Breaking

Post Top Ad

Your Ad Spot

14 September 2020

Pelajari, Kenapa Orang Yang Memiliki 'Empati' Tinggi Lebih Memilih Hidup Sendiri


Setiap orang  tentunya mempunyai impian tentang hubungan yang romantis, langgeng sampai maut memisahkan.
Namun lain halnya dengan mereka yang memiliki rasa empati tinggi. Orang orang jenis ini, walau  rata rata di atas kertas memiliki cinta, kasih sayang, kesetiaan, dan kepedulian yang luar biasa, namun ironis-nya, mereka selalu  bernasib malang setiap kali menjalin hubungan.

Kenyataan inilah yang membuat para empati beranggapan bahwa empati dan hubungan adalah dua penyatuan yang  bisa jadi pemicu "bencana dahsyat".

Ingin tahu  apa penyebab empati selalu sial dalam hubungan cinta, yang pada akhirnya mereka kapok, dan  lebih  memilih hidup sendiri.?
Pada artikel ini kamu akan mengetahui perilaku empati yang justru jadi bumerang bagi diri dan kehidupan cinta mereka.

Empati adalah pecinta yang hebat. Setiap hubungan yang mereka bina, itu sangat mendalam dan bermakna.
Memiliki kepekaan yang sangat tinggi, empati  sering melibatkan perasaan, energi dan segenap kemampuan mereka ke dalam setiap hubungan yang mereka jalin.

Empati yang sangat sensitif ini sering kali memberi lebih banyak pada hubungan dari pada menerima, hal ini yang nantinya justru membuat mereka merasa 'bangkrut" secara emosional.

Dengan kemampuan *)intuitif yang luar biasa, mereka  bisa dengan mudah membaca gelagat, karakter, dan perasaan, serta  dapat secara langsung merasakan apa pun yang dirasakan orang orang di sekelilingnya.
Keterampilan intuitif, kepekaan, dan sensitif yang mereka miliki ini, membuat mereka dengan mudah menyerap, atau bahkan  tersedot  energi serta getaran orang yang mereka cintai dan pedulikan.

Akibatnya,  mereka menjadi  kewalahan, kelebihan beban, cemas, dan kelelahan. Sehingga adakalanya empati membutuhkan ruang dan waktu menyendiri, untuk mengisi ulang  dan menyegarkan diri, yang mungkin sulit dipahami pasangan mereka.

Empati nyaris memiliki semua resep sempurna yang sangat dibutuhkan dalam sebuah hubungan. Namun sayangnya, empati dan hubungan selalu berakhir dengan kegagalan.
Atau jika memaksa bertahan, mereka tak terhindar dari pelecehan, kehilangan harga diri dan  nilai inti dalam jiwa mereka.

Meski memiliki pribadi yang sangat penyayang, pemaaf, murah hati, dan pengertian, terkadang itu malah membuka peluang dan memuluskan jalan masuk bagi pasangan beracun.

Kelebihan yang mereka punya ini seringkali dianggap sebagai kelemahan,  sehingga pada akhirnya mereka terjebak dalam hubungan yang buruk, layaknya hubungan antara vampir        merelakan segala yang dia miliki tersedot habis oleh pasangan-nya yang narsis dan beracun.

Sebenarnya, para empati ini sangat membenci dan merasa jijik dengan 'permainan hati'.  Sebab, selain sebagai individu yang peduli, pengasih, setia, dan perhatian, empati juga bisa mendeteksi kebohongan orang, sehingga dapat  mengetahui seseorang tidak jujur atau tidak setia, bahkan dari jarak jauh.

Inilah sebabnya empati jarang sekali berhasil dalam hubungan. Mereka merasa selalu ada yang salah.
Entah itu dikarenakan mereka terlalu sensitif, terlalu berperasaan, atau terikat hubungan dengan pasangan yang salah, empati selalu gagal menemukan hubungan yang mereka inginkan dalam hidup.

Pada akhirnya, satu satunya pilihan yang paling efektif,  memuaskan,  nyaman, dan sehat bagi mereka adalah "memasang tembok pembatas".
Mereka belajar dan mengalami berbagai hal dari satu hubungan ke hubungan lain, yang akhirnya membuat mereka kehilangan keinginan untuk menjalin hubungan, dan memilih menyendiri demi melindungi perasaan dan jiwa mereka.

Selain rasa percaya yang mungkin rusak akibat terjebak dalam hubungan yang buruk,  empati juga kelelahan karena sering memberi terlalu banyak dari yang seharusnya, ketika berada dalam suatu hubungan.
Dari pengalaman yang mereka cicipi, memberi mereka satu pelajaran penting, bahwa ketika empati terlibat dalam hubungan, pada akhirnya mereka akan hancur sendiri.
 
Faktor faktor inilah yang  menjadi penyebab para empati cenderung menghindari hubungan apa pun dan lebih memilih hidup sendiri.

*)intuitif = kemampuan mengetahui  dan memahami suatu hal tanpa harus mempelajarinya.

©2020 Jurnal Beta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar di sini

Post Top Ad

Your Ad Spot

Pages