![]() |
| Referensi pihak ketiga |
Pemahaman kita semenjak dahulu kala, dari generasi ke generasi hingga saat ini tidak pernah berubah terkait seks dan spiritual; Bahwa seks dan spiritual adalah dua aspek kehidupan yang sangat kontradiktif.
Bahkan seks menjadi topik yang sangat tabu untuk dibicarakan secara terbuka, apa lagi jika hal itu dikaitkan dengan spiritual.
Padahal, sebelum adanya ideologi dogmatis, seksualitas dihormati selama ribuan tahun sebagai ekspresi sakral kekuatan hidup alam, dan misteri penciptaan.
Karena seks yang kita ketahui sudah terlanjur dikaitkan dengan banyak ide berdasarkan pemahaman yang cenderung keliru, maka di sini saya akan membuka wawasan berpikir kita setidaknya agar kita memahami seks sebagai bagian lain dari sifat dan diri kita, yang tidak sepatutnya dipandang hina, tabu, dan najis.
Kita tumbuh besar di dalam masyarakat dengan konteks agama dan budaya ketimuran yang begitu masif, yang mana kita di diajarkan gagasan kebajikan dan rasa malu.
Pengaruh gagasan ini lah yang justru menghambat kita untuk secara terbuka menerima dan merangkul seksualitas kita, yang merupakan kekuatan hidup yang ada di dalam diri kita.
Melalui gagasan agama dan budaya ini pula, kita diajarkan tentang mana yang baik dan buruk.
Ironisnya, tanpa sadar mereka justru secara tidak langsung memperkenalkan kita kepada apa yang disebut "rasa bersalah".
Akibatnya, kita menjadi tidak lagi utuh. Kita membagi bagi diri kita ke dalam kotak kotak kebajikan, rasa malu, dan rasa bersalah oleh apa yang dianggap baik dan yang buruk.
Memang, kita lebih dari sekadar makhluk seksual yang artinya, seks tidak menjadi penentu siapa kita. Tetapi seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, bahwa seks adalah bagian dari diri kita.
Nah, jika seks adalah bagian diri kita, berarti menyangkalnya adalah suatu penolakan terhadap bagian dari diri kita sendiri.
Lantas bagaimana kehidupan seks yang sehat dapat menumbuhkan kehidupan spiritual, dan bagaimana itu dapat dikaitkan dengan spiritual?
Seks sebenarnya bukan tentang kenikmatan fisik semata. Itu terkait hati dan jiwa suatu ritual di mana kita dapat bertukar energi, emosi, pikiran, dan kesadaran.
Energi seksual adalah jembatan yang menghubungkan kita kembali kepada kekuatan hidup energi apa yang "dipertukarkan", yang diterima, dan dikembalikan kepada kita. Apakah itu memberi kekuatan, kesembuhan, dan memulihkan semangat, atau justru sebaliknya.
Ada banyak sekali penelitian tentang manfaat seks untuk fisik, emosional, dan mental dari kehidupan seksual yang sehat, dan hal itu diyakini dapat meningkatkan pertumbuhan spiritual kita. Tentunya, selama seks itu dilakukan dengan benar.
Jadi,
Untuk menjalani kehidupan spiritual, kita harus merangkul dan menghormati seksualitas kita sebagai bagian lain dari sifat kita.
Sebab itu, gagasan apa pun entah itu dari agama dan budaya yang mencoba membuat kita merasa malu terkait seks, itu adalah musuh pertumbuhan spiritual.
Meskipun seks tidak menjadi penentu siapa kita, karena kita lebih dari sekadar makhluk seksual, tetapi seks merupakan pembentuk nada dasar dari melodi musik jiwa kita.
©2020 Elangmutis.com


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar di sini