Semua orang tentu mendambakan kehidupan yang seimbang, yakni bisa hidup damai dan sejahtera.
Tetapi pada akhir-akhir ini, sebagian orang lebih mengutamakan kemakmuran , lalu mengabaikan budaya-nya sendiri yang telah terbukti bisa membuat para leluhur mereka hidup berdampingan dalam Damai. Sehingga bukan lagi hal yang baru jika kita melihat di mana-mana ada manusia yang saling sikut, saling menjatuhkan, saling pijak memijak demi mewujudkan tujuan mereka untuk hidup sejahtera.
Namun, apakah hidup dengan membelakangi budaya leluhur tersebut bisa membuat mereka memperoleh kedamaian?
Mari kita belajar dan menemukan jawaban dari pola hidup suku Iban Sarawak...Salah satu suku yang mendiami hampir sebagian besar wilayah Sarawak, yang meskipun makmur tetapi masih tetap menggenggam erat budaya leluhur mereka.
Selain Artikel yang saya tulis terdahulu yang berjudul; Rumah Panjang, Yang Unik Dari Negeri Kenyalang, suku Iban juga mempunyai beberapa tradisi yang membuat saya kagum melihat gaya hidup mereka.
Berikut ini saya akan mengajak kamu Mengintip Budaya Suku Iban Serawak, yang Menjadikan Mereka Hidup tenteram,Damai, dan Makmur sampai se-detail detail-nya.
Taat Aturan
Kalau di Kupang, sudah menjadi pemandangan biasa jika ada fasilitas umum seperti rambu-rambu jalan yang dirusak dengan bermacam-macam coretan, digergaji lalu ditimbang, tetapi di Serawak kita tidak akan menemukan hal seperti itu. Fasilitas umum tidak akan tersentuh oleh siapa pun sampai rusak sendiri atau diganti oleh yang berwewenang.
Salah satu budaya taat hukum orang Iban yang menurut saya paling menonjol adalah larangan untuk tidak membuat gaduh di dalam rumah panjang.
Apa bila melanggar aturan tersebut, maka mereka yang membuat keributan di rumah panjang, selain dikeluarkan dari rumah panjang itu, juga akan dikenakan denda sebesar RM1.00 (Satu Ringgit Malaysia). Pada hal hanya satu ringgit yang kalau dirupiahkan jumlahnya sekitar Rp3.000 (tiga ribu rupiah)
Meskipun denda untuk pelanggaran aturan tersebut hanya satu ringgit, akan tetapi selama bertahun-tahun di Serawak, saya tidak pernah dengar ada kegaduhan di rumah panjang.
Tidak suka mencampuri urusan orang lain
Tidak ada istilah Kepo di Serawak.
Jika di tempat saya, sudah menjadi kebiasaan umum jika nama atau masalah orang lain jadi topik pembahasan ketika ada 2 atau lebih ibu-ibu duduk berkumpul. Tetapi kebiasaan serupa tidak ada pada tradisi orang Iban. Masalah orang lain, tetap menjadi urusan orang itu. Tidak ada kata saling mengundang untuk menghimpun kekuatan, dan juga tidak menjadi buah bibir atau bahan gosip orang lain.
Pada hal mereka yang diam di dalam satu atap itu ada puluhan bahkan ratusan kepala keluarga, dan keluarga sebanyak itu hanya mempunyai satu ruang tamu, tetapi tidak ada orang yang pagi-pagi atau sore-sore pergi ngopi di tetangga kamar sebelah, apa lagi mau duduk berkerumun tak tentu tujuan.
Tidak ada Hura-Hura dan Pesta-Pesta
Walaupun dalam satu rumah panjang dihuni oleh puluhan hingga ratusan kepala keluarga, namun suasana sekeliling-nya tetap hening, bahkan ketika kita berada tepat di halaman rumah itu pun, kita tidak akan mendengar bunyi bising musik, suara gelak tawa, ataupun keributan-keributan lainnya.
Seperti yang sudah saya uraikan pada artikel sebelumnya tentang rumah panjang, bahwa suasana rumah panjang akan nampak ramai dan sedikit bising saat ada pesta Gawai yang berlangsung satu tahun satu kali. Selain itu suasana rumah kediaman mereka akan kembali hening sepanjang tahun.
Tidak Bergaya
Di dalam rumah panjang, istilah "duduk sama rendah, dan berdiri sama tinggi", benar-benar ter-realisasi-kan dengan sempurna. Yang terlihat berbeda di dalam rumah panjang hanya warna, karena setiap keluarga memberi warna tembok dan lantai keramik-nya sesuai selera masing-masing.
Untuk ukuran taraf hidup, orang serawak tergolong Makmur. Rata-rata setiap keluarga memiliki kendaraan roda dua dan empat. Bahkan hampir setiap orang yang masih usia produktif, atau yang memiliki pekerjaan tetap mempunyai mobil pribadi. Walau begitu, mereka tetap berpenampilan sederhana apa adanya, dan jauh dari kesan foya-foya dan kemewahan.
Menjauhkan Diri dari Perselisihan
Di Serawak, orang-orang Timor menemukan kesamaan tradisi, meskipun berbeda nama dan jenis, tetapi tetap saja disebut minuman beralkohol yang merupakan salah satu kebiasaan khas orang Timor dan juga orang-orang suku Iban Serawak.
Namun, masih ada saja perbedaan menonjol dari tradisi ini tatkala minuman khas kedua suku tersebut di-konsumsi. Perbedaannya adalah ketika alkohol itu sudah merasuki sanubari dan menguasai naluri, orang Timor sudah tentu volume suaranya mulai meninggi, bising dan ada kalanya timbul kegaduhan.
Tetapi hal serupa ini tidak akan nampak pada orang Iban, walau seberapa liter minuman mereka habiskan. Bahkan kita tidak akan tau membedakan keadaan seseorang setelah mabuk alkohol dari sebelumnya, karena mereka akan terlihat biasa saja. Setiap kali mereka berkesempatan minum bersama kami, dan apabila kami mulai menunjukkan sinyal perselisihan dan keributan, maka sudah pasti mereka akan pamit pulang seketika itu juga.
Soal minuman yang satu ini, orang Iban mungkin jago-nya, bahkan jangan coba-coba menantang nona-nona dan ibu-ibu rumah tangga orang Iban, kalau tidak ingin dipermalukan mereka.
Setiap kali mereka belanja barang-barang tertentu di kedai, tidak pernah luput dari daftar belanja mereka 2 atau 3 botol minuman arak.
Tetapi kelebihan mereka adalah bahwa mereka pintar menguasai diri dan menghindari perselisihan. Buktinya, tidak pernah mereka berurusan dengan pihak polisi atau tersangkut masalah apapun berkaitan dengan mi-ras.
Bangun Awal Pagi
Bagi orang Iban, bangun tidur kesiangan itu adalah kebiasaan yang paling buruk, dan mereka akan membenci habis-habisan anggota keluarga yang terbiasa begitu.
Kesibukan penghuni rumah panjang akan terlihat pada jam 4 atau bahkan sebelum jam 4 pagi. Laki-laki perempuan, tua muda dan anak-anak akan memulai aktivitas mereka sebelum subuh.
Mungkin dengan salah satu tradisi mereka yang satu ini, menjadikan mereka hidup tenteram dan makmur.
Itulah catatan saya tentang beberapa budaya orang pribumi Serawak yang hidup damai dan makmur. Jika di antara kamu yang ingin hidup nyaman, damai dan tenteram, silakan datang ke Serawak. Di sini impian kamu akan menjadi kenyataan.
Saya sama sekali tidak bermaksud untuk menganggap budaya kita jelek dan budaya orang Iban lebih baik, tetapi di sini saya hanya sekadar membandingkan, atau lebih tepatnya memberi kita gambaran tentang tujuan inti dari artikel ini.
Salam dari Rantau.....
© 2017
Elang Mutis

