Breaking

Post Top Ad

Your Ad Spot

3 Oktober 2016

Timor Tertinggal, Ini 2 Faktor Penyebabnya


Kemajuan atau keterbelakangan suatu daerah pada dasarnya ditentukan  oleh 2 faktor, yaitu sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM) dari daerah tersebut.
Ada daerah atau negara tertentu yang memiliki sumber daya alam terbatas, atau bahkan  tidak memiliki sumber daya alam sama sekali, namun bisa masuk kategori makmur karena sumber daya manusianya melimpah, contohnya seperti negara Singapura.

Begitu pula sebaliknya, bisa ya, dan bisa tidak makmur suatu daerah jikalau sumber daya alamnya melimpah, namun miskin sumber daya manusia.  Sebab dengan begitu, akan ada campur tangan dari pihak luar yang lebih terampil mengelola kekayaan alam daerah tersebut, yang diragukan hasilnya bisa memakmurkan daerah itu, contohnya seperti Papua.

Oleh karena itu, dapat kita bayangkan, apa jadinya suatu daerah jika daerah tersebut minim dalam kedua hal  (SDA dan SDM) tersebut.

 Dalam tulisan ini, tidak sedikit pun ada maksud untuk mengurangi atau mengabaikan nilai dan keharuman yang mendunia dari cendana wangi yang merupakan satu-satunya ikon kekayaan alam dari tanah Timor tercinta.

Akan tetapi,  jika dilihat secara menyeluruh, Timor merupakan salah satu daerah yang mempunyai sumber daya alam yang  tergolong minim dari beberapa daerah lain di Indonesia.
Sehingga  tidak mustahil jika Timor masih terus bertahan dalam data statistik pemerintah sebagai salah satu dari sekian banyak daerah yang masih dikategorikan sebagai daerah tertinggal di Indonesia.

Selalu timbul di benak saya perasaan tidak nyaman setiap kali mendengar membaca berita di media media  tentang NTT sebagai provinsi tertinggal,  dalam hal ini kampung halaman saya Timor tercinta tentunya.
Selalu  timbul pertanyaan di sela sela perasaan tidak nyaman,  apa yang harus kita perbaiki agar bisa keluar dari data statistik yang terdengar begitu merendahkan itu.

Apabila dibandingkan dengan daerah lain, ada 2 hal mencolok, yang mana ada yang secara sadar kita mengakuinya, namun ada hal lain yang tanpa kita sadari justru membelenggu kita sehingga kita sulit terlepas dari ketertinggalan tersebut.
Berikut 2 faktor yang menjadi penyebab Timor tertinggal.. 
  • Faktor Alam
Pada umumnya wilayah NTT, khususnya pulau Timor memiliki iklim dan topografi yang cenderung tidak menguntungkan bagi penduduknya yang mayoritas petani.
Iklim di Timor sangat tipikal: Musim hujan relatif lebih pendek yaitu 3 - 4 bulan dalam setahun, sedangkan musim kemarau lebih panjang.
Iklim seperti ini  menyebabkan daratan Timor terkesan kering.

Pulau Timor juga mempunyai topografi yang notabene berbukit-bukit dan bergunung-gunung.  Lahan yang relatif datar umumnya memanjang di pesisir pantai atau diapit oleh bukit dan pegunungan.

Oleh karena  itu,  dapat kita simpul-kan,  bahwa iklim di Timor yang semi-arid (kering), dan topografi yang dominan berbukit-bukit, merupakan faktor yang menjadikan daratan Timor tandus.

Dengan demikian,  bagi para petani di Timor yang mengandalkan tanaman pangan dengan lahan yang relatif kering serta kesuburan tanah yang sangat tipis seperti ini,  jelas menimbulkan efek  yang sangat memprihatinkan pada tingkat ekonomi mereka.

Lantaran kering, curah hujan yang rendah, berbatu-batu, dan berbukit-bukit inilah alasan penduduk Timor khususnya suku Dawan, sering menyebut dirinya Atone Pah Meto;  orang yang berdiam di tanah kering.

Menghadapi alam yang tidak bersahabat seperti ini, masyarakat Timor menjadi terbiasa  untuk mengembangkan praktik bertani yang bersifat tradisional.  Dengan demikian muncul lah budaya berladang atau berkebun berpindah-pindah dengan "teknologi" tebas bakar sebagai satu-satunya strategi dan siasat agar mereka tetap survive.

Faktor alam yang tidak menguntungkan ini pula, yang kemudian memicu sebagian orang-orang Timor  memutuskan untuk meninggalkan kampung halaman,  dan pergi merantau demi memenuhi segala keperluan hidup mereka.

Dari uraian  tersebut di atas, menandakan bahwa Atone Pah Meto tidak hanya  tinggal diam dan mengeluh dengan kondisi alamnya yang terbilang tidak menguntungkan ini.
Namun, sebaliknya mereka berjuang untuk "berdamai" dengan alamnya yang tidak bersahabat itu, meski pun dalam kenyataannya masih menggunakan pola bertani tradisional yang memungkinkan mereka sulit untuk bangkit dari ketertinggalan.

  • Mental dan Pola Pikir
Mempertahankan sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan merupakan hal yang lumrah bagi sebagian orang, meski pada kenyataannya dinilai sebagai bentuk tindakan yang keliru.
Kebiasaan sering timbul dari pola pikir seseorang yang kemudian melahirkan prinsip atau pedoman yang  dapat mempengaruhi  sebagian besar karakter orang tersebut.
Sebenarnya ada beberapa virus pola pikir salah  yang cenderung  menina-bobokan dan malah  kita menikmati-nya sebagai kebiasaan, yang pada akhirnya menghambat kita sehingga kita sulit untuk berkembang.

Akibat dari  pola pikir yang salah ini pula, terkadang kita mulai mempersalahkan pihak lain, seperti contoh; mempersalahkan orang tua dengan alasan  tidak berusaha mengumpulkan harta yang cukup sebagai persiapan masa depan anak-anaknya. 
Menuduh Tuhan tidak adil dengan dalih sudah rajin berdoa, rajin pergi ke Gereja, dan membaca Kitab Suci,  tetapi nasib tidak juga kunjung  berubah.

Berikut ini merupakan  kebiasaan-kebiasaan yang menjadi pemicu kita terus saja tertinggal, yang sebenarnya terbentuk dari cara berpikir kita yang keliru.
 Gengsi
 Musuh yang paling utama dalam kehidupan kita adalah perasaan kita sendiri.
Akan sangat baik jikalau  kita Baper (terbawa perasaan) dalam hal-hal yang bisa mendatangkan keuntungan. Namun apa jadinya bila perasaan kita yang sudah terlanjur berkembang menjadi prinsip malah menjerumuskan kita pada  kemelaratan.

Perasaan seperti inilah yang menjadi alasan sebagian orang keliru dan merasa perlunya gengsi hanya semata-mata untuk mempertahankan harga diri.
Pada hal, gengsi dan harga diri merupakan dua hal yang sebenarnya memiliki makna yang kontradiktif.

Gengsi bertujuan untuk mendapat pengakuan dan penilaian dari orang lain tentang kehormatan dan martabat seseorang.
Sedangkan harga diri adalah kesadaran seseorang  akan betapa besarnya nilai yang diberikan kepada diri Sendiri.

Pada umumnya, terkadang  kita keliru dan menganggap bahwa kedua hal ini memiliki esensi yang sama, sehingga sering kali  orang tidak sadar dan mengorbankan harga diri-nya  demi gengsi.

Dalam praktiknya, orang yang gengsi cenderung terlihat dari gaya hidupnya, semisal pilih-pilih teman bergaul, mode busana, tempat makan atau tempat belanja, sampai yang fatal yaitu pilih-pilih pekerjaan.

Di Timor gengsi sering juga disebut "level".  Oleh kata level ini pula,  orang lebih sering mengutamakan gengsi dan mengabaikan nilai dirinya sendiri.

Sebagai contoh,  jika ada orang yang merasa diri ganteng, dari keluarga terhormat, atau berpendidikan sedikit tinggi, tidak akan sudi menerima pekerjaan yang ia anggap di bawah level dia, meskipun sebenarnya dia lagi menganggur dan hidup dengan mengandalkan bantuan orang lain.

Demi gengsi pula, sebagian orang Timor lebih bangga bikin pesta pernikahan yang meriah,  meski pun nantinya mabuk kepayang dengan urusan melunasi utang sana-sini.
Dari contoh-contoh di atas jelas terlihat betapa kita rela mengabaikan harga diri atau nilai yang patut diberi untuk diri sendiri hanya karena gengsi.

 Kultur yang Memelaratkan
Ada tradisi pola pikir salah yang sudah menjadi warisan turun-temurun orang Timor hingga saat ini yang justru  berdampak pada lemahnya daya saing kita.

Salah satu kebiasaan berpikir orang Timor di pedalaman yang notabene masih sangat kental pengaruh adat istiadat,   selalu berupa ungkapan-ungkapan yang terkesan pesimistis dan menyerah pada nasib, seperti; "Untuk apa bekerja terlalu keras, toh nenek moyang kita juga bukan orang kaya."

Hal ini menggambarkan budaya berpikir kita  yang pada kenyataannya mampu mematahkan semangat juang kita  dari generasi ke generasi untuk bangkit dari ketertinggalan.
Apabila dibiarkan dan tanpa sengaja anak-anak kita mendengar "kata bijak" dari tradisi pola berpikir tersebut, maka sudah pasti akan merusak karakter  anak-anak kita, sehingga pada akhirnya nasib kita tak jua kunjung berubah.

Keliru Menafsirkan Doktrin Agama
Selain budaya, agama juga memiliki pengaruh yang kuat dalam membentuk watak, mentalitas, sikap semangat dalam kehidupan, serta turut berperan dalam upaya memecahkan problematika kehidupan.
Oleh karena itu, setiap pemimpin agama memiliki peranan penting dalam memberikan pencerahan tentang tujuan dari agama, bahwa agama bukan hanya menghantarkan-nya menuju jalan keselamatan akhirat semata,  tetapi juga keselamatan di dunia saat ini.
Hal ini dengan kata lain dalam ajaran Kristen disebut  damai di bumi, damai di surga.
Keselamatan di dunia (damai di bumi) berarti membebaskan manusia dari kemiskinan, keterbelakangan, kebodohan, ketertindasan, dan masalah kehidupan lainnya yang di hadapi manusia.

Mayoritas penduduk  pulau Timor adalah pemeluk agama Kristen.  Pengaruh paham kekristenan sudah begitu melekat erat di dalam benak orang-orang Timor, dan sudah dianggap sebagai bagian dari tradisi.

Dalam agama Kristen, Ora Et Labora adalah  sama pentingnya dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika.
Dengan demikian, Ora Et Labora yang  berarti Berdoa dan Bekerja,  sebenarnya merupakan konsep agama yang mampu memotivasi pemeluk agama Kristen untuk tidak hanya berdoa saja tetapi juga mewujud-nyatakan  iman dalam tindakan, yakni bekerja.

Di Timor, konsep Ora Et Labora sudah dianggap sebagai kewajiban setiap orang Kristen, yang bermakna sebagai bentuk manifestasi  iman dan kepercayaan kepada Tuhan.
Hal ini menjadi gambaran nyata bahwa sebenarnya orang Timor tidak hanya berdoa saja,  akan tetapi mereka juga bekerja.

Jika demikian, mengapa Timor masih saja menjadi daerah tertinggal, sedangkan konsep Ora Et Labora sudah diterapkan dengan benar dalam kehidupan orang Timor sejak berpuluh-puluh tahun lalu?

Jika ditinjau lebih jauh lagi, ada beberapa ayat dalam Alkitab yang sering kali "di-salah tafsirkan" sehingga  membelokkan arti dan tujuan dari bekerja dalam semboyan Ora Et Labora. 
Seperti  contoh ayat Alkitab berikut ini:
Dalam Kitab Matius 6:33  "Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu."
Bunyi ayat Alkitab tersebut apabila dikaitkan dengan Ora Et Labora bisa menimbulkan persepsi yang berbeda.   Bahwa yang dimaksud dengan bekerja pada kata Ora Et Labora itu adalah Mencari kerajaan Allah, dan hal ini menjadikan  makna kata bekerja  lebih cenderung  kepada hal-hal yang bersifat Rohani.
Apabila membaca semua ayat dalam Kitab Matius  pasal 6:25-34 secara keseluruhan, dan bila tanpa pencerahan  dari para  pendeta atau pastor,  maka sudah tentu akan menimbulkan pemahaman  yang mengarah kepada sikap "berharap" daripada tindakan melakukan sesuatu.

Hal ini dikarenakan ada begitu banyak orang Kristen yang hobi memilih ayat-ayat Alkitab tertentu dan kemudian menjadikan ayat yang disukainya itu  menjadi pegangan, tanpa  membaca Alkitab secara menyeluruh.

Padahal sebenarnya isi  Alkitab memiliki saling keterkaitan antara ayat yang satu dengan ayat lainnya, meskipun kedengaran berlawanan  makna.  Semisal ada ayat yang  mengecam keras kemalasan, tetapi ada juga ayat yang mengatakan, hiduplah untuk hari ini, sebab hari esok mempunyai kesusahannya sendiri.
Oleh karena itu, agar tidak menimbulkan pemahaman yang keliru,maka sebaiknya  Alkitab harus dibaca secara menyeluruh.

Dalam upaya menciptakan damai di bumi, Gereja harus turut andil memberi pencerahan melalui mimbar Gereja serta menyelenggarakan  forum-forum tertentu  yang bertujuan  menyejahterakan jasmani jemaat-nya.

Saya sebagai penulis artikel ini, lahir dan besar di pedalaman Timor,  sehingga  saya tahu betul sejauh mana peran Gereja  mentransformasikan Firman Tuhan dalam upaya membangkitkan gairah kerja keras, semangat juang pantang menyerah, dan etos kerja jemaat dalam upaya memakmurkan hidupnya.

Selama ini yang saya lihat, gereja hanya berperan sebagai "Penghibur" bagi kemiskinan dan keterbelakangan di Timor, dengan berusaha meminimalisir  dilema yang dihadapi jemaat dari sudut pandang Rohani;  Bahwa menjadi orang Kristen harus menderita dan memikul Salib.

Dengan begitu, ketika jemaat diperhadapkan dengan problematika hidup,   mereka mulai  berasumsi  bahwa penderitaan, kemiskinan, kemelaratan, keterbelakangan dan penindasan sebagai bagian dari  iman, sehingga efek-nya  mereka justru terkesan " menikmati "  daripada berusaha  keluar dari masalah yang membelenggu kehidupan mereka tersebut.

Karena itu, untuk mewujudkan damai di bumi, damai di surga, bagi masyarakat Timor, maka ada baiknya pemerintah dan Gereja harus bergandengan tangan dan berusaha merubah mental masyarakat dan pola pikir jemaat, sehingga ke depan nanti,  dengan sendirinya masyarakat menyadari akan pentingnya daya saing dengan meningkatkan etos kerja, dan semangat juang pantang menyerah.


Sebagai  pribadi yang lahir dan besar di pedalaman Timor, saya baru menyadari jika hampir seluruh hidup, saya habiskan dalam kubangan pola pikir yang salah dan tafsiran ayat ayat Alkitab yang meninabobokan ,  setelah saya mencoba "keluar" dan melihat kampung halaman tercinta dari sudut pandang berbeda.

Kesadaran selalu datang terlambat, memang.  Tetapi, setidaknya tulisan ini dapat bermanfaat untuk generasi penerus kita. Sehingga ke depannya nanti anak cucu kita bisa terlepas dari belenggu pola pikir yang keliru ini, dan membawa Timor ke arah persaingan global yang sejatinya membutuhkan manusia manusia dengan  tekad dan prinsip yang tangguh, serta kualitas  berpikir yang cemerlang.


Pesan saya;   Meskipun tanah yang kita cintai ini gersang, akan tetapi setidaknya kita tidak harus memiliki watak dan pola pikir yang gersang pula.

 Salam Ora Et Labora


©2016
Elang Mutis

Post Top Ad

Your Ad Spot

Pages