![]() |
| Referensi foto: iotforall.com |
Faktanya, sejarah dipenuhi dengan kelebihan kelebihan teknologi yang secara terus menerus mengubah peradaban manusia dari waktu ke waktu.
Dan tentunya, semua itu merupakan produk produk dari kecerdasan.
Konsistensi teknologi mengalami perkembangan pesat seiring zaman berganti, dan sadar atau pun tidak, terobosan demi terobosan dari kecerdasan sebentar lagi akan membawa kita memasuki peradaban baru, yakni penciptaan mesin super cerdas, atau teknologi yang saat ini dikenal dengan istilah Artificial Intelligence (AI).
Artificial intelligence, atau dalam bahasa kita disebut kecerdasan buatan, adalah teknologi yang diyakini banyak pakar sebagai teknologi paling mutakhir yang akan mengubah sejarah peradaban manusia.
Di sini, saya bukan asal menulis ide dari hasil khayalan sendiri, karena sejatinya, untuk saat ini kita sementara menggunakan teknologi Artificial Intelligence tersebut meski pun masih dalam taraf AI sempit ( AI lemah ), yaitu sistem yang dirancang untuk mengerjakan hal hal sempit.
Dari AI sempit ini, kita mengenal Google Searching, atau yang sering kamu sebut mbah/om Google, sistem pengenalan wajah, dan car driving__ teknologi yang tersemat pada mobil mobil canggih tertentu.
Pada beberapa dekade lalu, para pakar teknologi berpikir jika Artificial Intelligence hanya berupa fiksi ilmiah, yang mustahil untuk diwujudkan. Namun, melihat perkembangan teknologi pada 5, 6 tahun belakangan ini, banyak kalangan di antara ahli ahli sains tersebut merasa optimis akan penciptaan AI umum ( AI kuat ), dan tentunya kita sementara berada pada ambang pintu peradaban baru, dengan teknologi baru yang revolusioner.
Dikatakan revolusioner oleh karena sistem ini dapat melakukan perbaikan diri secara rekursif, yang berpotensi memicu ledakan kecerdasan, sehingga membuat kecerdasan manusia tertinggal jauh di belakang.
Penciptaan teknologi AI yang kuat tersebut jika berhasil, maka hal ini akan menjadi peristiwa terbesar dalam sejarah manusia.
AI yang super cerdas ini dipercaya dapat membantu kita memberantas perang, penyakit, dan kemiskinan. Namun dibalik sisi menguntungkannya, banyak orang, terutama dari kalangan ahli ahli teknologi dan sains seperti Stephen Hawking, Elon Musk, Bill Gates, dll, merasa prihatin dengan dampak buruk yang akan ditimbulkan dari teknologi tersebut.
Artificial Intelligence bukan hanya sekadar memiliki dampak buruk seperti teknologi lainnya, namun banyak kalangan merasa khawatir jika teknologi AI akan menjadi ancaman serius bagi posisi manusia sebagai makhluk paling cerdas di planet ini.
Para peneliti AI berpendapat bahwa AI super intelligence tidak mungkin memiliki perasaan manusia seperti cinta dan benci. Tetapi karena AI akan menjadi lebih cerdas dari manusia mana pun, maka kita tidak akan bisa memprediksi bagaimana ia akan berperilaku.
Salah satu prediksi skenario buruk yang bakal terjadi jika penciptaan Artificial Intelligence kuat berhasil, yakni jika AI diprogram untuk membunuh.
Di tangan yang salah, AI bisa menimbulkan kehancuran fatal: pembuatan senjata otonom.
Perlombaan senjata otonom dapat memicu terjadinya perang senjata super cerdas yang tentunya akan menimbulkan korban massal. Karena untuk menghindari digagalkan musuh, senjata senjata AI pasti akan dirancang agar sangat sulit dimatikan, sehingga memungkinkan senjata tersebut tidak dapat dikendalikan, bahkan oleh si pembuat senjata itu sendiri.Selain diprogram untuk membunuh, AI juga bakal menimbulkan dampak buruk terhadap dunia kerja.
Di masa lalu, kemajuan teknologi secara konsisten menghasilkan lebih banyak lapangan kerja baru daripada pekerjaan yang dihilangkan. Namun masa lalu tetap lah masa lalu dan hanya akan menjadi cerita usang, ketika robot robot AI mulai mengambil alih semua pekerjaan manusia.
Meskipun saat ini teknologi Artificial Intelligence masih berupa AI sempit, tetapi di negara negara maju seperti China dan Jepang, dapat kita lihat robot robot sudah mulai menggantikan peran manusia dalam beberapa kategori pekerjaan.
Beberapa peneliti memperkirakan bahwa pada tahun 2030, otomatisasi (robot AI) akan menggantikan peran 400-800 juta orang, dan individu individu tersebut harus mempelajari keterampilan baru agar bisa mencari kategori pekerjaan lain.
Dengan terciptanya AI kuat, dan pengaruhnya terhadap dunia kerja, kemungkinan akan menjadi ancaman serius bagi masa depan manusia.
Banyak orang, khususnya anak anak muda akan kehilangan motivasi belajar dan berusaha. Mereka akan berpikir bahwa, untuk apa berjuang keras untuk mendapatkan nilai A di Universitas kalau pada akhirnya akan kalah dari computer.
Secara pribadi, saya merasa prihatin. Bagaimana nanti anak anak muda kita menyongsong teknologi AI super intel, jika mereka tidak mempersiapkan diri sebaik dan sedini mungkin.
Banyak anak anak muda, khususnya di daerah saya, pengetahuan mereka terhadap teknologi masih sangat terbatas. Umumnya, mereka justru sibuk sebagai "user" aplikasi sosial media tanpa pernah berusaha mencari tahu bagaimana mekanisme teknologi pada aplikasi aplikasi tersebut.
Pada kurun waktu 10 atau 20 tahun mendatang, kehadiran AI super intelligence akan seperti serangan mendadak yang membuat mereka kelabakan, dan saya yakin, mereka akan kalah bersaing lantas disingkirkan oleh mesin super cerdas!
Otomatisasi dipastikan akan sangat menguntungkan bagi pemilik perusahaan. Sebab, selain lebih cerdas, robot lebih produktif: robot tidak ada rehat minum, tidak ada hari libur, tidak mengeluh sakit, tidak selalu minta cuti dengan alasan urusan keluarga, dan tidak melakukan aksi mogok kerja untuk menuntut kenaikan gaji.
Hal ini bisa dikatakan bencana bagi dunia kerja dan budaya perusahaan, dimana pahlawan bukan lagi manusia tetapi computer.
Pada tulisan ini, saya berasumsi, bahwa dengan hadirnya otomatisasi dari teknologi Artificial Intelligence, serta pengaruhnya pada dunia kerja, bukan lagi dianggap sebagai kompetensi, tetapi hal ini mengarah pada upaya menyingkirkan peran manusia yang sejatinya adalah yang paling cerdas, dan pemegang kendali planet ini.
Kecerdasan Buatan (AI ) pada intinya berpotensi besar untuk mengembangkan peradaban kita lebih maju dari sebelumnya. Akan tetapi teknologi AI bisa menguntungkan selama kita mampu mengendalikan kekuatan teknologi dan menyelaraskan-nya dengan kebijakan yang kita kelola.
Jika tidak, maka kita sebagai manusia akan tersingkir oleh produk dari kecerdasan kita sendiri.
©2019 Jurnal Beta


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar di sini