Breaking

Post Top Ad

Your Ad Spot

19 Maret 2020

Selalu Ada Bukti Bahwa Tak Ada Kata Terlambat Untuk Belahan Jiwa


Andai kita tidak terlalu sering  tergelincir pada persepsi  tentang diri kita sendiri, jodoh  mungkin saja tak se'rumit yang kita pikirkan.

Persepsi kita [yang sebenarnya keliru], bisa berupa mitos jodoh,  pendapat orang orang sekeliling kita, atau bisa saja dari standar usia yang sudah kita patok.

Dan yang lebih memprihatinkan adalah, ketika kita mulai menghakimi diri sendiri atas kesalahan kesalahan yang kita lakukan di masa lalu.

Dalam hidup, saya memiliki banyak kesempatan melihat hal hal mustahil dan menakjubkan terkait cinta dan apa yang kita sebut belahan jiwa, atau jodoh..

Kehadiran belahan jiwa tidak bisa kita prediksi, bahkan tidak  melibatkan usaha kita sama sekali.
Sebab, cinta bekerja sendiri dengan caranya yang misterius.

Well, ikuti cerita  singkat pasangan di bawah ini, yang membuktikan kepada kita bahwa tak ada kata terlambat untuk jodoh.
.
Mereka yang secara logika,  tidak lagi memiliki harapan, akhirnya bisa  menemukan belahan jiwa mereka di usia senja.


💕 Bapak Niko dan Ibu Lia 💕
Kisah yang akan saya ceritakan ini, sebenarnya sudah sangat lama berlalu.  Tetapi saya masih ingat jelas setiap detail-nya,  yang  mana  dari awal hingga akhir cerita, didominasi oleh ibu Lia.

Waktu itu, pertengahan bulan Desember, tahun 2005....

Berawal dari petualangan saya keluar masuk kedai fashion untuk membeli setelan pakaian Natal, di satu satunya market tradisional kota kabupaten, yang memang terkenal dingin dan selalu basah.

Karena merasa seolah olah menjadi satu satunya target invasi udara dingin disertai gerimis yang semakin menjadi-jadi, saya memilih untuk berteduh sementara di salah satu kios kecil di sudut pasar itu.

Dengan sisa uang di pocket yang pas pasan untuk ongkos transport pulang, saya terpaksa melewatkan makan siang.
Di sinilah saya percaya, bahwa keberuntungan itu sebenarnya masih ada.

Pemilik sekaligus pramuniaga kios itu ternyata sepasang lansia yang baik hati.
Saya dipersilakan masuk, lalu diberi hidangan segelas kopi hangat dan beberapa potong kue.
Selamat lah sudah dari kematian perlahan kelaparan.


Kesan pertama yang saya lihat dari pasangan ini, bisa dibilang  penyatuan antara dua kutub dalam satu ruang dan waktu;
Istri terlihat sangat atraktif dan super extrovert [cerewet],  sementara suaminya, terkesan high definition introvert [pendiam].

Sementara berbasa basi, sesekali saya melirik ke arah dapur.
Dalam hati,   _saya berandai andai; Sapa tau dia punya anak perempuan yang mengikuti tabiat ibunya yang begitu murah hati ini, saya bisa cari peluang untuk "tabur" beberapa kata.

Namun malangnya nasib....Di pojok dapur itu hanya ada seekor kucing jantan  sementara berusaha mencumbu kucing betina yang pura pura jual mahal.

Rasa penasaran yang semakin tak terbendung ini, akhirnya memaksa saya memberanikan diri untuk bertanya.
Dan tak disangka sangka, pertanyaan saya justru memicu suatu kisah panjang  berliku dan mengharukan.....

"Kami  berdua sudah terlalu tua untuk memiliki anak". Jawab ibu  Lia.

Jawaban singkat itu membuat saya justru semakin penasaran.

Tetapi rupanya ibu Lia  bisa menerka apa yang saya pikirkan dan pertanyaan apa dari saya selanjutnya, beliau lantas mendahului  dengan memulai kisahnya....

"Mungkin Tuhan tidak ingin menambah penderitaan saya dengan tidak memberi anak.
Sebelum ini, saya sudah dua kali menikah, namun kedua perkawinan saya berakhir dengan skenario yang sama: Ditinggal pergi begitu saja. 

Entah apa yang salah....
Pada hal saya sudah berusaha segenap hati untuk melakukan yang terbaik kepada mereka. Toh, mereka akhirnya pergi juga". Tutur Lia dengan mata berkaca kaca.

Kira kira sepuluh detik berikutnya, ibu Lia tertunduk, dan situasi menjadi hening....

Melihat itu, saya coba mengalihkan keadaan dengan menanyakan bagaimana mereka [Lia dan Niko] akhirnya bertemu.

Sementara Niko, suaminya, manggut manggut dengan rokok keretek-nya yang basah setengah karena ludah sirih pinang,  Lia lanjut bercerita...

"Satu satunya yang tersisa di sanubari, ketika saya berada pada titik paling rendah dalam hidup ini, adalah harapan.
Dengan harapan, saya memiliki keyakinan bahwa suatu keajaiban sementara menunggu saya di depan sana.
Dan, hari ini kamu bisa melihat keajaiban itu". 

"Pertemuan kami bisa dibilang kebetulan...

Ketika itu, kami sama sama berjualan di pasar ini. 
Karena dia (Niko) baru mulai berjualan, tentu dia belum punya tempat sendiri untuk meletakkan jualannya.

Sebelumnya, saya tidak ada niat untuk menolongnya, karena saya sudah berjanji tidak ingin didekati atau  mendekati pria mana pun.

 Tetapi melihat dia yang selama hampir seminggu memikul jualannya  kesana kemari, saya merasa kasihan.
Akhirnya, saya bersedia berbagi tempat jualan dengannya."  Kenang Lia sambil melirik Niko yang tersenyum simpul di balik kepulan asap rokok-nya.

"Di sinilah awal segalanya tentang kami berdua dimulai.
Dengan berbagi tempat jualan dengannya, secara tidak langsung, saya kembali menyentuh  sesuatu yang sudah saya anggap tabu.

Seiring waktu, keakraban kami   berkembang ke arah yang sebenarnya  saya sama sekali tidak ingin  berada di sana.

Saya merasa berdiri di salah satu sisi gravitasi dan dia di sisi lainnya.
Semakin saya berusaha menghindar, semakin kuat gravitasi itu menarik saya ke arah-nya.

Tetapi saya memilih diam dengan apa yang saya rasakan. Bahkan berulang kali  mencoba aborsi perasaan saya yang kian hari, kian bertumbuh dewasa.

Sampai suatu sore, setelah kira kira sebelas bulan kami lalui bersama...
Dia mengungkapkan perasaannya kepada saya.

Tentu momen cinta cintaan versi  kami orang tua ini tak se'heboh kalian anak muda."

Kami sama sama tertawa beberapa detik, sebelum ibu Lia melanjutkan ceritanya.

"Walau sebenarnya saya melihat ketulusan dari sorot matanya, saya tetap diam dan mengabaikan perasaannya.

Hari hari berikutnya, dia nampak gelisah.
Setiap kesempatan tidak pernah ter-lewatkan olehnya tanpa menanyakan jawaban.

Kalau dihitung hitung, sudah tiga tahun berlalu, semenjak terakhir kali saya menyuruhnya  berhenti meminta jawaban saya.

Baru sekitar lima bulan lalu, saya memberinya jawaban." Kata ibu Lia  diiringi senyuman, dan sekali lagi melirik ke arah suaminya.

"Waktu itu, saya demam.
Karena menjaga saya sepenuh waktu selama saya sakit, dia pun berhenti berjualan.  Dia  dengan lembut dan sabar merawat saya.

Saya merasa terenyuh mendapat perlakuan yang  belum pernah saya dapatkan dari pria mana pun sebelumnya.

Suatu malam ketika dia sibuk menyiapkan makan  malam untuk saya,  sejenak  saya menatapnya dengan perasaan haru yang mendalam.

Saya merasa tidak pantas mendapatkannya.
Di luar sadar saya bertanya,
kenapa kamu begitu baik kepada saya?

Dia hanya diam, dan terus mengaduk aduk makanan di piring.

Saya tau, dia tidak akan menjawab pertanyaan yang mungkin saja melukai hatinya.
Sontak saya mengambil piring dari tangannya, meletakkannya di samping ranjang.
Lalu meraih tubuhnya, dan memeluknya erat erat."
Sampai di sini, ibu Lia mengeluarkan tawa, diikuti dua bulir bening air mata  mengalir di pipinya. 

Bapak Niko yang dari tadi hanya asyik sendiri dengan rokok keretek-nya, pun kali ini turut serta memamerkan giginya yang sekilas saya lihat, sudah memiliki banyak jendela.  

"Selama tiga tahun dia menunggu jawaban, dan malam itu saya menjawabnya dengan sebuah pelukan." Kata ibu Lia melanjutkan

"Saya percaya bahwa pelukan bermakna lebih dari apa yang tidak mampu kita uraikan dengan kata kata.

Semenjak itu, saya meyakini satu hal, bahwa pria yang bersama saya sekarang ini adalah belahan jiwa saya sebenarnya.


Adek,
Kamu masih muda, tapi percayalah, entah di mana belahan jiwa-mu berada, atau mungkin sementara ini kamu berdua di pelukan orang yang salah, suatu ketika, apa pun prosesnya,  kalian pasti akan dipertemukan.

Terkadang dia datang bukan semata hasil usaha-mu.
 Itu akan mengejutkan-mu, karena kehadirannya di luar dari apa yang kamu rencanakan.

Rahasianya hanya satu; jangan sampai redup!
Artinya, jangan putus harapan.


Harapan akan membuat-mu bercahaya.
Karena cahaya-mu akan menjadi satu satunya tanda bagi belahan jiwa untuk menemukan-mu.

Ketika kamu menemukannya, ketahuilah, bahwa belahan jiwamu akan membuat hidup lebih hidup.

Belahan jiwamu tidak akan salah orang.
Ia tidak akan menanyakan seperti apa kehidupan-mu sebelumnya.
Ia tidak akan mengomentari penampilan fisik-mu.
Ia bahkan berjuang bersama-mu untuk mengobati luka batin dari masa lalu-mu.



Sekarang Adek mau pulang ke mana?
Tanya ibu Lia mengejutkan saya yang sedari tadi dibuat hanyut terbawa kisahnya.


Sembari memberi tahu tempat tujuan saya pulang, saya melirik jam di dinding yang sudah menunjuk jam tiga lebih lima belas menit.

Bagai kebakaran jenggot.
Secepat kilat saya bangkit dari kursi, menjabat tangan mereka berdua dan mengucapkan selamat khusus kepada ibu Lia yang sudah bersedia berbagi kisahnya.

Lalu, pamit pulang. 

Kisah ini menjadi bukti, bahwa usia 40'an, 50'an, 60'an, atau lebih tua dari itu, sama sekali tidak ada hubungannya dengan proses menemukan  belahan jiwa.

Untuk itu, berhenti berpikir bahwa kamu sudah terlambat, atau kamu sudah terlalu tua untuk menemukan belahan jiwamu.

Tidak kesah seberapa buruk masa lalu-mu. Tidak peduli seberapa tua-nya kamu. Tidak memandang seberapa jeleknya penampilan-mu di mata orang lain.
Belahan jiwa-mu akan tetap datang, dan itu pasti!



Note:
💕 Niko dan Lia [bukan nama sebenarnya], adalah pasangan laki-bini suku Dawan, Timor.
💕 Untuk menjaga privasi mereka, di sini saya memutuskan untuk memakai nama samaran.
💕 Bapak Niko dan ibu Lia bertemu di waktu mereka sudah sama sama memasuki usia senja.  Yakni ketika usia bapak Niko 57 tahun, dan ibu Lia 51 tahun.

©2020 Jurnal Beta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar di sini

Post Top Ad

Your Ad Spot

Pages