| Elang Mutis |
Berbicara tentang cinta, memang tidak akan pernah ada habis habisnya. Soal perihal yang satu ini, tentu setiap orang mempunyai pemahaman, selera, dan gaya atau cara mencintai yang unik dan berbeda. Dari faktor faktor inilah sering kita lihat, atau bahkan mengalami sendiri suatu jalinan cinta yang kandas di tengah jalan, dikarenakan adanya ketidakcocokkan satu sama lain.
Faktanya adalah bahwa terkadang banyak orang yang cenderung mencintai dengan pemahaman-nya sendiri, selera nya sendiri, dan gaya dia sendiri, tanpa mencoba menyesuaikan dengan pasangannya yang memiliki hal hal serupa yang mungkin saja berbeda dengannya.
Meskipun di antara kita percaya bahwa pengertian dan perhatian merupakan kunci suatu hubungan cinta yang awet.
Namun sungguh ironi bagi beberapa hubungan yang akhirnya harus terputus, padahal sudah begitu sering saling memperhatikan dan memberi pengertian.
Kita mungkin saja bertanya tanya, dan bahkan saling mempersalahkan satu sama lain ketika pengertian dan perhatian itu semakin terasa hambar dan tidak mampu lagi memberi dampak apa apa dalam relasi tersebut seiring waktu berjalan.
Titik permasalahannya terletak pada estimasi setiap orang mengenai perhatian dan pengertian terhadap orang lain, atau dalam hal ini pasangan kekasihnya.
Sebab, seringkali seseorang memberi perhatian dan pengertian hanya sekadar untuk memenuhi kewajibannya, dan atau pun maksud maksud lain yang sama sekali tidak mendasar. Yang nantinya, lama kelamaan "kegiatan wajib" itu berangsur angsur pupus.
Jadi, setiap orang tentunya punya impian untuk bisa memiliki hubungan yang dapat bertahan hingga maut memisahkan. Namun, hal ini membutuhkan sepasang kekasih yang memiliki refleksi naluri timbal balik yang lebih dari sekadar pengertian dan perhatian.
Refleksi naluri timbal balik, atau Resonansi perasaan antara seorang dengan orang lain tersebut merupakan suatu fenomena yang disebut Empati.
Dengan empati, perasaan atau hati seseorang akan turut bergetar, turut memahami, sekaligus merasakan apa yang dirasakan orang lain.
Inilah makna sebenarnya empati, bentuk cinta dewasa yang sempurna. Sebab seberapa seringnya seseorang memberi perhatian dan pengertian, yang mungkin hanya sebatas tanya kabar, sudah makan atau belum, mengingatkan agar jangan telat tidur, hati hati kerja, dan sebagainya, tak akan sama nilainya dibanding makna empati dalam suatu ikatan rasa.
Sebab, seringkali seseorang memberi perhatian dan pengertian hanya sekadar untuk memenuhi kewajibannya, dan atau pun maksud maksud lain yang sama sekali tidak mendasar. Yang nantinya, lama kelamaan "kegiatan wajib" itu berangsur angsur pupus.
Jadi, setiap orang tentunya punya impian untuk bisa memiliki hubungan yang dapat bertahan hingga maut memisahkan. Namun, hal ini membutuhkan sepasang kekasih yang memiliki refleksi naluri timbal balik yang lebih dari sekadar pengertian dan perhatian.
Refleksi naluri timbal balik, atau Resonansi perasaan antara seorang dengan orang lain tersebut merupakan suatu fenomena yang disebut Empati.
Dengan empati, perasaan atau hati seseorang akan turut bergetar, turut memahami, sekaligus merasakan apa yang dirasakan orang lain.
Dalam pengertiannya, empati merupakan salah satu unsur cinta dewasa yang jauh lebih baik daripada hanya sekadar mencintai, memberi perhatian, dan pengertian.
Empati berarti menempatkan diri di posisi orang yang kita cintai dan memahami serta ikut merasakan apa yang ia rasakan .
Intinya adalah ketika kekasih kita haus dan lapar, kita yang gugup setengah mati mencarikan air dan makanan.
Tatkala dia terluka, perasaan kita yang mencucurkan darah.
Inilah makna sebenarnya empati, bentuk cinta dewasa yang sempurna. Sebab seberapa seringnya seseorang memberi perhatian dan pengertian, yang mungkin hanya sebatas tanya kabar, sudah makan atau belum, mengingatkan agar jangan telat tidur, hati hati kerja, dan sebagainya, tak akan sama nilainya dibanding makna empati dalam suatu ikatan rasa.
©2018 Elang Mutis

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar di sini