Breaking

Post Top Ad

Your Ad Spot

21 Desember 2016

Praktik Kanibalisme di Timor pada Era Perang Suku


Foto ilustrasi

Kisah ini diceritakan mendiang ayah saya hampir setiap malam sebelum tidur pada waktu beliau belum dipanggil pulang oleh Yang Kuasa.
Tetapi satu yang saya lupa tanyakan, yaitu waktu kapan tepatnya terjadinya peristiwa ini.

Pasti di antara kamu, ada yang belum tahu arti dari kata "Kanibal", tapi kalau ada yang tahu arti kata ini tentu saja akan merinding setiap kali mendengarnya.

Kanibal artinya memakan atau mengkonsumsi daging sesama sendiri, atau lebih tepatnya manusia makan daging sesama manusia itu sendiri.  Bayangkan, merinding kan kalau andaikata kebiasaan itu masih ada di tengah tengah  kehidupan kita sekarang.  Namun tidak semua orang Timor tahu kalau nenek moyang mereka pernah melakukan praktik kanibalisme tersebut pada zaman dulu sebelum masuknya Agama Kristen ke pelosok Timor.

Begitu juga Orang orang Timor modern mungkin ada yang sama sekali tidak tahu arti di balik Tarian Ma'ekat atau Tari Perang dari kabupaten Timor Tengah Selatan yang sering di peragakan pada setiap acara pesta adat atau penyambutan kunjungan dari pejabat  pemerintah daerah.
Tarian Ma'ekat merupakan bagian yang tak terpisahkan dari praktik kanibalisme pada masa berlangsungnya perang suku di Timor, khususnya dalam kawasan kabupaten Timor Tengah Selatan, yang menurut saya pribadi memperkirakan kalau tidak salah perang suku tersebut berlangsung   sekitar  abad ke-18 s/d awal abad ke-19 Masehi.

Suku Dawan di Timor, di dalamnya ada beberapa suku suku kecil yang sering ditandai dari tata bahasa dan motif pakaian adat. Suku suku tersebut dahulunya pada zaman kolonial Belanda disebut Vetor atau  Kekaisaran. Semisalnya di Kabupaten TTS terdapat 3 wilayah kekaisaran yang masing masing  dipimpin oleh seorang raja, yakni Banam, Onam, dan Oenam. Atau lebih tepatnya Amanuban, Amanatun, dan Mollo.
Khususnya di Mollo, ada lagi beberapa Vetor yang salah satunya Usif  Mella dengan Bijoba adalah daerah kekuasaannya. Di Bijoba ini pula, praktik Kanibalisme itu terjadi seperti kisah yang dituturkan oleh mendiang ayah saya.

Konon, pada zaman belum masuknya Agama Kristen di Timor, terjadi permusuhan antara wilayah kekuasaan para raja-raja tersebut di atas, yang entah sejak kapan timbulnya permusuhan ini.
Tak terkecuali Bijoba yang adalah wilayah kekuasaan Usif (Raja) Mella, pun turut terlibat dalam perang antar wilayah pada waktu itu. Alasannya cuma satu, yakni berperang mempertahankan sejengkal tanah pada wilayah kekuasaan mereka.
Setiap  Raja mempunyai seorang panglima perang yang disebut Meob atau Meo. 
Meob ini yang nantinya mendapat sambutan istimewa dari para penghuni kerajaan ketika pulang membawa "kepala" musuh, dan di sinilah praktik Kanibal itu terjadi.

Bobe Nakaf adalah suatu kawasan terpencil  di tepi sungai dan dikelilingi oleh bukit bukit batu yang letaknya tidak jauh dari Sonaf atau pusat kerajaan Bijoba. Di tempat inilah Meob beserta para pengikutnya merayakan kemenangan dan menikmati hasil perang berupa memakan habis daging pada kepala musuh yang berhasil dipenggal dan dibawa pulang.
Setiap kali jika Meob dan para pengikutnya memenangi peperangan dan pulang membawa kepala musuh, akan ditandai dengan suatu teriakan atau yel-yel yang pada waktu itu disebut "Hunu la'u" . Ketika mendengar Hunu La'u ini, para wanita akan bergegas menuju tempat pesta yaitu Bobe Nakaf,  lalu membunyikan  Gong dan tambur untuk menyambut kedatangan Meob dan para pengikutnya.

Pesta perayaan kemenangan dan prosesi  kanibalisme itu pun dimulai.
Gong dan tambur dimainkan (Leko Sene), dan Meob beserta para pengikutnya menari mengelilingi penggalan kepala manusia yang sementara dipanggang di atas 3 tungku , lalu sambil menari tarian Ma'ekat, sesekali dengan jari mereka menciduk sedikit demi sedikit daging dari kepala tersebut sampai habis tersisa tulang tengkorak.
Sebelum dipanggang, kepala manusia tersebut dicucuk dengan ranting salah satu jenis pohon yang menurut orang Bijoba nama pohon itu adalah Natbona. Saya sendiri tidak tahu nama latin atau nama indonesia dari pohon tersebut.  Salah satu ciri Pohon Natbona ini mempunyai buah sebesar biji Pala dan pada waktu matang berwarna kuning kemerahan. Setiap musim ketika buah dari pohon Natbona ini matang, virus Sakit Kepala akan melanda orang2 Bijoba, menandakan bahwa pohon yang digunakan rantingnya untuk mencucuk kepala musuh sebelum dipanggang itu sudah matang buahnya.
Begitulah tradisi pesta perayaan kemenangan perang dan tradisi kanibalisme di Timor, khusunya Bijoba yang adalah wilayah kekuasaan Usif Mella.

Perang antar suku dan tradisi perayaan kemenangan dan kanibalisme tersebut berakhir pada masa pemerintahan Kolonial Belanda mulai menginjakkan kaki di Timor dan sekaligus membawa Agama Kristen masuk Timor.
Perlu diketahui bahwa praktik kanibalisme pada masa itu tidak melibatkan semua orang termasuk wanita dan anak-anak. Karena yang berhak untuk menikmati hasil perang pada waktu itu adalah panglima Perang atau Meob dan para pengikutnya.
Pada masa sekarang, apabila ada perkawinan antar suku yang dahulunya terlibat Perang, akan ada satu rangkaian acara khusus yang disebut "Helak Abeba", yang artinya Perdamaian dengan masa lalu.  Karena jika tidak dilakukan Helak Abeba tersebut maka tentu akan ada korban, kalau bukan salah satu dari pasangan suami-istri itu meninggal, maka mereka akan mandul selamanya.


©2016 Elang Mutis





Post Top Ad

Your Ad Spot

Pages