Breaking

Post Top Ad

Your Ad Spot

28 Februari 2018

Kepada Hati Yang Pernah Terlukis Selaksa Sayatan Luka

Referensi pihak ketiga
Realita kehidupan terkadang tanpa belas kasihan, membenturkan kita pada tepian jalanan yang dipenuhi cadas dan duri.
Melawan,  hanya akan menambah  semakin banyak luka dan rasa perih.  Menyerah, bermakna membiarkan  roda roda waktu   melindas  dengan kejam.

Tak menafikan fakta  bahwa semua orang pernah menangis.  Semua orang pasti pernah merasa kehilangan dan  terluka.
Meskipun sebenarnya  tidak setiap orang memberi kadar luka yang sama, akan tetapi luka tetaplah luka. Tentu sakit dan  membuat kita terpuruk dalam waktu yang cukup lama, selama usaha kita untuk sembuh dari rasa sakit dan bangkit dari keterpurukkan itu.

Kita bisa saja percaya pada kata orang bijak, bahwa waktu akan menghapus  luka.  
Akan tetapi kata kata itu sebetulnya  hanya sekadar pemanis bibir belaka.   Sebab pada  kenyataannya, menghilangkan rasa sakit dari kenangan pahit masa lalu bukanlah perkara mudah.
 
Bias  masa silam itu acap kali menerobos  dinding waktu seperti siluman.  Membentang di hadapan kita, dan  perih itu kembali terasa tak bedanya dengan rasa sakit  yang semula kita alami.

Tatkala jemari jemari ingatan kembali  membuka lembaran kenangan pahit masa lalu, kita tidak  semestinya  berpura pura tersenyum dan menipu diri sendiri dengan mengatakan Everything it's Ok. Sementara jiwa di dalam  sanubari masih merana menanggung rasa sakit, kepahitan, kebencian, dan dendam,  seumpama menimbun duri  dalam daging.


Masa lalu seperti  sebuah buku yang tidak akan pernah waktu membuatnya usang.  Setiap  peristiwa hidup yang pernah kita lalui, tercatat di dalamnya.
Tak terkecuali kepahitan hidup dan luka hati.   

Tak ada salahnya jika kita  kembali membukanya. Tentu dengan maksud bukan untuk kembali meresapi  rasa perih itu.
Namun untuk Belajar. 
Sebab dari padanya kita menjadi bijak menentukan siapa yang pantas kepadanya kita percayakan hati sebagai tempat berlabuh yang tepat.

Kembali mengingat kepahitan  masa lalu, bukan untuk  membuat kita menjadi orang yang apatis dan   merasa takut untuk  menyentuh atau memulai  sesuatu yang baru.
Tetapi untuk Bercermin.
Karena dari padanya kita bisa mengoreksi kesalahan kesalahan yang pernah kita buat. Memaafkan diri, dan berjanji  untuk tidak mengulangi  lagi kesalahan yang sama.

Kembali mengusap luka dan  rasa sakit masa silam, bukan untuk mempersiapkan rencana pembalasan.
Tetapi untuk bersyukur dan berterima kasih.
Sebab  dari sekian banyak sayatan luka itu,  kita ditempah untuk menjadi pribadi yang bijak dan tangguh.  Tidak mudah rapuh dalam menyikapi setiap problematika hidup, dan selalu bersikap positif.

Berterima kasih lah kepada setiap orang yang pernah menjadi pelukis selaksa sayatan luka itu,  karena mereka turut  berperan penting dalam proses pembelajaran hidup.


"Masa lalu masih merupakan bagian dari kehidupan kita, dan tak ada salahnya kita kembali mengusiknya. Lalu memintanya menuntun kita untuk berjalan ke depan".


©2018 Elangmutis.com


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar di sini

Post Top Ad

Your Ad Spot

Pages