Breaking

Post Top Ad

Your Ad Spot

15 Agustus 2016

6 Kebiasaan Salah Orang Timor Pedalaman Dalam Mendidik Anak

Foto : Potrait a Cute Little Girl in Timor__by Cookiesound

 setiap orang tua pasti ingin anak-anaknya memiliki masa depan  yang lebih baik dari mereka, itu sebabnya orang tua memegang peranan penting  selain membesarkan dan memenuhi segala keperluan anak, orang tua juga punya kewajiban untuk mendidik anak, sebagai bekal  untuk nantinya  menjadi pegangan dalam menjalani kehidupannya,  saat anak itu  merasa tidak lagi cocok dengan pangkuan ibu dan ayah dan mulai menjalani kehidupan dengan pilihannya sendiri.

Namun  tanpa disadari,  banyak orang tua justru membuat kabur masa depan anaknya sendiri dengan didikan yang sebenarnya keliru. Terkadang alih-alih untuk mendidik, orang tua malah bertindak otoriter terhadap anak itu sendiri. Sebagai contoh, berikut ini ada 6 kebiasaan salah orang timor pedalaman dalam mendidik Anak. 

1. Manja Berlebihan  
Di Timor, anak manja selalu di pihak benar apabila terjadi perselisihan dengan anak-anak lain. Apa pun yang dia inginkan, ada atau pun tidak, harus segera terpenuhi.  Jika merajuk, hanya uang yang membuat dia tenang. 
Selalu ingin memiliki bagian yang lebih besar/banyak daripada anak-anak yang lain.

Banyak fakta yang membuktikan anak-anak yang dimanjakan berlebihan malah menjadi pemberontak terhadap orang tua pada masa remajanya. 
Kebanyakan orang tua menganggap bahwa memanjakan anak merupakan salah satu bentuk kasih sayang dan perhatian dari mereka.
Akan tetapi,  memanjakan anak dengan menuruti semua kemauannya dapat menimbulkan efek buruk pada pertumbuhan psikologis  anak itu sendiri. 
  
Ada beberapa dampak buruk akibat terlalu memanjakan anak seperti;
Tidak bisa Mandiri, 
Kurang mampu bertanggung jawab, 
Tidak bisa mengatur waktunya sendiri,
Kurang inisiatif dan tidak kreatif, 
Tidak mampu beradaptasi dengan lingkungan luar, 
Menumbuhkan sifat pemarah, 
Egois,
Mudah menyerah dan Putus asa, 
Tidak bisa berpikir dewasa meski usianya sudah dewasa.
Hal-hal ini membuktikan bahwa Memanjakan anak merupakan bentuk kasih sayang yang keliru dari kebanyakan orang tua, khususnya di Timor pedalaman. 

2.  Membentak,mengintimidasi atau menakut-nakuti
Di Timor khususnya di tempat kelahiran saya, anak-anak lebih takut terhadap om/paman (saudara Laki-Laki dari mama). 
Om menurut tradisi kami berpangkat sebagai "Atoen Amaf", artinya sebagai pelindung atau dengan kata lain Atoen Amaf yang akan bertanggung jawab atas segala hal suka atau pun duka yang menimpa anak-anak dari saudara perempuan.  
Dengan demikian, Om punya otoritas untuk membentak, mengancam atau bahkan memukul jika menurutnya anak keras kepala.
Mungkin maksud dari cara mendidik serupa ini adalah untuk membuat anak menaruh rasa hormat terhadap orang tua. Namun tanpa  diketahui, mereka justru menghancurkan masa depan anak itu sendiri.

Membentak anak merupakan hal yang sulit dihindari oleh orang tua pada umumnya. Akan tetapi menurut penelitian, pada saat berlangsungnya bentakan, maka 1 miliar otak anak akan mengalami kerusakan. Jika demikian, apakah yang akan terjadi pada anak kalau sering-sering mendengar bentakan orang tua? Berikut ini ada beberapa efek jangka panjang membentak anak, di kutip dari +theAsianparent.com  yaitu:
  •  Anak akan menjadi minder dan takut mencoba hal-hal baru.
  • Anak akan tumbuh menjadi pribadi yang Pesimis dan tidak percaya diri.
  •  Anak akan memiliki sifat Pemarah dan Egois. 
  • Anak jadi keras kepala dan suka melawan orang tua.
  • Anak cenderung apatis dan tidak peduli terhadap lingkungan sekitarnya.
Dari hal-hal ini dapat kita simpul-kan bahwa ,penyebab keterbelakangan anak-anak di Timor pedalaman adalah kesalahan para orang tua membentuk pribadi anak-anak mereka dengan didikan yang salah.
      
3. Menghukum atau Menghakimi Dengan Rotan 
Di ujung rotan ada emas, adalah kata bijak yang selalu jadi alasan para orang tua  menganggap wajar dan perlu untuk memukuli anak-anak mereka. 
Di pedalaman Timor, sebelum adanya Undang Undang perlindungan anak, orang tua dan guru memperlakukan anak yang nakal dan bodoh itu seumpama bola, saling mengoper dalam memberi hukuman pada anak. Intinya, melakukan kekerasan fisik pada anak di Timor seperti sudah menjadi bagian dari tradisi.  
Alasan para orang tua menghukum anak dengan kekerasan, karena jika suatu ketika anak berbuat aib atau melawan/melanggar norma adat dalam kampung, maka orang tua lah yang akan menanggung malu. 
Padahal tanpa disadari, orang tua yang menghukum anak dengan keras malah menjadi bumerang untuk orang tua itu sendiri, karena memukul anak justru mengajarkan mereka untuk jadi orang yang suka memukul. 
Hukuman fisik bisa membuat anak merekam didikan yang salah yakni "Memukul itu dibenarkan". Saat dewasa, anak akan tumbuh menjadi orang yang kurang memiliki kasih sayang pada orang lain, dan selalu merasa takut pada orang yang di lihat lebih kuat darinya.
Budaya mendidik anak dengan cara kekerasan di Timor semacam siklus seumur hidup yang jika tidak diputuskan, akan berulang terus menerus pada generasi  selanjutnya.

4.  Memberi Tugas Atau Pekerjaan di Luar Kemampuan Anak.
Membebani anak dengan pekerjaan yang selayaknya dikerjakan oleh orang dewasa merupakan hal yang lumrah di hampir semua kawasan Timor pedesaan. 
Umumnya para orang tua ter-motivasi oleh kata bijak, banyak anak,banyak rezeki.
Memang, jika dilihat dari sudut pandang orang tua, ada benarnya juga memberi tugas atau pekerjaan pada anak. Sebab, selain  untuk membantu orang tua, anak juga bisa belajar membiasakan diri bertanggung jawab.
Namun pada kenyataannya, anak-anak yang lahir dan besar di pedalaman Timor rata-rata tidak mempunyai keahlian apa pun selain membersihkan rumput di kebun/sawah, pikul air/ kayu bakar dan memberi makan ternak. 
Penyebabnya adalah, orang tua cenderung egois dalam menerapkan didikan pada anak, dengan menutup ruang gerak anak dan hanya mengarahkan anak pada apa yang menurut mereka baik. Padahal anak yang kurang diberi kebebasan (selalu dikekang), akan merasa selalu ada yang kurang dalam hidupnya, dan senantiasa bergantung pada komando orang lain dan tidak mampu mengambil keputusan sendiri.

Ini lah tantangan dunia pendidikan  anak bagi para orang tua di Timor era modern. Nilai sopan santun, hormat menghormati, dan patuh pada orang tua adalah kultur yang sudah tercipta di masyarakat Timor turun-temurun yang perlu dikaji kembali pemahaman-nya. Karena tanpa sadar, praktik dari nilai-nilai kultur tersebut telah membelenggu dinamika seorang anak yang selalu ingin tahu, bercerita, atau pun mencoba sesuatu yang baru dan menarik.

5. Berbicara Kata-Kata Kotor di Depan atau Terhadap Anak. 
Anak  adalah Pembelajar yang hebat.!     Anak seumpama Spon, sangat kuat menyerap "tanpa filter" apa saja yang dilihat dan didengar dari orang-orang terdekat, dalam hal ini orang tua atau keluarga.  
Pada umumnya orang tua di pedalaman sangat tidak tahu tentang siklus pertumbuhan anak dan apa yang patut diajarkan kepada anak-anak mereka, khususnya dalam hal cara menggunakan bahasa yang baik dan benar. 
Kebanyakan  orang tua tidak menyadari kalau sebenarnya bahasa ibu dan bapak merupakan bahasa yang pertama kali didengar oleh anak.

Umumnya kata-kata kotor digunakan untuk meluapkan perasaan marah/kesal.  Pada saat orang tua marah, entah terhadap si anak atau terhadap orang lain, sudah pasti kata-kata itu  keluar bagai air mengalir. Tentu saja anak yang  melihat  dan mendengar kata-kata kotor dalam situasi (marah) seperti itu, akan menganggap caci maki kata yang baik untuk pertahanan diri. Otomatis anak akan  menerapkan kata-kata itu setiap kali anak itu dalam situasi serupa. 
Kebanyakan orang tua di Timor justru  terkesan membiarkan anak berbicara bahasa kotor dengan dalih "dia belum tau apa-apa".  Padahal orang tua adalah guru yang pertama dan terutama dari seorang anak.
Tanpa arahan yang baik dari orang tua, anak akan terbiasa dan akan sulit dikendalikan pada saat anak itu remaja dan pasti akan  terbawa-bawa sampai tua lalu menurunkan tradisi yang salah itu lagi kepada anak-anaknya  kelak.

 6. Tradisi Lebih Banyak Diterapkan Dari Pada Kerohanian Anak. 
Lingkungan memiliki pengaruh yang sangat kuat dalam proses membentuk karakter dan kepribadian seorang anak,dalam hal ini lingkungan keluarga.  Mulai dari tata bahasa hingga gaya hidup keseharian seorang anak, akan mencerminkan ciri khas keluarga dan kelompok masyarakat di mana anak tersebut dibesarkan.
Jika seorang anak hidup di lingkungan keluarga baik-baik, maka anak tersebut pasti memiliki karakter yang baik pula. Demikian sebaliknya, anak yang di besarkan dalam keluarga yang mempunyai gaya hidup yang buruk, maka anak itu juga akan memiliki perilaku buruk.

Namun terkadang pada kenyataannya, fakta justru berbanding terbalik.
Anak yang hidup di lingkungan baik-baik, malah mempunyai perangai yang buruk pada masa remaja dan terkadang terbawa hingga dewasa.
Begitu pula sebaliknya anak yang bertumbuh dari keluarga yang buruk, justru berkelakuan baik pada masa dewasa nya.
Persoalannya adalah kebanyakan orang tua di pedalaman Timor lebih mengedepankan tradisi daripada hal-hal yang berkaitan dengan kerohanian anak.   Oleh sebab itu, di sini saya akan membagi dua kategori  keluarga yang baik yaitu, keluarga yang baik dari sudut pandang tradisi, dan keluarga yang baik dari sudut pandang Rohani.
Ada perbedaan pola hidup mencolok  antara dua keluarga baik tersebut.    Misalnya, 
keluarga yang mengutamakan tradisi, mendisiplinkan  anak-anak mereka untuk duduk yang sopan saat makan. Sedangkan keluarga yang menganut pola hidup rohani, mewajibkan anak-anak  untuk selain sopan, juga harus Berdoa sebelum makan.
Keluarga rohani cenderung lebih sering  memberi contoh atau teladan rohani terhadap anak-anaknya daripada hanya sekadar memberi arahan. Alhasil, anak-anak yang memperoleh bekal rohani yang cukup, pada saat dewasa mempunyai pribadi yang tangguh dan bijak menghadapi  tantangan zaman.

Lain halnya dengan keluarga tradisi.
Pada umumnya keluarga yang menganut pola hidup seperti ini,  menyerahkan sepenuhnya kerohanian anak-anak mereka di bentuk oleh guru PAR dan guru agama di sekolah. Padahal anak lebih banyak waktu melihat dan mendengar bersama orang tua, dan lagi pula anak lebih cenderung meniru sesuatu yang nyata daripada hal-hal yang baru sebatas teori atau kata-kata.
Perlu diketahui bahwa, saya bukan bermaksud untuk meniadakan tradisi atau budaya tertentu, dalam hal ini tradisi kita sebagai orang Timor.  Akan tetapi, yang saya maksudkan di sini adalah bahwa sepatutnya  ada keseimbangan antara tradisi dan rohani dalam sebuah keluarga.
Karena pada kenyataannya banyak orang tua di Timor yang keliru  mendidik anak-anak mereka dengan lebih mengutamakan tradisi daripada kerohanian anak, sehingga nantinya setelah anak mulai mengenal dunia luar, dimana tradisi itu tidak lagi berfungsi, maka sudah tentu anak akan kehilangan prinsip hidup dan mulai mencoba hal-hal baru untuk menyesuaikan diri.
Dengan semakin canggihnya teknologi informasi seperti sekarang, tradisi mudah luntur sehingga anak perlu dibekali pribadinya dengan kerohanian yang cukup sedini mungkin, agar tidak mudah terpengaruh hal-hal negatif yang bukan hanya bisa mencoreng nama baik orang tua dan keluarga, tapi bisa juga menghancurkan masa depan anak itu sendiri.

Sebagai orang tua, setiap kali mendidik anak,  ingatlah poin poin berikut ini :

Terlalu Keras mendidik anak bisa berakibat antara lain;
  •    Anak terlalu sopan, terlalu merendah kepada pemimpin/penguasa, merasa hina dan patuh yang tidak pada tempatnya.
  •  Anak tidak Berani mengeluarkan pendapat/ ide ide nya, meski dia pintar sekalipun.
  • Takut untuk bicara jujur.
  • Tidak mampu mengambil keputusan sendiri dalam suatu hal, karena dia menunggu Perintah atau nasihat orang tua terlebih dahulu.
  • Tidak dapat merasakan kesenangan hidup, bersantai dan menikmati hidup karena terlalu memikirkan Pekerjaan dan Tanggung jawab.
  • Tidak Percaya diri dalam menghadapi situasi tertentu, karena dia terbiasa menjadi pengikut bukan yang diikuti.

  • Mendidik anak bukan sekadar memberi perintah atau arahan, tetapi orang tua itu sendiri harus menjadi teladan yang baik dan benar untuk anak. Karena guru agama hanya mungkin memberi anak banyak teori, untuk itu peran orang tua dan keluarga sangatlah penting untuk kebaikan mental dan spiritual anak ke depannya.
  • Jangan berkata bohong terhadap anak  walau hal sepele sekali pun, jika tidak ingin anak anda jadi pembohong.
  • Terlalu sering menganggap rendah anak, maka pada saat dewasa anak itu akan selalu merasa rendah diri. Ingatlah bahwa kerendahan hati berbeda maknanya dengan kerendahan diri. Anggap saja anak anda itu teman sebaya anda Saat berbicara dengan anak tersebut.
  • Perlakukan anak anda dengan sopan dan berwibawa, dengan begitu anak akan merasa diri berharga.

©2016 Mutis.com

 

Post Top Ad

Your Ad Spot

Pages