![]() |
| Referensi foto: Pinterest.com |
Hidup tanpa uang di zaman sekarang memang sulit, kawan. Rasa rasanya seperti kematian yang tidak mematikan. Saya yang menulis dan kamu yang membaca artikel ini, tentu akan merasakan suasana hati yang sama ketika tak memiliki uang.
Memang, tidak disangkal lagi jika uang dan materi merupakan standar kehidupan, bahkan bisa dikatakan "tuhan-nya" manusia modern. Banyak orang akan mendekat dan mengenal kamu sebagai famili,sahabat,dihormati, dan dicintai, ketika kamu memiliki standar kehidupan tersebut.
Faktor inilah yang kemungkinan menjadi motivasi banyak orang, lantas pergi merantau jauh ke seberang yang katanya menjanjikan hujan emas, dengan harapan bisa menggapai standar kehidupan yang diinginkan.
Namun tanpa sadar, mereka justru melewatkan momen momen penting dalam hidup yang bisa jadi tak akan terulang kembali.
Terlepas dari seberapa beruntungnya kamu mengais di perantauan, empat hal penting berikut ini akan berlalu begitu saja dalam hidup tanpa pernah kamu nikmati.
Kebersamaan seperti ini, di zaman modern sangat langka, atau jarang sekali terjadi. Tidak mustahil jika orang bisa menganggap suasana kebersamaan tersebut sebagai suatu "kesuksesan" tersendiri.
Bagaimana tidak, jika manusia sudah termakan moto waktu adalah uang, pada akhirnya akan melupakan nilai terpenting dalam hidup: kebersamaan.
Ketika kita mulai kehilangan satu per satu dari mereka, saya pastikan hal pertama yang kita sesali adalah kebersamaan yang sudah kita skip sia sia.
*Uang bisa datang dan pergi, tetapi keluarga adalah yang terpenting di atas segala galanya, kata Diminic Torreto dalam film Fast & Furious.
Pada suatu hari nanti, ketika kembali, kita tidak mungkin lagi mendapati suasana yang sama seperti dahulu.
Di antara mereka , mungkin ada yang sudah meninggal, berkeluarga, sementara beberapa yang lain pergi merantau.
Kita tak akan bisa menemukan diksi yang tepat untuk merajut kembali penggalan cerita yang dulu tertinggal. Karena waktu telah mengubah segalanya. Menyimpannya dengan rapi dalam suatu ruang tersendiri yang disebut kenangan.
Hal ini tentu menjadi ironi tersendiri bagi para orang tua yang sejatinya memiliki plan bijak untuk masa depan anak anak ketika beranjak pergi merantau.
Di satu sisi mereka mampu memenuhi segala kebutuhan si anak, namun sayang, salah satu tanggung jawab sebagai orang tua yang tidak kalah penting, malah terabaikan begitu saja; menelantarkan anak anak mereka dididik dan dibesarkan oleh orang lain.
Masa depan anak tergantung sepenuhnya dari seberapa cerdas orang tua memoles pribadi anaknya dengan didikan yang baik. Sebab pendidikan terhadap anak seumpama membangun sebuah rumah, guru hanya akan meletakkan batu di atas fondasi yang telah dirancang sedemikian kuat oleh orang tua.
Merantau sama sama (laki bini) itu baik dan menguntungkan secara ekonomis tentunya. Tetapi hal demikian sama saja menciptakan keluarga broken home untuk anak anak.
Secara pribadi, saya merasa bahwa poin yang satu ini tentunya tidak berlaku untuk semua orang, karena ada sebagian orang yang tidak begitu peduli dengan masa mudanya sendiri. Tetapi sebagai manusia yang tentunya memiliki hati dan perasaan, kekosongan mungkin saja terasa begitu menyiksa.
Memang, tidak disangkal lagi jika uang dan materi merupakan standar kehidupan, bahkan bisa dikatakan "tuhan-nya" manusia modern. Banyak orang akan mendekat dan mengenal kamu sebagai famili,sahabat,dihormati, dan dicintai, ketika kamu memiliki standar kehidupan tersebut.
Faktor inilah yang kemungkinan menjadi motivasi banyak orang, lantas pergi merantau jauh ke seberang yang katanya menjanjikan hujan emas, dengan harapan bisa menggapai standar kehidupan yang diinginkan.
Namun tanpa sadar, mereka justru melewatkan momen momen penting dalam hidup yang bisa jadi tak akan terulang kembali.
Terlepas dari seberapa beruntungnya kamu mengais di perantauan, empat hal penting berikut ini akan berlalu begitu saja dalam hidup tanpa pernah kamu nikmati.
- Kebersamaan dengan orang orang terdekat ( keluarga )
Kebersamaan seperti ini, di zaman modern sangat langka, atau jarang sekali terjadi. Tidak mustahil jika orang bisa menganggap suasana kebersamaan tersebut sebagai suatu "kesuksesan" tersendiri.
Bagaimana tidak, jika manusia sudah termakan moto waktu adalah uang, pada akhirnya akan melupakan nilai terpenting dalam hidup: kebersamaan.
Ketika kita mulai kehilangan satu per satu dari mereka, saya pastikan hal pertama yang kita sesali adalah kebersamaan yang sudah kita skip sia sia.
*Uang bisa datang dan pergi, tetapi keluarga adalah yang terpenting di atas segala galanya, kata Diminic Torreto dalam film Fast & Furious.
- Kehilangan sahabat sahabat
Pada suatu hari nanti, ketika kembali, kita tidak mungkin lagi mendapati suasana yang sama seperti dahulu.
Di antara mereka , mungkin ada yang sudah meninggal, berkeluarga, sementara beberapa yang lain pergi merantau.
Kita tak akan bisa menemukan diksi yang tepat untuk merajut kembali penggalan cerita yang dulu tertinggal. Karena waktu telah mengubah segalanya. Menyimpannya dengan rapi dalam suatu ruang tersendiri yang disebut kenangan.
- Anak anak dibiarkan terlantar tanpa didikan orang tua
Hal ini tentu menjadi ironi tersendiri bagi para orang tua yang sejatinya memiliki plan bijak untuk masa depan anak anak ketika beranjak pergi merantau.
Di satu sisi mereka mampu memenuhi segala kebutuhan si anak, namun sayang, salah satu tanggung jawab sebagai orang tua yang tidak kalah penting, malah terabaikan begitu saja; menelantarkan anak anak mereka dididik dan dibesarkan oleh orang lain.
Masa depan anak tergantung sepenuhnya dari seberapa cerdas orang tua memoles pribadi anaknya dengan didikan yang baik. Sebab pendidikan terhadap anak seumpama membangun sebuah rumah, guru hanya akan meletakkan batu di atas fondasi yang telah dirancang sedemikian kuat oleh orang tua.
Merantau sama sama (laki bini) itu baik dan menguntungkan secara ekonomis tentunya. Tetapi hal demikian sama saja menciptakan keluarga broken home untuk anak anak.
- Masa muda yang semestinya indah terlewatkan sia sia
Secara pribadi, saya merasa bahwa poin yang satu ini tentunya tidak berlaku untuk semua orang, karena ada sebagian orang yang tidak begitu peduli dengan masa mudanya sendiri. Tetapi sebagai manusia yang tentunya memiliki hati dan perasaan, kekosongan mungkin saja terasa begitu menyiksa.
©2019 Jurnal Beta


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar di sini