Pada masa lalu, orang orang Yahudi layaknya anak ayam yang kehilangan induk. Setelah diusir keluar dari kampung halaman mereka sendiri, mereka kemudian berkelana ke berbagai negara di wilayah Eropa untuk mencari tempat tinggal baru. Namun naasnya, di mana pun mereka berada, orang orang atau pemerintah di tempat mereka tinggali itu, dengan beragam alasan memperlakukan mereka secara tidak adil, dan bahkan tidak manusiawi. Salah satu yang paling mengerikan yakni tragedi Holocaust, suatu genosida oleh Nazi Jerman yang menewaskan sekitar enam juta jiwa etnis Yahudi.
Selain tragedi holocaust, di sebagian besar kawasan Eropa, orang-orang Yahudi
memiliki akses yang sangat terbatas.
Mereka tak bisa menjadi petani karena larangan memiliki hak atas tanah. Mereka juga tak begitu leluasa menjalankan aktivitas perdagangan.
Namun patut diakui bahwa mereka memiliki kecerdasan otak yang tak tertandingi. Dengan segala keterbatasan itu, mereka justru akhirnya mampu berkuasa atas perekonomian yang pada akhirnya mengatur kancah perpolitikan di hampir seluruh penjuru dunia.
Selain tragedi holocaust, di sebagian besar kawasan Eropa, orang-orang Yahudi
memiliki akses yang sangat terbatas.
Mereka tak bisa menjadi petani karena larangan memiliki hak atas tanah. Mereka juga tak begitu leluasa menjalankan aktivitas perdagangan.
Namun patut diakui bahwa mereka memiliki kecerdasan otak yang tak tertandingi. Dengan segala keterbatasan itu, mereka justru akhirnya mampu berkuasa atas perekonomian yang pada akhirnya mengatur kancah perpolitikan di hampir seluruh penjuru dunia.
Baca sampai habis, untuk mengetahui kecerdikan seperti apa yang mampu menembus keterbatasan itu tanpa disadari semua orang, yang nantinya justru menjadi mangsa dari kecerdasan mereka tersebut....
Cikal bakal Bank
Meski dibatasi dalam segala hal, namun orang orang Yahudi pada masa itu tidak kehilangan akal.
Berkat kecerdasan yang mumpuni, mereka lantas menemukan ide cerdik yakni bekerja sebagai seorang goldsmith, dimana goldsmith ini hanya sebagai tempat penitipan emas. Dengan begitu mereka otomatis terbebas dari sangkaan melakukan aktivitas perdagangan, yang mana seharusnya mereka tidak diperbolehkan.
Istilah goldsmith berasal dari kata gold=emas dan smith=semit/Yahudi, yang berarti penjual jasa penyimpanan emas.
Istilah goldsmith berasal dari kata gold=emas dan smith=semit/Yahudi, yang berarti penjual jasa penyimpanan emas.
Walau pun pekerjaan goldsmith ini pada masa itu dipandang rendah orang orang selain Yahudi, tetapi rupanya orang-orang kaya pemilik emas lebih suka menyimpan emasnya pada goldsmith. Alasannya karena menyimpan emas pada goldsmith dinilai lebih aman.
Saat menerima penitipan emas, goldsmith mengeluarkan secarik kertas yang berisikan keterangan tentang kepemilikan emas tersebut. Para pemilik emas hanya perlu menunjukkan kertas tersebut setiap kali ingin mengambil emasnya. Sebagai imbalannya, para goldsmith kemudian mendapatkan bayaran berupa emas dalam jumlah yang telah disepakati.
Saat menerima penitipan emas, goldsmith mengeluarkan secarik kertas yang berisikan keterangan tentang kepemilikan emas tersebut. Para pemilik emas hanya perlu menunjukkan kertas tersebut setiap kali ingin mengambil emasnya. Sebagai imbalannya, para goldsmith kemudian mendapatkan bayaran berupa emas dalam jumlah yang telah disepakati.
Semakin lama, semakin banyak orang yang mempercayakan penyimpanan emasnya pada para goldsmith ini. Secarik kertas yang menjadi tanda bukti kepemilikan emas pun lambat laun menjadi alat tukar barang dan jasa yang sah dan diterima masyarakat.
Sementara itu, para goldsmith rupanya mulai melirik pengembangan bisnisnya di mana akhirnya mereka meminjamkan emas-emas para penitip tadi dengan imbalan yang disebut bunga. Para goldsmith pun berevolusi menjadi rentenir.
Sementara itu, para goldsmith rupanya mulai melirik pengembangan bisnisnya di mana akhirnya mereka meminjamkan emas-emas para penitip tadi dengan imbalan yang disebut bunga. Para goldsmith pun berevolusi menjadi rentenir.
Para goldsmith Yahudi kemudian berpikir bahwa untuk apa mereka meminjamkan emas, sementara mereka dapat mengeluarkan secarik kertas yang bernilai dan diterima masyarakat sebagai alat transaksi. Kemudian mereka mulai mengeluarkan kertas-kertas yang berubah fungsi menjadi uang. Dengan bermodalkan kertas-kertas yang mereka keluarkan inilah, mereka mendapatkan emas dalam jumlah sangat besar.
Kepercayaan orang-orang pada goldsmith pun kian hari kian bertambah besar. Angka pelanggan goldsmith meningkat tajam, mulai dari orang biasa hingga kaum bangsawan. Mereka rela mengantri lama untuk mendapatkan jasa goldsmith ini. Nah, bangku panjang antrian atau nama lainnya banque kemudian menjadi cikal bakal istilah Bank yang saat ini kita kenal.
Sejarah Kekuasaan Uang di Dunia
Hanya dalam waktu singkat para goldsmith ini kemudian berubah menjadi orang-orang yang sangat kaya raya.
Namun orang-orang ini sejatinya tidak tampak di permukaan. Kita pasti mengetahui Rotschild, keluarga Yahudi dengan kekayaan terbesar di dunia. Namun anehnya kekayaan pasti mereka dan pergerakan mereka benar-benar luput dari perhatian publik.
Namun orang-orang ini sejatinya tidak tampak di permukaan. Kita pasti mengetahui Rotschild, keluarga Yahudi dengan kekayaan terbesar di dunia. Namun anehnya kekayaan pasti mereka dan pergerakan mereka benar-benar luput dari perhatian publik.
Pada saat para Yahudi ini menggenggam kekayaan berupa uang serta bongkahan-bongkahan emas dengan jumlah luar biasa, saat itulah justru keserakahan meliputi para bangsawan dan raja-raja di banyak negara.
Orang-orang yang serakah ini rupanya membutuhkan dana segar guna membiayai perang yang ditujukan untuk memperoleh makin banyak kekuasaan. Maka kemudian mereka segera meminjam dana dari goldsmith.
Orang-orang yang serakah ini rupanya membutuhkan dana segar guna membiayai perang yang ditujukan untuk memperoleh makin banyak kekuasaan. Maka kemudian mereka segera meminjam dana dari goldsmith.
Meminjamkan dana kepada raja dan bangsawan rupa-rupanya jauh lebih menguntungkan dibanding memberikan pinjaman kepada orang biasa. Para raja yang haus kekuasaan ini akan meminjam dalam jumlah amat besar dan tentu saja keuntungan yang sangat besar bagi para goldsmith.
Maka tak mengherankan begitu usai perang, raja-raja, bangsawan, hingga rakyat jelata menjadi budak goldsmith.
Mereka harus membayar hutang sekaligus bunga yang telah disepakati. Mirisnya, saat tak ada perang terjadi dan keadaan sebuah negara aman, maka mereka mencari celah bagaimana caranya agar terjadi pemberontakan dan huru-hara. Mereka bahkan tak segan menjadi provokator untuk memuluskan niatnya.
Mereka harus membayar hutang sekaligus bunga yang telah disepakati. Mirisnya, saat tak ada perang terjadi dan keadaan sebuah negara aman, maka mereka mencari celah bagaimana caranya agar terjadi pemberontakan dan huru-hara. Mereka bahkan tak segan menjadi provokator untuk memuluskan niatnya.
Maka kita akan menemukan nama Oliver Cromwell yang melakukan pemberontakan pada Raja Charles di Inggris, rekayasa pada revolusi Prancis, Perang Sipil di Amerika, Perang Dunia I dan II, hingga Perang Vietnam, dan Perang Teluk, yang mengorbankan nyawa yang tak sedikit.
Revolusi Perancis
Beberapa raja atau bangsawan yang tak mampu melunasi hutang-nya, kemudian mulai mendapatkan tekanan dari para banker goldsmith ini untuk memperoleh jatah kursi kekuasaan. Maka Yahudi dengan amat mudah memasukkan agen-agen mereka ke dalam pemerintahan dan duduk di kursi-kursi paling strategis. Tujuannya untuk apa? Tentu saja memuluskan langkah mereka untuk menggenggam negara tersebut yang akhirnya mereka dapat menggenggam dan mengatur dunia.
Penguasaan Sektor Ekonomi
Sekitar awal abad ke-20, minyak bumi ditemukan. Pada saat itu, para goldsmith yang telah berubah menjadi banker ini kemudian mulai melirik sektor bisnis yang lebih menguntungkan. Dengan cerdik mereka lalu berupaya bagaimana caranya agar orang-orang digantungkan hidupnya dengan minyak. Maka produksi mobil dengan bahan bakar minyak pun muncul bak jamur di musim hujan.
Dalam perjalanannya, sebenarnya telah ada orang-orang yang menemukan model transportasi tanpa bahan bakar minyak. Namun anehnya kebanyakan hidup orang-orang yang sebagian besarnya adalah ilmuwan tersebut harus berakhir dramatis. Sebagian meninggal dunia dengan cara misterius, ada yang dibunuh, dan sebagiannya lagi dirusak karakternya oleh media yang tentu saja telah bekerja sama dengan para invisible hand ini.
Tahun berganti tahun, pemikiran para banker kian canggih. Mereka tak lagi bermain dengan uang kertas. Kini mereka mulai melirik pembayaran riil semacam properti, tanah, hingga aset perusahaan.
Mereka kemudian mulai menghentikan supply uang dan emas, dan menaikkan yang telah beredar. Akibatnya dunia mengalami krisis keuangan hebat yang kemudian berdampak jatuhnya harga saham banyak perusahaan hingga mengalami kebangkrutan, yang ujung-ujungnya semua itu dijual kepada para banker tadi. Dan banker dengan senang hati memborong semuanya.
Mereka kemudian mulai menghentikan supply uang dan emas, dan menaikkan yang telah beredar. Akibatnya dunia mengalami krisis keuangan hebat yang kemudian berdampak jatuhnya harga saham banyak perusahaan hingga mengalami kebangkrutan, yang ujung-ujungnya semua itu dijual kepada para banker tadi. Dan banker dengan senang hati memborong semuanya.
Hal inilah yang terjadi pada negara-negara di dunia yang mengalami krisis ekonomi dan depresi besar, seperti krisis moneter tahun 1997 yang dialami Indonesia.
Namun sayangnya hanya segelintir orang yang menyadari hal ini, karena sebagian besarnya justru terbuai ilusi yang ditebarkan oleh para banker tadi melalui artis-artis internasional-nya dan dunia entertainment yang menyilaukan, tanpa menyadari bahwa kita sebenarnya telah menjadi mangsa kecerdasan Yahudi.
Source: www.merinding.com
©2019 Jurnal Beta

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar di sini