Breaking

Post Top Ad

Your Ad Spot

1 Maret 2016

Ketika Cinta, Belis dan Martabat Manusia Berbenturan


Dalam kawasan Flobamora atau umumnya NTT, ada beberapa daerah/suku yang masih menjunjung tinggi budaya Belis dalam setiap upacara perkawinan. 
Pada umumnya masyarakat NTT memandang belis terutama bukan sebagai "harga" yang harus dibayar pihak laki laki kepada pihak perempuan. Pertukaran barang dalam sistem belis juga bukanlah sebuah "pasar" jual beli manusia.
Dalam prosesnya, mahar atau belis pada setiap perkawinan adat,  tidak ada unsur paksaan selama dialog terus dibangun. Hal  ini menegaskan ungkapan respek nyata dari pihak laki laki kepada pihak perempuan sebagai manusia bermartabat.
Selain nilai dan martabat, belis juga berperan sebagai pagar adat, dalam hal ini    membatasi, menjaga, dan mengatur  pergaulan muda mudi agar  sesuai dengan norma norma adat yang berlaku. 
Pada titik ini lah, muda mudi dengan sendirinya akan sadar dan tahu batas batas dalam pergaulan. Mereka dituntut  untuk bisa menjaga diri dalam pergaulan,  yang mana di  dunia modern seperti sekarang, tentunya tuntutan adat serupa ini sangatlah keras.

Fakta nya, belis yang merupakan simbol budaya, mulai kehilangan makna  seiring perkembangan zaman.
Kemajuan teknologi informasi  lambat laun merubah pola pikir masyarakat pelaku budaya itu sendiri, sehingga nilai dan martabat seorang wanita sebagai subjek dari belis itu di nomor dua kan,  karena tuntutan ekonomi memaksa orang untuk membuat kalkulasi ekonomis dalam urusan belis.
Selain itu, pengaruh teknologi informasi ini juga membuat fungsi belis sebagai pagar adat kian pudar pengaruhnya oleh pergaulan yang melebihi batas. 
Otomatis membuat pihak laki laki membuat "perhitungan" antara besarnya jumlah belis dengan nilai dan kualitas wanita tersebut. 
Dengan demikian, belis kehilangan makna sesungguhnya.
Sementara itu, yang lebih memprihatinkan adalah seringkali belis menjadi alasan pemicu kekerasan dalam rumah tangga, karena nilai kemanusiaan seorang wanita telah di bayar lunas dengan belis.

Jika ditelusuri lebih jauh, budaya belis pada umumnya hanya berlaku dan di hormati oleh orang orang yang hidup dalam suku tersebut. 
Karena dalam hal belis, tidak semua suku di NTT menerapkan budaya tersebut. Oleh sebab itu, tidak mengherankan jika belis sering di anggap sebagai transaksi jual beli oleh suku suku di luar dari penganut budaya tersebut. Walau sebenarnya pada prosesnya setiap pihak perlu belajar dan memahami adat istiadat pihak  lain, selain itu bisa memperkaya dan memperluas jaringan relasi dengan budaya lain.

Cara pandang dan pola berpikir masyarakat modern, berujung pada kematian simbol budaya ini. Pada kenyataannya orang orang hanya melihat belis sebagai beban yang harus dihindari.  Akibatnya, tidak sedikit wanita yang hidup dalam kultur tersebut terpaksa menjalani hidup sebagai perawan tua karena belis yang terlalu mahal, dan ada pula yang terpaksa kawin pintas.
Sebaliknya,  ada lelaki yang justru karena belum mampu melunasi belis, dimanfaatkan sebagai "kuda beban" oleh pihak wanita. 
Boleh hidup serumah,  tetapi apa yang diusahakan menjadi milik pihak wanita, tak terkecuali marga anak anak yang dilahirkan. Singkatnya martabat manusia  disepelekan hanya karena tuntutan belis.

Lalu pertanyaannya, kemanakah cinta dari dua insan yang saling mencintai jika pada akhirnya  keluarga pihak lelaki tersebut keberatan karena tidak mampu memenuhi tuntutan belis dari pihak wanita tersebut?  Memilih untuk rela menjadi kuda beban pihak wanita  atau terpaksa mengakhiri relasi asmara nya itu.
Hal ini tentunya menjadi pertanyaan yang paling sulit di jawab, karena bagaimana pun juga kita adalah makhluk sosial yang  berbudaya. Sementara cinta merupakan kebutuhan paling mendasar manusia yang tidak mungkin bisa di ketepikan begitu oleh hal apa pun juga.

Oleh cara pandang dan pola berpikir masyarakat modern, jelas mengindikasikan akan kematian simbol belis itu sebagai nilai dan martabat seorang manusia. 
Alasan satu satunya yang memengaruhi pola pikir ini yaitu cara bergaul manusia modern yang tidak terbatas,  sehingga orang orang pada umumnya menganggap belis yang mahal harus lah setara dengan kualitas atau nilai dan martabat wanita tersebut. Kualitas wanita di sini diartikan sebagai kesucian atau keperawanan seorang wanita.
Dengan kehilangan simbol budaya ini oleh dunia modern, menyebabkan ke-tidak adilan saling tumpang tindih. Semua pihak lebih memikirkan kepentingannya, tak terkecuali  oleh wanita pelaku budaya belis itu sendiri, yang terkadang dari cara bergaul nya yang melanggar pagar adat, mau pun oleh pihak lelaki yang menganggap belis sebagai komoditi komersial semata.
Tidak mengherankan jika salah satu alasan dari kebanyakan kasus KDRT itu adalah faktor belis.

Pertanyaannya, masih perlukah belis di dunia modern kita.? Jika  ya, lantas mengapa belis menjadi alasan untuk setiap kasus kekerasan dalam rumah tangga.?  
Jawabannya kembali kepada perspektif para pelaku kebudayaan itu sendiri.
Manusia yang bermartabat  adalah  manusia yang menghormati  dan menjunjung tinggi budayanya.  Dan belis merupakan simbol dari harkat dan martabat manusia beradab  yang harus terus hidup.


© 2016 Elang Mutis

Post Top Ad

Your Ad Spot

Pages