Lambaian tangan dari balik jendela bus seakan menyumbat rongga dada Anton, yang hanya mampu membalas dengan tatapan sayu tanpa kata.
Bunyi klakson bus yang mulai bergerak perlahan meninggalkan terminal, semakin menambah pilu dua insan yang sementara dirundung kesedihan.
Betapa tidak, beberapa menit yang lalu adalah saat di mana mereka berdua saling memandang untuk yang terakhir kali, dan entah sampai kapan lagi waktu akan mempertemukan mereka kembali.
Betapa tidak, beberapa menit yang lalu adalah saat di mana mereka berdua saling memandang untuk yang terakhir kali, dan entah sampai kapan lagi waktu akan mempertemukan mereka kembali.
Linda hanya berdiri terpaku menatap sendu ke arah bus yang sudah samar-samar menghilang tertutup debu jalanan. Dengan kedua telapak tangannya, Linda menutup wajahnya yang basah oleh air mata yang mengalir tiada henti sejak beberapa jam yang lalu.
Hiruk pikuk suasana terminal kala itu sama sekali tidak dapat mencegah-nya untuk menangis... Bahkan tawa ejekan pedagang asongan di sekeliling nya tidak mampu memengaruhi Linda untuk menyebut nama Anton berulang kali di sela-sela tangis-nya.
Linda merasa dunianya seakan sudah berakhir hari ini. Hatinya hampa....Dia tidak bisa membayangkan akan sanggup menjalani hari-hari ke depannya tanpa orang yang selama ini membuat hari-nya penuh warna...
Dia ingin terus berada di terminal bus ini... di tempat di mana dia melihat wajah Anton kekasihnya itu untuk yang terakhir, kalau saja ibu-nya tidak cepat datang merangkul dan membawanya pulang.
......................................................
......................................................
Bukit-bukit Marmer yang tegak kokoh..... di antara deretan gunung dan lembah hijau yang membentang luas bagai lukisan indah itu....mampu menghipnotis berpasang pasang mata tertegun menatap tanpa kedip keluar jendela bus. Tak terkecuali Anton...yang memang pandangannya tidak dialihkan dari jendela semenjak berada di atas bus itu. Namun... bukan keindahan di luar sana yang membuat Anton tidak henti henti menatap keluar jendela.
Pandangan Anton tersekat hanya beberapa senti dari matanya. Dia melihat serpihan-serpihan kenangan itu masih terus mengambang di kaca jendela bus. Dengan mata berkaca-kaca Anton terus menatap jendela bus itu, seakan-akan dia sementara menonton suatu drama paling menyedihkan yang pernah ada.
Tiba-tiba saja sesuatu ter-lintas di benak Anton dan membuat lamunan panjangnya terhenti. Bahwa dia dan Linda berpisah demi mewujudkan impian akan masa depan mereka berdua.
Anton perlahan-lahan berusaha menepis rasa sedih di hatinya....Dia merasa tidak seharusnya berlarut-larut dalam kesedihan.... di depan sana, ada berbagai macam kejutan yang mungkin jauh lebih hebat dari kesedihan sebuah perpisahan.
...........................................
Tiba-tiba saja sesuatu ter-lintas di benak Anton dan membuat lamunan panjangnya terhenti. Bahwa dia dan Linda berpisah demi mewujudkan impian akan masa depan mereka berdua.
Anton perlahan-lahan berusaha menepis rasa sedih di hatinya....Dia merasa tidak seharusnya berlarut-larut dalam kesedihan.... di depan sana, ada berbagai macam kejutan yang mungkin jauh lebih hebat dari kesedihan sebuah perpisahan.
...........................................
Liku-liku kehidupan kini mulai memperkenalkan sisi pahit nya kepada sepasang manusia yang baru saja mencoba melepaskan diri dari rangkulan keindahan masa remaja.
Cinta monyet menjadi anak tangga bagi mereka untuk melangkah menuju kedewasaan, yang sulit, keras, dan penuh tantangan.
Cinta monyet menjadi anak tangga bagi mereka untuk melangkah menuju kedewasaan, yang sulit, keras, dan penuh tantangan.
Ketika cinta itu membawa mereka ke puncak keindahan, kenyataan hidup justru menghadang dengan sebuah dilema yang menghadapkan keduanya pada beragam pilihan sulit.
Betapa tidak, latar belakang keluarga mereka sangat kontras dan bertolak belakang.
Linda berasal dari keluarga kaya raya dan ternama di kota itu, sedangkan Anton lahir dari keluarga yang hidup serba kekurangan dan tinggal tersisih di pinggiran kota. Selain itu, keluarga Linda memiliki tradisi yang tak jarang membuat para pria lajang berpikir dua kali untuk meminang gadis dalam keluarga besar nya.
Meskipun Linda mempunyai Belis yang begitu mahal, namun tidak membuat patah arang kedua pasangan remaja ini untuk berjuang bersama menggapai harapan dan cita cinta mereka.
Bahkan Linda yang hidup berkelimpahan memilih untuk tidak melanjutkan studi-nya ke perguruan tinggi, hanya semata-mata tidak ingin berpisah dengan Anton, yang memang keadaan ekonomi-nya tidak mendukung untuk melanjutkan sekolah.
Betapa tidak, latar belakang keluarga mereka sangat kontras dan bertolak belakang.
Linda berasal dari keluarga kaya raya dan ternama di kota itu, sedangkan Anton lahir dari keluarga yang hidup serba kekurangan dan tinggal tersisih di pinggiran kota. Selain itu, keluarga Linda memiliki tradisi yang tak jarang membuat para pria lajang berpikir dua kali untuk meminang gadis dalam keluarga besar nya.
Meskipun Linda mempunyai Belis yang begitu mahal, namun tidak membuat patah arang kedua pasangan remaja ini untuk berjuang bersama menggapai harapan dan cita cinta mereka.
Bahkan Linda yang hidup berkelimpahan memilih untuk tidak melanjutkan studi-nya ke perguruan tinggi, hanya semata-mata tidak ingin berpisah dengan Anton, yang memang keadaan ekonomi-nya tidak mendukung untuk melanjutkan sekolah.
Linda dan Anton sepakat dalam satu ikatan janji untuk mengakhiri perjalanan panjang kebersamaan mereka semenjak dari SD, SMP, hingga SMA, yang memang selama itu tak ada apa pun, atau siapa pun yang mampu mengusik kebersamaan mereka berdua. Kecuali... sebuah cita-cita Luhur yang tercetus semenjak 3 hari yang lalu.
Kedua insan ini dipaksa keadaan untuk keluar meninggalkan zona nyaman mereka, dan berjuang mempertahankan cinta yang kian melekat erat di dalam sanubari. Dengan berat hati, mereka harus menerima kenyataan akan perih-nya suatu perpisahan.
.................................................
.................................................
Tiga bulan berlalu...
Linda mulai perlahan-lahan bangkit dari kungkungan rasa sedih dan kehilangan, meski belum sepenuhnya terlepas dari bayang-bayang Anton kekasih-nya.
Album foto momen-momen kebersamaan mereka dulu menjadi teman tidur Linda satu-satunya setiap malam, yang kadang membuat-nya tersenyum sendiri.
Linda selalu ada alasan untuk menepis kesedihan-nya setiap kali rasa itu hinggap dan mengganggu hati-nya. Alasan satu-satunya yang menguatkan hati-nya adalah sumpah dan janji sehidup- semati dari mereka berdua sebelum berpisah.
Walau begitu sebagai manusia biasa, Linda terkadang oleng menghadapi situasi serta orang-orang di sekitarnya.
Apa lagi sejak perpisahan itu hingga kini sudah tiga bulan berlalu, belum juga ada kabar berita dari Anton, kekasih-nya.
HandPhone satu-satunya yang di harap-harap menjadi pembawa kabar berita pun nampaknya hanya diam membisu....
Teman-teman dekat-nya yang seharusnya menjadi tempat curhat, justru membawa Linda semakin ter-sudut dalam kebimbangan... Apa lagi orang tua-nya yang tidak mau ambil pusing dengan perasaan Linda, karena mereka masih kecewa dengan keputusan Linda yang tidak mau melanjutkan study ke perguruan tinggi.
Linda mulai perlahan-lahan bangkit dari kungkungan rasa sedih dan kehilangan, meski belum sepenuhnya terlepas dari bayang-bayang Anton kekasih-nya.
Album foto momen-momen kebersamaan mereka dulu menjadi teman tidur Linda satu-satunya setiap malam, yang kadang membuat-nya tersenyum sendiri.
Linda selalu ada alasan untuk menepis kesedihan-nya setiap kali rasa itu hinggap dan mengganggu hati-nya. Alasan satu-satunya yang menguatkan hati-nya adalah sumpah dan janji sehidup- semati dari mereka berdua sebelum berpisah.
Walau begitu sebagai manusia biasa, Linda terkadang oleng menghadapi situasi serta orang-orang di sekitarnya.
Apa lagi sejak perpisahan itu hingga kini sudah tiga bulan berlalu, belum juga ada kabar berita dari Anton, kekasih-nya.
HandPhone satu-satunya yang di harap-harap menjadi pembawa kabar berita pun nampaknya hanya diam membisu....
Teman-teman dekat-nya yang seharusnya menjadi tempat curhat, justru membawa Linda semakin ter-sudut dalam kebimbangan... Apa lagi orang tua-nya yang tidak mau ambil pusing dengan perasaan Linda, karena mereka masih kecewa dengan keputusan Linda yang tidak mau melanjutkan study ke perguruan tinggi.
Walau orang orang dekatnya terkesan menjauhinya, namun Linda masih bisa tetap tersenyum. Doa doa malam-nya, dan Prasasti kasih yang sudah terukir kokoh di dalam sanubarinya, menjadi tempat satu satunya Linda bersandar....Dia yakin bahwa di ujung sana masih ada Asa tersisa. Meski layar telah ter-kembang membelah samudra.
.....................................
.....................................
Anton berbaring telentang di atas kasur tipis di sebuah rumah papan yang sudah disediakan perusahaan tempat dia bekerja. Dengan mata menerawang menyusuri langit-langit kamar, nalurinya mulai memutar kembali adegan-adegan manis dulu, kala masih bersama Linda kekasihnya.
Kebiasaan melamunkan wajah kekasihnya itu menjadi obat dan hiburan tersendiri di kala rasa sunyi dan penat menggerogoti jiwa dan raga-nya.
Seminggu lagi gajian ke-4 bagi Anton, dan dia merasa berdebar-debar tidak sabar lagi ingin cepat cepat membeli Hp baru. Anton berharap bisa mendengar suara kekasihnya lagi setelah hampir 4 bulan dia memendam rindu.
Selama ini Anton bersusah payah selain beradaptasi dengan pekerjaan, dia juga sulit mengatur gaji yang pas pasan untuk membiayai makan minumnya, dan juga melunasi perjanjian dengan Agent yang membawanya masuk bekerja di Malaysia.
Kebiasaan melamunkan wajah kekasihnya itu menjadi obat dan hiburan tersendiri di kala rasa sunyi dan penat menggerogoti jiwa dan raga-nya.
Seminggu lagi gajian ke-4 bagi Anton, dan dia merasa berdebar-debar tidak sabar lagi ingin cepat cepat membeli Hp baru. Anton berharap bisa mendengar suara kekasihnya lagi setelah hampir 4 bulan dia memendam rindu.
Selama ini Anton bersusah payah selain beradaptasi dengan pekerjaan, dia juga sulit mengatur gaji yang pas pasan untuk membiayai makan minumnya, dan juga melunasi perjanjian dengan Agent yang membawanya masuk bekerja di Malaysia.
Waktu yang dinantikan akhirnya pun tiba....
Seperti biasa, setelah gajian mereka diberi cuti sehari atau 2 hari oleh majikan untuk bepergian ke kota.
Anton tersenyum girang setelah membawa pulang sebuah Hp baru dari kota.
Sesampainya di rumah, Anton tidak peduli lagi dengan perutnya yang lapar karena perjalanan pulang dari kota yang jaraknya lumayan jauh dari tempat dia bekerja.
Secarik kertas berisi sebaris angka dikeluarkan dari dalam dompetnya, dengan tangan sedikit berkeringat, Anton memasukkan angka angka itu ke dalam telepon barunya dan tanpa ragu-ragu dia menekan tombol memanggil........
...................................................
Seperti biasa, setelah gajian mereka diberi cuti sehari atau 2 hari oleh majikan untuk bepergian ke kota.
Anton tersenyum girang setelah membawa pulang sebuah Hp baru dari kota.
Sesampainya di rumah, Anton tidak peduli lagi dengan perutnya yang lapar karena perjalanan pulang dari kota yang jaraknya lumayan jauh dari tempat dia bekerja.
Secarik kertas berisi sebaris angka dikeluarkan dari dalam dompetnya, dengan tangan sedikit berkeringat, Anton memasukkan angka angka itu ke dalam telepon barunya dan tanpa ragu-ragu dia menekan tombol memanggil........
...................................................
Linda yang baru saja tertidur dikejutkan oleh bunyi deringan Hp di samping kepalanya. Sejenak dia melihat nomor tanpa nama itu dengan kode negara yang berbeda dari biasanya, sehingga membuat Linda ragu-ragu untuk menerima panggilan itu. Linda khawatir sebab akhir-akhir ini ada saja nomor-nomor tanpa nama semacam ini yang mengganggunya setiap malam. Seperti biasa, dia membiarkan saja Hp itu berdering hingga berhenti sendiri. Dia tau kalau biasanya nomor-nomor nyasar itu paling 1 atau 2 kali miss call lalu menghilang.
Namun lain dengan penelpon tanpa nama yang satu ini. Dia bahkan menelepon berulang kali sampai bunyi deringan yang ke-5, Linda terpaksa memberanikan diri untuk menekan tombol terima...
Namun lain dengan penelpon tanpa nama yang satu ini. Dia bahkan menelepon berulang kali sampai bunyi deringan yang ke-5, Linda terpaksa memberanikan diri untuk menekan tombol terima...
"Halo..." Sapa Linda dengan suara sedikit gugup...
"Hai sayang...ini saya, Anton.." Terdengar suara dari seberang telepon.
"Sayaaaang......" Dengan sedikit berteriak, Linda meloncat dari ranjang..
"Sayang saya kangen......" Kata Linda sambil berurai air mata haru bahagia.
"Saya juga kangen sayang....apa kabarmu di sana?" Tanya Anton.
"Baik....apa kamu juga baik-baik sayang?" Linda balik bertanya.
"Syukurlah....saya pun baik-baik sayang.." Jawab Anton.
"Cerita dong sayang dengan kerjaan kamu di sana.." Bujuk Linda dengan sedikit manja.
"Iya tapi belum mengantuk kan sayang?" Tanya Anton sambil tertawa kecil..
"Sampai pagi juga boleh kok..." Jawab Linda serius.
"Hai sayang...ini saya, Anton.." Terdengar suara dari seberang telepon.
"Sayaaaang......" Dengan sedikit berteriak, Linda meloncat dari ranjang..
"Sayang saya kangen......" Kata Linda sambil berurai air mata haru bahagia.
"Saya juga kangen sayang....apa kabarmu di sana?" Tanya Anton.
"Baik....apa kamu juga baik-baik sayang?" Linda balik bertanya.
"Syukurlah....saya pun baik-baik sayang.." Jawab Anton.
"Cerita dong sayang dengan kerjaan kamu di sana.." Bujuk Linda dengan sedikit manja.
"Iya tapi belum mengantuk kan sayang?" Tanya Anton sambil tertawa kecil..
"Sampai pagi juga boleh kok..." Jawab Linda serius.
Dua sejoli ini hampir menghabiskan malam itu dengan bertukar cerita. Kadang sedih, kadang mereka berdua tertawa bersama, serasa tidak ada penghalang di antara mereka seperti dulu saat masih bersama.
Sejak saat itu, kasih sayang itu kembali hangat dengan komunikasi yang rutin antara keduanya, membuat Anton dan Linda merasa seakan tak ada lagi jarak yang memisahkan mereka.
..................................................
..................................................
Dua Tahun berlalu....
Anton tinggal menghitung hari untuk pulang kampung, dan menepati janjinya kepada Linda kekasihnya.
Selama 2 tahun lebih, Anton hampir tidak memiliki kesempatan untuk enjoy seperti kebanyakan teman-teman dia yang lain. Semua waktunya nyaris dihabiskan dengan bekerja dan bekerja...
Perjuangan dan kerja kerasnya tidak sia-sia...Kini hasil dari jerih payahnya itu sudah bisa membawa angan dan impiannya menuju kenyataan. Bahwa sebentar lagi dia akan meminang kekasih satu-satunya yang dia miliki seumur hidupnya.
Namun...Kenyataan berkata lain....
Anton tinggal menghitung hari untuk pulang kampung, dan menepati janjinya kepada Linda kekasihnya.
Selama 2 tahun lebih, Anton hampir tidak memiliki kesempatan untuk enjoy seperti kebanyakan teman-teman dia yang lain. Semua waktunya nyaris dihabiskan dengan bekerja dan bekerja...
Perjuangan dan kerja kerasnya tidak sia-sia...Kini hasil dari jerih payahnya itu sudah bisa membawa angan dan impiannya menuju kenyataan. Bahwa sebentar lagi dia akan meminang kekasih satu-satunya yang dia miliki seumur hidupnya.
Namun...Kenyataan berkata lain....
Hari itu...
Seperti biasa, suasana rumah tempat tinggal Anton dan pekerja yang lain pasti sunyi pada waktu siang karena ditinggal kerja oleh mereka, dan akan ramai kembali pada waktu sore harinya. Selain itu, mereka tidak diperbolehkan untuk pulang kerja sebelum pukul 3 sore. Jika ada yang melanggar aturan itu, akan diberi peringatan, dan atau bisa di halau pergi dari perusahaan itu.
Seperti biasa, suasana rumah tempat tinggal Anton dan pekerja yang lain pasti sunyi pada waktu siang karena ditinggal kerja oleh mereka, dan akan ramai kembali pada waktu sore harinya. Selain itu, mereka tidak diperbolehkan untuk pulang kerja sebelum pukul 3 sore. Jika ada yang melanggar aturan itu, akan diberi peringatan, dan atau bisa di halau pergi dari perusahaan itu.
Entah karena telat bangun, tetangga bilik sebelah Anton terburu-buru pergi kerja meninggalkan dapur gas elpiji-nya yang masih dalam keadaan menyala. Api itu kemudian merambat hingga meletupkan tong gas elpiji dalam dapur yang sudah tanpa penghuni tersebut, dan rumah kayu itu pun lenyap tak tersisa di-lalap api hanya dalam hitungan menit.
Anton yang sementara bekerja di datangi mandor dengan tergesa-gesa dengan wajah yang gelisah. Melihat tingkah mandor yang tidak lazim itu membuat Anton merasa heran dan bertanya dalam hati, apa yang terjadi...
"A..Anton...Manajer suruh pulang sekarang .." kata mandor terbata-bata.
"satu jam lagi bolehkah bos? biar saya keluarkan buah yang masih tertinggal di dalam lorong ini.." Balas Anton membujuk..
"Tak bolehlah Anton......ini penting....ayo berangkat sekarang.!" Kata mandor itu dengan suara sedikit meninggi.
"Oke lah" Jawab Anton singkat.
"A..Anton...Manajer suruh pulang sekarang .." kata mandor terbata-bata.
"satu jam lagi bolehkah bos? biar saya keluarkan buah yang masih tertinggal di dalam lorong ini.." Balas Anton membujuk..
"Tak bolehlah Anton......ini penting....ayo berangkat sekarang.!" Kata mandor itu dengan suara sedikit meninggi.
"Oke lah" Jawab Anton singkat.
Dengan hati yang masih diliputi rasa heran dan beragam dugaan, Anton terpaksa menuruti permintaan mandor-nya lalu naik ke boncengan motor mandor dan pulang ke rumah.
Anton mulai curiga ketika kurang lebih 1 km mendekati rumah. Dia melihat asap hitam membumbung tinggi tepat di sekitar rumah tinggal mereka. Anton merasa ingin cepat-cepat sampai rumah dan meyakinkan hatinya yang takut dan gelisah itu bahwa semuanya baik-baik saja.
Anton mulai curiga ketika kurang lebih 1 km mendekati rumah. Dia melihat asap hitam membumbung tinggi tepat di sekitar rumah tinggal mereka. Anton merasa ingin cepat-cepat sampai rumah dan meyakinkan hatinya yang takut dan gelisah itu bahwa semuanya baik-baik saja.
Tapi sungguh malang....
Anton hampir saja terjun dari atas motor andai mandor tidak cepat menghentikan laju motornya, setelah melihat yang sebenarnya terjadi dengan rumah tempat tinggal mereka.
Dia merasa lemas....tubuhnya seakan tak bertulang....
Anton hampir saja terjun dari atas motor andai mandor tidak cepat menghentikan laju motornya, setelah melihat yang sebenarnya terjadi dengan rumah tempat tinggal mereka.
Dia merasa lemas....tubuhnya seakan tak bertulang....
Anton dan teman-temannya yang lain hanya menangis sambil menatap puing-puing rumah mereka dari tepi jalan....
Hasil jerih payah mereka selama bertahun-tahun, hilang lenyap hanya dalam hitungan detik....
Barang-barang mereka, terlebih lagi uang yang setiap bulan mereka sisihkan dari usaha mengorbankan kesenangan diri mereka demi masa depan itu, kini tersisa debu.
Hasil jerih payah mereka selama bertahun-tahun, hilang lenyap hanya dalam hitungan detik....
Barang-barang mereka, terlebih lagi uang yang setiap bulan mereka sisihkan dari usaha mengorbankan kesenangan diri mereka demi masa depan itu, kini tersisa debu.
Terlebih Anton yang tinggal seminggu lagi pulang kampung dan menepati janji sucinya kepada Linda kekasih hatinya.
Anton merasa bahwa harapan itu sudah terbakar dan kini hanya tersisa debu dan puing-puing. Dia tidak bisa berbuat apa-apa sekarang selain menyerah pada takdir. Dia menghabiskan malam itu hanya dengan menangis dan meratapi nasibnya.
Kejadian hari ini, memusnahkan angan dan harapan Anton akan cinta suci-nya untuk Linda yang tinggal se-langkah lagi ter-gapai.
...........................................
Anton merasa bahwa harapan itu sudah terbakar dan kini hanya tersisa debu dan puing-puing. Dia tidak bisa berbuat apa-apa sekarang selain menyerah pada takdir. Dia menghabiskan malam itu hanya dengan menangis dan meratapi nasibnya.
Kejadian hari ini, memusnahkan angan dan harapan Anton akan cinta suci-nya untuk Linda yang tinggal se-langkah lagi ter-gapai.
...........................................
Malam ini, malam minggu ke-2 Anton hilang kabar berita, otomatis membuat Linda mulai merasa sedih bercampur khawatir.
Dalam hatinya tidak henti-henti mengucap doa.... "Oh Tuhan semoga dia baik-baik saja di sana...". Dalam keadaan hati-nya yang tidak menentu itu, Linda mencoba membuka kembali sms beberapa hari yang lalu. Pikirnya, jangan sampai ada pesan yang baru masuk tapi belum sempat dia baca. Namun yang nampak di layar hanya sms-sms dia sendiri yang belum ada tanda ter-kirim.
Sementara hati-nya dirundung galau, tiba-tiba pintu kamar-nya diketuk dari luar....
Dalam hatinya tidak henti-henti mengucap doa.... "Oh Tuhan semoga dia baik-baik saja di sana...". Dalam keadaan hati-nya yang tidak menentu itu, Linda mencoba membuka kembali sms beberapa hari yang lalu. Pikirnya, jangan sampai ada pesan yang baru masuk tapi belum sempat dia baca. Namun yang nampak di layar hanya sms-sms dia sendiri yang belum ada tanda ter-kirim.
Sementara hati-nya dirundung galau, tiba-tiba pintu kamar-nya diketuk dari luar....
"Non....Nona Linda...." Panggil tante Gita dari balik pintu, pembantu rumah keluarga Linda.
"Saya masih kenyang tante....tar saja saya makan..." Jawab Linda asal duga.
"Bukan Non.... maksud tante, Nona Linda dipanggil bapak di ruang tamu.." Kata tante Gita menjelaskan.
"Iya tante....nanti saya ke sana..." Jawab Linda singkat.
"Sekarang Non..." Kata tante Gita setengah membujuk.
"Iya...iya..." Jawab Linda terpaksa.
"Saya masih kenyang tante....tar saja saya makan..." Jawab Linda asal duga.
"Bukan Non.... maksud tante, Nona Linda dipanggil bapak di ruang tamu.." Kata tante Gita menjelaskan.
"Iya tante....nanti saya ke sana..." Jawab Linda singkat.
"Sekarang Non..." Kata tante Gita setengah membujuk.
"Iya...iya..." Jawab Linda terpaksa.
Suasana hati Linda tidak menentu untuk saat ini, hingga membuatnya ingin terus mengurung diri saja di kamar. Namun di sisi lain, Linda adalah cewek yang patuh pada orang tua, apa lagi ayah-nya yang terkenal tegas.
Dengan bermalas-malasan Linda pun keluar dari kamar-nya menuju ruang tamu memenuhi panggilan ayah-nya seperti yang disampaikan tante Gita tadi.
Dengan bermalas-malasan Linda pun keluar dari kamar-nya menuju ruang tamu memenuhi panggilan ayah-nya seperti yang disampaikan tante Gita tadi.
Linda kaget dan salah tingkah ketika melihat yang duduk di sofa ruang tamu mereka itu adalah Om Gunawan dan tante Elis beserta Randy anak lelaki sulung tante-nya dari Jakarta. Dengan rambut yang tak teratur dan pakaian rumah yang serba pendek, tak ayal Linda merasa sangat malu dengan penampilan dia saat itu.
Tanpa berjabatan tangan, Linda hanya memberi salam dan meminta maaf kepada tetamu tersebut lalu segera keluar dari ruang tamu untuk mandi dan mengganti pakaiannya.
Tanpa berjabatan tangan, Linda hanya memberi salam dan meminta maaf kepada tetamu tersebut lalu segera keluar dari ruang tamu untuk mandi dan mengganti pakaiannya.
Banyak pertanyaan berputar-putar di kepala otak Linda. Apa maksud kedatangan satu keluarga itu, yang memang setahu Linda tidak pernah mendapatkan kunjungan dari Tante-nya selama ini. Pasti ada maksud tertentu dan itu mungkin sangat penting. Linda mulai menduga-duga, mungkin hanya untuk sekadar silaturrahmi , pikirnya.
Di dalam ruangan tamu itu ada banyak hal yang mereka bicarakan, mulai dari bisnis, keluarga, dan kadang dibarengi dengan canda tawa, menjadikan suasana nampak cair saja.
Sampai pada Tante-nya mengutarakan maksud kedatangan mereka, yang membuat Linda merasa jantungnya tiba-tiba berhenti berdetak.
Ternyata dugaan Linda keliru....
Sampai pada Tante-nya mengutarakan maksud kedatangan mereka, yang membuat Linda merasa jantungnya tiba-tiba berhenti berdetak.
Ternyata dugaan Linda keliru....
"omong-omong, bagaimana kalau kita langsung saja ke tujuan intinya kakak.? Tanya tante Elis kepada ayah Linda.
"Oke, silakan.." Jawab ayah Linda singkat
"Maksud kedatangan kami ini untuk memastikan kesepakatan pembicaraan kita melalui telepon 2 minggu lalu itu kakak...bahwa kami sekeluarga, termasuk Randy sudah satu suara dalam rencana yang sudah kita sepakati itu...dan kalau bisa waktunya dipercepat karena kakak juga mengerti kita sesama pebisnis, apa lagi kami di Jakarta." kata Tante Elis membuka pembicaraan.
"Apa kakak sudah memberi tahu Linda tentang rencana mulia kita ini.?" Sambung tante Elis.
"Oke, silakan.." Jawab ayah Linda singkat
"Maksud kedatangan kami ini untuk memastikan kesepakatan pembicaraan kita melalui telepon 2 minggu lalu itu kakak...bahwa kami sekeluarga, termasuk Randy sudah satu suara dalam rencana yang sudah kita sepakati itu...dan kalau bisa waktunya dipercepat karena kakak juga mengerti kita sesama pebisnis, apa lagi kami di Jakarta." kata Tante Elis membuka pembicaraan.
"Apa kakak sudah memberi tahu Linda tentang rencana mulia kita ini.?" Sambung tante Elis.
Sejenak suasana dalam ruangan itu berganti senyap dan penuh ketegangan. Tatapan mata ayah dan ibu tertuju kepada Linda yang hanya diam dalam kebingungan.
Dan selang beberapa saat, suara ayah Linda memecah keheningan di dalam ruang tamu itu......
Dan selang beberapa saat, suara ayah Linda memecah keheningan di dalam ruang tamu itu......
"Begini Lin...kamu sudah dewasa, dan sekarang usia kamu sudah ideal untuk berkeluarga, maka itu akhir-akhir ini saya dan ibu kamu merasa prihatin jika nanti kamu akan sulit menemukan pasangan hidup kalau kamu setiap hari hanya mengurung diri di kamar. Oleh sebab itu kami sepakat untuk menghubungi tante Elis, dan ternyata sesuai dengan yang kami harapkan, si Randy ini juga masih jomblo, kata tante. "
Sambil tertawa perlahan, ayah Linda melanjutkan omongan-nya.....
" Intinya, kedatangan tante Elis ke sini itu karena atas kesepakatan kami ber-4 dua minggu lalu, dengan maksud untuk menjodohkan kamu dan Randy.....Ayah dan ibu sengaja tidak memberi tahu kamu, biar jadi kejutan buat kamu.....
Bagaimana Linda....sudah siap untuk menikah dengan Randy.? Kata ayah dengan tersenyum, dan sorot mata-nya tajam ke arah Linda menunggu kepastian.
Linda hanya ter-tunduk diam...dia menyadari, semua mata di dalam ruangan itu tertuju ke arah-nya menunggu jawaban....tetapi lidahnya terasa kelu untuk berkata-kata....
Selang beberapa saat Linda pun memberanikan diri dan membuka suara....
Sambil tertawa perlahan, ayah Linda melanjutkan omongan-nya.....
" Intinya, kedatangan tante Elis ke sini itu karena atas kesepakatan kami ber-4 dua minggu lalu, dengan maksud untuk menjodohkan kamu dan Randy.....Ayah dan ibu sengaja tidak memberi tahu kamu, biar jadi kejutan buat kamu.....
Bagaimana Linda....sudah siap untuk menikah dengan Randy.? Kata ayah dengan tersenyum, dan sorot mata-nya tajam ke arah Linda menunggu kepastian.
Linda hanya ter-tunduk diam...dia menyadari, semua mata di dalam ruangan itu tertuju ke arah-nya menunggu jawaban....tetapi lidahnya terasa kelu untuk berkata-kata....
Selang beberapa saat Linda pun memberanikan diri dan membuka suara....
"Kasih Linda sedikit waktu untuk berpikir Pa...." Kata Linda memelas
Ayah Linda hendak menjawab permintaan Linda, tapi tante Elis lebih dulu menyambar.....
"Mau mikir apa lagi Lin....Randy ini sudah sukses dan mapan dalam segala hal....sekarang aja dia memimpin 3 anak perusahaan papa-nya...udah gitu, punya rumah sendiri lagi di Real estate... mobil mewah 4 buah....pokoknya kamu gak bakalan susah deh...iya kan Ran,?" Kata tante Elis dengan mata berbinar-binar sambil melirik ke arah Randy anak-nya......Lelaki muda berkaca mata minus itu terlihat tersenyum sambil menganggukkan kepalanya tanda mendukung kata-kata ibu-nya.
"Mau mikir apa lagi Lin....Randy ini sudah sukses dan mapan dalam segala hal....sekarang aja dia memimpin 3 anak perusahaan papa-nya...udah gitu, punya rumah sendiri lagi di Real estate... mobil mewah 4 buah....pokoknya kamu gak bakalan susah deh...iya kan Ran,?" Kata tante Elis dengan mata berbinar-binar sambil melirik ke arah Randy anak-nya......Lelaki muda berkaca mata minus itu terlihat tersenyum sambil menganggukkan kepalanya tanda mendukung kata-kata ibu-nya.
Linda merasa tekanan kepada-nya semakin berat... Kata-kata tante Elis barusan seperti bom atom ter-dahsyat yang menghancur- lebur-kan seisi rongga dada-nya.
Ruangan tamu itu bagai neraka bagi Linda, dan kini pilihan-nya hanya satu...pergi menghindar dari kemelut dalam ruangan itu.
Ruangan tamu itu bagai neraka bagi Linda, dan kini pilihan-nya hanya satu...pergi menghindar dari kemelut dalam ruangan itu.
Sambil menangis, Linda pun berlari keluar meninggalkan orang-orang penghuni ruangan tamu itu, pergi mengunci diri di dalam kamar dan menangis sepuas-nya.
"Anton......di mana kamu sekarang sayang.....
Andai saja saat ini ada kamu di sini.... mungkin saya tidak se-menderita ini.....
Sayang....saya butuh bahu-mu untuk bersandar....tak ada seorang pun memihak saya.....saya lelah berjuang sendiri sayang.....apa di sana kamu turut merasakan penderitaan ini sayang....
Anton....kalau kamu terus saja diam saya pasti kalah sayang......" Sayup-sayup kata-kata Linda di sela-sela tangis pilu-nya.
..............................................................
Andai saja saat ini ada kamu di sini.... mungkin saya tidak se-menderita ini.....
Sayang....saya butuh bahu-mu untuk bersandar....tak ada seorang pun memihak saya.....saya lelah berjuang sendiri sayang.....apa di sana kamu turut merasakan penderitaan ini sayang....
Anton....kalau kamu terus saja diam saya pasti kalah sayang......" Sayup-sayup kata-kata Linda di sela-sela tangis pilu-nya.
..............................................................
Sementara di seberang sana, Anton menemukan jalan terang di tengah suasana ke-putus-asaan-nya.
Hari ini ada kunjungan dari Tuan besar pemilik perusahaan tempat Anton bekerja.
Dalam pernyataan-nya, tuan besar menjanjikan bahwa segala kerugian tenaga kerja akibat musibah kebakaran rumah tinggal pekerja sebulan lalu itu ditanggung sepenuhnya oleh perusahaan, dan meminta kepada pekerja untuk menyerahkan catatan kerugian mereka. Biaya ganti rugi akan diproses secepatnya, dalam kurun waktu kurang lebih 4 bulan.
Dalam hati Anton ter-bersit rasa gembira yang tak terlukiskan. Mimpi-nya yang dia yakini sudah pupus beberapa waktu lalu itu, kini telah kembali hidup.
Meskipun harus bekerja 3 bulan lagi, waktu yang menurut-nya teramat sangat lama itu, tidak membuat semangat Anton kendur, karena dia merasa harapan-nya kini ada di dalam genggaman dan itu pasti.
Hari ini ada kunjungan dari Tuan besar pemilik perusahaan tempat Anton bekerja.
Dalam pernyataan-nya, tuan besar menjanjikan bahwa segala kerugian tenaga kerja akibat musibah kebakaran rumah tinggal pekerja sebulan lalu itu ditanggung sepenuhnya oleh perusahaan, dan meminta kepada pekerja untuk menyerahkan catatan kerugian mereka. Biaya ganti rugi akan diproses secepatnya, dalam kurun waktu kurang lebih 4 bulan.
Dalam hati Anton ter-bersit rasa gembira yang tak terlukiskan. Mimpi-nya yang dia yakini sudah pupus beberapa waktu lalu itu, kini telah kembali hidup.
Meskipun harus bekerja 3 bulan lagi, waktu yang menurut-nya teramat sangat lama itu, tidak membuat semangat Anton kendur, karena dia merasa harapan-nya kini ada di dalam genggaman dan itu pasti.
Selang dua bulan semenjak musibah itu, teman-teman Anton sudah bisa membeli Hp dan menghubungi sanak keluarga mereka di kampung halaman. Namun lain hal dengan Anton....
Dia memutuskan untuk sementara tidak berkomunikasi dengan siapa pun, terlebih lagi dengan keluarga-nya. Alasan Anton cuma satu, dia tidak mau membuat orang-orang yang dia sayang ikut merasa resah dengan kemalangan yang dia alami, terlebih lagi Linda kekasih-nya.
Dia memutuskan untuk sementara tidak berkomunikasi dengan siapa pun, terlebih lagi dengan keluarga-nya. Alasan Anton cuma satu, dia tidak mau membuat orang-orang yang dia sayang ikut merasa resah dengan kemalangan yang dia alami, terlebih lagi Linda kekasih-nya.
Anton sengaja tidak memberi kabar kepada Linda, dan diam-diam Anton menyusun strategi khusus untuk membuat 'kejutan' kecil terhadap kekasihnya itu ketika dia pulang nanti.
..................................................................
..................................................................
Seumpama menagih utang, desakkan tante Elis terhadap ayah dan ibu Linda semakin menjadi-jadi, setelah 2 bulan sejak diadakannya pertemuan kedua keluarga itu.
Ayah dan ibu Linda merasa tertekan dengan bujukan terus- menerus dari tante Elis, membuat ke-dua orang tua itu hilang kesabaran terhadap keras-nya pendirian Linda.
Sudah berulang kali mereka bergantian dan kadang bersama mendatangi kamar Linda dan membujuk-nya untuk menuruti kemauan mereka dengan menerima perjodohan itu. Namun berkali-kali pula Linda menolak mentah-mentah.
Ayah dan ibu Linda merasa tertekan dengan bujukan terus- menerus dari tante Elis, membuat ke-dua orang tua itu hilang kesabaran terhadap keras-nya pendirian Linda.
Sudah berulang kali mereka bergantian dan kadang bersama mendatangi kamar Linda dan membujuk-nya untuk menuruti kemauan mereka dengan menerima perjodohan itu. Namun berkali-kali pula Linda menolak mentah-mentah.
Mereka mulai kehilangan akal setelah sekian banyak cara digunakan untuk membuat Linda luluh. Dan kali ini ayah dan ibu sepakat untuk mendatangi kamar Linda dengan sedikit kekerasan, Satu-satunya cara yang belum mereka terapkan.
"Buka pintunya Linda"
Suara lantang ayah disertai ketuk-kan keras dari balik pintu kamar Linda.
"a a iya pa"
Sahut Linda gagap, karena kaget dengan suara ayah yang kali ini berubah kasar.
Tanpa pikir panjang, Linda berjalan cepat ke arah pintu dan membukanya.
Suara lantang ayah disertai ketuk-kan keras dari balik pintu kamar Linda.
"a a iya pa"
Sahut Linda gagap, karena kaget dengan suara ayah yang kali ini berubah kasar.
Tanpa pikir panjang, Linda berjalan cepat ke arah pintu dan membukanya.
" Dengar Linda.....Tidak ada satu orang tua pun di muka bumi ini yang tidak ingin anak-anaknya memiliki masa depan yang baik...dan kami berdua yang sementara berdiri di depan kamu ini memiliki harapan yang sama pula....bahwa saya dan mama-mu ini berharap kamu memiliki masa depan yang jauh lebih baik.....
Tapi sekarang apa....kamu memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi.....
Terus-terang Linda, saya dan mama sangat kecewa dengan keputusan kamu itu.....Karena itu...rencana kami untuk menikah-kan kamu dengan Randy itu bukan tanpa alasan....sebab Randy itu pengusaha sukses....dan itu satu-satunya pilihan untuk masa depan kamu lebih baik.....
Itu yang pertama......
Yang kedua.....Rencana papa menikahkan kamu dengan Randy, supaya tali persaudaraan antara kita dan tante Elis tidak terputus......Jika kamu terus menolak, papa akan mengalah.....tapi, dengan syarat....ganti nama keluarga saya dan silakan keluar dari rumah ini, pergi ke mana saja sesuka hati kamu Titik.!"
Selesai berkata demikian, ayah terus melangkah pergi meninggalkan Linda dan ibu-nya yang hanya diam membisu.
Tapi sekarang apa....kamu memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi.....
Terus-terang Linda, saya dan mama sangat kecewa dengan keputusan kamu itu.....Karena itu...rencana kami untuk menikah-kan kamu dengan Randy itu bukan tanpa alasan....sebab Randy itu pengusaha sukses....dan itu satu-satunya pilihan untuk masa depan kamu lebih baik.....
Itu yang pertama......
Yang kedua.....Rencana papa menikahkan kamu dengan Randy, supaya tali persaudaraan antara kita dan tante Elis tidak terputus......Jika kamu terus menolak, papa akan mengalah.....tapi, dengan syarat....ganti nama keluarga saya dan silakan keluar dari rumah ini, pergi ke mana saja sesuka hati kamu Titik.!"
Selesai berkata demikian, ayah terus melangkah pergi meninggalkan Linda dan ibu-nya yang hanya diam membisu.
Linda tersenyum getir menanggapi ancaman ayah-nya barusan.....Dia tidak menyangka ayah akan tega mengeluarkan kata-kata sepedas itu untuk darah daging-nya sendiri.... Bahkan sampai ingin mengusir-nya dari rumah....
Air mata pun menetes perlahan dari pipi-nya yang masih terlukis sisa-sisa senyuman kegetiran itu.
Air mata pun menetes perlahan dari pipi-nya yang masih terlukis sisa-sisa senyuman kegetiran itu.
Ibu-nya yang sedari tadi hanya diam, melangkah mendekati anak gadis-nya itu dan memeluk-nya penuh kasih sayang, membuat Linda semakin terisak dalam tangis-nya.
Ibu menyadari, betapa pedih-nya hati anak-nya saat ini...
Ibu menyadari, betapa pedih-nya hati anak-nya saat ini...
"Sayang...mama akan selalu ada untuk-mu....jangan kamu pergi Lin...ayah mengatakan itu dalam keadaan emosi akibat tekanan dari tante Elis.....Ayah-mu tidak se'tega itu sayang..." Kata ibu sambil membelai punggung Linda.
"Tidak ma'....Linda akan keluar dari rumah ini....Entah emosi atau tidak...kata-kata papa itu keluar dari hati-nya yang sebenarnya ..." Kata Linda di sela isak tangis-nya
"Tidak ma'....Linda akan keluar dari rumah ini....Entah emosi atau tidak...kata-kata papa itu keluar dari hati-nya yang sebenarnya ..." Kata Linda di sela isak tangis-nya
"Jika Kamu tetap ingin pergi dari rumah ini....mama juga akan pergi...tapi tujuan kepergian mama terlalu sulit untuk kamu bayangkan...." Kata ibu sembari melepaskan pelukan-nya dari Linda.
Kata-kata ibu membuat Linda sontak menghentikan isak tangis-nya....Dan sambil menatap dalam-dalam mata Linda, ibu melanjutkan kata-katanya....
Kata-kata ibu membuat Linda sontak menghentikan isak tangis-nya....Dan sambil menatap dalam-dalam mata Linda, ibu melanjutkan kata-katanya....
"Mama hanya khawatir kamu salah jalan dan tersesat jika kamu ingin pergi dari rumah......Di luar sana kejam dan sangat berbahaya untuk gadis seperti kamu sayang.....Mama tidak akan sanggup melihat hidup-mu berantakan akibat hanyut terbawa arus kelam kehidupan liar di luar sana Linda.....
Jika saja ada Anton...mama tidak akan melarang kamu pergi.....karena mama yakin Anton sanggup menjaga kamu....Tapi sekarang si Anton itu hilang tanpa kabar berita....tidak ada siapa-siapa yang akan melindungi-mu di luar sana Lin.? Mama akan mati jika kamu benar-benar ingin pergi sayang.....
Mama Tau...kamu menolak dijodohkan dengan Randy karena kamu masih sangat mencintai Anton.....mama dari dulu merestui hubungan kamu itu Lin....tapi tidak dengan saat ini....karena seharusnya Anton datang dua bulan lalu...Dia mengingkari janji kalian...dan mama tidak yakin dia masih mencintai kamu Linda......"
Sambil bangkit berdiri, ibu membungkuk dan mengecup lembut kening Linda dengan menambahkan beberapa pesan....
" Pikirkan itu baik-baik Linda.......Malam ini kesempatan buat meyakinkan hatimu untuk menerima kenyataan ini sayang.......Orang-orang yang Tulus menyayangimu..termasuk Anton akan merasa bahagia jika hidup kamu bahagia nanti .....Tetapi kalau kamu memaksakan diri untuk pergi dan akhirnya terbawa arus kehidupan kelam, mereka pasti ramai-ramai mengutuk dan membencimu......
Sekarang tidak ada pilihan lain, selain menerima dijodohkan dengan Randy....atau kamu akan kehilangan semua orang yang kamu sayangi...." Ibu mengakhiri kata-katanya lalu melangkah pergi meninggalkan Linda yang hanya tertunduk diam.
Sambil bangkit berdiri, ibu membungkuk dan mengecup lembut kening Linda dengan menambahkan beberapa pesan....
" Pikirkan itu baik-baik Linda.......Malam ini kesempatan buat meyakinkan hatimu untuk menerima kenyataan ini sayang.......Orang-orang yang Tulus menyayangimu..termasuk Anton akan merasa bahagia jika hidup kamu bahagia nanti .....Tetapi kalau kamu memaksakan diri untuk pergi dan akhirnya terbawa arus kehidupan kelam, mereka pasti ramai-ramai mengutuk dan membencimu......
Sekarang tidak ada pilihan lain, selain menerima dijodohkan dengan Randy....atau kamu akan kehilangan semua orang yang kamu sayangi...." Ibu mengakhiri kata-katanya lalu melangkah pergi meninggalkan Linda yang hanya tertunduk diam.
Malam itu, Linda tidak dapat memejamkan matanya...Kata-kata ibu terus membahana di dalam sanubari-nya... Terkadang tanpa sadar air mata-nya mengalir membasahi pipi-nya, ketika keinginan ke-2 orang tua-nya itu berbenturan dengan Kenangan, Mimpi, dan Janji Suci-nya bersama Anton....
Linda tidak pernah membayangkan jika takdir akan memberi-nya hadiah Buah Simalakama.....dan sekarang Buah Simalakama itu ada di genggaman....makan atau tidak memakannya, tetap saja akan ada harga yang harus dibayar mahal....
Linda tidak pernah membayangkan jika takdir akan memberi-nya hadiah Buah Simalakama.....dan sekarang Buah Simalakama itu ada di genggaman....makan atau tidak memakannya, tetap saja akan ada harga yang harus dibayar mahal....
Terlintas di benak Linda tentang suasana rumah keluarga-nya yang akhir-akhir ini layaknya kuburan...sunyi seperti tak berpenghuni semenjak kedatangan tante Elis....dan sekarang satu-satunya cara untuk mengembalikan keceriaan itu hanya dengan menuruti keinginan ayah-nya....memakan Buah itu, walau akan meracuni hati-nya.
Menjelang pukul 5 subuh, Linda sudah berdiri di depan kamar ayah dan ibu-nya dan mengetuk pintu....Selang beberapa saat, ibu-nya bangun dan membukakan pintu....
Ibu memperhatikan wajah Linda sejenak yang walau bibir-nya tersenyum namun kepedihan hati-nya tergambar jelas di matanya. Dengan refleks, ibu memeluk anak gadis-nya itu erat-erat membuat tangis Linda hampir saja pecah di dalam kamar orang tua-nya kalau saja dia tidak berusaha menahannya....
Ibu memperhatikan wajah Linda sejenak yang walau bibir-nya tersenyum namun kepedihan hati-nya tergambar jelas di matanya. Dengan refleks, ibu memeluk anak gadis-nya itu erat-erat membuat tangis Linda hampir saja pecah di dalam kamar orang tua-nya kalau saja dia tidak berusaha menahannya....
"mama...bangunkan papa sebentar.....Linda ingin bicara sama papa.." Kata Linda dengan suara sedikit serak..
Ayah yang sudah sejak tadi sadar, hanya membalikkan posisi badan-nya menghadap ke arah Linda....
"Bagaimana keputusan kamu Lin...." Tanya ayah.
Ayah yang sudah sejak tadi sadar, hanya membalikkan posisi badan-nya menghadap ke arah Linda....
"Bagaimana keputusan kamu Lin...." Tanya ayah.
"Sudah saya putuskan Pa....bahwa demi mama, dan demi keutuhan keluarga kita....saya menerima dijodohkan dengan Randy..." Kata Linda datar.
"Oke..terima kasih sayang atas keputusan bijakmu itu.....papa akan menghubungi tante Elis sekarang...dan kemungkinan besar kalian akan menikah di akhir bulan ini.." Kata ayah dengan penuh semangat sambil beranjak turun dari ranjang-nya.
"Iya Pa...."
Jawab Linda singkat lalu keluar meninggalkan kedua orang tua itu dan bergegas menuju kamar-nya...dan menangis lagi....
..............................................................
Jawab Linda singkat lalu keluar meninggalkan kedua orang tua itu dan bergegas menuju kamar-nya...dan menangis lagi....
..............................................................
Pernikahan Linda dan Randy sudah disepakati dan waktunya tinggal menghitung hari.....Saat-saat di mana seorang calon mempelai wanita plus calon istri di buat sibuk dengan segala macam persiapan diri menghadapi pernikahan dan suasana rumah tangga baru-nya nanti.... Namun yang terjadi justru di luar kendali Linda....Hati-nya mengkhianati keputusan dari mulut-nya sendiri. Semakin Linda memikirkan pernikahan itu, semakin jelas pula di mata-nya bayangan Anton. ....bahkan berulang kali di mimpi-nya, nampak Linda begitu bahagia bersanding dengan Anton di pelaminan.
Linda mulai yakin dengan bisik-kan hati kecil-nya yang selama ini sering membuat-nya menangis....bahwa fenomena yang dia alami yang terjadi di luar naluri ini, bisa saja merupakan suatu pertanda jika Anton masih menggenggam erat cinta, janji , dan impian mereka.
Mungkin saja ada hal-hal lain yang membuat Anton hilang kabar....Lagi pula Linda mengenal pasti Anton luar dalam, karena mereka sudah bersama bertahun-tahun dan dia percaya Anton kekasih-nya itu sangat menjunjung tinggi kesetiaan.
Mungkin saja ada hal-hal lain yang membuat Anton hilang kabar....Lagi pula Linda mengenal pasti Anton luar dalam, karena mereka sudah bersama bertahun-tahun dan dia percaya Anton kekasih-nya itu sangat menjunjung tinggi kesetiaan.
Diam-diam Linda mempersiapkan rencana cadangan......
Sementara sanak famili-nya mempersiapkan segala tetek bengek keperluan pernikahan yang sisa 8 hari lagi, Linda malah sibuk mengemas pakaian dan barang-barang-nya yang lain untuk keperluan Rencana Cadangan mustahil-nya itu.
Dalam hati-nya terselip secercah harapandalam rencana cadangan-nya itu....
" Jika nanti Anton Pulang sebelum Dia dan Randy tiba di depan Altar Gereja...Rencana cadangan itu akan berlaku.... dan Dia akan lari bersama Anton kekasih-nya pergi jauh dari kota ini..."
.............................................................
Sementara sanak famili-nya mempersiapkan segala tetek bengek keperluan pernikahan yang sisa 8 hari lagi, Linda malah sibuk mengemas pakaian dan barang-barang-nya yang lain untuk keperluan Rencana Cadangan mustahil-nya itu.
Dalam hati-nya terselip secercah harapandalam rencana cadangan-nya itu....
" Jika nanti Anton Pulang sebelum Dia dan Randy tiba di depan Altar Gereja...Rencana cadangan itu akan berlaku.... dan Dia akan lari bersama Anton kekasih-nya pergi jauh dari kota ini..."
.............................................................
Suasana rumah penampungan pekerja sore ini terlihat ramai....Generator listrik yang biasa dinyalakan setiap jam 7 malam, sudah on sejak jam 3 petang tadi....Di depan bilik Anton sudah tersedia beberapa buah speaker besar...
Malam ini Anton mengadakan Pesta perpisahan dengan teman-teman-nya, karena minggu depan Anton akan pulang kampung...
Malam ini Anton mengadakan Pesta perpisahan dengan teman-teman-nya, karena minggu depan Anton akan pulang kampung...
7 Hari berlalu....
Anton tidak dapat menyembunyikan keceriaan-nya ketika berada di atas pesawat yang akan membawa dia terbang menuju kota kelahiran-nya itu.....Hati-nya berdebar-debar karena sebentar lagi kekasih-nya pasti meloncat kegirangan dengan "Kejutan" yang sudah dia rencanakan selama ini.
Padahal...berulang kali Anton nyaris menggagalkan rencana-nya itu setiap kali rasa rindu mendesak-nya untuk memanggil Linda...Tapi dia berusaha memendam rasa itu demi kejutan yang sudah dia rencanakan...
Ternyata Anton Keliru.....
Padahal...berulang kali Anton nyaris menggagalkan rencana-nya itu setiap kali rasa rindu mendesak-nya untuk memanggil Linda...Tapi dia berusaha memendam rasa itu demi kejutan yang sudah dia rencanakan...
Ternyata Anton Keliru.....
Anton terlalu fokus dengan kejutan itu sampai dia lupa kalau janji-nya dulu kepada Linda sudah melewati batas waktu......
..........................................................
..........................................................
Linda dengan berat hati membiarkan Randy menggenggam jemari tangan-nya ketika memasuki halaman gedung Gereja....Hati-nya mendidih....ingin sekali dia menampar wajah pria berkaca mata minus yang berani menyentuh jemari tangan-nya itu, kalau saja dia tidak ingat kehormatan keluarga, terutama ibu-nya.
Busana pengantin yang bernilai puluhan juta itu terasa seperti sampah yang membungkus tubuh-nya.
Busana pengantin yang bernilai puluhan juta itu terasa seperti sampah yang membungkus tubuh-nya.
Beberapa menit kemudian...Janji suci pun ter-lontar dengan pasti dari mulut ke-2 mempelai itu....
Linda berderai air mata ketika mengucapkan janji itu yang diulang beberapa kali karena dia tidak sempat menghafal nya.
Linda berderai air mata ketika mengucapkan janji itu yang diulang beberapa kali karena dia tidak sempat menghafal nya.
Berbarengan dengan Linda mengucap janji sehidup-semati-nya kepada Randy.....Anton menginjakkan kaki di halaman rumah-nya dan membuat kaget orang-orang penghuni rumah dan tetangga-tetangga-nya.
Setelah berjabatan tangan dan berpeluk-pelukan dengan orang-orang dekat-nya...Salah satu teman dekat yang juga tetangga Anton, datang menghampiri Anton dan membisikkan sesuatu yang membuat wajah Anton tiba-tiba berubah Pucat.....
Dengan kecepatan tinggi Anton memacu motor-nya menuju Gereja tempat dilangsungkannya kebaktian pemberkatan Nikah Linda dan Randy....
Setelah berjabatan tangan dan berpeluk-pelukan dengan orang-orang dekat-nya...Salah satu teman dekat yang juga tetangga Anton, datang menghampiri Anton dan membisikkan sesuatu yang membuat wajah Anton tiba-tiba berubah Pucat.....
Dengan kecepatan tinggi Anton memacu motor-nya menuju Gereja tempat dilangsungkannya kebaktian pemberkatan Nikah Linda dan Randy....
Anton berjalan dengan langkah gontai memasuki gedung Gereja itu.....Mata-nya terasa panas ketika melihat wanita pujaan hati-nya bersanding dengan pria lain di depan Altar Gereja.
Anton hanya tertunduk dan menangis....Semua perjuangan-nya untuk Cita dan Cinta mereka itu, kini hancur, sia-sia dan tak berujung....
Anton hanya tertunduk dan menangis....Semua perjuangan-nya untuk Cita dan Cinta mereka itu, kini hancur, sia-sia dan tak berujung....
Tiga menit kemudian kebaktian pun berakhir.......Mata Anton tertuju kepada Linda yang terus saja menundukkan kepala-nya meski sementara di-gandeng mesra suami-nya Randy.
Di saat Pasangan pengantin itu hampir mendekati pintu keluar Gereja, Tiba-tiba suatu suara memanggil nama Linda....
Linda sontak mengangkat kepala-nya dan mencari-cari dari mana asal suara yang serasa tidak asing bagi pendengaran-nya itu....
"Anton......."
Linda dengan spontan menyebut nama itu, Lalu dengan sedikit paksa melepaskan genggaman tangan Randy...dan berlari menghamburkan diri-nya di peluk-kan Anton.....Pelukan itu yang selama bertahun-tahun membuat-nya merasa nyaman dan ter-lindung.....Pelukan yang di dalamnya dia menemukan arti diri-nya...
Linda dengan spontan menyebut nama itu, Lalu dengan sedikit paksa melepaskan genggaman tangan Randy...dan berlari menghamburkan diri-nya di peluk-kan Anton.....Pelukan itu yang selama bertahun-tahun membuat-nya merasa nyaman dan ter-lindung.....Pelukan yang di dalamnya dia menemukan arti diri-nya...
Selama beberapa saat kedua insan itu saling berpelukan dan menangis... Tak ada seorang pun yang mencegah Linda berlama-lama memeluk Anton....Mereka yang hadir di situ, seakan terbius dan turut larut menyaksikan pertemuan memilukan itu.
Sahabat-sahabat Anton dan Linda semasa sekolah yang sempat hadir di kebaktian pemberkatan Nikah Linda saat itu pun tak luput dihinggapi rasa Haru yang amat sangat....bahkan ada yang sampai menitikkan air mata.
Sahabat-sahabat Anton dan Linda semasa sekolah yang sempat hadir di kebaktian pemberkatan Nikah Linda saat itu pun tak luput dihinggapi rasa Haru yang amat sangat....bahkan ada yang sampai menitikkan air mata.
Linda kemudiaan mengangkat kepala-nya dari bahu Anton.....Sejenak mereka saling bertatapan ...di wajah mereka terukir kesedihan yang teramat sangat....
"Maafkan saya sayang....Saya masih sangat mencintai kamu...saat ini dan bahkan sampai mati.....
Seandainya kamu datang 15 Menit yang lalu...Mungkin cerita-nya pasti berbeda.....
Selamat berpisah sayang....semoga kamu mendapatkan yang lebih baik dari saya...."
Kata Linda lirih diakhiri dengan satu kecupan lembut di kening Anton...
Seandainya kamu datang 15 Menit yang lalu...Mungkin cerita-nya pasti berbeda.....
Selamat berpisah sayang....semoga kamu mendapatkan yang lebih baik dari saya...."
Kata Linda lirih diakhiri dengan satu kecupan lembut di kening Anton...
Sambil menangis, Linda berpaling dan melangkah pergi bersama suami-nya, meninggalkan Anton yang masih tertunduk meratapi nasib-nya yang malang.
....................................................
....................................................
Anton dengan mata sembab, pergi dari rumah ke rumah mengunjungi sahabat sahabat dan sanak keluarga-nya....berjabatan tangan dan berpelukan dengan mereka satu persatu....
Keluarga dan sahabat-sahabat Anton menganggap yang dilakukan Anton itu sesuatu yang wajar sebagai tanda perjumpaan setelah berpisah sekian tahun lama;nya....
Namun di luar dugaan mereka, Anton justru melakukan itu untuk 2 maksud sekaligus....
Keluarga dan sahabat-sahabat Anton menganggap yang dilakukan Anton itu sesuatu yang wajar sebagai tanda perjumpaan setelah berpisah sekian tahun lama;nya....
Namun di luar dugaan mereka, Anton justru melakukan itu untuk 2 maksud sekaligus....
Jabatan tangan dan pelukan Anton itu sebagai tanda pertemuan sekaligus Ucapan Pamit......
Anton langsung pulang hari itu juga, tanpa meninggalkan janji untuk kapan nanti dia akan kembali lagi ...
Anton langsung pulang hari itu juga, tanpa meninggalkan janji untuk kapan nanti dia akan kembali lagi ...
Harapan dan impian-nya kini musnah sudah....Dan dia tidak ingin tinggal lebih lama di sini menyaksikan puing-puing keindahan cinta-nya yang dulu begitu gigih dia perjuangkan.
Pesawat terakhir malam itu membawa Anton pulang....kembali kepada kehampaan... membentuk lagi mimpi-mimpi-nya...walau kali ini untuk tujuan yang berbeda....
Waktu mungkin mampu membalut luka-nya....namun tidak akan bisa menghapus satu nama di hati-nya....
Nama itu akan terus hidup di hati-nya...sampai raga menyatu dengan tanah....
Waktu mungkin mampu membalut luka-nya....namun tidak akan bisa menghapus satu nama di hati-nya....
Nama itu akan terus hidup di hati-nya...sampai raga menyatu dengan tanah....
Irama instrumen Forever in Love mengalun lembut di dalam pesawat itu, semakin menerbangkan lamunan Anton terbang jauh mengembara ke masa-masa indah dulu....Yang kini tersisa kepingan-kepingan Kenangan......
Walau kini mereka menempuh Jalan yang Berbeda...Tapi hati mereka takkan pernah terpisahkan oleh ruang dan waktu.......
Lantunan merdu Saxophone Kenny G, membawa Anton ke Alam Mimpi....
Mimpi.....
ya, mimpi.....
Mungkin di sana ...di Alam itu... mereka bisa bertemu dan menelusuri kembali jejak-jejak Cinta mereka berdua, yang kian pudar tertutup dedaunan kering........
ya, mimpi.....
Mungkin di sana ...di Alam itu... mereka bisa bertemu dan menelusuri kembali jejak-jejak Cinta mereka berdua, yang kian pudar tertutup dedaunan kering........
..................................................
Tamat

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar di sini