Segala hal yang terjadi dalam kehidupan seseorang, sebagian besar disebabkan oleh kebiasaan hidup orang tersebut. Kebiasaan hidup kamu saat ini, berpotensi menentukan akan seperti apa kehidupan kamu pada masa yang akan datang.
Memiliki kebiasaan hidup spiritual yang baik pun adakalanya tidak selalu bisa kamu jadikan jaminan akan kehidupan yang berkelimpahan berkat, apabila kamu keliru mengimplementasikan iman dalam kehidupan sehari hari.
Sehingga terkadang kamu merasa kecewa melihat orang lain yang hidupnya terkesan jauh dari Tuhan, tetapi diberkati kemakmuran dalam segala hal.
Alih alih mengintrospeksi diri, kamu justru berbalik dan mempersalahkan Tuhan dengan dalih, sudah setia beribadah, rajin berdoa dan membaca Alkitab, tetapi kehidupan kamu seperti kapal karam.
Terdengar familiar kan?
Tunggu!
Mungkin ada beberapa hal yang kamu lewatkan, sehingga doa dan usaha usahamu seperti menjaring angin.
Padahal bisa jadi berkat berkat yang sudah "di-paket" spesial untuk kamu, sementara antri
menunggu dibalik pintu yang terkunci oleh kebiasaan kebiasaan kamu sendiri.
Nah, ini dia 4 kebiasaan yang mungkin menurut kamu sepele, tetapi justru hal hal itulah yang memblokir berkat berkat kamu.
Penghambat berkat 1: Keliru menafsirkan Firman Tuhan
Nah, ini dia 4 kebiasaan yang mungkin menurut kamu sepele, tetapi justru hal hal itulah yang memblokir berkat berkat kamu.
Penghambat berkat 1: Keliru menafsirkan Firman Tuhan
Apabila seseorang salah menafsirkan Firman Tuhan, lantas membangun opini berdasarkan pemahaman tafsiran-nya tersebut, maka sudah pasti orang itu akan tersesat.
Kebiasaan memilah pilah isi Alkitab merupakan sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan umum hampir semua orang Kristen Sedangkan Alkitab memiliki ayat ayat yang kedengaran berlawanan makna.
Sebagai contoh, ada ayat tertentu yang mengecam keras kemalasan, sedangkan pada ayat yang lain kedengaran seakan memanjakan orang malas, kalau tidak salah bunyi ayat tersebut seperti ini:"Hiduplah untuk hari ini, sebab hari esok mempunyai kesusahannya sendiri".
Sementara pada kasus lain, beberapa orang justru terlena dengan asumsi berdasarkan suntikan pemahaman dari pendeta/pastor yang kurang cermat memberi pencerahan: bahwa menjadi Kristen harus menderita. Sehingga orang orang tersebut terkesan menikmati kemelaratan.
Jika kamu salah satu dari orang orang yang saya maksudkan di atas, maka tulisan ini hendaknya menyadarkan kamu dari kekeliruan.
Ayat Alkitab dan asumsi di atas tak seharusnya kamu jadikan alasan atas kemalasan kamu berusaha.
Tuhan menghendaki kita agar hidup dalam kelimpahan.
Orang orang kesayangan Tuhan pada masa lalu yang hampir semuanya hidup dalam kelimpahan berkat, bisa menjadi standar untuk mengubah kebiasaan hidup yang sebenarnya berdasarkan kekeliruan kamu mengimplementasikan Firman Tuhan.
Penghambat berkat 2: Ketidaktaatan
Sementara pada kasus lain, beberapa orang justru terlena dengan asumsi berdasarkan suntikan pemahaman dari pendeta/pastor yang kurang cermat memberi pencerahan: bahwa menjadi Kristen harus menderita. Sehingga orang orang tersebut terkesan menikmati kemelaratan.
Jika kamu salah satu dari orang orang yang saya maksudkan di atas, maka tulisan ini hendaknya menyadarkan kamu dari kekeliruan.
Ayat Alkitab dan asumsi di atas tak seharusnya kamu jadikan alasan atas kemalasan kamu berusaha.
Tuhan menghendaki kita agar hidup dalam kelimpahan.
Orang orang kesayangan Tuhan pada masa lalu yang hampir semuanya hidup dalam kelimpahan berkat, bisa menjadi standar untuk mengubah kebiasaan hidup yang sebenarnya berdasarkan kekeliruan kamu mengimplementasikan Firman Tuhan.
Penghambat berkat 2: Ketidaktaatan
Ada begitu banyak kisah kehidupan hamba hamba Allah pada masa lampau yang oleh karena ketaatan, mereka bisa hidup berlimpah kekayaan materi. Salah satu pola hidup hamba Allah yang bisa kamu jadikan referensi yakni Abraham.
Totalitas ketaatan yang ditunjukkan Abraham membuat beliau diberkati secara luar biasa.
Tidak mustahil untuk memiliki kehidupan berlimpah berkat seperti Abraham. Tentunya dengan satu syarat: taat secara total!
Ketaatan di sini tidak cukup hanya dengan setia beribadah, rajin berdoa, atau pun rutin memberi perpuluhan.
Ada begitu banyak problematika kehidupan yang terkadang memaksa kita melakukan hal hal yang menyeleweng dari kehendak Allah.
Ketidaktaatan meski dalam hal sekecil apa pun itu, bisa saja membuat kamu menjadi terbiasa. Padahal dari kebiasaan yang kamu anggap sepele itulah penyebab terhambatnya berkat berkat sudah disediakan kamu.
Penghambat berkat 3: Pelit
Jika kamu cukup sering membaca Alkitab, sudah pasti kamu tahu tentang hukum memberi dan menerima.
Setiap kali kamu memberi dengan tulus ikhlas, Tuhan akan memperhitungkannya. Tetapi apa yang terjadi jika kamu pelit? Pintu berkat akan tertutup bagimu.
Hal ini tentu menjadi ironi bagi kehidupan kerohanian kamu, apabila kesetiaan kamu dalam menjalani kewajiban agama sudah begitu baik, namun di sisi lain, kamu mengabaikan salah satu faktor paling krusial yang tanpa sadar justru memblokir berkat berkat kamu sendiri, yakni memberi.
Penghambat berkat 4: Enggan mengakui dosa
Dalam beberapa kesempatan, mendiang ayah saya pernah berkata; bahwa salah satu penghalang yang membuat doa doa kita tidak terdengar (terkabul) adalah dosa dosa kita sendiri.
Tidak tertutup kemungkinan, apabila kamu pernah beberapa kali mengakui dosa dan kesalahan diri. Akan tetapi karena hal itu sudah menjadi kebiasaan, lantas kamu mengulangi lagi dosa dosa itu terus menerus.
Seribu kali kamu mengakuinya, tetapi selama tidak ada pertobatan, maka kamu sejatinya tidak memiliki harapan apa pun.
Dalam hal ini, harapan untuk memiliki kehidupan yang berkelimpahan berkat, tidak akan kamu gapai, selama kamu masih enggan mengakui dosa dosa kamu lantas menindak-lanjutinya dengan pertobatan.
Jadi, andai kata kehidupan yang kamu jalani layaknya kapal karam yang saya maksudkan pada judul artikel ini, atau mirip istilah sadis yang sering saya dengar: "hidup segan, mati tak mau", maka mulai lah introspeksi. Sebab, mungkin saja dari ke-4 poin di atas, salah satu masih menjadi kebiasaan hidupmu.
Jadi, andai kata kehidupan yang kamu jalani layaknya kapal karam yang saya maksudkan pada judul artikel ini, atau mirip istilah sadis yang sering saya dengar: "hidup segan, mati tak mau", maka mulai lah introspeksi. Sebab, mungkin saja dari ke-4 poin di atas, salah satu masih menjadi kebiasaan hidupmu.
Adalah keliru jika para pendeta atau pastor melihat kemelaratan hanya semata dari perspektif rohani, lantas memotivasi kamu dengan kata hiburan bahwa mengikut Tuhan harus menderita. Menderita dalam hal apa? Sedangkan Tuhan menghendaki kita agar hidup berkelimpahan berkat, sama halnya hamba hamba-Nya terdahulu.
Prosedur untuk kehidupan yang diberkati secara luar biasa adalah bagaimana kamu bisa menjalani hidup sesuai dengan kehendak Allah.
©2019 Jurnal Beta


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar di sini