![]() |
| Referensi pihak ketiga |
Dari dulu sampai sekarang, penguasa cinta itu namanya laki laki. Entah di belahan bumi mana pun, tetap saja sama berlaku hukum ini. Bahkan ada sebagian kelompok manusia dengan budaya Patriarki, terbilang sangat ekstrem menerapkan kebiasaan dominasi laki laki atas wanita.
Mungkin betul para pujangga menggambarkan wanita sebagai bunga, dan pria sebagai kumbang. Di mana dalam proses terbentuknya sebuah hubungan cinta, bunga hanya bisa menunggu dan menggantungkan harapan sepenuhnya kepada kumbang. Ini bisa dikatakan hukum alam yang berlaku semenjak zaman antah berantah sampai hari ini.
Oleh sikap ketergantungan inilah, dominasi laki laki terwujud secara alami, tanpa perlu adanya mufakat, tawar menawar, bujuk rayu, atau sogok menyogok.
Padahal, sebenarnya yang diharapkan wanita dari pria adalah sosok yang bisa melindungi. Namun seiring waktu berjalan, pria yang dianggap sebagai pelindung ini justru mengambil alih semua peran di dalam suatu hubungan.
Dominasi dalam suatu hubungan cinta ini berarti, seseorang yang memiliki kuasa untuk mengendalikan atau mengatur pasangannya, serta punya hak untuk menentukan arah dan tujuan hubungan tersebut.
Masyarakat pada umumnya sampai hari ini masih menganggap bahwa laki laki yang sepatutnya memegang kuasa terhadap wanita dalam suatu ikatan cinta. Pihak wanita diharapkan untuk tunduk dan menurut apa kehendak laki laki. Suka atau tidak, ikhlas atau pun terpaksa.
Hal ini memungkinkan laki laki leluasa mengendalikan perempuan, dan berhak mengatur atau mengelola sebuah hubungan cinta.
Sejarah panjang dominasi laki laki menjadikan perempuan, sadar atau pun tidak, menyerahkan hak sepenuhnya kepada laki laki untuk mengaturnya.
Kebiasaan menggantungkan segalanya kepada pihak laki laki yang kamu cintai itulah yang nantinya lelaki-mu dengan leluasa menguasai, mengatur, dan mengendalikan hati dan kehidupan kamu sepenuhnya. Karena semakin tergantung-nya seseorang dalam suatu hubungan, maka orang tersebut akan kehilangan hak untuk mengelola atau mengatur hubungan itu.
Jika kamu sangat tergantung kepada kekasih, maka sangat mungkin kamu akan didominasi kekasih kamu dalam segala hal berkaitan dengan hubungan yang kamu jalani.
Mungkin betul para pujangga menggambarkan wanita sebagai bunga, dan pria sebagai kumbang. Di mana dalam proses terbentuknya sebuah hubungan cinta, bunga hanya bisa menunggu dan menggantungkan harapan sepenuhnya kepada kumbang. Ini bisa dikatakan hukum alam yang berlaku semenjak zaman antah berantah sampai hari ini.
Oleh sikap ketergantungan inilah, dominasi laki laki terwujud secara alami, tanpa perlu adanya mufakat, tawar menawar, bujuk rayu, atau sogok menyogok.
Padahal, sebenarnya yang diharapkan wanita dari pria adalah sosok yang bisa melindungi. Namun seiring waktu berjalan, pria yang dianggap sebagai pelindung ini justru mengambil alih semua peran di dalam suatu hubungan.
Dominasi dalam suatu hubungan cinta ini berarti, seseorang yang memiliki kuasa untuk mengendalikan atau mengatur pasangannya, serta punya hak untuk menentukan arah dan tujuan hubungan tersebut.
Masyarakat pada umumnya sampai hari ini masih menganggap bahwa laki laki yang sepatutnya memegang kuasa terhadap wanita dalam suatu ikatan cinta. Pihak wanita diharapkan untuk tunduk dan menurut apa kehendak laki laki. Suka atau tidak, ikhlas atau pun terpaksa.
Hal ini memungkinkan laki laki leluasa mengendalikan perempuan, dan berhak mengatur atau mengelola sebuah hubungan cinta.
Sejarah panjang dominasi laki laki menjadikan perempuan, sadar atau pun tidak, menyerahkan hak sepenuhnya kepada laki laki untuk mengaturnya.
Kebiasaan menggantungkan segalanya kepada pihak laki laki yang kamu cintai itulah yang nantinya lelaki-mu dengan leluasa menguasai, mengatur, dan mengendalikan hati dan kehidupan kamu sepenuhnya. Karena semakin tergantung-nya seseorang dalam suatu hubungan, maka orang tersebut akan kehilangan hak untuk mengelola atau mengatur hubungan itu.
Jika kamu sangat tergantung kepada kekasih, maka sangat mungkin kamu akan didominasi kekasih kamu dalam segala hal berkaitan dengan hubungan yang kamu jalani.
Begitulah gambaran singkat tentang dinamika cinta kebanyakan wanita yang ketika benar benar mencintai, mereka tidak sadar membiarkan hidup dan kebebasannya diatur, diarahkan, dan dikendalikan oleh sang pria.
Sebab itu, tidak ada salahnya jika sekali kali kamu mencoba untuk menganalisa cinta yang kamu jalani saat ini.
Karena intinya, cinta yang sebenarnya tidak semestinya membunuh karakter salah satu pihak tertentu dari pelaku cinta tersebut.
Mungkin prosesnya tidak mudah, karena memang pada dasarnya tidak ada laki laki yang tidak egois. Tetapi bukan berarti ke-egoisan itu tak ada batasannya, dan dijadikan alasan untuk menguasai kehidupan orang lain secara mutlak.
Sebab itu, temukan lah cinta sejati yang akan selalu membiarkanmu terbang bebas. Cinta sejati tidak ada dominasi.! Tidak ada pemegang kuasa, dan tidak ada sang pengatur.
©2017 Elang Mutis

