![]() |
| Foto Ilustrasi suasana Kota vs Desa |
Zaman sekarang manusia memiliki kebebasan untuk menentukan sendiri hal-hal yang pada zaman dahulu diatur oleh adat atau tradisi dalam lingkungan di mana manusia itu hidup. Semisal, memilih pasangan hidup, pekerjaan, dan tempat tinggal tetap.
Sebagai contoh wewenang adat pada zaman dahulu, dalam menentukan tempat tinggal bagi pasangan manusia yang baru menikah, pada budaya suku Dawan Timor ada istilah kawin masuk dan kawin keluar.
Kawin Masuk artinya Pria harus meninggalkan kampung halaman atau rumahnya dan pergi tinggal menetap dengan istrinya di rumah atau kampung halaman wanitanya tersebut.
Begitu pula sebaliknya, kawin keluar mewajibkan si wanita harus rela dibawa keluar dan tinggal menetap di rumah dan kampung halaman pria.
Namun semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, pola pikir masyarakat pelaku budaya itu sendiri menjadi berevolusi. Sehingga lambat laun, tradisi kawin masuk dan kawin keluar tidak lagi menjadi sesuatu yang wajib atau perlu.
Salah satu alasan hilangnya budaya tersebut adalah dunia kerja, di mana pertanian bukan lagi menjadi satu satunya pilihan pekerjaan orang orang modern.
Rumah dan tempat menetap merupakan bagian yang tak terpisahkan dari cita-cita seorang dewasa dalam usaha mempersiapkan masa depannya.
Tempat tinggal juga berhubungan erat dengan domisili, dalam hal ini pekerjaan atau rutinitas manusia itu .
Hal yang menjadi pertimbangan pertama saat menentukan tempat tinggal adalah lingkungan dan sarana yang dianggap mampu menunjang bagi kenyamanan dan kelancaran usaha atau pekerjaan seseorang.
Berbicara tentang lingkungan dan sarana dalam memilih tempat tinggal, tentu pemikiran kita mulai diarahkan kepada suasana, atau situasi dan kondisi tempat tinggal tersebut.
Suasana di perkotaan tentu berbeda dengan suasana kehidupan di pedesaan. Hal ini jugalah yang menjadi alasan umum bagi orang yang ingin hidup dalam suasana keramaian atau di suasana alam yang hening, sejuk dan asri.
Memilih hidup di Kota atau Desa tergantung pada pribadi masing masing orang, lebih merasa nyaman di kota atau di desa, dan tentunya ada untung rugi-positif negatifnya.
Suasana kehidupan di pedesaan dan perkotaan tentu sangat bertolak belakang, meski sebenarnya masing masing memiliki artian penting dalam menunjang kehidupan.
Di kota, orang cenderung lebih memikirkan kepentingan hidupnya sendiri sendiri, sedangkan di desa sosialitas antar sesama, gotong royong, saling peduli satu sama lain masih terpelihara dengan baik dan "manusiawi".
Berikut ini akan saya uraikan sedikit gambaran tentang perbedaan antara kehidupan di kota dan di desa;
Pedesaan
- Di desa suasana lebih sejuk dan asri, dan jauh dari kebisingan dan hiruk pikuk.
- Di desa, sesama tetangga saling kenal dan akrab. Tidak ada perasaan canggung untuk saling bertegur-sapa. Saling membantu dan peduli.
- Di desa, jikalau ada satu warga kampung ingin membuat rumah, maka seluruh kampung akan bahu-membahu bekerja membantu mendirikan rumah tersebut tanpa meminta upah. Sikap ke-gotong-barongan yang dilandasi rasa sosialitas yang tinggi itu didasari juga oleh pemikiran bahwa suatu saat kita juga akan membutuhkan pertolongan mereka.
- Di desa, biaya hidup lebih murah dibandingkan kehidupan kota.
- Di desa, orang cenderung lebih santai menjalani hidup dan menikmati setiap detik kehidupan mereka. Sebab, hidup tidak tergantung kepada Uang semata. Ada atau tidak ada uang, selalu ada sesuatu untuk dimakan.
Kota
- Di kota, sarana hidup jauh lebih lengkap dibandingkan di pedesaan.
- Di kota tidak ada yang namanya gotong royong, semua tenaga orang selalu diperhitungkan dengan Uang, karena kehidupan di kota lebih mengarah kepada individualisme dan waktu adalah Uang.
- Di kota, sesama tetangga kadang tidak saling kenal, dan bahkan jarang bertegur-sapa. Yang di kenal sesama teman satu kantor atau satu sekolah.
- Di kota, biaya hidup jauh lebih mahal dan cenderung boros, karena gaya hidup yang lebih memprioritaskan gengsi.
- Di kota, Uang di atas segalanya. Tidak ada uang, tidak makan.!
Seperti itulah kira-kira perbedaan kehidupan di kota dan di desa. Semua tergantung masing-masing orang, lebih nyaman hidup di kota atau desa.
Bagi saya pribadi, tidak masalah hidup di kampung, asalkan rezekinya rezeki kota, tidak kelihatan kesan kampungan, karena kampungan dengan orang kampung itu beda arti.
Maksudnya meskipun hidup di desa asalkan jangan sampai Buta Teknologi, bisa mengakses informasi dan komunikasi seperti orang-orang di perkotaan, dan bisa menyaksikan setiap pertandingan Barcelona 😉
Maksudnya meskipun hidup di desa asalkan jangan sampai Buta Teknologi, bisa mengakses informasi dan komunikasi seperti orang-orang di perkotaan, dan bisa menyaksikan setiap pertandingan Barcelona 😉
Tidak apa apa hidup di antara keramaian dan hiruk-pikuk kota, yang penting rezekinya pun seimbang dengan gaya hidup perkotaan, dan masih terus memelihara kehidupan sosial antar sesama.
©2016 Elang Mutis

