dan menjaga pohon tersebut tetap kokoh berdiri.

Tanpa 3 elemen di atas, suatu hubungan baik akan menjadi  luntur seiring waktu berjalan. 

Apabila suatu hubungan pernikahan sudah sedemikian kritis, maka akan muncul kemungkinan terjadinya perpindahan hati kepada  orang ketiga.
Oleh karena itu, sebelum menikah persiapkan pribadi kamu sebaik mungkin dengan 3 elemen dasar dalam membangun suatu hubungan pernikahan.


©2019 Elangmutis.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar di sini

Post Top Ad

Your Ad Spot

Pages