" Untung tak dapat di raih....Malang tak dapat di tolak....
Jauh mata memandang....Berat bahu memikul....
Hidup segan.....Mati tak mau..!
Pulang malu....Gak pulang rindu... "
Saya tertegun membaca satu per satu tulisan di tembok penjara Balai polis salah satu kota kecil di Sarawak. Dari cara menulis, sudah bisa di terka bahwa goresan di tembok ini lebih dari satu orang penulis. Dan mungkin dengan kuku tangan mereka menulis, karena ada pemeriksaan ketat di pintu penjara itu, dan tidak membolehkan barang apa pun di bawa masuk ruang tahanan. Sekilas saya membayangkan, betapa orang-orang ini menulis dengan hati yang pedih, hancur dan putus asa...
Di ruangan berukuran 4x4 itu saya terkurung sendirian tanpa teman bicara. Oleh situasi seperti itu, saya tidak mampu menahan kesedihan,sehingga air mata itu pun tak kuasa di bendung.
Meski begitu, saya tak ingin menjiplak cara mereka. Menurut saya tembok penjara bukan tempat satu-satunya untuk berkeluh-kesah. Saya tidak harus putus asa karena saya punya tempat mengadu yang berkuasa untuk merubah yang tidak mungkin menjadi mungkin.
Dan di salah satu pojok ruangan penjara itu saya membulatkan hati, berlutut dan berdoa;
"Tuhan....Tunjukkan Mujizat-Mu...keluarkan saya dari tempat ini sekarang Tuhan"
Begitu kata-kata doa saya yang singkat tapi dengan penuh keyakinan saat itu. Dan terbukti setelah lebih kurang 10 menit saya di bebaskan. Kalau di hitung-hitung, saya hanya di penjara selama 2 jam. Pada hal sebenarnya kalau menurut prosesnya, harus ada majikan yang datang untuk memberi klarifikasi serta menunjukkan dokumen asli saya, baru bisa di bebaskan. Tapi saya patut berkata "Amin" atas Mujizat yang betul-betul nyata saat itu.Meski begitu, saya tak ingin menjiplak cara mereka. Menurut saya tembok penjara bukan tempat satu-satunya untuk berkeluh-kesah. Saya tidak harus putus asa karena saya punya tempat mengadu yang berkuasa untuk merubah yang tidak mungkin menjadi mungkin.
Dan di salah satu pojok ruangan penjara itu saya membulatkan hati, berlutut dan berdoa;
"Tuhan....Tunjukkan Mujizat-Mu...keluarkan saya dari tempat ini sekarang Tuhan"
Ada benar dan tidak nya kata pepatah, hujan batu di negeri sendiri, hujan emas di negeri orang. Karena pada kenyataannya waktu bisa mengubah segala sesuatu, termasuk di dalamnya situasi perekonomian suatu negara.Dan tak terkecuali negara tujuan para perantau mengais rezeki.
Seiring terjadinya gejolak ekonomi global yang melanda hampir seluruh negara-negara Asia, harga-harga barang kebutuhan pokok semakin meningkat.
Sedangkan pendapatan atau gaji pekerja tidak berubah. Anehnya lagi, ada penetapan harga yang berbeda antara pendatang atau pekerja asing dan warga asli, yang pada akhirnya gaji yang terima hanya cukup untuk bayar utang makan dan minum, tak alang membuat tekanan itu semakin terasa berat.
Setiap isi kepala mereka yang hidup dan bernaung di bawah rimbunan sawit, sudah tentu memiliki angan-angan yang sama, hanya untuk bisa merubah langit esok yang berkabut pekat menjadi cerah. Berusaha memutar roda kehidupan yang menggilas terus-menerus di jalur takdir yang tidak mereka mimpi kan sebelumnya. Tetapi justru kenyataan tidak sesuai harapan.
Orang-orang ter-sayang yang di tinggalkan dengan janji untuk pulang tepat waktu, hanya membisu menyaksikan hari berganti, musim datang dan pergi,tapi yang di nanti tak kunjung tiba. Para suami hanya pasrah dan memendam luka hati nya sendiri,ketika datang kabar bahwa istri mereka melanggar janji yang telah mereka berdua ikrarkan di depan altar. Karena yang sebetulnya, kebutuhan lahir batin itu sama-sama penting untuk sebuah rumah tangga.
Sementara yang bujang hanya bisa menonton kemesraan sepasang manusia berlainan jenis yang di katakan orang itu cinta, melalui layar televisi. Sebagian lain nya di tinggal kekasih lalu having fun dengan pria lain, sebab waktu yang begitu kejam membuat pudar segala rasa di hati. Hari-hari mereka di biarkan berlalu begitu saja tanpa warna. Kemungkinan banyak dari antara mereka yang sama sekali tidak memiliki sepotong cerita cinta untuk di kenang, hanya karena memperjuangkan sepenggal mimpi yang tak jua jadi nyata.
Seringkali saya melihat senyuman yang membungkus luka, dan tak jarang di setiap senja terdengar suara tawa yang menyembunyikan kesedihan. Rasa rindu akan kampung halaman setiap kali di buat sirna begitu saja oleh keringat dan darah. Tidak ada kata mengeluh, karena tidak akan ada seorang pun yang sudi mendengar keluhan itu, sebab semua memikul dilema hidup yang sama, dan beban pikiran yang sama pula.
Kawan......
Di atas langit masih ada langit,dan di bawah bumi masih ada bumi, adalah cara yang paling tepat untuk bercermin.
Judul salah satu lagu Michael Jackson YOU ARE NOT ALONE mengingatkan kita untuk sejenak mengalihkan pandangan yang selama ini selalu terarah ke atas, dan mencoba melihat sekeliling, bahwa kita tidak sendirian, karena di bawah bumi masih ada bumi, di atas langit yang selama ini mati-matian kamu tatap, masih ada langit di atasnya.
Setiap orang pernah merasakan kegagalan, kesedihan, dan kesepian, bahkan ada yang hidupnya jauh lebih mengerikan dari yang kita alami.
Mereka yang ada di bawah kita tentu iri melihat kita memiliki pekerjaan, makan 3x sehari, mendengarkan musik kesayangan, dan tidur di tempat yang nyaman, tanpa mendengar suara letupan senapan, dan bunyi kepak sayap burung bangkai.
Tidak perlu lagi menulis syair kepedihan dan ke-putus-asaan di tembok- tembok, hanya pasal kerikil kecil yang mengganjal kaki. Ganti cara mu memandang ke atas, dari yang semula ambisi menjadi ucapan syukur. Bersyukurlah bahwa hidup mu jauh lebih beruntung, dan bahwa kamu masih di beri kesempatan untuk memiliki hidup. Jangan biarkan kesedihan itu merebut kesempatan untuk menikmati sisa hari-hari mu. Dan ingatlah You are not alone.!
©2015 Elangmutis.com

