Breaking

Post Top Ad

Your Ad Spot

20 Agustus 2019

Menyadari 4 Hal Penting Dalam Hidup Yang Terpaksa "Di-Skip" Ketika Merantau

Referensi foto: Pinterest.com

Hidup tanpa uang di zaman sekarang memang sulit, kawan. Rasa rasanya seperti kematian yang tidak mematikan. Saya yang menulis dan kamu yang membaca artikel ini, tentu akan merasakan suasana hati yang sama ketika tak memiliki uang.
Memang, tidak disangkal lagi jika uang dan materi merupakan standar kehidupan, bahkan bisa dikatakan "tuhan-nya" manusia modern. Banyak orang akan mendekat dan mengenal kamu sebagai famili,sahabat,dihormati, dan dicintai, ketika kamu memiliki standar kehidupan tersebut.

Faktor inilah yang kemungkinan menjadi motivasi banyak orang, lantas pergi merantau jauh ke seberang yang katanya menjanjikan hujan emas, dengan  harapan bisa menggapai standar kehidupan yang diinginkan.
Namun tanpa sadar, mereka  justru melewatkan momen momen penting dalam hidup yang bisa jadi tak akan terulang kembali.
Terlepas dari seberapa beruntungnya kamu mengais di perantauan, empat hal penting berikut ini akan berlalu begitu saja dalam hidup tanpa pernah kamu nikmati.

  • Kebersamaan dengan  orang orang terdekat ( keluarga )
Waktu paling berkualitas dalam hidup adalah ketika berkesempatan kumpul bareng orang orang terdekat (keluarga), berbagi cerita dan canda tawa.
Kebersamaan seperti ini, di zaman modern sangat langka, atau jarang sekali terjadi. Tidak mustahil jika orang bisa menganggap suasana kebersamaan tersebut sebagai suatu "kesuksesan" tersendiri.
Bagaimana tidak, jika manusia sudah termakan  moto waktu adalah uang, pada akhirnya akan melupakan nilai terpenting dalam hidup: kebersamaan.
Ketika kita mulai kehilangan satu per satu dari mereka, saya pastikan hal pertama yang kita sesali adalah kebersamaan yang sudah kita skip sia sia.

*Uang bisa datang dan pergi, tetapi keluarga adalah yang terpenting di atas segala galanya, kata Diminic Torreto dalam film Fast & Furious.
  • Kehilangan sahabat sahabat
Saat kita melangkah keluar dari rumah dan kampung halaman,  keluarga bukan satu satu kepingan hidup yang ditinggalkan,  tetapi tentu ada pula lambaian tangan kita untuk sahabat sahabat yang  sudah sekian lama bersama kita melewati waktu, berbagi canda tawa, dan yang selalu ada mereka dalam keadaan apa pun kita.

Pada suatu hari nanti, ketika  kembali, kita tidak mungkin lagi mendapati suasana yang sama seperti dahulu.
Di antara mereka ,  mungkin ada yang sudah meninggal,  berkeluarga, sementara beberapa yang lain pergi merantau. 
Kita tak akan bisa  menemukan diksi yang tepat untuk merajut kembali penggalan cerita yang dulu tertinggal. Karena waktu telah mengubah segalanya. Menyimpannya dengan rapi dalam suatu  ruang tersendiri yang disebut kenangan.

  • Anak anak dibiarkan terlantar tanpa didikan orang tua
Ketidakstabilan  ekonomi negara kita  akibat krisis yang berkepanjangan, berimbas  pada tuntutan hidup yang semakin tinggi.  Hal inilah yang kemudian memicu banyak  orang, tak terkecuali beberapa orang tua (suami-istri), rela pergi merantau meninggalkan anak anak mereka  demi mendapatkan kehidupan yang layak, atau setidaknya bisa menyambung hidup.

Hal ini  tentu menjadi ironi tersendiri bagi para orang tua yang sejatinya  memiliki  plan bijak  untuk masa depan anak anak ketika beranjak pergi merantau.
Di satu sisi mereka mampu memenuhi segala kebutuhan si anak, namun sayang, salah satu tanggung jawab sebagai orang tua yang tidak kalah penting, malah terabaikan begitu saja; menelantarkan anak anak mereka dididik dan dibesarkan oleh orang lain.

Masa depan anak tergantung sepenuhnya dari seberapa cerdas orang tua memoles pribadi anaknya dengan didikan yang baik.  Sebab pendidikan terhadap anak seumpama membangun sebuah rumah, guru hanya akan meletakkan batu di atas fondasi yang telah dirancang sedemikian kuat oleh orang tua.

Merantau sama sama (laki bini) itu baik dan menguntungkan secara ekonomis tentunya. Tetapi hal demikian sama saja menciptakan keluarga broken home untuk anak anak.
  • Masa muda yang semestinya indah terlewatkan  sia sia
Banyak anak muda yang sibuk menata masa depan sampai tidak sempat menikmati manis-nya masa muda. Hal ini umumnya dialami  anak anak muda yang merantau di daerah daerah terpencil, atau di rumah rumah tangga yang hanya diizinkan untuk menatap keluar melalui jendela.

Secara pribadi, saya merasa bahwa poin yang satu ini tentunya tidak berlaku untuk semua orang, karena ada sebagian orang yang tidak begitu peduli dengan masa mudanya sendiri. Tetapi sebagai manusia yang tentunya memiliki hati dan perasaan, kekosongan mungkin saja terasa begitu menyiksa.


©2019 Jurnal Beta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar di sini

Post Top Ad

Your Ad Spot

Pages