Keputusan untuk menikah atau tetap hidup melajang, dalam hal ini pria dan wanita mempunyai alasan yang unik dan berbeda.
Ada sebagian kalangan yang harap harap cemas ingin cepat cepat menikah. Sementara yang lain justru cenderung menghindari pernikahan.
Harap harap cemas ingin segera menikah, maupun yang berusaha menghindari pernikahan, secara nyata mengindikasikan ketakutan yang nantinya justru mengaburkan makna sebenarnya dari pernikahan itu sendiri.
Untuk mengetahui lebih detail tentang fakta memprihatinkan di balik alasan takut untuk menikah dan menikah karena takut, berikut ini akan saya coba uraikan lebih mendalam terkait alasan alasan yang menjadi konteks ketakutan ketakutan tersebut.
Takut Menikah
Memang, menikah adalah pilihan. Namun jangan salah, bahwa pernikahan bukanlah pilihan hidup yang dijalani satu atau dua hari, melainkan seumur hidup.Oleh sebab itu, tidak mustahil jika sebagian kaum lajang terkesan ragu ragu untuk membuat komitmen.
Takut menikah dan keburu menikah karena takut, dikategorikan dalam dua jenis istilah berdasarkan tradisi pernikahan orang orang Yunani kuno.
Masyarakat Yunani pada ribuan tahun lalu, menciptakan sebuah ritual penyatuan tubuh dua insan manusia berlainan jenis kelamin yang disebut Hieros Gamos.
Dari kata Gamos ini lah yang kemudian timbul istilah Gamomania dan Gamophobia.
Gamomania berarti seseorang yang memiliki hasrat berlebihan untuk menikah. Sedangkan Gamophobia merujuk pada ketakutan berlebihan seseorang untuk menikah.
Istilah Gamophobia, atau takut menikah sering kali atau kebanyakan dialami oleh sebagian kaum pria.
Pada umumnya pria takut untuk menikah didasari oleh beragam alasan, semisal; tanggung jawab, masalah keuangan, dan kebebasan yang nantinya dibelenggu oleh komitmen.
Selain itu, sebagian kaum Gamophobia menghindari pernikahan disebabkan trauma, seperti melihat atau mengalami langsung akibat buruk dari suatu pernikahan, semisal perceraian, perselingkuhan, dan kekerasan dalam rumah tangga.
Dengan pengalaman pengalaman pribadi di atas, disinyalir menjadi alasan para kaum Gamophobia cenderung menganggap pernikahan sebagai ikatan yang negatif.
Mereka umumnya memiliki konsep berpikir yang irasional terhadap pernikahan, yang berujung pada ketakutan bahwa kelak menikah, hal hal buruk itu akan terjadi juga pada rumah tangga mereka.
Gejala gejala Gamophobia pada seseorang dapat dilihat dari kebiasaan orang tersebut yang selalu menghindari pembicaraan tentang pernikahan. Bahkan ada yang bisa bertindak ekstrem ketika menyinggung hal hal yang berhubungan dengan pernikahan.
Lazimnya, kaum Gamophobia ini sadar jika ketakutan ketakutan tersebut merupakan sesuatu yang tidak masuk akal, tetapi terasa sulit untuk mengendalikan diri dari rasa takut mereka.
Apabila kamu salah satu dari kaum Gamophobia ini, maka solusi yang tepat untuk mengatasinya adalah dengan berusaha mengalahkan ketakutan ketakutan itu, dengan berpikir se-rasional mungkin terhadap pernikahan.
Jangan sampai hal hal buruk yang belum tentu terjadi, mengintimidasi kamu untuk membuat komitmen.
Karena itu, meskipun kamu pernah mengalami langsung kejadian kejadian buruk serupa ini, setidaknya kamu bisa jadikan sebagai pelajaran, dan bukan sebaliknya dijadikan alasan untuk menghindari pernikahan.
Masalah akan selalu ada, baik saat masih sendiri, atau pun sudah berpasangan.
Menikah karena takut
Jika sebagian orang dengan berbagai alasan takut menikah (Gamophobia), sebagian lainnya justru sangat berhasrat untuk menikah (Gamomania).Sama halnya dengan kaum Gamophobia, orang orang Gamomania pun memiliki alasan tersendiri yang melatarbelakangi keinginan mereka untuk cepat cepat menikah.
Gejala Gamomania pada kebanyakan orang mungkin diartikan secara umum sebagai suatu reaksi yang wajar. Namun perlu diketahui bahwa alibi dibalik hasrat tersebut rata rata mengisyaratkan sinyal ketakutan yang teramat sangat!
Sangat berhasrat untuk cepat menikah sering kali dialami oleh sebagian besar wanita yang rata rata berusia 30 tahun ke atas.
Tatkala usia semakin bertambah tua, ketakutan mereka semakin terasa membelenggu hati jika pendamping hidup belum juga kunjung datang.
Faktanya bahwa pada umumnya wanita menganggap pernikahan sebagai suatu prestasi, kebanggaan, dan ada pula yang beranggapan bahwa menikah merupakan ujung dari kehidupan. Sehingga tidak mustahil jikalau kebanyakan wanita yang masih melajang di usia 30an mulai dibayangi rasa cemas dan ketakutan yang kompleks.
Pada kebanyakan wanita, ketakutan ketakutan itu dipicu oleh beberapa faktor, diantaranya:
- standar waktu menikah yang sudah kedaluwarsa,
- tuntutan orang tua,(ingin cepat cepat menimang cucu)
- tuntutan lingkungan (dinilai tidak laku),
- fisik atau penampilan yang mulai menua, dan
- dihantui masalah reproduksi ( hamil dan melahirkan di usia yang berisiko).
Faktor faktor ketakutan tersebut jelas sangat memprihatinkan. Sebab membuat mereka seakan akan sementara dikejar kejar sesuatu, sehingga pada akhirnya karena tergesa gesa, mereka "terpaksa" menikah tanpa pandang bulu.
Menerima siapa saja pria yang mau menikahinya tanpa pilih pilih, tanpa perlu memandang tipe, latar belakang, sifat, dan bahkan meski tanpa cinta sekalipun.
Padahal, seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, bahwa menikah bukanlah pilihan hidup satu dua hari, melainkan sepanjang hayat.
Pernikahan mempunyai konsekuensi dan tanggung jawab yang tidak semudah membalik telapak tangan. Menjalani kehidupan berumah tangga pun tidak se-nyaman kursi pelaminan.
Sebab itu, bila kamu menikah hanya karena termotivasi oleh ketakutan ketakutan atau alasan alasan yang tidak rasional, maka tentunya pernikahan itu tidak akan bahagia.
Jika pun nantinya bahagia, tentu membutuhkan proses yang panjang dan dalam waktu yang lama.
©2018 Elangmutis.com


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar di sini