Banyak pasangan pernikahan yang terjebak dalam dinamika hubungan yang rumit. Hal ini umumnya disebabkan oleh kesalahan saat memilih pasangan.
Beberapa di antaranya bahkan tidak sempat menjalani masa pacaran yang sejatinya sangat dianjurkan sebelum memasuki jenjang yang lebih serius (pernikahan).
Sebagian lainnya dipepet oleh usia yang mungkin tidak lagi muda, sehingga terkesan pasrah menerima "siapa saja" pasangannya asalkan serius. Tanpa mempedulikan kriteria seperti apa pasangan yang akan bersamanya menghabiskan tahun tahun sisa hidupnya.
Pasangan pasangan seperti ini pada akhirnya terperangkap dalam situasi hubungan yang buruk, dimana pertengkaran pertengkaran yang terjadi tidak mampu mereka selesaikan.
Jadi, sebelum menikah, cobalah membuat seperangkat kriteria pasangan hidup berdasarkan gaya hidup yang kamu jalani.
Beberapa kriteria berikut ini mungkin sangat penting untuk kamu perhatikan dalam memilih pasangan hidup.
Umur
Dalam memilih pasangan hidup, hal pertama yang mesti dipertimbangkan adalah perbedaan umur. Semakin jauh perbedaan umur, semakin kompleks masalah yang bakal timbul, yang bisa jadi berujung pada perselingkuhan dan perceraian.
Pasangan beda usia jauh, terkadang problem pertama yang dihadapi adalah gunjingan atau pembicaraan negatif dari orang orang sekitar.
Selain mendapat stigma negatif dari orang orang sekitar, pasangan beda usia jauh juga sangat rentan terhadap gejolak emosional yang tidak stabil. Hal ini karena pasangan beda usia jauh kemungkinan menjalani fase hidup yang berbeda.
Selain mendapat stigma negatif dari orang orang sekitar, pasangan beda usia jauh juga sangat rentan terhadap gejolak emosional yang tidak stabil. Hal ini karena pasangan beda usia jauh kemungkinan menjalani fase hidup yang berbeda.
Jika kamu seorang wanita, menikahi pria yang jauh lebih tua, maka bersiap siaplah menerima konsekuensi yang kemungkinan menguras tenaga dan emosi kamu.
Sebab selain dua hal di atas, beberapa masalah lain dari pasangan kamu sementara mengantre, semisal, penurunan stamina, gangguan kesehatan, bahkan kematian yang datang lebih cepat.
Sebab selain dua hal di atas, beberapa masalah lain dari pasangan kamu sementara mengantre, semisal, penurunan stamina, gangguan kesehatan, bahkan kematian yang datang lebih cepat.
Terlepas dari masalah masalah di atas, tidak tertutup kemungkinan jika pasangan beda umur jauh, bisa saja "berhasil" mempertahankan keharmonisan rumah tangga mereka.
Hal ini tidak mustahil apabila pasangan tersebut terus memupuk dan mengembangkan persahabatan, cinta dan kasih sayang, serta menjalani visi bersama.
Hal ini tidak mustahil apabila pasangan tersebut terus memupuk dan mengembangkan persahabatan, cinta dan kasih sayang, serta menjalani visi bersama.
Agama
Dalam agama mana pun sangat tidak dianjurkan untuk menikah dengan orang yang berbeda keyakinan.
Konflik akibat perbedaan agama dalam keluarga merupakan masalah yang tidak terpecahkan hingga saat ini, menurut pakar konflik rumah tangga.
Dalam suatu hubungan__pacaran atau pun pernikahan, perbedaan yang lain masih bisa dimaklumi, tetapi berbeda agama sangat tidak direkomendasi-kan untuk dijalani.
Prinsip hidup
Banyak hubungan pernikahan yang ketika terjadi konflik, sangat sulit menemukan alasan yang hakiki untuk menata atau membangun kembali hubungan.
Masalahnya terletak pada kedua individu tersebut yang kemungkinan membangun hubungan tanpa memiliki visi yang menjadi tujuan bersama.
Ketiadaan visi dalam suatu hubungan pernikahan sering terjadi karena perbedaan prinsip yang sangat ekstrem sejak awal.
Perbedaan prinsip ini, jika masih dalam taraf biasa biasa saja mungkin masih bisa disesuaikan. Tetapi apabila prinsip hidup masing masing berseberangan terlalu jauh, maka ada baiknya dipertimbangkan matang matang kelanjutan hubungan tersebut.
Finansial
Uang adalah pemicu konflik nomor satu dalam rumah tangga.
Pasangan hidup yang memiliki perbedaan finansial (miskin vs kaya), sangat rentan mengalami konflik, yang memungkinkan hubungan pernikahan tersebut bisa berubah makna. Dari semula pasangan suami istri, menjadi hamba dan tuan.
Pada artikel sebelumnya, saya mengemukakan bahwa, ada kalanya pria yang merasa dirinya "kurang'', akan cenderung berusaha mendekorasi diri dengan kekayaan atau karir/pekerjaan, lantas menjadikan wanita sebagai aksesoris-nya.
Materi memang memiliki peranan penting dalam kehidupan suatu rumah tangga, apa lagi jika kamu sebagai wanita. Memiliki pasangan yang mapan secara finansial, mungkin salah satu impian terbesar setiap wanita. Akan tetapi, sebaiknya pertimbangkan matang matang, sebab materi bisa saja sekali kelak menjauhkan mu dari kebahagiaan dan keharmonisan hidup.
Suku, Ras
Memiliki pasangan yang berbeda suku atau ras itu could be fun. Akan tetapi pasti saja ada kesalahpahaman dan negative thinking sangat mudah hinggap dalam rumah tangga.
Dalam budaya ketimuran, pernikahan itu bukan hanya antara 2 orang, melainkan 2 keluarga besar mereka.
Meskipun kamu lebih tertarik memiliki pasangan hidup dari suku atau ras yang berbeda karena tergiur dengan istilah perbaiki keturunan, akan tetapi pertimbangkan, dan persiapkan diri kamu sebaik dan sekuat mungkin menghadapi konsekuensi dari pilihan tersebut.
Perbedaan pendidikan
Meskipun kemungkinan terjadinya konflik dalam hubungan terbilang tidak begitu fatal, namun perbedaan pendidikan yang sangat jauh bisa mengganggu keharmonisan dalam rumah tangga.
Komunikasi dalam suatu hubungan pernikahan sangat penting. Sebab itu perbedaan pendidikan bisa memungkinkan terjadinya salah pengertian yang memicu terjadinya konflik.
Memilih pasangan hidup yang berbeda dengan kamu dalam kadar tertentu memang baik, karena membuat kita berkembang lebih jauh, beradaptasi dan berkompromi lebih banyak. Namun tatkala perbedaan yang ada seperti bumi dan langit, bisa menjadi bencana dalam pernikahan di kemudian hari.
©2019 Mutis.com


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar di sini