Sore itu, udara terasa begitu sejuk setelah hampir dua jam hujan turun dengan derasnya.
Tumpang tindih warna merah jingga langit senja mulai menampakkan pesonanya dari balik kabut tipis yang memeluk mesra sebuah kampung kecil di lereng gunung yang hening dan damai.
Angin bertiup sepoi sepoi basah, disertai harum wangi bunga desember menjadikan sempurna keteduhan kampung kecil itu.
Namun, tidak demikian dengan suasana di sebuah rumah kecil beratap alang alang dan berdinding bambu, yang terletak di kaki bukit di sudut kampung.
Iklim bulan desember yang terkenal dingin, tidak dapat mempengaruhi suasana panas penghuni rumah kecil itu, yang sejak beberapa jam lalu terlibat pertengkaran.
Iklim bulan desember yang terkenal dingin, tidak dapat mempengaruhi suasana panas penghuni rumah kecil itu, yang sejak beberapa jam lalu terlibat pertengkaran.
Lagi-lagi si bungsu Jefri jadi biang kerok pertikaian antara ayah, ibu, dan kakaknya Martha.
Jefri yang memasuki masa pubertas, dibuat mabuk kepayang oleh usaha mencari jati dirinya, seperti remaja-remaja lain pada umumnya.
Jefri selalu tidak mau kalah dari teman-teman sebayanya, khususnya dalam hal gaya, sehingga membuat dia lupa tempat kakinya berpijak.
Jefri selalu tidak mau kalah dari teman-teman sebayanya, khususnya dalam hal gaya, sehingga membuat dia lupa tempat kakinya berpijak.
☆☆☆☆☆
Malam Natal tinggal menghitung menit, dan semenjak pagi tadi Jefri terlihat gembira ria membayangkan setelan pakaian Natal nya sebentar lagi ada di genggaman.
Sedikit-pun dia tidak memikirkan dari mana nanti kakak nya mendapatkan uang untuk membelikan pakaian Natal nya itu.
Sedangkan dia menyaksikan sendiri kakak sulung nya awal pagi tadi berangkat ke pasar hanya membawa 2 tandan pisang, sebagai satu-satunya harapan untuk bisa membeli satu botol minyak goreng, satu kilogram tepung terigu, dan sisanya untuk ongkos ojek nanti pulang.
Sedikit-pun dia tidak memikirkan dari mana nanti kakak nya mendapatkan uang untuk membelikan pakaian Natal nya itu.
Sedangkan dia menyaksikan sendiri kakak sulung nya awal pagi tadi berangkat ke pasar hanya membawa 2 tandan pisang, sebagai satu-satunya harapan untuk bisa membeli satu botol minyak goreng, satu kilogram tepung terigu, dan sisanya untuk ongkos ojek nanti pulang.
Jefri sama sekali tidak memikirkan andai kata 2 tandan pisang itu tidak laku terjual, dan kakaknya jalan kaki puluhan kilometer dari pasar pulang ke rumah.
Di benaknya hanya terbayang, bagaimana nanti teman-teman nya tercengang dan kagum melihat baju barunya di malam Natal...
Di benaknya hanya terbayang, bagaimana nanti teman-teman nya tercengang dan kagum melihat baju barunya di malam Natal...
Di lain pihak, Martha tau yang dibutuhkan seisi rumah lebih penting daripada memenuhi permintaan adik bungsu nya itu, meskipun akan ada pemberontakan dari adiknya itu yang memang terkenal keras kepala karena dimanja sejak kecil.
Sepanjang jalan pulang hati nya tidak menentu, antara senang dan gelisah.
Sepanjang jalan pulang hati nya tidak menentu, antara senang dan gelisah.
Senang karena pisang nya laku terjual. Di sela sela kesenangannya, terselip perasaan gelisah membayangkan apa yang akan terjadi di rumah nanti.
Dan yang dikhawatirkan Martha akhirnya terjadi. Pertengkaran pun akhirnya tak terhindarkan.
Dan yang dikhawatirkan Martha akhirnya terjadi. Pertengkaran pun akhirnya tak terhindarkan.
Jefri kecewa setelah tahu isi dalam kantung plastik hitam kakak nya itu hanya ada se-botol minyak goreng, dan sebungkus tepung terigu.
Jefri mulai mengamuk dan menghancurkan barang apa saja yang ada di hadapan nya, termasuk tepung terigu jerih payah kakak nya itu dihamburkan dan di pijak-pijak, untuk melampiaskan kekesalan nya, karena harapan nya untuk pamer baju baru di malam Natal tidak kesampaian.
Ayah yang sedari tadi hanya diam membisu, tiba-tiba bangkit dan "plaak", satu tamparan keras mengenai pipi Martha.
"Kamu kan tau sifat adik mu itu Martha...kenapa kamu tidak turuti saja apa yang dia pesan semalam itu hah,?" kata ayah dengan geram nya.
Martha yang duduk ter-kapar di lantai tanah rumah itu, dengan pakaian nya yang basah kuyup karena kehujanan sewaktu pulang dari pasar, hanya menangis terseduh-seduh sambil mengusap air mata nya yang bercampur darah dari luka di pipi nya akibat terkena cincin batu akik ayah.
Martha kini menanggung dua luka sekaligus...
Luka di pipi yang mengeluarkan darah, dan luka di hati yang membuatnya menangis...
Martha tidak berkata apa pun untuk membela diri, atau setidaknya memberi pengertian kepada ayah yang dihormati dan sangat disayangi nya itu. Karena dia tau pasti kalau ada ayah, Jefri selalu yang dibenarkan.
Sedangkan ibu yang di harapkan ada di pihak nya, menghilang entah ke mana..
Sedangkan ibu yang di harapkan ada di pihak nya, menghilang entah ke mana..
☆☆☆
Sementara di seberang sungai yang berjarak sekitar 5 kilometer dari rumah keluarga Martha, seorang wanita tua berpakaian lusuh dan basah. Melangkah gontai tanpa alas kaki, menelusuri jalanan berkerikil, berusaha mempercepat ayunan kaki nya melawan waktu. Berharap akan tiba di rumah sebelum datang malam.
Wanita tua itu, ibunya Martha dan Jefri, yang semenjak siang tadi berkeliling kampung dari rumah ke rumah menawarkan kain sarung satu-satu nya yang dia miliki.
Di benaknya hanya ada satu harapan, agar kedua buah hatinya bahagia di malam Natal ini, sehingga hujan dan petir siang itu tidak menjadi hambatan berarti bagi nya.
Dan akhirnya, entah karena campur tangan Tuhan atau karena pemilik kios penjual pakaian bekas pakai itu merasa iba terhadap ibu tua renta itu. Kain sarungnya dapat ditukar dengan satu pasang baju dan celana rombeng.
Di ambang batas senja itu, ibu Lina memasuki halaman depan rumahnya yang kelihatan sunyi dan gelap.
Dari kejauhan terdengar sayup-sayup tangisan Martha.
Hatinya berdesir keras, karena dia sudah menduga apa yang telah terjadi, dan usahanya untuk mencegah hal itu, sia-sia sudah.
Martha yang sejak tadi tidak beranjak dari tempatnya, tiba tiba bangkit dan berlari perlahan menuju pintu rumah, setelah tahu ibunya sudah pulang...
Ibunya adalah satu satunya tempat dia bersandar, berkeluh kesah, dan berbagi tangis dan tawa.
Tanpa berkata apa apa, Martha langsung menghamburkan dirinya ke dalam pelukan ibunya.
Kedua wanita itu berpelukan dalam tangis yang memilukan, sehingga membuat siapa saja yang melihatnya pasti akan turut larut dalam kesedihan....
Tak terkecuali kedua lelaki ayah-anak itu, yang semenjak tadi membisu... Ego mereka luluh lantak oleh tangisan dua insan itu. Perlahan-lahan di wajah mereka ter-bersit rasa bersalah.
Jauh di lubuk hati mereka ada penyesalan yang tak terlukiskan.
Jauh di lubuk hati mereka ada penyesalan yang tak terlukiskan.
Tangis Martha mulai reda, dan ibunya melepaskan pelukan-nya dan berjalan ke arah Jefri yang semenjak tadi tertunduk diam. Dengan berlutut di hadapan Jefri, ibu menyodorkan sepasang pakaian yang masih dalam bungkusan koran bekas... Tangan nya yang kurus bergetar,entah karena kedinginan atau memang akibat termakan usia.
"Jefri,
"Jefri,
ini untuk mu nak , mama sudah belikan pakaian Natal yang pasti sangat cocok untuk mu. Cepatlah kamu cuci muka dan pakailah!
Sebentar lagi kebaktian Natal akan dimulai , nanti kamu telat sayang," kata ibunya tersenyum tulus.
Jefri terpaku dan menatap ibu nya dengan tatapan sayu.
Mata nya terasa panas dan akhirnya dia pun tak kuasa menahan tangis.
Ambisi nya untuk pamer gaya di malam Natal, langsung terkubur dalam-dalam oleh penyesalan dan rasa bersalah yang tiada tara.
Mata nya terasa panas dan akhirnya dia pun tak kuasa menahan tangis.
Ambisi nya untuk pamer gaya di malam Natal, langsung terkubur dalam-dalam oleh penyesalan dan rasa bersalah yang tiada tara.
Dengan refleks Jefri memeluk ibu nya dan menangis sekuat-kuatnya.....
"Maafkan Jefri mama... Jefri sudah membuat susah hati mama dan kakak Martha," kata Jefri tersendat-sendat di sela tangisan nya yang mengharu biru.
"Maafkan Jefri mama... Jefri sudah membuat susah hati mama dan kakak Martha," kata Jefri tersendat-sendat di sela tangisan nya yang mengharu biru.
Sekali ini, wanita tua itu menangis lagi sambil merangkul Jefri anak nya....
Rangkulan yang di dalam nya ada maaf, kasih sayang, dan ketulusan yang murni, yang hanya di miliki seorang ibu...
Ayah yang hanya diam dan menyaksikan semua kejadian mengharukan itu, samar-samar terlihat bening air matanya mengalir di pipi nya, dari pantulan cahaya lampu pelita di dalam rumah reyot itu.
Martha yang mendengar kata-kata Jefri yang selama ini dikenal keras kepala dan egois itu terharu dan segera berjalan mendekat, kemudian ikut memeluk ibu dan adik nya...
Ayah pun beranjak turun dari kursi nya dan suara nya yang parau memecah keheningan di dalam rumah itu..
Ayah pun beranjak turun dari kursi nya dan suara nya yang parau memecah keheningan di dalam rumah itu..
"Martha...maafkan ayah, ayah benar-benar bersalah karena selama ini lebih menyayangi Jefri dari pada kamu....padahal tidak seharusnya ayah bersikap seperti itu...ayah selalu tidak menghargai perjuangan dan pengorbanan kamu dan ibu mu....sekali lagi maaf kan ayah sayang," katanya sambil mengelus pundak Martha dan Lina istri nya.
Mendengar pengakuan tulus dari ayah nya, Martha langsung memeluk dan mencium ayah nya dengan penuh kasih sayang....
Martha merasa jika seumur hidup nya, baru sekali ini mendengar kata-kata itu keluar dari ayahnya yang selama ini dikenalnya garang, egois, dan hanya selalu mengutamakan kepentingan Jefri anak lelakinya.
Suasana haru dan kelegaan menyelimuti rumah itu, dan sangat terasa di hati Martha dan ibu nya.
Martha merasa jika seumur hidup nya, baru sekali ini mendengar kata-kata itu keluar dari ayahnya yang selama ini dikenalnya garang, egois, dan hanya selalu mengutamakan kepentingan Jefri anak lelakinya.
Suasana haru dan kelegaan menyelimuti rumah itu, dan sangat terasa di hati Martha dan ibu nya.
☆☆☆☆☆
Kabut duka itu kini tersibak....
Sukacita samar-samar mulai nampak di rumah itu, seiring bunyi lonceng Natal dari kejauhan.
Ibu Lina tiba-tiba sadar, bahwa ada satu hal yang perlu di lakukan sekarang.
Dia lalu menarik lengang Martha untuk mendekat dan membisikkan sesuatu di telinga putrinya itu.
Martha nampak mengangguk-anggukan kepalanya tanda setuju, dan dengan cekatan segera melangkah menuju ke arah dapur.
Sementara Jefri dan ibu nya mulai sibuk membersihkan ruangan dalam rumah itu yang berantakan, akibat amukan Jefri beberapa jam yang lalu.
Sebuah meja bundar kecil di letakkan di tengah-tengah ruangan, dan dihiasi beberapa batang lilin, empat kursi di letakkan di sekeliling meja itu.
Sukacita samar-samar mulai nampak di rumah itu, seiring bunyi lonceng Natal dari kejauhan.
Ibu Lina tiba-tiba sadar, bahwa ada satu hal yang perlu di lakukan sekarang.
Dia lalu menarik lengang Martha untuk mendekat dan membisikkan sesuatu di telinga putrinya itu.
Martha nampak mengangguk-anggukan kepalanya tanda setuju, dan dengan cekatan segera melangkah menuju ke arah dapur.
Sementara Jefri dan ibu nya mulai sibuk membersihkan ruangan dalam rumah itu yang berantakan, akibat amukan Jefri beberapa jam yang lalu.
Sebuah meja bundar kecil di letakkan di tengah-tengah ruangan, dan dihiasi beberapa batang lilin, empat kursi di letakkan di sekeliling meja itu.
Satu jam berlalu, setelah Martha dan tugas dapurnya selesai, juga ruangan mungil rumah itu yang sudah di tata rapi Jefri dan ibu nya.
Kemudian masing-masing mereka duduk mengelilingi meja itu.
Ayah sebagai kepala rumah tangga lebih dulu menyalakan lilin,selanjutnya ibu,Martha dan Jefri menyalakan lilin lainnya.
Kemudian masing-masing mereka duduk mengelilingi meja itu.
Ayah sebagai kepala rumah tangga lebih dulu menyalakan lilin,selanjutnya ibu,Martha dan Jefri menyalakan lilin lainnya.
Dengan tangan yang saling menggenggam, ayah memimpin Doa.
Sangat khusyuk-nya doa malam itu, sehingga kelihatan dari cahaya nyala lilin butir-butir bening air mata mengalir di pipi mereka.
Doa yang penuh kuasa.
Doa yang mampu menggetarkan Surga.
Bukan sekadar kata-kata permohonan, tapi penyerahan total yang membuat penghuni surga terkesima.
Mata Tuhan tertuju kepada mereka saat itu, kepada keluarga kecil yang merayakan Natal malam itu dalam kesederhanaan, keterbatasan, dan kekurangan. Yang meskipun tanpa persembahan namun menyenangkan hati Tuhan. Lagu Malam kudus yang nyaring terdengar dari dalam rumah reyot itu membuat para Malaikat bersorak.
Momen Natal di rumah keluarga yang serba kekurangan itu menjadi contoh Natal yang sesungguhnya. Mereka menunjukkan cara bagaimana mempersiapkan hati sebelum mengucapkan Maranatha. Terutama kasih se-bening embun ibu Lina untuk anak-anak nya.
Kasih yang luhur tanpa pamrih, tanpa memikirkan dirinya sendiri, dan tanpa memperhitungkan perjuangan dan pengorbanan nya itu, menjadi gambaran nyata kasih Tuhan untuk umat Nya.
Semenjak saat itu, mereka menganggap Natal bukan lagi sekadar tradisi gereja, atau pun momen setiap tahun mengulas kenangan.
Mereka menilai Natal adalah sesuatu yang sangat Sakral, yang mesti ada persiapan sungguh-sungguh sebelum merayakannya. Bukan lagi tentang baju baru Natal, atau persembahan. Bukan juga tentang meriah nya perayaan, tetapi mengenai hati yang betul-betul sudah di persiapkan untuk menjadi layak bagi Sang bayi Natal.
Serawak, Desember 2015


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar di sini