Setiap akhir tahun, setiap orang tentu bergulat dengan pergumulan pergumulan terkait rencana, impian, target, serta harapan harapan yang bisa dicapai pada tahun yang baru nanti.
Tak terkecuali para kaum lajang, yang tentunya sementara bergelut dengan beragam problematika yang bisa dibilang sangat kompleks pasangan hidup, salah satunya.
Tak terkecuali para kaum lajang, yang tentunya sementara bergelut dengan beragam problematika yang bisa dibilang sangat kompleks pasangan hidup, salah satunya.
Terlepas dari seperti apa kriteria pasangan hidup idaman, dalam usaha menemukan belahan jiwa, setiap orang selalu diperhadapkan "hanya" pada dua pilihan; bertahan dalam kesendirian sementara menunggu datang yang terbaik, atau terus mencoba mencintai meski selalu mengalami siklus yang sama: jatuh pada pelukan orang yang salah dan gagal.
Menunggu yang terbaik sering kali dilatar-belakangi oleh dua alasan; ⓵. Selalu mengalami siklus yang sama seperti yang saya sebutkan di atas, dan ⓶. Kriteria.
Adakalanya saya mengagumi konsep cinta beberapa orang yang bertahan dalam kesendirian hanya untuk menunggu yang terbaik.
Mereka umumnya beranggapan bahwa tidak ada gunanya menginvestasikan waktu, tenaga, pikiran, dan perasaan pada orang yang salah, karena siapa pun pasti tau akibat dari patah hati.
Sebagian lainnya memilih untuk menunggu yang terbaik dikarenakan terpaku pada syarat syarat pasangan ideal masa depan yang sudah begitu dalam tertanam di benak. Bahwa “dia harus jujur, peduli, bertanggung jawab, pengertian,kaya, pekerja keras, lucu, tidak memiliki kebiasaan buruk, dll. Atau, “dia harus cantik, perawan, sederhana, cerdas, sopan, baik hati, penuh kasih, feminim, dll.
Padahal kita semua tahu, tidak ada seorang pun yang sempurna. Tetapi terkadang ketika memilih pasangan hidup, banyak orang melupakan fakta ini, dikarenakan terbuai oleh ilusi kesempurnaan.
Menunggu yang terbaik hanya karena alasan syarat syarat atau kriteria pasangan ideal yang sudah kamu patok adalah prinsip yang menyesatkan.
Terkadang kamu termakan oleh kebohongan bahwa "yang terbaik(sempurna) itu sepadan dengan menunggu".
Pada kenyataannya, orang yang sempurna, dan hubungan yang sempurna itu, sebenarnya tidak ada! Kesempurnaan hanyalah cerminan ketidak-sempurnaan yang diterima oleh kedua pasangan untuk mendefinisikan kesempurnaan mereka sendiri.
Jika menurut kamu, menunggu yang terbaik adalah pilihan paling bijak yang bisa menyelamatkan kamu dari rasa sakit dan kegagalan, maka di sini saya ingin mengajak kamu untuk mencoba melihat sekilas alasan kamu itu dari sisi yang berlawanan.
Kegagalan, kekecewaan, dan patah hati, terkadang membuat beberapa orang kapok dan tidak ingin mencintai lagi. Sayangnya, mereka melewatkan kesempatan untuk belajar dan berkembang.
Jika menurut kamu, menunggu yang terbaik adalah pilihan paling bijak yang bisa menyelamatkan kamu dari rasa sakit dan kegagalan, maka di sini saya ingin mengajak kamu untuk mencoba melihat sekilas alasan kamu itu dari sisi yang berlawanan.
Kegagalan, kekecewaan, dan patah hati, terkadang membuat beberapa orang kapok dan tidak ingin mencintai lagi. Sayangnya, mereka melewatkan kesempatan untuk belajar dan berkembang.
Dalam suatu hubungan, apakah baik atau buruk, mengajarkan kita pelajaran hidup yang bijak; untuk bisa bersabar, menerima, berempati, dan memahami orang lain__ untuk mencintai tanpa syarat, dan untuk berkompromi.
Tetap memilih hidup melajang dalam ketakutan akan risiko mencintai, sama halnya menolak pergi bekerja karena kamu takut jangan sampai akan mengalami kecelakaan di jalan.
Kita sering membatasi diri dari sejumlah pengalaman dalam hidup dengan tujuan untuk menghindari rasa sakit,kehilangan dan kegagalan. Tetapi,ide ide yang membatasi ini justru hanya menghambat kita dari peluang.
Risiko adalah bagian dari hidup kita.
Semakin kita mengambil risiko, semakin besar kita terekspos pada kemungkinan kegagalan tentunya. Namun ingat, resiko juga bisa mendekatkan kita pada kemungkinan keberhasilan yang sama.
Berulang kali jatuh pada pelukan orang yang salah, itu tidak apa apa. Kesalahan dalam mencintai, menurut saya merupakan sesuatu yang positif.
Berulang kali jatuh pada pelukan orang yang salah, itu tidak apa apa. Kesalahan dalam mencintai, menurut saya merupakan sesuatu yang positif.
Di sini saya tidak bermaksud untuk merusak, atau mengacaukan komitmen kamu untuk seseorang sebagai satu satunya pilihan. Tetapi sekali ini, cobalah mempertimbangkan gagasan saya, bahwa pada setiap pengalaman tersingkap banyak hal luar biasa tentang diri sendiri.
Apabila kamu tidak terjatuh dan kotor, kamu tidak akan pernah menemukan kebenaran sejati tentang dirimu sendiri yang kamu tidak sadari.
Cinta sejati tidak datang begitu saja.
Cinta sejati tidak datang begitu saja.
Kamu harus mengerjakannya sendiri, kamu harus tersesat di jalan, kamu harus gagal, kamu harus melewati beberapa ujian diri, kamu harus merasakan rasa sakit dari hati yang hancur.
Berulang kali jatuh ke pelukan orang yang salah, patah hati, kecewa dan gagal dalam mencintai adalah suatu pengalaman transformatif.
Sebab, untuk menemukan orang yang tepat dan benar benar cocok dengan kamu, tentunya kamu harus melalui beberapa anak tangga; berulang kali jatuh ke pelukan orang yang salah, dan membuat koneksi dengan orang-orang yang bukan tipe kamu.
Bersama orang yang salah mengajari kamu apa yang tidak diinginkan, apa yang perlu kamu hindari, batasan yang perlu kamu tetapkan, dan hal hal yang tidak layak diterima.
Salah memilih pasangan hanya akan menentukan bagi kamu pasangan yang tepat.
Setiap kesalahan adalah pembelajaran. Sebab itu, jangan pernah berhenti belajar karena hidup tak akan pernah berhenti mengajar.
Salam damai Natal, dan selamat menyongsong tahun baru. Good Luck...
Bersama orang yang salah mengajari kamu apa yang tidak diinginkan, apa yang perlu kamu hindari, batasan yang perlu kamu tetapkan, dan hal hal yang tidak layak diterima.
Salah memilih pasangan hanya akan menentukan bagi kamu pasangan yang tepat.
Setiap kesalahan adalah pembelajaran. Sebab itu, jangan pernah berhenti belajar karena hidup tak akan pernah berhenti mengajar.
Salam damai Natal, dan selamat menyongsong tahun baru. Good Luck...
©2019 Jurnal Beta


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar di sini