Breaking

Post Top Ad

Your Ad Spot

21 Maret 2018

Terlambat 15 Menit


Lambaian tangan dari balik jendela bus seakan menyumbat rongga dada Anton,  yang hanya mampu  membalas dengan tatapan sayu tanpa kata.
Bunyi klakson bus yang mulai bergerak perlahan   meninggalkan terminal,  semakin menambah pilu dua insan yang sementara dirundung kesedihan.
   Betapa tidak,  beberapa  menit yang lalu adalah saat di mana mereka berdua saling memandang untuk yang terakhir kali,  dan entah sampai kapan lagi waktu akan mempertemukan mereka kembali.

Linda hanya  berdiri terpaku menatap  sendu ke arah bus yang sudah samar-samar menghilang tertutup debu jalanan.   Dengan kedua telapak tangannya, Linda menutup wajahnya yang basah oleh air mata yang mengalir tiada henti sejak beberapa jam yang lalu.

Hiruk  pikuk suasana terminal kala itu sama sekali tidak dapat mencegah-nya  untuk menangis...  Bahkan tawa ejekan pedagang asongan  di sekeliling nya tidak mampu memengaruhi Linda untuk menyebut nama Anton berulang kali  di sela-sela tangis-nya.

Linda merasa  dunianya seakan sudah berakhir hari ini.   Hatinya hampa....Dia tidak bisa membayangkan akan sanggup menjalani hari-hari ke depannya tanpa orang yang selama ini membuat hari-nya penuh warna...

Dia ingin terus berada di terminal bus ini...  di tempat di mana dia melihat wajah Anton kekasihnya itu  untuk yang terakhir,  kalau saja ibu-nya tidak cepat datang merangkul dan membawanya pulang.
......................................................
Bukit-bukit Marmer yang tegak kokoh..... di antara deretan  gunung dan lembah hijau yang membentang luas bagai lukisan indah itu....mampu menghipnotis  berpasang pasang mata tertegun menatap tanpa kedip keluar jendela bus.   Tak terkecuali Anton...yang memang pandangannya tidak dialihkan dari jendela semenjak berada di atas bus itu.    Namun... bukan keindahan di luar sana yang membuat Anton tidak henti henti menatap keluar jendela.   

 Pandangan Anton tersekat hanya beberapa senti dari matanya.   Dia melihat  serpihan-serpihan kenangan itu masih   terus mengambang di kaca jendela bus.   Dengan mata berkaca-kaca Anton terus menatap jendela bus itu,  seakan-akan dia  sementara menonton suatu drama paling menyedihkan yang pernah ada.
Tiba-tiba saja sesuatu ter-lintas di benak Anton  dan membuat lamunan panjangnya terhenti.   Bahwa dia dan Linda berpisah demi mewujudkan impian akan masa depan   mereka berdua.
Anton perlahan-lahan berusaha menepis rasa sedih di hatinya....Dia merasa tidak seharusnya berlarut-larut dalam kesedihan.... di depan sana,  ada  berbagai macam kejutan  yang mungkin jauh lebih hebat dari kesedihan  sebuah perpisahan.
   ...........................................
Liku-liku   kehidupan kini  mulai memperkenalkan   sisi pahit nya   kepada sepasang manusia  yang baru saja mencoba melepaskan diri dari rangkulan keindahan masa remaja.
Cinta monyet menjadi anak  tangga bagi  mereka untuk melangkah menuju kedewasaan,   yang sulit,   keras,  dan penuh tantangan.
Ketika cinta itu  membawa mereka ke puncak keindahan,  kenyataan hidup justru menghadang  dengan sebuah dilema  yang menghadapkan keduanya pada beragam pilihan sulit.
Betapa tidak, latar belakang keluarga mereka sangat kontras dan bertolak belakang.
Linda berasal dari keluarga kaya raya dan ternama di kota itu, sedangkan Anton lahir dari keluarga yang hidup serba kekurangan dan tinggal tersisih di pinggiran kota.   Selain itu,   keluarga Linda memiliki tradisi yang  tak jarang membuat para pria lajang berpikir dua kali untuk  meminang gadis dalam keluarga besar nya.
Meskipun Linda mempunyai Belis yang begitu mahal,   namun tidak membuat patah arang kedua pasangan remaja ini untuk berjuang bersama menggapai harapan dan cita cinta mereka.
Bahkan Linda yang hidup berkelimpahan memilih untuk tidak melanjutkan studi-nya ke perguruan tinggi, hanya semata-mata tidak ingin berpisah dengan Anton,  yang memang keadaan ekonomi-nya tidak mendukung untuk melanjutkan sekolah.
Linda dan Anton sepakat dalam satu ikatan janji untuk mengakhiri perjalanan panjang kebersamaan mereka semenjak dari  SD, SMP, hingga SMA, yang memang selama itu tak ada apa pun, atau siapa pun yang mampu mengusik kebersamaan mereka berdua.   Kecuali... sebuah cita-cita  Luhur  yang tercetus semenjak 3 hari yang lalu.
 Kedua insan ini dipaksa keadaan untuk keluar meninggalkan zona nyaman mereka,  dan berjuang mempertahankan cinta yang kian melekat erat di dalam sanubari.   Dengan berat hati, mereka harus menerima kenyataan akan perih-nya suatu perpisahan.
.................................................
Tiga bulan berlalu...
Linda mulai perlahan-lahan bangkit dari kungkungan  rasa sedih dan kehilangan, meski belum sepenuhnya terlepas dari bayang-bayang Anton kekasih-nya.
Album foto  momen-momen kebersamaan mereka dulu menjadi teman tidur Linda  satu-satunya setiap malam, yang kadang membuat-nya tersenyum sendiri.
Linda selalu ada alasan untuk menepis  kesedihan-nya setiap kali rasa itu  hinggap dan mengganggu hati-nya.  Alasan satu-satunya yang  menguatkan  hati-nya adalah  sumpah dan janji sehidup- semati dari  mereka berdua sebelum berpisah.
Walau begitu  sebagai manusia biasa,   Linda terkadang oleng menghadapi situasi serta orang-orang di sekitarnya.
Apa lagi sejak perpisahan itu   hingga kini sudah tiga bulan berlalu, belum juga ada kabar berita dari Anton, kekasih-nya.
HandPhone  satu-satunya  yang di harap-harap menjadi pembawa kabar berita pun nampaknya  hanya diam membisu....
Teman-teman dekat-nya yang seharusnya menjadi tempat curhat, justru membawa  Linda semakin  ter-sudut dalam kebimbangan... Apa lagi orang tua-nya yang tidak mau ambil pusing dengan perasaan Linda,  karena  mereka masih  kecewa dengan keputusan Linda yang tidak mau melanjutkan study ke perguruan tinggi.
Walau orang orang dekatnya terkesan menjauhinya,  namun Linda masih bisa tetap tersenyum.   Doa doa malam-nya,  dan Prasasti kasih yang sudah  terukir kokoh di dalam sanubarinya,  menjadi tempat satu satunya Linda bersandar....Dia yakin bahwa di ujung sana masih ada Asa tersisa.  Meski layar telah ter-kembang membelah samudra.
..................................... 
Anton berbaring telentang di atas kasur tipis di sebuah rumah papan yang sudah disediakan perusahaan tempat dia bekerja.   Dengan mata menerawang menyusuri langit-langit kamar,  nalurinya mulai memutar kembali adegan-adegan manis dulu, kala masih  bersama  Linda  kekasihnya.
Kebiasaan melamunkan wajah kekasihnya itu menjadi obat dan hiburan tersendiri di kala  rasa sunyi dan penat menggerogoti  jiwa dan raga-nya.
Seminggu lagi gajian ke-4 bagi Anton, dan dia merasa berdebar-debar tidak sabar lagi ingin cepat cepat membeli Hp baru.  Anton berharap bisa mendengar suara kekasihnya lagi setelah hampir 4 bulan dia memendam rindu.
Selama ini Anton bersusah payah selain beradaptasi dengan pekerjaan, dia juga sulit mengatur gaji yang pas pasan untuk membiayai makan minumnya, dan  juga melunasi perjanjian dengan Agent yang membawanya masuk bekerja di Malaysia.
Waktu yang dinantikan akhirnya pun tiba....
 Seperti biasa, setelah gajian mereka diberi cuti sehari atau 2 hari oleh majikan untuk bepergian ke kota.
Anton tersenyum girang setelah membawa pulang sebuah Hp baru dari kota.
Sesampainya di rumah, Anton tidak peduli lagi dengan perutnya yang lapar karena perjalanan pulang dari kota yang jaraknya lumayan jauh dari tempat dia bekerja.
Secarik kertas berisi sebaris angka  dikeluarkan dari dalam dompetnya,  dengan tangan sedikit berkeringat,  Anton memasukkan angka angka itu ke dalam telepon barunya dan tanpa ragu-ragu dia menekan tombol memanggil........
...................................................
Linda yang baru saja tertidur dikejutkan  oleh bunyi deringan Hp di samping kepalanya. Sejenak dia melihat nomor tanpa nama itu dengan kode negara yang berbeda dari biasanya,  sehingga membuat Linda ragu-ragu untuk menerima panggilan itu.  Linda khawatir sebab akhir-akhir ini ada saja nomor-nomor tanpa nama semacam ini yang mengganggunya setiap malam.  Seperti biasa, dia membiarkan saja Hp itu berdering hingga berhenti sendiri.  Dia tau kalau biasanya nomor-nomor nyasar itu paling 1 atau 2 kali miss call lalu menghilang.
Namun lain dengan penelpon tanpa nama yang satu ini.   Dia bahkan menelepon berulang kali sampai bunyi deringan yang ke-5,  Linda terpaksa memberanikan diri untuk menekan tombol terima...
"Halo..."  Sapa Linda dengan suara sedikit gugup...
"Hai sayang...ini saya, Anton.."   Terdengar suara dari seberang telepon.
"Sayaaaang......" Dengan sedikit berteriak, Linda meloncat dari ranjang..
"Sayang saya kangen......"  Kata Linda sambil berurai  air mata haru bahagia.
"Saya juga kangen sayang....apa kabarmu di sana?" Tanya Anton.
"Baik....apa kamu juga baik-baik sayang?"  Linda balik bertanya.
"Syukurlah....saya pun baik-baik sayang.." Jawab Anton.
"Cerita dong sayang dengan kerjaan kamu di sana.."  Bujuk Linda dengan sedikit manja.
"Iya tapi belum mengantuk kan sayang?" Tanya Anton sambil tertawa kecil..
"Sampai pagi juga boleh kok..." Jawab Linda serius.
Dua sejoli ini hampir menghabiskan malam itu dengan bertukar cerita.  Kadang sedih, kadang  mereka berdua tertawa bersama, serasa tidak ada penghalang di antara mereka seperti dulu saat masih bersama.
Sejak saat itu,  kasih sayang itu kembali hangat dengan komunikasi yang rutin antara keduanya, membuat Anton dan Linda merasa seakan tak ada lagi  jarak yang memisahkan mereka.
..................................................
Dua Tahun berlalu....
Anton tinggal menghitung hari untuk pulang kampung, dan menepati janjinya kepada Linda kekasihnya.
Selama 2 tahun lebih, Anton hampir tidak memiliki kesempatan untuk enjoy seperti kebanyakan teman-teman dia yang lain.  Semua waktunya nyaris dihabiskan dengan bekerja dan bekerja...
Perjuangan dan kerja kerasnya tidak sia-sia...Kini hasil dari jerih payahnya itu sudah bisa membawa angan dan impiannya menuju kenyataan.  Bahwa sebentar lagi dia akan meminang kekasih satu-satunya yang dia miliki seumur hidupnya.
Namun...Kenyataan berkata lain....
Hari itu...
Seperti biasa,  suasana  rumah  tempat tinggal Anton dan pekerja yang lain pasti sunyi pada waktu siang karena ditinggal kerja oleh mereka,  dan akan ramai kembali pada waktu sore harinya.  Selain itu, mereka tidak diperbolehkan untuk pulang kerja sebelum pukul 3 sore. Jika ada yang melanggar aturan itu, akan diberi peringatan, dan atau bisa di halau pergi dari perusahaan itu.
Entah karena telat bangun, tetangga bilik sebelah Anton terburu-buru pergi kerja meninggalkan dapur gas elpiji-nya yang masih dalam keadaan menyala.  Api itu kemudian merambat hingga meletupkan tong gas elpiji dalam dapur yang sudah tanpa penghuni tersebut,  dan rumah kayu itu pun lenyap tak tersisa di-lalap api  hanya dalam hitungan menit.
Anton yang sementara bekerja di datangi mandor dengan tergesa-gesa dengan wajah yang gelisah.  Melihat tingkah mandor yang tidak lazim itu  membuat  Anton merasa heran dan bertanya dalam hati, apa yang terjadi...
"A..Anton...Manajer suruh pulang sekarang .."  kata mandor terbata-bata.
"satu jam lagi bolehkah bos? biar saya keluarkan buah yang masih tertinggal di dalam lorong ini.."  Balas Anton membujuk..
"Tak bolehlah Anton......ini penting....ayo berangkat sekarang.!" Kata mandor itu dengan suara sedikit meninggi.
"Oke lah" Jawab Anton singkat.
Dengan hati yang masih diliputi rasa heran dan beragam dugaan,  Anton terpaksa menuruti permintaan mandor-nya lalu naik ke boncengan motor mandor dan pulang ke rumah.
Anton mulai curiga ketika kurang lebih 1 km mendekati rumah.     Dia melihat asap hitam membumbung tinggi tepat di sekitar rumah tinggal mereka.  Anton  merasa ingin cepat-cepat sampai rumah dan meyakinkan hatinya yang takut dan gelisah itu bahwa semuanya baik-baik saja.
Tapi sungguh malang....
Anton hampir saja terjun dari  atas motor  andai mandor tidak cepat menghentikan laju motornya, setelah melihat yang sebenarnya terjadi dengan rumah tempat tinggal mereka.
Dia merasa lemas....tubuhnya seakan tak bertulang....
Anton dan teman-temannya yang lain hanya menangis sambil  menatap puing-puing rumah mereka dari tepi jalan....
Hasil jerih payah mereka selama bertahun-tahun, hilang lenyap hanya dalam hitungan detik....
Barang-barang mereka, terlebih lagi uang  yang setiap bulan mereka  sisihkan dari usaha mengorbankan kesenangan diri mereka  demi masa depan itu, kini tersisa debu.
Terlebih Anton yang tinggal seminggu lagi pulang kampung dan menepati janji sucinya kepada Linda kekasih hatinya.
Anton merasa bahwa harapan itu sudah terbakar dan kini hanya tersisa debu dan puing-puing.   Dia tidak bisa berbuat apa-apa sekarang selain menyerah pada takdir.  Dia menghabiskan malam itu hanya dengan menangis dan meratapi nasibnya.
 Kejadian hari ini, memusnahkan angan dan harapan Anton akan cinta suci-nya  untuk Linda yang tinggal se-langkah lagi ter-gapai.
...........................................
Malam ini, malam minggu  ke-2 Anton hilang kabar berita,  otomatis membuat  Linda mulai merasa sedih bercampur  khawatir.
Dalam hatinya tidak henti-henti  mengucap   doa.... "Oh Tuhan semoga dia baik-baik saja di sana...".  Dalam keadaan hati-nya yang   tidak menentu itu,   Linda mencoba membuka kembali sms beberapa hari yang lalu.  Pikirnya,   jangan sampai ada pesan yang baru masuk tapi belum sempat dia baca.  Namun yang nampak di layar  hanya sms-sms  dia sendiri yang belum ada tanda ter-kirim.
Sementara hati-nya dirundung galau, tiba-tiba pintu kamar-nya diketuk dari luar....
"Non....Nona Linda...." Panggil tante Gita dari balik pintu, pembantu rumah keluarga Linda.
"Saya masih kenyang tante....tar saja saya makan..." Jawab Linda asal duga.
"Bukan Non.... maksud  tante, Nona Linda dipanggil bapak di ruang tamu.."  Kata tante Gita menjelaskan.
"Iya tante....nanti saya ke sana..." Jawab Linda singkat.
"Sekarang Non..." Kata tante Gita setengah membujuk.
"Iya...iya..."  Jawab Linda terpaksa.
Suasana hati Linda tidak menentu untuk saat ini,  hingga membuatnya ingin terus mengurung diri saja di kamar.  Namun di sisi lain,  Linda adalah  cewek yang patuh pada orang tua, apa lagi ayah-nya yang terkenal tegas.
Dengan bermalas-malasan Linda pun keluar dari kamar-nya menuju ruang tamu memenuhi panggilan  ayah-nya seperti yang disampaikan tante Gita tadi.
Linda kaget dan salah tingkah  ketika melihat yang duduk di sofa ruang tamu mereka  itu adalah Om Gunawan  dan tante Elis beserta Randy anak lelaki sulung tante-nya dari Jakarta.  Dengan rambut yang tak teratur dan pakaian rumah yang serba pendek, tak ayal Linda merasa sangat malu dengan penampilan dia saat itu.
Tanpa  berjabatan tangan, Linda hanya  memberi salam dan meminta maaf kepada tetamu tersebut  lalu  segera keluar dari ruang tamu untuk mandi dan mengganti pakaiannya.
Banyak pertanyaan berputar-putar di kepala otak Linda.  Apa maksud kedatangan satu keluarga itu, yang memang setahu Linda tidak pernah mendapatkan kunjungan dari Tante-nya selama ini.   Pasti ada maksud tertentu dan itu mungkin sangat penting.  Linda mulai menduga-duga, mungkin hanya untuk sekadar  silaturrahmi , pikirnya.
Di dalam ruangan tamu itu ada banyak hal yang mereka  bicarakan, mulai dari bisnis, keluarga, dan kadang dibarengi dengan canda tawa, menjadikan suasana nampak cair saja.
Sampai pada Tante-nya mengutarakan maksud kedatangan mereka,  yang membuat Linda merasa jantungnya tiba-tiba berhenti berdetak.
 Ternyata dugaan Linda keliru....
 "omong-omong, bagaimana kalau kita langsung saja ke tujuan intinya kakak.? Tanya tante Elis kepada ayah Linda.
"Oke, silakan.."  Jawab ayah Linda singkat
"Maksud kedatangan kami ini untuk memastikan kesepakatan pembicaraan kita melalui telepon 2 minggu lalu itu kakak...bahwa kami sekeluarga, termasuk Randy sudah satu suara dalam rencana yang sudah kita sepakati itu...dan kalau bisa waktunya dipercepat karena kakak juga mengerti kita  sesama pebisnis, apa lagi kami di Jakarta."   kata Tante Elis membuka pembicaraan.
"Apa kakak sudah memberi tahu Linda tentang rencana mulia kita ini.?" Sambung tante Elis. 
Sejenak suasana dalam ruangan itu berganti senyap dan  penuh ketegangan.  Tatapan mata ayah dan ibu tertuju kepada Linda yang hanya diam dalam kebingungan.
 Dan selang beberapa saat, suara ayah Linda memecah keheningan di dalam ruang tamu itu......
"Begini Lin...kamu sudah dewasa, dan sekarang usia kamu sudah ideal untuk berkeluarga,  maka itu akhir-akhir ini saya dan ibu kamu  merasa prihatin jika nanti kamu akan sulit menemukan  pasangan hidup kalau kamu setiap hari hanya mengurung diri di kamar.   Oleh sebab itu kami sepakat untuk menghubungi tante Elis, dan ternyata sesuai  dengan yang kami harapkan, si Randy ini juga masih jomblo, kata tante. "
Sambil tertawa perlahan, ayah Linda melanjutkan omongan-nya.....
" Intinya, kedatangan tante Elis ke sini itu karena atas kesepakatan kami ber-4 dua minggu lalu, dengan maksud untuk menjodohkan kamu dan Randy.....Ayah dan ibu sengaja tidak memberi tahu kamu, biar jadi kejutan buat kamu.....
Bagaimana Linda....sudah siap  untuk menikah dengan Randy.? Kata ayah dengan tersenyum, dan sorot mata-nya  tajam ke arah Linda menunggu kepastian.
Linda hanya ter-tunduk diam...dia menyadari, semua mata di dalam ruangan itu tertuju ke arah-nya menunggu jawaban....tetapi lidahnya terasa kelu untuk berkata-kata....
Selang beberapa saat Linda pun memberanikan diri dan membuka suara....
"Kasih Linda sedikit waktu untuk berpikir Pa...." Kata Linda memelas
Ayah Linda hendak menjawab permintaan Linda, tapi tante Elis lebih dulu  menyambar.....
"Mau mikir apa lagi Lin....Randy ini sudah sukses dan mapan  dalam segala hal....sekarang aja dia  memimpin 3 anak perusahaan papa-nya...udah gitu,  punya rumah sendiri lagi  di Real estate... mobil mewah 4 buah....pokoknya kamu gak bakalan susah deh...iya kan Ran,?" Kata tante Elis dengan mata berbinar-binar sambil melirik ke arah  Randy  anak-nya......Lelaki muda berkaca mata minus itu terlihat tersenyum sambil menganggukkan kepalanya tanda mendukung kata-kata ibu-nya.
Linda merasa tekanan kepada-nya semakin berat... Kata-kata tante Elis barusan seperti bom atom ter-dahsyat yang menghancur- lebur-kan seisi rongga dada-nya.
Ruangan tamu itu bagai neraka bagi Linda, dan kini pilihan-nya hanya satu...pergi menghindar dari kemelut dalam ruangan itu.
Sambil menangis, Linda pun berlari keluar meninggalkan orang-orang penghuni ruangan tamu itu, pergi mengunci diri di dalam kamar  dan menangis sepuas-nya.
"Anton......di mana kamu sekarang sayang.....
Andai saja saat ini ada kamu di sini.... mungkin saya tidak se-menderita ini.....
Sayang....saya butuh bahu-mu untuk bersandar....tak ada seorang pun memihak saya.....saya lelah  berjuang sendiri sayang.....apa  di sana kamu turut  merasakan penderitaan ini sayang....
Anton....kalau kamu terus saja diam  saya pasti kalah sayang......"  Sayup-sayup kata-kata Linda di sela-sela tangis pilu-nya.
..............................................................
Sementara di seberang sana,  Anton menemukan jalan terang di tengah suasana ke-putus-asaan-nya.
Hari ini ada kunjungan dari Tuan besar  pemilik perusahaan tempat Anton bekerja.
Dalam pernyataan-nya, tuan besar menjanjikan bahwa segala kerugian tenaga kerja akibat musibah kebakaran rumah tinggal pekerja sebulan lalu itu ditanggung sepenuhnya oleh perusahaan, dan meminta kepada pekerja untuk menyerahkan catatan kerugian mereka.   Biaya ganti rugi  akan diproses secepatnya, dalam kurun waktu kurang lebih 4 bulan.
Dalam hati Anton ter-bersit rasa gembira yang tak terlukiskan.   Mimpi-nya  yang dia yakini sudah  pupus beberapa waktu lalu itu,  kini telah kembali  hidup.
Meskipun harus bekerja  3 bulan lagi, waktu yang menurut-nya teramat  sangat lama itu,  tidak membuat semangat Anton kendur, karena dia merasa harapan-nya kini ada di dalam genggaman dan itu pasti.
Selang dua bulan semenjak musibah itu,  teman-teman Anton sudah bisa membeli  Hp dan menghubungi sanak keluarga mereka di kampung halaman.  Namun lain hal dengan Anton....
Dia memutuskan untuk sementara tidak berkomunikasi dengan siapa pun, terlebih lagi dengan keluarga-nya.  Alasan Anton cuma satu, dia tidak mau membuat orang-orang yang dia sayang ikut merasa resah dengan kemalangan yang dia alami, terlebih lagi Linda kekasih-nya.
Anton sengaja tidak memberi kabar kepada Linda,  dan  diam-diam Anton  menyusun strategi khusus  untuk  membuat 'kejutan' kecil  terhadap kekasihnya itu ketika dia pulang nanti.
..................................................................
Seumpama menagih utang,   desakkan tante Elis terhadap ayah dan ibu Linda semakin menjadi-jadi,  setelah 2 bulan sejak diadakannya pertemuan kedua keluarga itu.
Ayah dan ibu Linda merasa tertekan dengan bujukan terus- menerus dari tante Elis,  membuat ke-dua orang tua itu hilang kesabaran terhadap keras-nya pendirian Linda.
Sudah berulang kali mereka bergantian dan kadang bersama mendatangi kamar Linda dan membujuk-nya untuk menuruti kemauan mereka dengan menerima perjodohan itu. Namun berkali-kali pula Linda menolak mentah-mentah.
Mereka mulai kehilangan akal setelah sekian banyak cara digunakan untuk membuat Linda luluh.  Dan kali ini ayah dan ibu sepakat untuk mendatangi kamar Linda dengan sedikit kekerasan,  Satu-satunya cara yang belum mereka  terapkan.
"Buka pintunya Linda" 
Suara lantang ayah disertai ketuk-kan keras dari balik pintu kamar Linda.
"a a iya pa"  
Sahut Linda gagap, karena  kaget dengan suara ayah yang kali ini berubah kasar.
Tanpa pikir panjang, Linda berjalan cepat ke arah pintu dan membukanya.
" Dengar Linda.....Tidak ada satu orang tua pun di muka bumi ini yang tidak ingin anak-anaknya memiliki masa depan yang baik...dan kami berdua yang sementara berdiri di depan kamu ini memiliki harapan yang sama pula....bahwa saya dan mama-mu ini berharap kamu memiliki masa depan yang jauh lebih baik.....
Tapi sekarang apa....kamu memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi.....
Terus-terang Linda,    saya dan mama sangat kecewa dengan keputusan kamu itu.....Karena itu...rencana kami untuk menikah-kan kamu dengan Randy itu bukan tanpa alasan....sebab Randy itu  pengusaha sukses....dan itu satu-satunya pilihan untuk masa depan kamu lebih baik.....
Itu yang pertama......
Yang kedua.....Rencana papa menikahkan kamu dengan Randy,  supaya tali persaudaraan antara kita dan tante Elis tidak terputus......Jika kamu terus menolak,  papa  akan mengalah.....tapi, dengan syarat....ganti nama keluarga saya dan silakan keluar dari rumah ini,  pergi ke mana saja sesuka hati kamu Titik.!"  
Selesai berkata demikian, ayah terus melangkah pergi meninggalkan  Linda dan ibu-nya yang hanya diam membisu.
 Linda  tersenyum getir  menanggapi ancaman ayah-nya barusan.....Dia tidak menyangka ayah akan tega mengeluarkan kata-kata sepedas itu untuk darah daging-nya sendiri.... Bahkan sampai ingin  mengusir-nya dari rumah....
Air mata pun menetes perlahan dari pipi-nya yang masih terlukis sisa-sisa senyuman kegetiran itu.
Ibu-nya yang sedari tadi hanya diam,  melangkah mendekati  anak gadis-nya itu dan memeluk-nya  penuh kasih sayang,  membuat  Linda semakin terisak dalam tangis-nya.
Ibu menyadari, betapa pedih-nya hati anak-nya  saat ini...
"Sayang...mama akan selalu ada untuk-mu....jangan kamu pergi Lin...ayah mengatakan itu dalam keadaan emosi akibat tekanan dari tante Elis.....Ayah-mu tidak se'tega  itu sayang..."  Kata ibu sambil membelai punggung Linda.
"Tidak ma'....Linda akan keluar dari rumah ini....Entah emosi atau tidak...kata-kata papa itu keluar dari hati-nya yang sebenarnya ..." Kata Linda di sela isak tangis-nya
"Jika Kamu tetap ingin pergi dari rumah ini....mama juga akan pergi...tapi tujuan kepergian mama terlalu sulit untuk kamu bayangkan...." Kata ibu sembari melepaskan pelukan-nya dari Linda.
 Kata-kata ibu membuat Linda sontak menghentikan isak tangis-nya....Dan sambil menatap dalam-dalam mata Linda, ibu melanjutkan kata-katanya....
"Mama hanya khawatir  kamu salah jalan dan tersesat jika kamu ingin pergi dari rumah......Di luar sana kejam dan sangat berbahaya untuk gadis seperti kamu sayang.....Mama tidak akan sanggup melihat hidup-mu  berantakan akibat  hanyut terbawa arus kelam kehidupan liar di luar sana Linda.....
Jika saja ada Anton...mama tidak akan melarang kamu pergi.....karena mama yakin Anton sanggup menjaga kamu....Tapi sekarang si Anton itu hilang tanpa  kabar berita....tidak ada siapa-siapa  yang akan melindungi-mu di luar sana Lin.? Mama akan mati jika kamu benar-benar ingin pergi sayang.....
Mama Tau...kamu menolak dijodohkan dengan Randy karena kamu masih sangat mencintai Anton.....mama dari dulu merestui hubungan kamu itu Lin....tapi tidak dengan saat ini....karena seharusnya Anton datang dua bulan lalu...Dia mengingkari  janji kalian...dan mama tidak yakin dia masih mencintai kamu Linda......"
Sambil  bangkit berdiri,   ibu membungkuk dan mengecup lembut kening Linda dengan menambahkan beberapa pesan....
" Pikirkan itu baik-baik Linda.......Malam ini kesempatan buat  meyakinkan hatimu untuk menerima kenyataan ini sayang.......Orang-orang yang Tulus menyayangimu..termasuk Anton  akan merasa  bahagia jika hidup kamu bahagia nanti .....Tetapi kalau kamu memaksakan diri untuk pergi dan akhirnya terbawa arus kehidupan kelam,  mereka pasti ramai-ramai mengutuk dan membencimu......
Sekarang tidak ada pilihan lain, selain menerima dijodohkan dengan Randy....atau kamu akan kehilangan semua orang  yang kamu sayangi...."  Ibu mengakhiri kata-katanya lalu melangkah pergi meninggalkan Linda yang hanya tertunduk diam.
Malam itu, Linda tidak dapat memejamkan matanya...Kata-kata ibu terus membahana di dalam sanubari-nya... Terkadang tanpa sadar air mata-nya  mengalir membasahi pipi-nya, ketika keinginan  ke-2 orang tua-nya itu berbenturan dengan Kenangan, Mimpi, dan Janji  Suci-nya bersama Anton....
Linda tidak pernah membayangkan jika takdir  akan memberi-nya hadiah  Buah Simalakama.....dan sekarang Buah Simalakama itu ada di genggaman....makan atau tidak memakannya, tetap saja akan ada harga yang harus dibayar mahal....
Terlintas di benak Linda tentang  suasana rumah keluarga-nya yang akhir-akhir ini  layaknya kuburan...sunyi seperti tak berpenghuni semenjak kedatangan tante Elis....dan sekarang satu-satunya cara untuk mengembalikan keceriaan itu hanya dengan menuruti keinginan ayah-nya....memakan Buah itu, walau akan meracuni  hati-nya.
Menjelang pukul 5 subuh, Linda sudah berdiri di depan kamar ayah dan ibu-nya dan mengetuk pintu....Selang beberapa saat, ibu-nya bangun dan membukakan pintu....
Ibu memperhatikan wajah Linda sejenak  yang walau bibir-nya tersenyum namun kepedihan hati-nya tergambar  jelas di matanya.  Dengan refleks,   ibu memeluk anak gadis-nya itu erat-erat membuat tangis  Linda  hampir saja pecah di dalam kamar orang tua-nya kalau saja dia tidak berusaha menahannya....
"mama...bangunkan papa sebentar.....Linda ingin bicara sama papa.." Kata Linda dengan suara sedikit serak..
Ayah yang sudah sejak tadi sadar, hanya membalikkan posisi badan-nya menghadap ke arah Linda....
"Bagaimana keputusan kamu Lin...." Tanya ayah.
"Sudah saya putuskan Pa....bahwa demi mama, dan demi keutuhan keluarga kita....saya menerima dijodohkan dengan Randy..."  Kata Linda  datar.
"Oke..terima kasih sayang atas keputusan bijakmu itu.....papa akan menghubungi tante Elis sekarang...dan kemungkinan besar kalian akan menikah di akhir bulan ini.."  Kata ayah dengan penuh semangat sambil beranjak turun dari ranjang-nya.
"Iya Pa...." 
Jawab Linda singkat lalu keluar meninggalkan kedua orang tua itu dan bergegas menuju kamar-nya...dan menangis lagi....
..............................................................
Pernikahan Linda dan Randy sudah disepakati dan waktunya tinggal menghitung hari.....Saat-saat  di mana seorang calon mempelai wanita plus calon istri  di buat sibuk   dengan segala macam  persiapan diri   menghadapi pernikahan dan suasana rumah tangga baru-nya nanti.... Namun yang terjadi justru di luar kendali Linda....Hati-nya mengkhianati keputusan dari mulut-nya sendiri.  Semakin Linda memikirkan pernikahan itu, semakin jelas pula di mata-nya  bayangan Anton. ....bahkan berulang kali di mimpi-nya,  nampak Linda begitu bahagia  bersanding dengan Anton di pelaminan.
Linda mulai yakin dengan bisik-kan hati kecil-nya yang selama ini sering membuat-nya menangis....bahwa fenomena yang dia alami yang terjadi di luar naluri ini,  bisa saja merupakan suatu pertanda jika Anton masih menggenggam erat cinta,  janji , dan impian mereka.
Mungkin saja ada hal-hal lain yang membuat Anton hilang kabar....Lagi pula Linda mengenal pasti Anton luar dalam,  karena mereka sudah bersama bertahun-tahun dan dia percaya Anton kekasih-nya itu sangat menjunjung tinggi kesetiaan.
Diam-diam Linda mempersiapkan rencana  cadangan......
Sementara sanak famili-nya mempersiapkan segala tetek bengek keperluan pernikahan yang sisa 8 hari lagi,   Linda malah sibuk mengemas pakaian dan barang-barang-nya yang lain untuk keperluan Rencana Cadangan mustahil-nya itu.
Dalam hati-nya terselip secercah harapandalam rencana cadangan-nya  itu....
" Jika nanti Anton Pulang  sebelum Dia dan Randy tiba di depan Altar Gereja...Rencana cadangan itu akan berlaku.... dan Dia akan lari bersama Anton kekasih-nya pergi jauh dari kota ini..."
.............................................................
Suasana rumah penampungan pekerja sore ini terlihat ramai....Generator listrik yang biasa dinyalakan setiap jam 7 malam,  sudah on sejak jam 3 petang tadi....Di depan bilik Anton sudah tersedia beberapa buah speaker besar...
Malam ini Anton  mengadakan Pesta perpisahan dengan teman-teman-nya, karena minggu depan Anton akan  pulang kampung...
7 Hari berlalu....
Anton tidak dapat menyembunyikan keceriaan-nya ketika berada di atas pesawat yang akan membawa dia terbang menuju kota kelahiran-nya itu.....Hati-nya berdebar-debar karena sebentar lagi kekasih-nya pasti meloncat kegirangan dengan "Kejutan" yang sudah dia rencanakan selama ini.
Padahal...berulang kali Anton nyaris menggagalkan rencana-nya  itu setiap kali rasa rindu mendesak-nya untuk memanggil Linda...Tapi dia berusaha memendam rasa itu demi kejutan yang sudah dia rencanakan...
Ternyata Anton Keliru.....
Anton terlalu fokus dengan kejutan itu  sampai dia  lupa kalau janji-nya dulu kepada Linda  sudah melewati batas waktu......
..........................................................
Linda dengan berat hati membiarkan Randy menggenggam jemari tangan-nya ketika memasuki halaman gedung Gereja....Hati-nya mendidih....ingin sekali dia menampar wajah pria berkaca mata minus yang berani menyentuh jemari tangan-nya itu,   kalau saja  dia tidak ingat kehormatan keluarga, terutama ibu-nya.
Busana pengantin yang bernilai puluhan juta itu terasa seperti sampah yang membungkus tubuh-nya.
Beberapa menit kemudian...Janji suci  pun ter-lontar dengan pasti dari mulut ke-2 mempelai itu....
Linda berderai air mata ketika mengucapkan janji itu yang diulang beberapa kali karena dia tidak sempat menghafal nya.
Berbarengan dengan Linda mengucap janji sehidup-semati-nya kepada Randy.....Anton menginjakkan kaki  di halaman rumah-nya dan membuat kaget orang-orang penghuni  rumah dan tetangga-tetangga-nya.
Setelah berjabatan tangan dan berpeluk-pelukan dengan orang-orang dekat-nya...Salah satu teman dekat yang juga tetangga Anton,  datang menghampiri Anton dan membisikkan sesuatu yang membuat wajah Anton tiba-tiba berubah  Pucat.....
Dengan kecepatan tinggi Anton memacu motor-nya menuju Gereja tempat dilangsungkannya kebaktian pemberkatan Nikah Linda dan Randy....
 Anton berjalan dengan langkah gontai memasuki gedung Gereja itu.....Mata-nya terasa panas ketika melihat wanita pujaan hati-nya bersanding dengan pria lain di depan Altar Gereja.
Anton hanya tertunduk dan menangis....Semua perjuangan-nya untuk Cita dan Cinta mereka itu, kini hancur,  sia-sia dan tak berujung....
Tiga menit kemudian kebaktian pun berakhir.......Mata Anton tertuju kepada Linda yang terus saja menundukkan kepala-nya meski sementara di-gandeng mesra suami-nya Randy.
Di saat Pasangan pengantin itu hampir mendekati pintu keluar Gereja, Tiba-tiba suatu suara memanggil nama Linda....
Linda sontak mengangkat kepala-nya dan mencari-cari dari mana asal suara yang serasa tidak asing bagi pendengaran-nya itu....
"Anton......." 
 Linda dengan spontan menyebut nama itu, Lalu dengan sedikit paksa melepaskan genggaman tangan Randy...dan berlari menghamburkan diri-nya di peluk-kan Anton.....Pelukan  itu yang selama bertahun-tahun membuat-nya merasa nyaman dan ter-lindung.....Pelukan yang di dalamnya dia menemukan arti diri-nya...
Selama beberapa saat  kedua insan itu saling berpelukan dan menangis... Tak ada seorang pun yang  mencegah Linda berlama-lama memeluk Anton....Mereka yang hadir di situ, seakan terbius dan turut larut menyaksikan pertemuan memilukan itu.
Sahabat-sahabat Anton dan Linda semasa sekolah yang sempat hadir di kebaktian pemberkatan Nikah Linda saat itu pun  tak luput dihinggapi rasa Haru yang amat sangat....bahkan ada yang sampai menitikkan air mata. 
Linda kemudiaan mengangkat kepala-nya dari bahu Anton.....Sejenak mereka saling bertatapan ...di wajah  mereka terukir  kesedihan yang teramat sangat....
"Maafkan saya sayang....Saya masih sangat mencintai kamu...saat ini dan bahkan sampai mati.....
Seandainya kamu datang 15 Menit yang lalu...Mungkin cerita-nya pasti berbeda.....
Selamat berpisah sayang....semoga kamu mendapatkan yang  lebih baik dari saya...."
Kata Linda lirih  diakhiri dengan satu kecupan lembut di kening Anton...
Sambil menangis, Linda berpaling dan melangkah pergi bersama suami-nya, meninggalkan Anton yang  masih tertunduk meratapi nasib-nya yang malang.
.................................................... 
Anton dengan mata sembab, pergi dari rumah ke rumah mengunjungi  sahabat sahabat dan sanak keluarga-nya....berjabatan tangan dan berpelukan dengan mereka satu persatu....
Keluarga dan sahabat-sahabat Anton menganggap yang dilakukan Anton itu sesuatu yang wajar sebagai tanda perjumpaan setelah berpisah sekian tahun lama;nya....
Namun di luar dugaan mereka, Anton justru melakukan itu untuk 2 maksud sekaligus....
Jabatan tangan dan pelukan Anton itu sebagai tanda pertemuan sekaligus Ucapan Pamit......
 Anton langsung  pulang hari itu juga, tanpa meninggalkan janji untuk kapan nanti dia akan kembali  lagi ...
Harapan dan impian-nya kini musnah sudah....Dan dia tidak ingin tinggal lebih lama di sini menyaksikan puing-puing keindahan cinta-nya  yang dulu begitu gigih dia perjuangkan.
Pesawat terakhir malam itu membawa Anton pulang....kembali kepada kehampaan... membentuk  lagi  mimpi-mimpi-nya...walau kali ini untuk tujuan yang berbeda....
Waktu mungkin mampu membalut luka-nya....namun tidak akan bisa menghapus satu nama di hati-nya....
Nama itu akan terus hidup di hati-nya...sampai raga menyatu dengan tanah....
Irama instrumen  Forever in Love  mengalun lembut di dalam pesawat itu,  semakin  menerbangkan lamunan Anton  terbang jauh  mengembara ke masa-masa indah dulu....Yang kini tersisa kepingan-kepingan Kenangan......
Walau kini mereka menempuh Jalan yang Berbeda...Tapi  hati mereka takkan pernah terpisahkan oleh ruang dan waktu.......

Lantunan  merdu Saxophone Kenny G, membawa Anton ke Alam Mimpi....
Mimpi.....
ya,  mimpi.....
Mungkin di sana ...di Alam itu... mereka  bisa bertemu dan menelusuri  kembali jejak-jejak Cinta  mereka berdua,  yang kian pudar  tertutup dedaunan kering........
 ..................................................
Tamat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar di sini

Post Top Ad

Your Ad Spot

Pages