Breaking

Post Top Ad

Your Ad Spot

16 Maret 2019

Fakta Tentang Kekristenan Yang Semakin Tergeser Oleh Ilmu Pengetahuan Dan Gaya Hidup


Referensi pihak ketiga
Pada akhir akhir ini penganut ateis dan agnostik semakin populer di Eropa dan Amerika, yang sebenarnya merupakan kawasan kawasan dengan basis  Kristen terbesar di dunia. Hal ini tentu sangat memprihatinkan jika dilihat dari sejarah berkembangnya Kekristenan pada mula mula. Bisa dibilang negara negara tersebutlah yang paling berjasa terhadap kehadiran agama Kristen di kawasan Timur.

Kebanyakan dari mereka yang memilih ateis atau agnostik tersebut adalah individu individu yang sebelumnya merupakan penganut  Kristen.
Tentu kita bertanya, apa yang menjadi dalang dibalik  keputusan mereka meninggalkan keyakinan awal mereka tersebut.
Sebelum membahas faktor faktor penyebab tergeser nya Kekristenan seperti yang tertera pada judul di atas, ada baiknya lebih dahulu kita mengetahui apa itu ateis, dan agnostik.

Ateis atau ateisme adalah sebuah pandangan filosofis yang tidak percaya akan adanya Tuhan atau dewa dewi. Intinya mereka menolak meyakini kepercayaan agama mana pun dan memilih hidup bebas tanpa aturan norma agama.
Sementara agnostik bisa dikatakan golongan skeptis garis keras.
Agnostik masih termasuk bagian dari ateis, tetapi secara intelektual mereka lebih jujur. Agnostisisme  berargumentasi bahwa ada atau tidak  adanya  Tuhan tidak dapat dibuktikan . Dalam konsep ini, mereka benar, bahwa keberadaan Tuhan tidak dapat dibuktikan secara empiris.(Wikipedia)

Secara sederhana, baik ateis maupun agnostik  adalah individu individu yang menginginkan kemandirian moral. Maksud dari kemandirian moral di sini artinya, mereka boleh melakukan seks bebas sebanyak banyaknya dengan siapa saja, mengkonsumsi obat obatan terlarang, menjadi pecandu alkohol, atau pun mendapatkan uang banyak dengan menghalalkan berbagai cara tanpa perlu merasa bersalah
Selain kemandirian moral, ada pula 3 alasan lain yang diduga menjadi indikator paling spesifik semakin bertambahnya populasi penganut ateis, yang dikhawatirkan lambat laun akan merambah ke seluruh dunia.

1. Memilih menjadi ateis didasarkan pada emosi daripada logika.
Perasaan putus asa sering melanda siapa saja pada momen momen tertentu. Ketika terlilit  kesulitan dalam hidup, serta doa doanya seperti usaha menjaring angin, maka  adakalanya beberapa orang skeptis mempertanyakan iman kepercayaannya, bahkan tak jarang pula yang berbalik lalu mempersalahkan Tuhan. 
Intinya, ketika Tuhan tidak menyelamatkan mereka dari pilihan yang buruk, mereka menjadi marah lantas meninggalkan iman.
Pada situasi lain, beberapa orang mungkin saja dilukai atau dikecewakan oleh sesama anggota atau pemimpin gereja dan ingin membalas perlakuan mereka dengan memilih menjadi ateis.
Masalah pola pikir tersebut selalu didasarkan pada emosi mereka daripada mempertimbangkan semua fakta.  

2. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi
Semakin maju-nya ilmu pengetahuan dan teknologi, semakin gesit pula bantahan dan kritikan  terhadap agama dan kitab suci, tak terkecuali Alkitab dan Kekristenan.
Salah satu yang paling fenomenal adalah teori big bang yang intinya menyatakan bahwa bumi ini terbentuk dari suatu peristiwa ledakan besar.  
Untuk mengetahui lebih detail teori tersebut, carilah artikel artikel yang membahas khusus tentang teori big bang.
Selain big bang, masih ada lagi beberapa teori konspirasi lain yang secara terang terangan menyanggah kebenaran Alkitab, khususnya dalam hal penciptaan alam semesta.
Teori teori tersebut tak pelak menimbulkan pemikiran skeptis sebagian orang, dan kemudian perlahan lahan meninggalkan iman kepercayaannya dan memilih menjadi ateis dan agnostik.
Fakta lain dari semakin populernya kaum ateis dan agnostik dipengaruhi oleh semakin majunya teknologi.
Banyak anak anak muda di barat cenderung tidak lagi peduli dengan nilai nilai Kekristenan. Mereka beranggapan bahwa ajaran agama itu sesuatu yang kuno dan ketinggalan zaman. Hal ini tentu ada kaitannya dengan kemandirian moral yang saya sebutkan di atas.

3. Terpenuhinya kebutuhan hidup
Kurang terampilnya para pemimpin gereja dalam mentransformasikan Firman Tuhan dalam berbagai strata kehidupan jemaat, terkadang justru menimbulkan asumsi bahwa peran gereja dan Alkitab hanya sebatas "hiburan" untuk penderitaan dan kemiskinan. 
Imbasnya, ketika beberapa orang Kristen sudah sukses, kaya raya, dan hidup makmur, mulai meremehkan Tuhan dan iman nya, dengan berasumsi bahwa;  "untuk apa pergi ke gereja, untuk apa berdoa, dan atau untuk apa menjadi Kristen, toh saya sudah memiliki segalanya".
Faktanya, beberapa orang sangat mendewa-dewakan kekayaan yang mereka miliki.
Mereka merasa tidak lagi membutuhkan Tuhan dan agama, jika pemahaman  orang orang tersebut  tentang agama hanya sebatas urusan formalitas bagi yang  melarat atau menderita.

Begitu mudahnya seseorang menjadi skeptis lalu menyangkal imannya, lazimnya disebabkan oleh dangkalnya pemahaman akan kebenaran Firman Allah.  Dalam kasus ini, kita tidak secara frontal menyalahkan guru agama atau pemimpin gereja.
Bisa jadi, seorang  ateis pada masa kecilnya kurang, atau bahkan sama sekali tidak memperoleh asupan rohani yang cukup. Dampaknya akan nyata pada saat dewasa, ketika segala macam pengetahuan duniawi__semisal teori teori yang saya sebutkan di atas__ dapat dengan mudah mempengaruhi pola pikir seseorang.
Faktor inilah yang kemudian menimbulkan pemikiran skeptis  berdasarkan opini yang terbentuk dari ilmu pengetahuan tertentu yang dipelajarinya.

©2019 Elang Mutis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar di sini

Post Top Ad

Your Ad Spot

Pages