![]() |
| Ilustrasi Suanggi |
Dalam pengertian umumnya, ilmu hitam selalu identik dengan hal hal mistik, yang lazimnya digunakan untuk tujuan tujuan jahat tertentu. Semisalnya, untuk menyerang orang lain dengan bantuan kekuatan gaib, membuat orang lain jatuh cinta, merusak rumah tangga orang lain, membuat orang lain menderita, jatuh sakit, dan bahkan kematian.
Meskipun agama atau kepercayaan kepada Tuhan sudah begitu mengakar dalam kehidupan hampir sebagian besar manusia di bumi, namun fakta tentang keberadaan kekuatan gaib tidak dapat disangkal begitu saja.
Banyak peristiwa di sekeliling kita yang kadang diklaim sebagai korban ilmu hitam, seperti seseorang yang tiba tiba sakit tanpa sebab yang pasti, kematian tidak wajar, dan kejadian kejadian misterius lain, menjadi bukti jika keberadaan ilmu hitam tersebut memang masih eksis.
Berbicara tentang hal gaib atau intinya penggunaan ilmu hitam, pada setiap komunitas masyarakat, suku, dan budaya tertentu memiliki cerita, modus operandi, karakteristik, dan sebutan yang berbeda beda.
Khususnya di kawasan Timur Indonesia, ilmu hitam lebih fenomenal dengan sebutan Suanggi.
Meskipun masih menganut istilah yang sama, namun suanggi pada setiap daerah dalam kawasan
Timur Indonesia, mempunyai cerita, kepercayaan, wujud, dan praktik yang tidak serupa.
Jika di Papua, suanggi begitu identik dengan hantu atau roh, atau makhluk halus, dan Maluku dengan legenda suanggi-nya berupa wanita tua yang sering berubah rupa dan bisa terbang, lain ceritanya dengan suanggi di kawasan Timor.
Di kawasan Timor, suanggi tidak memiliki identitas khusus. Sebab suanggi di kawasan ini bukan roh atau makhluk halus, atau seseorang yang bisa berubah wujud.
Sebutan suanggi di Timor identik dengan seseorang yang memiliki "senjata" mistik yang sering dikenal dengan sebutan " Le'u-Le'u ", yaitu berupa ramuan ramuan spesial yang dipercaya bisa melumpuhkan targetnya dari jauh.
Dalam praktiknya, suanggi di Timor, atau pengguna Le'u-Le'u ini sering menggunakan akar, batang, kulit pohon, dan dedaunan pohon tertentu sebagai ramuan, plus suatu ritual khusus dalam modus operandinya.
Pada masyarakat suku Dawan dan sekitarnya, penggunaan Le'u-Le'u masih begitu kental dengan gaya hidup orang orangnya hingga saat ini. Faktanya, dalam beberapa daerah masih terus menjaga dan melestarikan Ume Le'u atau rumah adat sebagai tempat penyimpanan barang barang mistik dan ramuan ramuan tertentu yang masih dianggap sakral.
Semenjak berabad abad lalu, para leluhur suku Dawan sudah mengenal kegunaan akar, batang, daun, dan buah atau biji bijian dari beberapa tumbuhan, yang diyakini memiliki khasiat untuk menyembuhkan penyakit, maupun digunakan sebagai penangkal serangan musuh atau kebal peluru dan benda benda tajam lainnya, serta sebagai penambah kekuatan dalam perang.
Dalam penggunaan-nya, Le'u-Le'u tersebut memiliki multi fungsi, semisalnya bisa dijadikan penawar atau obat obatan untuk sakit penyakit, bisa untuk menjaga diri dari serangan suanggi, dan bisa juga untuk tujuan tujuan jahat atau yang lazim disebut suanggi. Dan tentunya pada setiap fungsinya memakai bahan dasar dan ramuan yang berbeda beda.
Konon dalam implementasi-nya, Le'u-Le'u tersebut tidak langsung digunakan begitu saja, tetapi melalui suatu ritual, (terkecuali jika ramuan tersebut ditujukan untuk mengobati penyakit). Dengan adanya ritual ini, maka dipastikan jika kekuatan kekuatan mistik sudah turut ambil bagian dalam ramuan ramuan itu.
Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, biasanya dalam ritual tersebut ada satu syarat yang harus dipenuhi setiap calon suanggi. Persyaratan ini adalah harus bersedia mengorbankan salah satu anggota keluarga (anak, istri, atau salah satu orang tua dari calon pengguna Le'u-Le'u) sebagai tumbal.
Bukan tanpa alasan, sebab suanggi dalam mengoperasikan Le'u-Le'u-nya, terkadang timbul tanda tanda misterius yang terjadi di luar logika, yang biasanya dimulai dari keluarga dekat sang suanggi itu sendiri.
Masyarakat dalam kawasan Timor sudah sangat hafal dengan karakteristik suanggi. Apabila seseorang atau suatu rumah tangga mengalami fenomena fenomena misterius tertentu, sudah pastikan jika mereka sudah menjadi target suanggi.
Beberapa daerah sangat yakin dengan kehadiran burung hantu (salah satu jenis burung malam), sebagai salah satu indikator modus operandi suanggi. Sehingga suanggi selalu identik dengan istilah Alaut, Mat Molo, dan Keo.
Sebagai kepanjangan tangan suanggi, burung hantu tersebut akan rutin mendatangi suatu rumah yang menjadi target suanggi pada setiap magrib atau malam hari dalam beberapa kali.
Suanggi di Timor pada umumnya tidak sembarangan dalam mengoperasikan Le'u-Le'u-nya tanpa adanya alasan tertentu.
Lazimnya, mereka beraksi hanya hanya untuk hal hal seperti membalas sakit hati, iri hati, menjegal orang lain ketika memperebutkan kekuasaan atau harta warisan, dan untuk memenangkan suatu perkara.
Dalam beberapa kejadian, suanggi ini tidak melakukan aksinya untuk kepentingannya sendiri, sebab terkadang dalam kasus tertentu, mereka hanya bertindak sebagai eksekutor, membantu mengeksekusi target orang lain yang datang meminta bantuannya.
Oleh sebab itu, di Timor kamu tidak bisa berlaku sesuka hati, apa lagi di daerah daerah yang masih rawan adanya praktik serupa ini. Meskipun hanya segelintir orang yang masih menggunakan Le'u-Le'u, tetapi semua orang bisa saja dengan mudah datang dan meminta bantuan suanggi ketika tidak ada solusi lain untuk membalaskan rasa sakit hatinya.
Sebagai contoh, jangan coba coba mempermainkan gadis gadis di kawasan yang masih rawan praktik suanggi, jika tidak ingin menemui ajal lebih cepat dari takdir.
Bahkan yang lebih memprihatinkan adalah persaingan dalam tingkat kehidupan sosial, dalam hal ini iri hati.
Suanggi umumnya sangat membenci orang lain yang berlagak lebih hebat, lebih kaya, lebih mewah, dan kelebihan kelebihan lain, sekali pun orang lain tersebut tidak menunjukkan kesan sombong.
Begitulah sedikit perincian mengenai karakteristik modus operandi suanggi di Timor yang memang kedengaran agak menyeramkan.
Namun sebagai orang beriman, kita tak sepantasnya merasa takut terhadap pamor setan , salah satunya yakni suanggi yang merupakan manifestasi kuasa kegelapan dalam diri manusia.
Sebab, adakalanya tabiat tabiat manusia seperti penipu, pencuri, pembunuh, pendusta, dan perilaku perilaku biadab lainnya justru lebih bengis daripada suanggi.
©2018 Mutis.com


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar di sini