Breaking

Post Top Ad

Your Ad Spot

7 Juli 2018

Romansa Di Ujung Senja


Deru napas sepasang manusia  di bawah remang-remang cahaya lampu kamar,   larut dalam cengkeraman nafsu yang tak berujung makna....
Erangan panjang itu lantas berganti senyap...sunyi....dan hanya sesekali terdengar desahan napas perlahan tertahan.....
Lelaki itu membelai lembut rambut wanita di sampingnya, sambil membisikkan sepatah kata.. 
"Aku mencintai-mu....."

Sang wanita hanya menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong tanpa kata, seakan dia tidak mendengar yang baru saja diucapkan lelaki di sampingnya itu.
Memang,  beberapa waktu lalu,  kata itu selalu  membuat hatinya luluh,  hingga bertekuk lutut kepada setiap mereka yang datang dengan iming iming yang sama....
Namun tidak lagi demikian dengan malam ini.
Waktu telah merubah semuanya hingga hatinya tidak lagi merespon segala bentuk rasa yang hadir.
Menjelang subuh, kedua insan tanpa status hubungan itu bergegas meninggalkan hotel tempat mereka menghabiskan malam.
Mereka kemudian terlibat pertengkaran kecil ketika si wanita meminta diturunkan di halte bus kota....

"Tidak boleh... di tempat ini kamu menjemput saya semalam, begitu pula seharusnya kamu antar saya pulang..."   kata Yanti tegas.
 Menolak permintaan lelaki itu untuk membawanya langsung ke rumahnya.


" Tapi...."
"Jangan khawatir, saya bisa pulang  sendiri  kok'.
Terima kasih sudah bersedia mengantar saya sampai di sini.
Sekarang kamu boleh pergi. 
Tapi ingat.! tidak boleh kamu berusaha mencari saya, jika tidak ingin tertimpa masalah."   sela Yanti meyakinkan lelaki itu yang belum sempat melanjutkan kata-katanya itu.
Lelaki itu baru saja ingin turun dari motornya bermaksud menanggapi penolakan Yanti barusan, namun tiba tiba datang sebuah mobil toyota avanza hitam,  berhenti tepat di depan Yanti lantas membawanya pergi...
"Hmmm, nekad betul  pria itu  Ti.
Lain kali nanti tante jemput langsung di hotel ya.   Jaga reputasi kamu sayang, jangan sampai ada seorang dari lelaki lelaki itu tahu tentang latar belakang hidup kamu yang sebenarnya."   kata wanita paruh baya pengemudi mobil toyota avanza tersebut.

" Iya tante," jawab Yanti singkat

Namanya tante Desi,  wanita paruh baya yang berperan sebagai penghubung atau lebih tepatnya  mucikari yang selalu mencari pelanggan cinta  satu malam untuk Yanti, setiap kali timbul  hasrat untuk bercinta, ketika tidak ada lagi cara lain untuk meredakan konflik batin nya.
Yanti terlahir dari keluarga yang terbilang kaya. Apa lagi dia merupakan satu-satunya anak perempuan dari 4 bersaudara, sehingga tidak mustahil jika kehidupan Yanti nyaris  bermandikan materi.
Ironinya, cinta yang tulus tidak dapat ditukar dengan materi seberapa pun nilainya.
Kemewahan lahiriah yang dimiliki Yanti berbanding terbalik dengan batinnya yang hampa, sunyi, dan menyiksa.
Setiap lelaki yang mendekatinya hampir semuanya memiliki tujuan yang sama, menginginkan hartanya, atau paling tidak  mempermainkan perasaannya lalu pergi berlalu.
Sampai-sampai ibunya pernah bilang,"Yanti....mama salut.....Kamu punya bakat yang unik, selalu suka memilih pria berengsek..."
Kata kata ibu membuat Yanti mengingat kembali deretan pria yang pernah mampir di hatinya. Dari yang baru saja berlalu dari ingatan, sampai berhenti pada titik awal hatinya mengenal apa itu cinta.
Yanti menggumam perlahan. Napasnya terasa berat tatkala membayangkan sesosok pria dengan hati se-lembut   sutra.  Pribadinya  hangat, serta memiliki pengertian seluas samudra.
Siapapun istrinya, dia adalah wanita paling beruntung di dunia.
Entah di mana dia kini.  Bisik hatinya.
Yanti belum bisa terlepas dari bayang bayang lelaki itu. Walau begitu, dia enggan untuk mencari tahu keberadaannya. Karena menemukannya hanya akan menambah luka di hatinya. Dia tidak ingin kegagalan dan penyesalan yang membelenggu hatinya saat ini semakin bertambah berat, jika nanti menemukan lelaki yang dulu mencintainya begitu tulus, sudah hidup bahagia dengan wanita lain.
Yanti memejamkan matanya yang sembab.  Lamunan nya terhenti.  Seketika layang layang hatinya membawanya pulang,  kembali kepada realita hidup yang di hadapi nya  saat ini.
Pahit, getir, dan tak berujung pasti. 
Kegagalan demi kegagalan, membuat Yanti mulai merasa kehilangan asa untuk memiliki pasangan hidup,  apa lagi usianya yang kini menginjak 40 tahun.
Kehidupan Yanti pun berubah 180 derajat.
Penyesalan-penyesalan akan kesalahan, ego dan sifat arogansi-nya di masa lalu terus berputar-putar di benaknya, sampai sampai  menggiring-nya kepada   pilihan hidup yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.
Kini di hatinya hanya ada satu prinsip, menikmati sisa sisa hari hidupnya. Walau pun caranya harus dengan mempertaruhkan moral, etika, dan harga diri-nya sebagai seorang wanita terpelajar yang selama ini dia bangga-kan.
Pagi yang cerah, secerah suasana hati Yanti yang sudah memulai aktivitasnya sebagai staf di salah satu instansi pemerintahan di kota itu, meski sebenarnya tanda-tanda kurang tidur masih terlihat jelas di matanya.
☆☆☆☆☆☆☆
        Ketulusan yang terabaikan , cinta putih yang dinodai, dan pengorbanan yang tidak dihargai, terkadang membuat seseorang kehilangan keberanian untuk mencoba mencintai lagi. 
Meskipun masih ada sisa-sisa rasa itu di hati untuk orang lain, tetapi tidak lagi dalam kadar yang sama.

Walau tersakiti,  perasaan cinta begitu suci untuk orang yang sama itu akan terus membekas di hati, dan mungkin tidak akan pernah  tergantikan dengan cinta yang lain  sampai kapan pun.
Adalah Joshua, seorang pria setengah baya yang hingga kini masih tetap mempertahankan status jomblonya, hanya karena bias  cinta  masa lalunya masih terus merantai hati dan jiwanya.

Belenggu cinta usang itu begitu kuat,  membuat Joshua mendirikan pilar pembatas antara hatinya dan cinta lain yang datang.
Saking kuatnya Joshua membangun benteng pertahanan di sekeliling hatinya terhadap cinta dalam bentuk apa pun,  bahkan kedua orang tuanya pun  dimusuhi hanya karena mereka berusaha mempromosikan cinta lain kepadanya.
Bukan tanpa alasan Joshua mati-matian menolak keinginan kedua orang tuanya.   Justru ambisi kedua orang tuanya,  Joshua harus kehilangan wanita yang sangat dicintainya.
Kekasihnya memilih pergi jauh,  menghindar dari Joshua yang akan dijodohkan dengan wanita pilihan orang tuanya. Tanpa  pamit,  apa lagi memberitahu tujuan kepergian nya.
Dia  kesal dan kecewa dengan ego kekasihnya yang tidak pernah memberinya kesempatan untuk membela diri.
Namun, walaupun hatinya terjepit di antara kecewa dan tekanan bertubi-tubi dari orang tuanya, Joshua masih terus menggenggam erat  secercah harapan,  bahwa  suatu ketika Tuhan akan mempertemukan mereka kembali, walau  dalam situasi  dan kondisi yang sudah berbeda..
Hari berlalu, tahun berganti,  musim pun datang dan pergi,  namun sepertinya harapan itu,  hanya berupa bayang  bayang ilusi pengantar tidur pada malam malam panjangnya.
Bahkan angin pun kini enggan diajak bercanda,  apa lagi bertanya tentang makna sebuah mimpi.
Usia Joshua semakin bertambah tua.  Penantian dan harapannya  untuk kekasih yang dia tidak tau jelas bagaimana  statusnya saat ini, dan di mana keberadaannya, menjadi suatu ironi yang memilukan.
Ayah dan ibunya pun sudah  mulai hilang kesabaran mereka terhadap anak lelaki satu satunya yang masih terus bertahan hidup sendiri. Terlebih ayahnya yang sangat merasakan kekecewaan dari kuatnya pertahanan Joshua ini.
Sebab jika Joshua tidak menikah, maka keturunannya akan ter putus.
Makan malam bersama keluarga yang paling menyebalkan, yang dialami Joshua seumur hidupnya adalah malam ini.  Ketika suasana kebersamaan yang sebelumnya mesra, lambat laun berubah menjadi ajang diskusi antara Joshua dan ayahnya.
Semakin lama,  semakin panas kedua lelaki ayah-anak itu beradu argumentasi.

Ayahnya  mulai lepas kendali.
Sementara  Joshua pun tidak mau mengalah dan  tetap pada pendiriannya..
"Pokoknya saya keberatan kalau mama dan papa ikut campur tangan dalam urusan pendamping hidup.  Lagi pula saya bukan anak kecil lagi,"  kata Joshua tegas menanggapi usulan kedua orang tuanya.
" Memang betul,  umur 41 tahun  bukan anak kecil lagi , dan juga bukan lagi anak muda.   Tapi kenapa kamu belum juga mau berumah tangga Joshua? Justru  itu mama dan papa ingin membantu kamu mencarikan istri,"  timpal ayah tidak kalah tegas.


"Itu pilihan saya pa, hak saya, privasi saya.  Terserah saya  mau kawin atau tidak,   itu urusan saya!  Mama dan papa cukup tau saja dan kasih restu,"  respon Joshua dengan nada suara sedikit meninggi.


Kata kata  Joshua barusan agaknya membuat ayahnya naik pitam, dan tanpa pikir panjang, kotak asbak di hadapannya melayang ke arah Joshua.

Plaakk....kotak asbak tadi tepat mengenai dada Joshua tanpa sempat mengelak.
Sambil bangkit berdiri, ayah Joshua mulai meluap-kan  amarahnya....
"Anak biadap,  kamu pikir kamu siapa ha?  
Berani-berani pamer kesombongan di depan orang yang melahirkan dan bersusah payah membesarkannya.   Pakai ngomong hak dan privasi lagi,  dasar anak tidak tau berterima kasih!  Bawa hak dan privasi-mu itu pergi.
Pergi kamu dari rumah ini!,"  kata ayahnya sambil menunjuk-nunjuk ke arah Joshua.
Ibunya yang dari tadi hanya diam, merasa tidak setuju dengan kata-kata suaminya barusan.  Meskipun semua ini atas inisiatif  mereka berdua,  namun prosedur-nya  tidak harus mengeliminasi  salah satu anggota keluarga.
"Sabar sayang....papa  bukan bermaksud memperlakukan kamu dengan kejam... tapi kami berdua punya rencana yang baik buat masa depan kamu dan keluarga kita....Adik-mu  sudah tiada,  jadi kamu harapan satu-satunya sebagai penerus marga keluarga papa-mu."  kata ibunya sambil membersihkan puntung dan abu rokok yang bertebaran di tubuh Joshua.
"Iya ma, saya mengerti, tapi tidak semestinya dengan cara ditekan begini.  Ini bukan zamannya lagi pakai jodoh-jodohan mama!  Saya  yang nanti menjalaninya dan merasakan langsung efek dari perkawinan  paksa!"  kata Joshua sambil beranjak dari tempat duduknya.
 Selesai berkata demikian, Joshua melangkah keluar meninggalkan kedua orang tuanya.
Joshua  langsung menuju kamarnya, menyimpan pakaian,  dan beberapa barang penting lainnya dalam ransel, lalu  keluar dan memacu motornya pergi entah ke mana tujuannya. 
Sepasang Lansia itu hanya diam membisu dalam kebingungan menatap kepergian anaknya.

☆☆☆☆☆☆☆☆
      Bunyi dering telepon genggam menyadarkan Joshua dari lamunan panjangnya.  Mengalihkan pandangan matanya dari langit-langit kamar,  ke arah ponsel di atas meja.
Dengan sedikit malas, Joshua meraih ponselnya dan mengecek siapa yang menelponnya.
Nampak nama Randy yang tertera di layar ponselnya...
"Halo, ada apa Ran?," tanya Joshua
"Hai Jo, Datang sekarang ke kantor, kita ada proyek mendadak ni!"  kata Randy penuh semangat dari seberang telepon.
"Kok mendadak Ran, proyek apa itu?,"  tanya Joshua agak heran.
"Akhir pekan ini, pemerintah Provinsi akan menggelar Festival  Budaya, dan kita, satu-satunya Event Organizer yang dipercaya mengurus semuanya."  jawab Randy.
"Singkat, Padat, dan Jelas, tapi apa betul kita yang terpilih Ran?  Kan banyak EO yang lebih hebat dan lebih berpengalaman tuh,"  kata Joshua tidak yakin.
"Ahh, ajak debat ni orang! pokoknya kamu datang kantor dulu bung,   jangan  banyak dikte dari kamar kost sempit itu, bikin otakmu ikutan sempit!"  canda Randy mengakhiri panggilan teleponnya.
Berawal dari konflik kecil dengan ayahnya,  Joshua lantas memilih pergi dari rumah dan menyewa kamar kost sendiri.
Selain pisah dengan kedua orang tuanya, Joshua juga meninggalkan pekerjaan yang dia geluti sebelum ini, yang adalah perusahaan rintisan ayahnya sendiri.
Tinggal terpisah dari orang-orang yang  selalu menghantui perasaan-nya  dengan  sesuatu yang paling dia benci, membuat hidupnya terasa damai.  Walaupun realita hidup menghempaskan-nya hingga  ke titik paling rendah,  dan harus memulai semuanya dari nol.
Berbekal ide yang sudah lama dia pendam,  Joshua kemudian  menghimpun sahabat-sahabat lamanya  yang meskipun mereka lebih beruntung soal cinta,  namun untuk saat ini  mereka senasib dengan Joshua dalam hal pekerjaan.
Sahabat-sahabat Joshua menyambut gembira ide Joshua untuk merintis suatu badan usaha yang bergerak di bidang jasa.
Tak membutuhkan waktu lama, perusahaan   mereka resmi terbentuk dan kini sudah memasuki usia  10 bulan Event Organizer  mereka beroperasi.
Awal pagi akhir pekan ini merupakan hari paling sibuk bagi Joshua dan tim-nya,  meski perasaan canggung   masih  tergambar jelas di wajah mereka.
Betapa tidak, selama hampir 1 tahun  mereka hanya menjadi penyelenggara acara untuk kalangan menengah ke bawah, dan   baru kali ini Joshua cs mendapat klien dari kalangan elit.
Sejak 3 hari lalu mereka sudah  berada di lokasi,  menata ruang  yang akan digunakan untuk menggelar Event tersebut sesuai tema, dan rangkaian acara yang sudah mereka rancang.
Joshua sebagai koordinator  acara,   memberi tahu teman-temannya bahwa  5 menit lagi acara akan dimulai, setelah Gubernur beserta rombongan pejabat-pejabat terkait memasuki ruangan festival.  Tidak lupa  Joshua  mengingatkan mereka agar bertindak se-profesional mungkin di bagian masing-masing.
☆☆☆☆☆☆☆☆

Tatapan mata Yanti tidak beralih dari satu sosok pria di sudut ruangan pertunjukan itu.   Hatinya berdesir keras menepis keraguan akan penglihatan matanya saat ini.
Di luar dugaan Yanti,  satu nama yang pernah menjadi bagian hidupnya,  tiba tiba   hadir memenuhi rongga dadanya.
Nama itu  terus menggema  di dasar hatinya yang paling dalam,  dan semakin lama, semakin kuat suara hatinya berbisik...
"Joshua..."   
Yanti tanpa sadar,   lirih  menyebut nama pria yang pertama kali menyentuhnya, dan  memperkenalkan hatinya kepada sesuatu yang namanya cinta  sesungguhnya,  yang  tidak pernah dia temukan pada sosok  pria mana pun hingga saat ini.

Kemeriahan  festival budaya itu tidak dapat mencegah ingatan Yanti,  yang mulai menerobos lorong waktu.  Kembali mencari kepingan-kepingan kisah yang telah lama terkubur ego dan kesombongannya sendiri.

Sesi makan bersama merupakan penutup dari  rangkaian  acara festival budaya tersebut.
Yanti menggunakan kesempatan itu  untuk pergi mendekati sosok yang sejak tadi menyita perhatiannya itu, sekadar memastikan penglihatan matanya.
Semakin dekat, semakin Yanti yakin kalau matanya tidak lah keliru melihat.
Yanti berdiri kira kira 1 meter  tepat di belakang Joshua yang lagi sibuk dengan laptopnya.  Sejenak dia mengatur napasnya yang tidak berirama itu untuk mulai menyapa lelaki itu...
"Halo,"   sapa Yanti perlahan.
Joshua tak bergeming.  
Mungkin karena terlampau serius dengan kesibukannya itu, atau karena suara  Yanti yang ditenggelamkan  kebisingan di dalam ruangan tersebut,  sehingga Joshua tidak sempat mendengarnya.
Yanti menahan napasnya sekali lagi, dan mencoba mengatur irama detak jantungnya yang kian tidak beraturan itu. 
Dan kali ini Yanti memberanikan diri untuk  maju selangkah lebih dekat lagi, hingga jarak  hanya beberapa jengkal antara tubuhnya dan punggung Joshua...

"Hai Jo,"  sapa Yanti sekali lagi sambil tangannya meraih bahu Joshua.

Sontak Joshua membalikkan tubuhnya mencari tahu asal suara yang terdengar tidak asing baginya itu.
Joshua terperanjat setelah melihat sosok wanita yang berdiri di hadapannya tidak lain adalah manusia yang membuatnya tidak mampu  move on dari masa lalunya,  hingga nekad  membangun dinding pembatas  di sekeliling hatinya dari sesuatu  yang namanya  cinta.
"Yanti!"   kata Joshua menatap Yanti tak percaya. 
Sambil tersenyum dan mata  berkaca-kaca,  Yanti menganggukkan  kepala seraya  mengulurkan tangannya ke arah Joshua yang masih kelihatan bingung.

Joshua menyambut uluran tangan Yanti sembari  bangkit dari duduknya, dan tanpa berkata apa apa, Joshua  meraih  tubuh Yanti ke dalam pelukannya.

"Sampaikan maaf saya untuk suami kamu, atas kelancangan ini Ti," bisik Joshua di telinga Yanti.

Yanti merespon bisikan Joshua itu dengan  semakin erat memeluk Joshua,  seakan  tak ingin lepas  lagi dari  rangkulan yang di dalamnya dia pernah menemukan kenyamanan,  kedamaian, dan  makna cinta sesungguhnya .

Yanti merasa  sebagian jiwanya telah  kembali,   hingga tanpa sadar,  tetes tetes air mata bahagianya  membasahi bahu Joshua.
Dua menit berlalu, Joshua dan Yanti baru sadar jika mereka sementara jadi tontonan semua orang dalam ruangan itu.
Joshua pun perlahan lahan melepaskan rangkulan tangannya dari tubuh Yanti, dan dengan gerakan layaknya seorang hamba kepada tuan putri, Joshua menggenggam ujung  jemari Yanti sambil membungkukkan  tubuhnya lalu mempersilakan Yanti duduk.
Drama romantis dadakan yang baru saja diperagakan Joshua dan Yanti itu diakhiri dengan tepukan tangan meriah dari sahabat sahabat Joshua dan sahabat sahabat  Yanti.  
Tepukan tangan  itu sebagai tanda jika sahabat sahabat mereka merestui dan juga  turut bahagia jika kedua orang tersebut sudah akan mengakhiri masa lajang mereka, yang memang sudah memasuki masa usia senja.
Yanti sedikit beruntung karena pada saat drama itu berlangsung,  atasannya beserta Gubernur dan pejabat pejabat lainnya makan bersama di ruangan terpisah.
Joshua mengambil posisi  duduknya tepat di hadapan Yanti yang sedari tadi matanya tidak beralih dari wajah Joshua.
" Sejak kapan kamu kembali dari⇀"  

 kata Joshua terpotong oleh isyarat Yanti.
"Ssttt,  ini bukan  tempat yang sesuai  sayang, "  

sela Yanti sembari menempelkan jari telunjuknya di bibir Joshua.
"Sekarang, bawa saya pergi," 
kata Yanti datar.
"Pergi ke mana Ti? "
tanya Joshua heran.
"Terserah kamu mau bawa saya ke mana!"
jawab Yanti sembari meraih tangan Joshua. 

  

" Bagaimana kalau suami kamu tau?"

 tanya Joshua lagi.
"Nanti saya bisa jelaskan." 

jawab Yanti sambil mengulum tawa.
"Dengan cara apa kamu mau jelaskan, kalau faktanya  tidak dapat kamu sembunyikan Ti!"

Joshua menampik.
" Ah ini bukan waktunya untuk berdiskusi  Jo,  ayo kita pergi.!"

 kata Yanti sambil bangkit berdiri lantas menarik tangan Joshua yang masih ragu ragu untuk beranjak dari duduknya.
Kedua orang itu lantas bergegas keluar  meninggalkan ruangan itu, diiringi   siulan dan sorakkan   sahabat sahabat mereka. 
Sambil berjalan keluar,  Joshua sempat memberi isyarat kepada sahabatnya Randy untuk menyelesaikan pekerjaannya dengan menunjuk-nunjuk ke arah laptopnya. 
Randy pun membalas dengan mengacungkan jari jempolnya ke arah Joshua yang lagi mesranya menggandeng tangan Yanti.
Tapi....
Tiba tiba terdengar suara dari dalam gedung pertunjukkan itu memanggil-manggil  nama Yanti...
Seorang gadis muda dengan plastik putih bermerek salah satu restoran ternama di kota itu, berlari menghampiri Joshua dan Yanti...
"Ada apa Cindy?," tanya Yanti keheranan.
"Ini saya bawakan bekal untuk kalian berdua....Saya tahu, cinta tidak  akan pernah  membuat kamu  terhindar dari rasa lapar,"  

 kata Cindy tersenyum , sambil menyodorkan bawaannya ke arah Yanti.
" ah sok bijak kamu Cin," 

kata Yanti sembari mencubit paha Cindy sahabatnya.
"Aduh Ti...sakit ah!"  

seru Cindy sambil mengusap pahanya yang kesakitan.
"oh ia Cin, nanti tolong bawakan tas saya sekalian antar  ke rumah ya," pinta Yanti
" oke," jawab Cindy.
"Makasih ya Cin,"  

kata Yanti yang sudah duduk  manis di atas boncengan Joshua.
"Oke, hati hati ya...selamat bersenang-senang  untuk kalian berdua."

kata Cindy sambil melambaikan tangan kepada Yanti dan Joshua yang sudah beranjak pergi meninggalkan halaman gedung pertunjukkan itu.
Tak lama berselang, motor Joshua melaju  tenang di atas aspal kasar  jalanan   arah barat luar kota.
Tangan Yanti  erat memeluk pinggang, sambil menyandarkan kepalanya  di bahu belakang Joshua.  Perlahan Yanti memejamkan matanya, menikmati hempasan angin yang sama  seperti 20 tahun yang lalu ketika mereka berdua melewati jalanan ini.
Diam diam Yanti sudah bisa menerka,  jika  tujuan Joshua membawanya itu  adalah  tepi pantai yang dulu mereka sering menghabiskan waktu berdua.
Deru ombak,    dedaunan  lontar yang melambai-lambai,   dan kepiting kepiting karang yang berlari kegirangan ke sana kemari,  serta rumput rumput liar yang  pernah menjadi saksi bisu cinta yang terajut  begitu indah,  seakan kompak mengatakan  selamat datang kembali cinta,  ketika tapak tapak kaki dua insan itu  kembali mengukir  jejak jejak baru di pantai pasir putih nan sunyi .....
Kini mereka pulang..... kembali  menggali sejuta kenangan yang pernah terhempas  gelombang, yang  sudah sekian lama tertimbun pasir dan  batu karang
Di bawah rimbunan ketapang tua, Joshua dan Yanti memilih duduk terpisah jarak, meski masih menumpang di atas potongan batang pohon  yang sama.
Sejenak suasana hening. Tatapan mereka menerawang jauh ke dalam lautan biru yang tak bertepi.
Selang beberapa saat,  Yanti lalu mengambil inisiatif untuk mengurai  keheningan antara mereka berdua....
"Istri-mu pasti cantik dan baik hati," kata Yanti memecah keheningan.
"Kata siapa?" tanya Joshua.
 "Sekadar coba memastikan,"  jawab Yanti datar.
"Hmmm..." Joshua menggumam.
Sesaat keduanya terdiam lagi......
"Bagaimana dengan suami kamu?, " tanya Joshua.
"Apa kamu benar benar ingin tahu?, "Yanti balik bertanya.
" Ya ," jawab Joshua singkat.
Yanti memalingkan wajahnya ke arah Joshua yang sementara menatapnya.

Di mata itu, Yanti menemukan kesungguhan yang tulus,  yang membuatnya tidak ragu ragu untuk jujur mengungkapkan isi hatinya,  yang selama ini hanya dia dan Tuhan yang tahu.
"Yang saya miliki saat ini hanya kegagalan dan penyesalan.

Tahukah  kamu Jo,  saya sudah  menghabiskan sebagian hidup dengan terus berlari menghindar dari  penyesalan dan rasa bersalah.
Tapi rasa itu seperti hantu,  datang kapan saja,  bahkan adakalanya saya tidak merasa jika malam telah berganti pagi. "  kata  Yanti lirih  sambil menundukkan kepalanya.
" ....Waktu itu,  sebenarnya saya percaya, 

dan saya sama sekali tidak butuh kamu jelaskan,  karena saya tau pasti hatimu Jo, kalau kamu tidak akan terpengaruh sedikit pun dengan perjodohan itu.
Tapi saya lebih memilih menuruti ego! Saya tidak mau kalah dengan teman teman yang kuliah di luar negeri,"  lanjut Yanti dengan suara serak.
"....Seharusnya saya ada di setiap masalah kamu, bukannya menghindar,  apa lagi menjadikannya  alasan untuk pergi menjauh.
Maaf Jo,  saya sudah menabur begitu banyak  titik titik noda di atas kain putih yang kamu   rajut  dengan keringat dan caci maki.
Saat itu,  saya benar benar tidak menyadari jika saya sementara menari di atas penderitaan kamu.
Saya bersalah Jo!
Maafkan saya,"  Kata  Yanti diiringi isak tangis nya.

Joshua beranjak  dari duduknya,  mendekati Yanti dan dengan lembut menarik tubuh wanita itu ke dalam  pelukannya.
"Usah disesali sayang, semua sudah berlalu, dan kita tidak mungkin kembali memperbaikinya.
Saya sudah memaafkan kamu.
Sudah sangat lama saya tidak lagi memikirkan itu.  Sebab saya tau kamu tentu punya alasan sendiri untuk melakukannya, hanya saja  tidak sempat memberi tahu saya, "  kata Joshua sambil membelai punggung Yanti.
 " Kesadaran dan penyesalan itu selalu datang terlambat Ti.
Saya pun pernah merasakan hal yang sama.  Saya baru sadar dan menyesalinya setelah kehilangan kamu.
Tapi, apa gunanya sebuah penyesalan, jika itu untuk seseorang yang sekarang ada di dalam pelukan," lanjut Joshua.

Kata  terakhir dari Joshua membuat Yanti tertegun.  Lantas, dengan lembut  Yanti melepaskan pelukan Joshua.
Sementara tangan mereka saling menggenggam, Yanti menatap dalam dalam mata lelaki itu.
"Apa  kamu temukan sesuatu Ti?, " tanya Joshua setengah  berbisik.

Yanti hanya diam  sambil terus menatap wajah Joshua,  seakan sementara meneliti sesuatu di wajah itu.
Joshua sadar jika tatapan senyap   itu menyimpan sejuta tanya yang masih terbungkus bimbang...
"Mungkin kamu menyangka saya sudah menyerah  setelah kepergian mu.

Ada satu hal yang harus kamu ketahui Ti!

Saya tidak pernah berubah sayang, bahkan hingga saat ini.

Joshua yang kamu kenal 20 tahun lalu itu, masih tetap sama seperti  Joshua yang sekarang berdiri di depan kamu," kata Joshua lirih.
"Semenjak kamu pergi, entah kenapa, saya malah semakin mencintaimu. Sampai saya bertekad untuk terus merawat rasa ini sendiri.  
Dengan satu harapan,  suatu ketika nanti waktu akan membawa saya kepada mu, meski  yang saya temukan nanti  hanya sebaris nama di atas  batu nisan," 
lanjut Joshua. 
Yanti berurai air mata mendengar kata kata Joshua yang dia yakin,  kata kata  itu merupakan ungkapan dari lubuk  hatinya yang terdalam.

Dia tidak dapat berkata apa apa selain menangis meratapi kesalahannya sendiri yang telah membiarkan orang yang sangat mencintainya itu berjuang sendiri selama bertahun tahun mempertahankan tali kasih yang sempat mereka rajut bersama.
Joshua membiarkan Yanti menangis. 
Dia tahu jika air mata itu mewakili sejuta kata maaf dan pernyataan rasa bersalah yang tidak dapat terlukiskan dengan kata kata.
Sementara Yanti masih larut dalam tangisan nya, Joshua mengambil posisi setengah berlutut, sambil menggenggam jemari kedua tangan Yanti, Joshua menengadah ke wajah  Yanti, meminta kesediaan wanita itu untuk memulai hidup bersama dalam satu ikatan pernikahan.
"Yanti,
Sudah sekian lama saya menunggumu.   Menanti dengan sabar kedatangan hari ini. 
Saya tidak pernah berhenti berharap, walau terkadang saya membenci jarum jam yang berputar begitu cepat.   
Namun secercah  impian  untuk menjalani sisa hari  bersama kamu, tidak pernah usang di genggaman,"    kata Joshua lirih.
"Mulai saat ini, saya tidak ingin kita  berpisah lagi.  
Beranjak tua lah bersama saya Ti, dalam satu ikatan abadi.
Sudikah kamu  sayang?,"  tanya Joshua, sambil menatap mata Yanti penuh harap.
" Maaf Jo, saya tidak pantas lagi untukmu.
Saya bukan lagi wanita baik baik, seperti Yanti yang dulu kamu kenal,"  kata Yanti berurai air mata.

"Saya sudah banyak melakukan kesalahan selama kita berpisah Jo, bahkan hingga saat  ini.
Usah  lagi kamu bersusah payah memungut kembali sampah yang telah terbuang dan dipijak pijak anjing anjing  jalanan sayang.  Meski pun mungkin  pernah menjadi sangat berarti bagimu."lanjut Yanti di sela sela tangis nya.
"Tidak ada manusia yang sempurna sayang.
Andai setiap kumbang menjauhi bunga hanya karena  telah dihinggapi kumbang lain, bumi ini pasti tandus tanpa tumbuhan.  
Sekarang tolong jawab pertanyaan saya dengan jujur Ti, apa kamu masih mencintai saya?," tanya Joshua.
Selang beberapa detik  keduanya hanya saling bertatap, menelusuri jejak jejak ketulusan pada raut wajah masing masing.

Alam sekitar nampak termangu. Angin dan dedaunan pun berhenti bersenda gurau. 
Diam dan menyaksikan kelanjutan menyatu nya  kepingan kepingan mimpi yang terlerai masa begitu lama.
Bianglala di mata mereka seakan bersaksi tentang ketulusan yang tidak mampu mereka  uraikan dengan kata.
Yanti merebahkan wajahnya di dada Joshua sambil sesenggukan, antara haru dan rasa bersalah.  Air matanya  dingin, terasa hingga ke ujung hati Joshua.
Lelaki itu dengan lembut memeluk kekasihnya. Joshua merasa tidak lagi membutuhkan penjelasan.
"Ini sudah cukup sayang. 

Tuhan begitu baik!

Beberapa jam yang lalu saya masih menjadi pria paling pesimis di dunia.  Tetapi sekarang saya percaya,  mujizat atas  sebuah  harapan dan impian itu masih ada.

Dalam beberapa  jam ke depan nanti,  kita tidak akan terpisah lagi kecuali kematian,"  kata Joshua sambil mengecup lembut kening Yanti.
Dengan mata terpejam, Yanti tersenyum lembut merespon kecupan Joshua.
Hangat.  Melebur kan hatinya yang lama membeku.
Kecupan itu bagai setetes  embun di padang tandus.  Menyejukkan sanubarinya. Membangkitkan kembali gairah hidupnya yang lama terkikis derasnya arus kehidupan.
Yanti merasa ruang dan waktu kini menyatukan impian nya. Menghapus masa lalu,  menerima hadiah  takdir untuk hidup bersama, dan berbagi suka duka  di sisa hari hidupnya.
Yanti membuka matanya. Menatap lembut lelakinya, dan menangis lagi.   Namun sekali ini bukan lagi tentang penyesalan, luka, dan kepedihan.
"Terima kasih sayang!

Kamu telah berhasil membuat saya kembali hidup.

Saya menemukannya Jo. 

Kita menemukannya.

Bahagia  kini milik kita. Saya bahagia sayang!,"  kata Yanti haru. 

Tanpa berkata apa apa, Joshua memeluk Yanti. Keduanya lantas beranjak meninggalkan tempat itu. Berjalan sambil berpelukan di tepian deburan ombak yang seakan tiada lelah pergi dan kembali membasuh kaki kaki telanjang  sepasang manusia   yang sementara di buai cinta.
Tiba tiba Yanti menghentikan langkahnya. Berbalik menghadap Joshua sambil menatap lelaki itu seakan sedang meneliti sesuatu di wajahnya. 
"Bulu bulu ini, membuat saya hampir tidak mengenalimu tadi.

Kenapa dibiarkan tumbuh sayang? Kamu kan tau, saya tidak menyukai nya Jo!,"  kata Yanti sambil membelai kumis Joshua.
Sejenak Joshua membiarkan jari jari Yanti mempermainkan kumis nya. Tetapi di luar dugaan Joshua, tiba tiba Yanti menarik kuat beberapa helai bulu kumis kekasihnya, membuat Joshua berteriak kesakitan.
"Aduh, sialan kamu Ti.

Belum juga berubah berubah sifat konyol kamu itu hah!" kata Joshua kesal.
Joshua  berusaha mengejar Yanti yang sudah lebih dulu berlari menjauh darinya. Namun hanya beberapa langkah  berlari, Yanti menyerah karena tidak kuat lagi menandingi kecepatan Joshua.
Yanti yang sudah kelelahan, hanya pasrah ketika Joshua menggendong nya, lalu membawanya ke kedalaman laut se-ukuran lutut.
Deburan  ombak membasahi tubuh mereka. Membuat pakaian dinas coklat muda Yanti menyatu dengan kulitnya yang kuning langsat.


Mentari pun berlalu pergi menuju tempat persembunyian nya. Meninggalkan lembayung senja yang makin merah.
Suara gemuruh ombak laut, gemerisik dedaunan pepohonan, serta kicau burung camar, seakan menyatu dengan canda tawa Joshua dan Yanti.
Seirama, bagai simfoni indah yang melantunkan nada nada tentang cinta yang begitu agung. 
Selamat tinggal nestapa....
selamat datang bahagia.


Serawak -2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar di sini

Post Top Ad

Your Ad Spot

Pages