Sebelumnya, saya sempat ragu ragu dan berpikir berkali kali untuk menulis artikel ini, mengingat akan ada pihak pihak yang tersinggung dan merasa tersudut dengan pemaparan judul artikel tersebut.
Pada hakikatnya, tulisan ini tidak bermaksud untuk merendahkan martabat salah satu gender, dalam hal ini para kaum Hawa. Namun jika ditinjau lebih jauh lagi, sejatinya kita hidup di bawah ikatan budaya ketimuran yang mana di dalamnya ada beberapa etnis budaya yang masih menerapkan hukum adat yang terbilang masih sangat masif.
Selain itu, dalam budaya ketimuran umumnya masih menganggap keperawanan sangat penting, sebagai ikon kehormatan, tahu malu, nilai, dan kesucian.
Menjelang akhir tahun 2017 lalu, saya sempat membaca satu artikel pada salah satu situs berita online, yang mana dalam berita tersebut menulis tentang usulan seorang pengacara terkemuka agar adanya tes keperawanan dan keperjakaan sebelum menikah.
Anjuran tersebut jelas menuai antipati dari berbagai pihak, khususnya organisasi organisasi yang berkaitan dengan kaum perempuan.
Bukan tidak mungkin tanpa alasan pernyataan pengacara tersebut, sebab dalam berbagai kasus perceraian dan kekerasan dalam rumah tangga yang ditanganinya, hampir sebagian besar dipicu oleh dilema yang sama.
Menjelang akhir tahun 2017 lalu, saya sempat membaca satu artikel pada salah satu situs berita online, yang mana dalam berita tersebut menulis tentang usulan seorang pengacara terkemuka agar adanya tes keperawanan dan keperjakaan sebelum menikah.
Anjuran tersebut jelas menuai antipati dari berbagai pihak, khususnya organisasi organisasi yang berkaitan dengan kaum perempuan.
Bukan tidak mungkin tanpa alasan pernyataan pengacara tersebut, sebab dalam berbagai kasus perceraian dan kekerasan dalam rumah tangga yang ditanganinya, hampir sebagian besar dipicu oleh dilema yang sama.
Oleh sebab itu, asumsinya, dengan adanya tes keperawanan ini, diharapkan bisa membantu menekan angka perceraian dan kasus kekerasan dalam rumah tangga yang semakin marak.
Pro-kontra tentang tes keperawanan sudah berlangsung lama dan terjadi berulang kali di berbagai daerah di negara kita. Mayoritas polemik bermula dari problematika dalam rumah tangga seperti perceraian dan kasus KDRT. Sebagian lainnya kadang terjadi pada institusi institusi tertentu yang ingin mencari tahu nilai moralitas pada calon pekerja dengan melakukan tes keperawanan.
Dengan adanya sekian banyak kontroversi yang terjadi belakangan ini menyangkut keperawanan, maka tercetus lah ide untuk menulis artikel ini.
Dalam tulisan ini, saya akan mencoba menetralisir polemik tersebut, yang mana menurut anggapan saya sebagai pribadi, menilai bahwa letak permasalahan sebenarnya, dipengaruhi oleh 2 norma yang berlaku di dalam masyarakat kita dewasa ini yang umumnya memiliki perspektif kontradiktif.
Tradisi kaum Millenials dan Budaya Ketimuran adalah 2 norma yang saat ini mengalir dalam nadi kita, baik sadar atau pun tidak.
Millenials (juga dikenal sebagai generasi Millenial), adalah generasi X, atau kelompok demografis setelah generasi Y. (baca Wikipedia).
Kaum Millenials merupakan generasi yang lahir pada awal tahun 1980'an hingga tahun 2000'an, sehingga mereka dikategorikan dalam kisaran usia 18 sampai 38 tahun.
Kaum Millenials memiliki ciri khas tersendiri dari generasi sebelumnya, yakni mereka lahir pada saat TV berwarna, handphone, dan internet sudah ada.
Secara garis besar, generasi Millenials yang dimaksudkan adalah anak anak muda saat ini, yang hidup bersamaan dengan era kecanggihan teknologi digital.
Dengan adanya handphone dan internet khususnya pada teknologi informasi dan komunikasi, menjadikan generasi Millenials memiliki gaya hidup yang jauh berbeda dengan generasi sebelumnya.
Hal ini tentu memudahkan mereka untuk meniru dan menerapkan budaya budaya barat yang sebetulnya bertolak belakang dengan budaya ketimuran.
Salah satunya yaitu keperawanan, yang sudah begitu mengakar dalam budaya ketimuran, namun pada budaya barat menganggapnya tidak terlalu penting.
Orang orang dalam kawasan budaya ketimuran (khususnya kaum Millenials), sudah mulai menerima, bahkan mengaplikasikan sedikit demi sedikit budaya barat tersebut. Hal ini tentu menghadirkan kontroversi dan perdebatan yang akhirnya menjadikan masyarakat kita seakan mengalami semacam Cultural shock. Di mana keperawanan di negeri negeri Timur masih dianggap serius dan dijunjung tinggi sebagai bentuk kehormatan, sementara Barat dengan budaya pergaulan bebasnya malah memandang keperawanan tidak seberapa berarti.
Dengan adanya pertemuan dua arus budaya tersebut, membuat pemikiran masyarakat dewasa ini merasa dilema. Orang orang Indonesia khususnya, seakan berada di tengah tengah, antara budaya Timur versus budaya barat dalam perdebatan mengenai keperawanan.
Walau begitu, perdebatan demi perdebatan selalu tidak menemui titik akhir yang pasti, ketika diperhadapkan dengan suatu istilah yang disebut "privasi".
Namun pada kenyataannya, alasan privasi ini seumpama menimbun duri dalam daging. Sebab umumnya pria Indonesia masih melekat warisan budaya ketimuran pada jiwa dan sanubari mereka.
Kita bisa saja mengikuti arus perkembangan zaman dengan memanipulasi budaya Timur kita sendiri dengan alasan Privasi. Namun di satu sisi, budaya ketimuran kita sudah tertanam begitu dalam di dalam sanubari kita, bahwa keperawanan merupakan hal yang serius dan penting yang mesti dihormati dan dijunjung tinggi sebagai simbol kehormatan kita.
Pro-kontra tentang tes keperawanan sudah berlangsung lama dan terjadi berulang kali di berbagai daerah di negara kita. Mayoritas polemik bermula dari problematika dalam rumah tangga seperti perceraian dan kasus KDRT. Sebagian lainnya kadang terjadi pada institusi institusi tertentu yang ingin mencari tahu nilai moralitas pada calon pekerja dengan melakukan tes keperawanan.
Dengan adanya sekian banyak kontroversi yang terjadi belakangan ini menyangkut keperawanan, maka tercetus lah ide untuk menulis artikel ini.
Dalam tulisan ini, saya akan mencoba menetralisir polemik tersebut, yang mana menurut anggapan saya sebagai pribadi, menilai bahwa letak permasalahan sebenarnya, dipengaruhi oleh 2 norma yang berlaku di dalam masyarakat kita dewasa ini yang umumnya memiliki perspektif kontradiktif.
Tradisi kaum Millenials dan Budaya Ketimuran adalah 2 norma yang saat ini mengalir dalam nadi kita, baik sadar atau pun tidak.
Millenials (juga dikenal sebagai generasi Millenial), adalah generasi X, atau kelompok demografis setelah generasi Y. (baca Wikipedia).
Kaum Millenials merupakan generasi yang lahir pada awal tahun 1980'an hingga tahun 2000'an, sehingga mereka dikategorikan dalam kisaran usia 18 sampai 38 tahun.
Kaum Millenials memiliki ciri khas tersendiri dari generasi sebelumnya, yakni mereka lahir pada saat TV berwarna, handphone, dan internet sudah ada.
Secara garis besar, generasi Millenials yang dimaksudkan adalah anak anak muda saat ini, yang hidup bersamaan dengan era kecanggihan teknologi digital.
Dengan adanya handphone dan internet khususnya pada teknologi informasi dan komunikasi, menjadikan generasi Millenials memiliki gaya hidup yang jauh berbeda dengan generasi sebelumnya.
Hal ini tentu memudahkan mereka untuk meniru dan menerapkan budaya budaya barat yang sebetulnya bertolak belakang dengan budaya ketimuran.
Salah satunya yaitu keperawanan, yang sudah begitu mengakar dalam budaya ketimuran, namun pada budaya barat menganggapnya tidak terlalu penting.
Orang orang dalam kawasan budaya ketimuran (khususnya kaum Millenials), sudah mulai menerima, bahkan mengaplikasikan sedikit demi sedikit budaya barat tersebut. Hal ini tentu menghadirkan kontroversi dan perdebatan yang akhirnya menjadikan masyarakat kita seakan mengalami semacam Cultural shock. Di mana keperawanan di negeri negeri Timur masih dianggap serius dan dijunjung tinggi sebagai bentuk kehormatan, sementara Barat dengan budaya pergaulan bebasnya malah memandang keperawanan tidak seberapa berarti.
Dengan adanya pertemuan dua arus budaya tersebut, membuat pemikiran masyarakat dewasa ini merasa dilema. Orang orang Indonesia khususnya, seakan berada di tengah tengah, antara budaya Timur versus budaya barat dalam perdebatan mengenai keperawanan.
Walau begitu, perdebatan demi perdebatan selalu tidak menemui titik akhir yang pasti, ketika diperhadapkan dengan suatu istilah yang disebut "privasi".
Namun pada kenyataannya, alasan privasi ini seumpama menimbun duri dalam daging. Sebab umumnya pria Indonesia masih melekat warisan budaya ketimuran pada jiwa dan sanubari mereka.
Kita bisa saja mengikuti arus perkembangan zaman dengan memanipulasi budaya Timur kita sendiri dengan alasan Privasi. Namun di satu sisi, budaya ketimuran kita sudah tertanam begitu dalam di dalam sanubari kita, bahwa keperawanan merupakan hal yang serius dan penting yang mesti dihormati dan dijunjung tinggi sebagai simbol kehormatan kita.
©2018 Elang Mutis


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar di sini