![]() |
| Referensi pihak ketiga |
Tidak mustahil jika para kaum milenials menganggap asing, bahkan sebagian lain justru menertawakan seni budayanya sendiri.
Secara pribadi, saya merasa prihatin melihat gaya hidup generasi ini yang sejatinya berada di tengah tengah pusaran realitas tanpa ciri khas. Selain menyangkal seni budayanya sendiri___mungkin agar terlihat tidak ketinggalan zaman___di lain pihak, mereka juga tidak mampu berinovasi, atau setidaknya menciptakan sedikit kreatifitas yang berarti bagi zaman modern.
Seni budaya dan adat istiadat merupakan salah satu komponen terbentuknya integritas diri manusia yang manusiawi. Hal itu sering terlontar dalam nasihat__petuah atau pesan__ leluhur yang tentu mempunyai nilai luhur dalam intensi memanusiakan manusia generasi penerusnya.
Salah satunya adalah pesan luhur leluhur Dawan dalam istilah ike suti ankeo dan fani benas na' aik, yang selalu mengaung lembut di setiap telinga putra putri remajanya.
Umumnya para orang tua dalam suku Dawan memandang perkawinan sebagai suatu kehormatan serta tanggung jawab yang besar dan mulia. Sebab itu dibutuhkan persiapan yang betul betul matang dari seorang pemuda atau pemudi sebelum memasuki jenjang tersebut.
Dalam penyampaiannya, ike suti ankeo dan fani benas na' aik, bisa mengandung makna sebagai nasihat, bisa sebagai warning, dan bisa juga sebagai suatu persyaratan.
Ike suti ankeo di sini berarti seorang wanita muda yang sudah pandai menenun.
Lazimnya, kemahiran seorang wanita, entah itu dalam hal memasak, menenun, menyulam, atau pun dalam urusan urusan ibu rumah tangga lainnya, sudah disatukan dalam paket yang disebut ike suti ankeo. Ike suti ankeo inilah yang nantinya dijadikan standar untuk mengukur tingkat kedewasaan seorang wanita dalam mengemban tugas dan tanggung jawab ketika mengarungi suatu bahtera rumah tangga.
Begitu pula istilah fani benas na' aik, yang memang dikhususkan untuk menyatakan kemampuan dan keberhasilan seorang pemuda dalam berkebun atau berladang.
Sebagai calon kepala rumah tangga, seorang pria muda diharuskan untuk benar benar mahir dalam mengolah ladang atau kebun. Sebab nantinya, kelangsungan hidup keluarga dalam suatu rumah tangga, tergantung sepenuhnya dari kemampuan dan daya upaya sang kepala rumah tangga dalam mengelola ladang atau kebunnya.
Seiring perkembangan zaman, di mana pertanian bukan lagi menjadi pilihan pekerjaan pokok manusia modern, ike suti dan fani benas mulai hilang pengaruhnya bagi kehidupan orang orang suku Dawan sendiri.
Sebagai nasihat, meskipun implementasi ike suti ankeo dan fani benas na' aik tidak lagi relevan dengan kehidupan generasi sekarang, setidaknya kita bisa memaknai keluhuran dari pesan leluhur kita tersebut.
Bahwa perkawinan bukan hanya melulu tentang faktor cinta semata, bukan juga dilihat dari seberapa banyak tahun usia seseorang. Tetapi perkawinan itu mesti didasarkan pada tingkat kedewasaan seseorang yang nantinya dapat diandalkan dalam memikul tanggung jawab serta beban keluarga seisi rumahnya.
Karena pada hakekatnya, ike suti ankeo merupakan suatu level tertinggi keterampilan seorang wanita dalam menata rumah tangga serta menjaga kehormatan suaminya.
Fani benas na' aik pun demikian, menunjukkan tahapan paling matang seorang pria dalam hal keuletan, dan kesanggupannya menjamin kelangsungan hidup istri dan anak anaknya.
©2018 Elang Mutis


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar di sini