Breaking

Post Top Ad

Your Ad Spot

20 November 2018

Senja Berlalu Di Antara Sepasang Beringin Pertigaan Jalan




".......Pohon hidup untuk berbuah, manusia hidup untuk berusaha......"
Berulang kali mereka berjalan beriringan  dengan senja. 
Acap kali, kemesraan dan canda tawa mereka mengantar senja pulang ke peraduan.
Beberapa kali pula keduanya bercerita tentang indahnya merah jingga langit senja.
Memang, kala itu cinta mereka masih semerah langit senja.
Padahal banyak waktu senja mereka, berdua habiskan di bawah rimbunan sepasang pohon beringin pertigaan jalan.
Namun, tidak pernah sekalipun pepohonan  masuk dalam tema cerita mereka. Sampai suatu ketika, kala romantis nya sebuah cinta menemui batas akhirnya.
Sepasang pohon beringin di pertigaan jalan itu menjadi ironi kisah kasih mereka berdua.
                              
 ★   
Entah buah tangan siapa dan semenjak kapan dua beringin berbeda jenis itu ada, yang pasti bukan kebetulan keduanya tumbuh.
Yang sebelah timur berdaun coklat kemerahan, sementara pasangannya di sebelah barat berdaun hijau terang.
Ketika salah satu gugur daun nya, yang satunya setia melindungi, begitu sebaliknya.
Dahan, ranting, dan akar keduanya berpelukan begitu erat, seakan tidak ingin kehilangan salah satu di antara mereka.
Karena berada tepat di  tengah pertigaan jalan, tempat itu dinamakan segi tiga.
Sore itu, udara berembus perlahan. Gemerisik dedaunan beringin kedengaran begitu syahdu diterpa sepoi.  Bersenandung menyambut kehadiran seorang pria muda yang sudah melewatkan puluhan senja di bawah kedua pohon beringin itu.
Walau adakalanya segi tiga tidak begitu ramah terhadapnya.
Antara iri, atau mungkin juga bosan melihat tampang pria penghuni segi tiga yang selalu saja muncul kala senja tiba.
"Dasar pria pemalas, kerjanya cuma *tapaleuk ", begitu umpatan orang orang yang lalu lalang di tempat itu.
Pria itu tidak peduli.!
Cinta seakan sudah menyumbat kuping nya rapat rapat.
Perasaan untuk perempuan pujaan nya kian membuat hatinya membatu akan caci maki dan semburan ludah.
Mentari sebentar lagi akan meninggalkan senja.
Dia masih sabar menunggu. 
Dengan cemas, berusaha menahan sedikit asa yang tertinggal. Dalam hati nya berkecamuk pertanyaan pertanyaan tanpa jawaban.
Barangkali  senja ini, senja terakhir. Atau  suatu ketidakmungkinan dari ketulusan yang terpijak angkuh nya gengsi, mampu mengubahnya.
Atau, mungkin saja aku yang terlalu tolol, bisik hatinya.
Asap rokok kembali mengepul dari bibirnya yang kering dan memucat.
Senda gurau sepasang burung madu diranting beringin, sejenak mengalihkan pandangan pria itu dari  halaman depan  rumah kekasihnya, yang hanya berjarak beberapa meter dari segi tiga.
Pria itu tersenyum getir.  Ruang ruang  sempit dalam sanubari nya kembali mengurai momen kebersamaan mereka pada senja senja yang telah pergi.
Saat saat dimana cinta kasih dan kemesraan itu  memperlambat laju putaran waktu. Saat saat dimana canda tawa mereka mampu membungkam segala  lara.
Masa masa indah itu, kini berangsur angsur meredup seiring langkah kaki  yang tak lagi sehaluan.
Cinta mereka mulai menemui jalan terjal,  terbentur kerasnya kehidupan dan perbedaan tujuan.
          
★  ★  
Sebuah tepukan lembut di bahu kiri,  menyadarkan pria itu dari lamunan panjangnya.
Nampak sesosok wanita  dengan sedikit polesan rasa kesal di wajah manis nya, berdiri tepat di belakang pria itu.
Tanpa berkata apa apa, wanita itu menghamburkan diri di samping lelaki kekasihnya.
Sejenak mereka terdiam. Larut dalam pikiran masing masing.
Mata mereka menerawang jauh menembus rimbunan pepohonan,  menyibak dedaunan, dan mencari cari celah dia antara pucuk pucuk hijau. Lalu terpatri pada kelabu awan yang berarak arakan menuju ketiadaan.
Perlahan wanita itu meraih jemari tangan lelaki nya.
Menatapnya sendu, seraya  mengelus jemari kekasihnya dengan lembut.
"Bagaimana ini kak? Sudah dua kali aku mendapatkan peluang kerja untuk kamu di kota, dua kali pula kamu mengingkari nya.
Aku sudah lelah kak,"  kata wanita itu memelas.
Pria itu terdiam sejenak. Menarik napas nya  dalam dalam. Mencari cari kata yang tepat untuk menyembunyikan  ketidakberdayaan nya sendiri.
"Aku hanya merasa tidak yakin sayang, pekerjaan dengan gaji serendah itu tidakakan bisa memenuhi kebutuhan hidup kitakelak," kata sang pria datar.
"Ia aku mengerti, tapi kak, sekurang kurangnya kita punya sumber penghasilan. Selebihnya kita bisa usahakan untuk berhemat," timpal wanita itu meyakinkan.
Lelaki itu terdiam lagi. Dengan halus melepaskan genggaman tangan kekasihnya dari jemarinya.
Untuk sesaat keduanya membisu.
Pria itu sebenarnya sudah kehabisan akal, setidaknya untuk menyelamatkan hubungan mereka saat ini.
Dalam benaknya, yang tersisa hanya ada satu solusi. Bagaimana cara agar membuat perpisahan ini sedikit terasa manis.
Dia merasa tidak ada gunanya lagi berdebat, kalau nanti pada akhirnya hanya menyisakan semakin banyak  luka.  Sebab pendirian kekasihnya tidak akan tergeser sedikit pun. Wanita itu tidak akan mau hidup di kampung, itu saja.
Banyak alasan sengaja dirancang pria itu,  hanya untuk menutupi suatu fakta yang tidak bisa dia rekayasa.
Sejatinya,  lelaki itu tidak rela membiarkan kekasih nya berjuang sendiri membangun masa depan mereka.
Dua kali kekasihnya mendapatkan kesempatan kerja, dua kali pula dia mendatangi tempat  tempat kerja itu, tanpa sepengetahuan kekasihnya.
Namun, semua usahanya berakhir nihil.
Persyaratan utama berupa ijazah SMA pada kedua lowongan kerja yang didapatkan kekasih nya itu, dengan kejam mengeksekusi mati harapan demi  harapan pria malang itu.
 Pada akhirnya dia hanya memiliki satu pilihan, mencabut paksa sesuatu yang sudah tertanam begitu dalam di hati nya.
Sesakit apa pun itu, dia harus merelakan hubungan ini berakhir.
Plaakk!! Satu tamparan keras melayang di dahi pria itu.
"Kamu pikir aku ini perempuan apaan kak? Tega nya  kamu menyuruh aku pergi mengemis cinta kepada lelaki lain, sementara  hati ini masih memiliki kamu," kata wanita itu dengan mata berkaca kaca.
"Aku hanya tidak ingin  kamu susah dengan  memaksa mu tinggal di kampung. Pergilah dan temukan kebahagiaan mu, meski itu bukan bersamaku." kata sang pria sambil menggenggam kedua telapak tangan kekasihnya.
Air mata wanita itu jatuh berderai membasahi tangan tangan dingin yang sementara saling bergenggaman begitu erat.
Sesaat dia membiarkan kekasihnya  menangis, sebelum akhirnya dengan kasar sang wanita melepaskan  tangan nya dari genggaman pria itu, lalu beranjak pergi sambil sesenggukan, tanpa menitip sepatah kata pun sebagai suatu kepastian.
Pria itu hanya termangu menatap punggung kekasihnya  yang kian samar seiring berlalunya senja.
Semilir  angin malam terasa bagai ribuan anak panah menancap di hatinya. Pria itu dengan sadar telah telah merampok dirinya sendiri.
★★★
Tiga bulan berlalu tanpa secuil  kabar berita dari kekasihnya.
Sampai pada suatu sore, datang sepucuk surat yang isinya berupa ungkapan kekecewaan, dan sebuah salam perpisahan.
"Apa kabar kak?, semoga kamu baik baik di sana. 

Jujur, aku kecewa.! kamu membiarkan aku berjuang sendiri menata masa depan kita, sementara kamu hanya diam dan menunggu. 

Kak.....Pohon hidup untuk berbuah, manusia hidup untuk berusaha.....
Aku masih terus mengingat mu, tapi rinduku kini terhalang jurang yang sangat dalam. Selamat tinggal kak, semoga kamu mendapatkan yang lebih baik." 

Pria itu hanya tersenyum pada sebuah kata pergi. Dia tahu tak akan ada kata kembali, melainkan seuntai kenangan yang akan selalu menyadarkan nya untuk bercermin diri.
Dan senja pun berlalu menjauh.
    
                                ★★★★

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar di sini

Post Top Ad

Your Ad Spot

Pages