![]() |
| Tradisi Fua Pah; Referensi pihak ketiga |
Kebenaran selalu menjadi tolak ukur dalam suatu kepercayaan. Namun keyakinan manusia akan kebenaran, pada umumnya memang masih selalu terhambat oleh bias yang membaurkan.
Di mana pun manusia itu berada, pandangannya tentang kebenaran tidak akan mencapai kesempurnaan, selama masih ada elemen bias yang dipengaruhi oleh konteks kultur dan adat istiadat setempat. Sehingga adakalanya kepercayaan dalam suatu komunitas masyarakat tertentu, cenderung mencerminkan kultur-nya sendiri daripada kebenaran yang sebenarnya.
Tak terkecuali fakta fakta mengenai pola hidup masyarakat Timor konservatif yang masih terus dipertahankan hingga dewasa ini.
Di tengah tengah keyakinan akan kebenaran sejati dalam Kekristenan, masih selalu dibayangi praktik praktik kepercayaan leluhur dalam setiap seluk beluk kehidupan sehari hari mereka.
Istilah Pah Naifam na fafa, ma Neno antaem nahaof kit, yang kira kira dalam bahasa Indonesia berarti Alam memangku, dan langit menaungi dan memelihara kita, menjadi satu satunya dalih tradisi kepercayaan leluhur di Timor masih terus dipertahankan hingga kini.
Gaya hidup konservatif ini bisa kita lihat dalam beberapa upacara massal yang sangat penting, semisal meminta pertolongan, memohon berkat, memutus kutukan atas sumpah serapah leluhur untuk hal hal tertentu yang tidak boleh disentuh atau dilanggar, pada setiap kali menyembelih ternak, serta pada upacara upacara adat lainnya yang dipandang sakral.
Untuk lebih jelas, akan saya uraikan beberapa praktik gaya hidup konservatif masyarakat Timor yang sebagian lainnya sering kali saya lihat, bahkan pernah terlibat langsung.
Ritual doa meminta hujan.
Umumnya petani, kehidupan mereka sangat bergantung kepada kelancaran curah hujan. Apa lagi di kawasan Timor yang curah hujan-nya sangat rendah, membuat mereka menjadikan hujan bagai suatu anugerah yang tak tertandingi nilainya.
Ketika musim tanam tiba, sementara hujan belum juga turun, maka timbullah inisiatif untuk membuat upacara doa meminta hujan.
Biasanya, tua tua adat dalam kampung beserta perwakilan dari gereja memegang peranan penting dalam upacara tersebut, selain masyarakat sekitar dan seekor atau lebih hewan ( sapi atau babi) untuk disembelih sebagai korban.
Begitu pula pemilihan tempat dilangsungkannya upacara tersebut, yang notabene pernah dijadikan tempat penyembahan berhala pada zaman dahulu.
Dalam prosesi upacara tersebut, akan diawali dengan Takanab dalam sebutan Dawan, dari salah satu tokoh adat setempat, yang artinya berupa ungkapan puja puji kepada leluhur dan penghuni alam.
Selain puja puji, dalam Takanab ini pun akan terselip ucapan ucapan permohonan, meminta jawaban atas persoalan yang sementara mereka hadapi.
Dari semua rangkaian upacara ini, dapat kita lihat indikasi praktik kepercayaan leluhur begitu kentara. Mulai dari puja puji, cara menyembelih ternak yang berbeda dari biasanya, sampai pada larangan tidak diperbolehkan membawa pulang makanan apa pun kembali ke rumah.
Ironisnya, doa yang sebenarnya menjadi elemen utama dalam upacara tersebut, justru yang paling akhir dari rangkaian upacara ini.
Dengan demikian, menjadi nampak jelas dua kepercayaan plus dua kebenaran kontradiktif dalam ritual doa tersebut.
Ritual doa Memutus Kutukan (Onen Fetis dan Helak Abeba)
Rangkaian acara doa ini hampir mirip dengan doa meminta hujan, begitu pula lokasi berlangsungnya doa pun tentunya tempat yang mempunyai nilai sejarah tersendiri, yang diyakini berkaitan dengan hajatan tersebut. Perbedaannya terletak pada esensi dan maksud atau tujuan dari masing masing ritual doa. Misalnya, doa memutus kutukan ( Onen Fetis ) ini biasanya berkaitan dengan hal hal seperti;
- Sumpah atau Han Bata para leluhur tentang sesuatu hal tertentu,
- Musibah atau sakit penyakit turun temurun akibat suatu aib dari leluhur, dan
- Larangan tidak memperbolehkan adanya perkawinan antar wilayah yang dahulunya terlibat perang ( Helak Abeba ).
Pemicu dari adanya rangkaian ritual doa Memutus Kutukan tersebut biasanya berupa kejadian kejadian mistis atau musibah musibah tertentu yang terjadi di luar nalar, yang menimpa anak cucu.
Dalam prosesi upacara tersebut, akan diawali dengan Takanab dalam sebutan Dawan, dari salah satu tokoh adat setempat, yang artinya berupa ungkapan puja puji kepada leluhur dan penghuni alam.
Selain puja puji, dalam Takanab ini pun akan terselip ucapan ucapan permohonan, meminta jawaban atas persoalan yang sementara mereka hadapi.
Dari semua rangkaian upacara ini, dapat kita lihat indikasi praktik kepercayaan leluhur begitu kentara. Mulai dari puja puji, cara menyembelih ternak yang berbeda dari biasanya, sampai pada larangan tidak diperbolehkan membawa pulang makanan apa pun kembali ke rumah.
Ironisnya, doa yang sebenarnya menjadi elemen utama dalam upacara tersebut, justru yang paling akhir dari rangkaian upacara ini.
Dengan demikian, menjadi nampak jelas dua kepercayaan plus dua kebenaran kontradiktif dalam ritual doa tersebut.
Ritual doa Memutus Kutukan (Onen Fetis dan Helak Abeba)
Rangkaian acara doa ini hampir mirip dengan doa meminta hujan, begitu pula lokasi berlangsungnya doa pun tentunya tempat yang mempunyai nilai sejarah tersendiri, yang diyakini berkaitan dengan hajatan tersebut. Perbedaannya terletak pada esensi dan maksud atau tujuan dari masing masing ritual doa. Misalnya, doa memutus kutukan ( Onen Fetis ) ini biasanya berkaitan dengan hal hal seperti;
- Sumpah atau Han Bata para leluhur tentang sesuatu hal tertentu,
- Musibah atau sakit penyakit turun temurun akibat suatu aib dari leluhur, dan
- Larangan tidak memperbolehkan adanya perkawinan antar wilayah yang dahulunya terlibat perang ( Helak Abeba ).
Pemicu dari adanya rangkaian ritual doa Memutus Kutukan tersebut biasanya berupa kejadian kejadian mistis atau musibah musibah tertentu yang terjadi di luar nalar, yang menimpa anak cucu.
Hal hal seperti ini sering kali ditemukan melalui suatu penelusuran _sebab-akibat_ yang disebut dengan istilah Naketi, yang kira kira berarti introspeksi.
Hasil akhir dari Naketi ini yang nantinya menjadi pokok Doa dan Takanab pada masing masing ritual.
Anehnya, dari semua ritual yang saya saksikan ternyata berhasil atau terkabul, dalam artian bahwa semua yang diminta mendapat jawaban tanpa harus berlama lama menunggu.
Cerita singkat berikut ini bisa menjadi fakta keberhasilan dari salah satu ritual yang pernah saya saksikan.
Dalam sumpahnya, beliau membuat 'tembok pembatas' antara Kase ( orang kota) dan Meto ( orang kampung). Artinya, esok lusa nanti, orang kampung tidak boleh menjadi orang kota (kase), dan sebaliknya.
Efeknya, salah satu cucu Usif Lo (Afos) Mella berulang kali masuk bursa pemilihan Bupati, namun berulang kali pula beliau gagal.
Hingga pada suatu ketika para tua tua adat mengadakan pertemuan khusus untuk Naketi. Yang nantinya dari Naketi tersebut ditemukan bahwa sumpah dari kakek buyut lah cikal bakal kegagalan tersebut.
Dengan demikian maka solusi satu satunya ialah dengan diadakannya ritual doa memutus kutukan.
Pen Kase menjadi tempat berlangsungnya ritual tersebut, yang tidak lain adalah tempat di mana sumpah itu tercetus.
Tidak lama berselang setelah ritual tersebut, cucu Usif Lo (Afos) Mella lantas menjadi Bupati selama dua periode berturut turut."
Konsekuensi dari terkabulnya ritual ini serta ritual ritual serupa lainnya, menimbulkan gaya tarik menarik antara dua keyakinan, yang berdampak pada membaurnya kepercayaan mereka terhadap kebenaran.
Antara Takanab untuk para leluhur dan penghuni alam semesta(Uis Pah), dan Doa kepada Tuhan Sang Pencipta (Uis Neno) menjadi dua sisi kebenaran yang membaur dalam kehidupan religius mereka.
Pada umumnya, mereka berasumsi bahwa Doa tanpa Takanab tidak akan menghasilkan apa apa, dan sebaliknya Takanab tanpa Doa dalam ritual serupa ini akan menjadi sia sia.
Asumsi seperti ini sudah menjadi ideologi tersendiri yang didasarkan pada istilah Pah Naifam na fafa, ma Neno antaem nahaof kit.
Pada masyarakat Timor Tengah Utara dan sekitarnya, kita dapat menyaksikan gaya hidup konservatif begitu sangat dominan dalam kehidupan religius mereka.
Jika di kawasan Timor bagian tengah, selatan, dan barat masih nampak praktik kepercayaan leluhur meski tidak terlalu menyolok, berbeda halnya dengan masyarakat Timor bagian utara dan timur yang mayoritas penduduknya merupakan penganut Kristen (Roma Katolik).
Eksistensi praktik kepercayaan leluhur pada kawasan kawasan tersebut masih sangat kental pengaruhnya dibandingkan daerah daerah lain dalam pulau Timor.
Indikasi dari kuatnya pengaruh pola hidup konservatif tersebut, nampak dari adanya tempat tempat ritual Fua Pah yang ter-rawat baik, bahkan dibuatkan bangunan tersendiri yang lazim disebut Ume Le'u (rumah adat). Dan ada pula tempat se-sajian khusus berupa batu ceper dan sejenis kayu bercabang tiga (Hau Monef ) pada setiap halaman rumah warga.
Dualisme kepercayaan masyarakat pedalaman Timor sudah begitu mengakar dalam sanubari orang orangnya, dan sangat tidak mungkin untuk merubah atau menghilangkan salah satu dari keyakinan mereka tersebut.
Uis Pah dan Uis Neno menjadi dua esensi kebenaran yang membaur dalam pemahaman Pah Naifam na fafa, ma Neno antaem nahaof kit.
Selain itu, adat istiadat menjadi perisai yang kokoh bagi eksistensi Fua Pah dari generasi ke generasi yang mustahil ditiadakan.
Para pemimpin Kristen (Katolik dan Protestan) di kawasan Timor pun terkesan membiarkan praktik Fua Pah ini terus hidup, sebab adat istiadat sudah lebih dahulu membungkam mereka.
Alih alih melestarikan budaya dan adat istiadat leluhur, namun pada kenyataannya kebenaran hanya menjadi bias yang membaurkan.
Tidak ada salahnya mempertahankan atau melestarikan adat budaya leluhur. Akan tetapi jika adat budaya tersebut justru menikung kebenaran dalam kepercayaan kepada Tuhan Sang Pencipta, maka sejatinya kita tidak akan pernah mencapai titik kesempurnaan dari kebenaran yang sebenarnya.
Cerita singkat berikut ini bisa menjadi fakta keberhasilan dari salah satu ritual yang pernah saya saksikan.
"Konon, pada zaman penjajahan Belanda, salah satu Raja dalam kawasan suku Dawan mendapat perlakuan buruk dari orang orang Belanda, hingga terancam menjadi tawanan.
Raja yang dimaksud adalah Usif Lo (Afos) Mella, menurut tutur mendiang bapak saya.
Karena ancaman tersebut, beliau lantas melarikan diri dan bersembunyi di suatu gunung yang kami sebut dengan nama gunung Pen kase.
Perlakuan buruk serta ancaman dari pihak Belanda inilah yang kemudian membuat Usif Lo (Afos) Mella murka lalu bersumpah; "Nok am an meo, Kase lo ho Kase kum, au Meto lo au meto kuk"Dalam sumpahnya, beliau membuat 'tembok pembatas' antara Kase ( orang kota) dan Meto ( orang kampung). Artinya, esok lusa nanti, orang kampung tidak boleh menjadi orang kota (kase), dan sebaliknya.
Efeknya, salah satu cucu Usif Lo (Afos) Mella berulang kali masuk bursa pemilihan Bupati, namun berulang kali pula beliau gagal.
Hingga pada suatu ketika para tua tua adat mengadakan pertemuan khusus untuk Naketi. Yang nantinya dari Naketi tersebut ditemukan bahwa sumpah dari kakek buyut lah cikal bakal kegagalan tersebut.
Dengan demikian maka solusi satu satunya ialah dengan diadakannya ritual doa memutus kutukan.
Pen Kase menjadi tempat berlangsungnya ritual tersebut, yang tidak lain adalah tempat di mana sumpah itu tercetus.
Tidak lama berselang setelah ritual tersebut, cucu Usif Lo (Afos) Mella lantas menjadi Bupati selama dua periode berturut turut."
Konsekuensi dari terkabulnya ritual ini serta ritual ritual serupa lainnya, menimbulkan gaya tarik menarik antara dua keyakinan, yang berdampak pada membaurnya kepercayaan mereka terhadap kebenaran.
Antara Takanab untuk para leluhur dan penghuni alam semesta(Uis Pah), dan Doa kepada Tuhan Sang Pencipta (Uis Neno) menjadi dua sisi kebenaran yang membaur dalam kehidupan religius mereka.
Pada umumnya, mereka berasumsi bahwa Doa tanpa Takanab tidak akan menghasilkan apa apa, dan sebaliknya Takanab tanpa Doa dalam ritual serupa ini akan menjadi sia sia.
Asumsi seperti ini sudah menjadi ideologi tersendiri yang didasarkan pada istilah Pah Naifam na fafa, ma Neno antaem nahaof kit.
Pada masyarakat Timor Tengah Utara dan sekitarnya, kita dapat menyaksikan gaya hidup konservatif begitu sangat dominan dalam kehidupan religius mereka.
Jika di kawasan Timor bagian tengah, selatan, dan barat masih nampak praktik kepercayaan leluhur meski tidak terlalu menyolok, berbeda halnya dengan masyarakat Timor bagian utara dan timur yang mayoritas penduduknya merupakan penganut Kristen (Roma Katolik).
Eksistensi praktik kepercayaan leluhur pada kawasan kawasan tersebut masih sangat kental pengaruhnya dibandingkan daerah daerah lain dalam pulau Timor.
Indikasi dari kuatnya pengaruh pola hidup konservatif tersebut, nampak dari adanya tempat tempat ritual Fua Pah yang ter-rawat baik, bahkan dibuatkan bangunan tersendiri yang lazim disebut Ume Le'u (rumah adat). Dan ada pula tempat se-sajian khusus berupa batu ceper dan sejenis kayu bercabang tiga (Hau Monef ) pada setiap halaman rumah warga.
Dualisme kepercayaan masyarakat pedalaman Timor sudah begitu mengakar dalam sanubari orang orangnya, dan sangat tidak mungkin untuk merubah atau menghilangkan salah satu dari keyakinan mereka tersebut.
Uis Pah dan Uis Neno menjadi dua esensi kebenaran yang membaur dalam pemahaman Pah Naifam na fafa, ma Neno antaem nahaof kit.
Selain itu, adat istiadat menjadi perisai yang kokoh bagi eksistensi Fua Pah dari generasi ke generasi yang mustahil ditiadakan.
Para pemimpin Kristen (Katolik dan Protestan) di kawasan Timor pun terkesan membiarkan praktik Fua Pah ini terus hidup, sebab adat istiadat sudah lebih dahulu membungkam mereka.
Alih alih melestarikan budaya dan adat istiadat leluhur, namun pada kenyataannya kebenaran hanya menjadi bias yang membaurkan.
Tidak ada salahnya mempertahankan atau melestarikan adat budaya leluhur. Akan tetapi jika adat budaya tersebut justru menikung kebenaran dalam kepercayaan kepada Tuhan Sang Pencipta, maka sejatinya kita tidak akan pernah mencapai titik kesempurnaan dari kebenaran yang sebenarnya.
©2018 Mutis.com


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar di sini