![]() |
| Referensi pihak ketiga |
Realita kehidupan terkadang tanpa belas kasihan, membenturkan kita pada tepian jalanan yang dipenuhi cadas dan duri.
Melawan, hanya akan menambah semakin banyak luka dan rasa perih. Menyerah, bermakna membiarkan roda roda waktu melindas dengan kejam.
Tak menafikan fakta bahwa semua orang pernah menangis. Semua orang pasti pernah merasa kehilangan dan terluka.
Meskipun sebenarnya tidak setiap orang memberi kadar luka yang sama, akan tetapi luka tetaplah luka. Tentu sakit dan membuat kita terpuruk dalam waktu yang cukup lama, selama usaha kita untuk sembuh dari rasa sakit dan bangkit dari keterpurukkan itu.
Kita bisa saja percaya pada kata orang bijak, bahwa waktu akan menghapus luka.
Akan tetapi kata kata itu sebetulnya hanya sekadar pemanis bibir belaka. Sebab pada kenyataannya, menghilangkan rasa sakit dari kenangan pahit masa lalu bukanlah perkara mudah.
Tatkala jemari jemari ingatan kembali membuka lembaran kenangan pahit masa lalu, kita tidak semestinya berpura pura tersenyum dan menipu diri sendiri dengan mengatakan Everything it's Ok. Sementara jiwa di dalam sanubari masih merana menanggung rasa sakit, kepahitan, kebencian, dan dendam, seumpama menimbun duri dalam daging.
Masa lalu seperti sebuah buku yang tidak akan pernah waktu membuatnya usang. Setiap peristiwa hidup yang pernah kita lalui, tercatat di dalamnya.
Tak terkecuali kepahitan hidup dan luka hati.
Tak ada salahnya jika kita kembali membukanya. Tentu dengan maksud bukan untuk kembali meresapi rasa perih itu.
Namun untuk Belajar.
Sebab dari padanya kita menjadi bijak menentukan siapa yang pantas kepadanya kita percayakan hati sebagai tempat berlabuh yang tepat.
Kembali mengingat kepahitan masa lalu, bukan untuk membuat kita menjadi orang yang apatis dan merasa takut untuk menyentuh atau memulai sesuatu yang baru.
Tetapi untuk Bercermin.
Karena dari padanya kita bisa mengoreksi kesalahan kesalahan yang pernah kita buat. Memaafkan diri, dan berjanji untuk tidak mengulangi lagi kesalahan yang sama.
Kembali mengusap luka dan rasa sakit masa silam, bukan untuk mempersiapkan rencana pembalasan.
Tetapi untuk bersyukur dan berterima kasih.
Sebab dari sekian banyak sayatan luka itu, kita ditempah untuk menjadi pribadi yang bijak dan tangguh. Tidak mudah rapuh dalam menyikapi setiap problematika hidup, dan selalu bersikap positif.
Berterima kasih lah kepada setiap orang yang pernah menjadi pelukis selaksa sayatan luka itu, karena mereka turut berperan penting dalam proses pembelajaran hidup.
"Masa lalu masih merupakan bagian dari kehidupan kita, dan tak ada salahnya kita kembali mengusiknya. Lalu memintanya menuntun kita untuk berjalan ke depan".
©2018 Elangmutis.com


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar di sini