Breaking

Post Top Ad

Your Ad Spot

30 Agustus 2016

Antara Menimbun atau Menjadi Saluran Berkat


              "Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan" (Matius 5:7)

Tidak sedikit orang Kristen yang pada kenyataannya sudah seperti garam yang kehilangan asinnya. Kenapa demikian? 
Kasih yang merupakan ciri khas Kristen sudah menjadi dingin oleh ego, kesombongan, hawa nafsu, dan kekhawatiran hidup.

Kasih  memang sangat mudah diucapkan, tetapi terlalu sulit untuk di lakukan. Bahkan orang yang setiap hari menghabiskan banyak waktunya untuk membaca Alkitab dan berdoa pun terkadang masih memakai kalkulator setiap kali memberi.

Beberapa orang Kristen pada umumnya keliru dalam memaknai kebenaran Firman Tuhan. 
Mengasihi hanya sebagai balasan untuk orang yang sudah berbuat hal serupa untuknya. Atau berbagi jika itu akan  mendatangkan keuntungan.
 
Mengucap syukur hanya ketika menerima sesuatu yang baik, tetapi apabila keadaan mengharuskan untuk memberi, mereka tak segan-segan untuk menghitung untung-rugi hingga sekecil-kecilnya. Mereka mengira bahwa dengan menimbun berkat akan memperoleh kebahagiaan dalam hidupnya. 

Namun Alkitab justru berkata sebaliknya;  
                          " Adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima       baca Kisah Para Rasul 20:35]   

Hidup berbahagia merupakan harapan setiap orang, dan tentunya dalam hal ini  setiap orang memiliki konsep yang berbeda-beda. 
Pemahaman pada umumnya  manusia terkait konsep hidup berbahagia adalah mereka yang memiliki harta yang banyak, kedudukan yang baik, dll. 

Akan tetapi, Alkitab memberi kita pedoman untuk mengukur kebahagiaan itu dan bagaimana cara memperolehnya. Alkitab memberikan kita satu konsep "sederhana" yang dapat menciptakan hidup berbahagia, yaitu memberi.

Pertanyaannya, bagaimana mungkin dengan memberi akan membuat orang berbahagia? sedangkan seseorang yang memberi maka apa yang ada padanya akan berkurang.

Menimbun berkat, seumpama membendung suatu aliran air sungai yang mengalir.

Air tersebut, semakin lama ditimbun dan jika  tidak dialirkan, maka  akan menjadi tidak sehat, kotor, dan menimbulkan banyak kuman penyakit yang bisa mematikan.

Begitu pula Berkat. 
Jika berkat yang  diperoleh terus ditimbun dan tidak dialirkan, bukannya hidup berbahagia yang kita dapat, tetapi justru mendatangkan banyak masalah.
Hal ini menjadi penyebab kenapa banyak orang Kristen yang hidupnya tidak pernah lepas dari konflik kehidupan; seperti; ketakutan, kekhawatiran, stres, depresi, masalah pekerjaan dan lain lain. Karena "keran berkat" yang sudah Tuhan percayakan itu tidak pernah dibuka.

Realita umum yang sering mempengaruhi pola pikir kita adalah bahwa, orang yang banyak menerima pasti lebih berbahagia. 
Tetapi tidak demikian dengan apa yang dikatakan Firman Tuhan. Apabila kita bisa membagikan sesuatu atau mengalirkan air kehidupan bagi orang lain, maka  kita adalah orang yang paling berbahagia itu.

Terkadang timbul dalam pikiran kita yang tawar hati, jika kita membuka keran berkat  maka akan habis berkat yang kita sudah peroleh tersebut. 
Jangan khawatir! 
Allah adalah sumber segala berkat. Jika kita memberi dengan suka cita, tulus ikhlas, dan penuh kerelaan, maka Allah akan memperhitungkan semua itu sebagai kebaikan, yang  berarti kita tidak akan pernah  berkekurangan suatu apa pun.

Lihatlah sungai yang mengalir, dapat memberi kehidupan kepada semua makhluk hidup di sepanjang alirannya dan sungai tersebut tidak pernah kehabisan air. Tetapi akan berbeda halnya jika sungai itu alirannya tersumbat atau dibendung, maka yang akan terjadi malah sebaliknya, bukan lagi memberi kehidupan atau berkat tetapi bencana dan  kematian. 

    "Jika iman itu tidak disertai perbuatan-perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah Mati [baca: Yakobus 2:15 ]

Apabila selama ini kamu sebagai orang Kristen tetapi gemar menimbun dan jarang sekali membuka keran berkat kamu, maka mulailah dengan pola hidup yang baru dan tunjukkan ciri khas ke-Kekristenan  kamu yang sebenarnya, yaitu dengan mengasihi dengan suka cita, tulus ikhlas dan penuh kerelaan.
Dengan demikian, damai sejahtera yang menjadi mimpi setiap insan akan nyata dalam kehidupan kamu.

Jangan puas dengan kehidupan religius tanpa dibarengi perubahan sikap dan perbuatan nyata. 
Karena jika seperti itu, kita tidak ubahnya seperti orang munafik yang menyangka bahwa mereka bisa selamat hanya dengan berdoa yang panjang-panjang, membaca dan merenungkan Firman Tuhan siang dan malam, setia beribadah, tapi tidak pernah peduli terhadap penderitaan sesama.

Biarlah kita menjadikan diri kita subjek  pemberian dan bukan objek; dengan begitu kehidupan yang berbahagia akan datang sendiri dalam hari-hari hidup kita. 

Karena orang yang membuka keran berkatnya akan diberkati Tuhan bukan hanya secara  jasmani, tetapi juga spiritual. 
Ada suka cita, damai sejahtera dan ketenangan. 


"Iman tanpa perbuatan baik adalah iman yang kosong dan mati, bagaikan tubuh tanpa roh"

                      God Bless


© 2016 Elangmutis.com

Post Top Ad

Your Ad Spot

Pages