![]() |
| Referensi Foto: Pinterest.com |
Setiap kali saya menulis artikel tentang pernikahan, pasti saja status saya yang masih high quality jomblo ini menjadi sorotan.
Memang, saya tidak menikah__bukan karena tidak tertarik dengan komitmen perkawinan yang menurut saya lebih menyerupai penjara untuk sesuatu yang disebut kebebasan , tapi mungkin nanti.....
Intinya adalah bahwa, kita tidak akan pernah mengenali wajah kita sendiri kalau tanpa bantuan cermin, dan tulisan tulisan saya bisa menyerupai cermin yang mungkin dapat "sedikit" membantu kamu mengoreksi dan belajar.
Intinya adalah bahwa, kita tidak akan pernah mengenali wajah kita sendiri kalau tanpa bantuan cermin, dan tulisan tulisan saya bisa menyerupai cermin yang mungkin dapat "sedikit" membantu kamu mengoreksi dan belajar.
Well, lupakan status penulis, dan mari kita membahas lebih spesifik tentang apa saja batasan diri dan seberapa penting membangun batasan untuk diri sebelum menikah.
Banyak pasangan menikah yang ketika terjadi konflik, masa lalu pasangan dijadikan senjata yang mematikan, yang mengakibatkan hak hak hidup, tak terkecuali kebahagiaan pasangannya tersebut serta merta mati terbunuh.
Hal ini bisa saja terjadi kepadamu kelak apabila sebelum menikah, kamu lalai dan tidak cermat membangun batasan batasan diri yang merupakan struktur pendukung ketika menjalani kehidupan pernikahan.
Di sini saya akan mengilustrasikan batasan batasan diri yang dimaksud sebagai pintu dan dinding kamar tidur kamu.
Pintu dan dinding/tembok adalah struktur yang melindungi harta benda, tempat tidur, dan yang lebih utama adalah kenyamanan kamu.
Pada saat hari siang, kamu merasa bebas melakukan apa saja tanpa merasa kuatir terhadap ancaman. Namun ketika tiba waktu malam, kamu akan sangat membutuhkan pintu dan dinding yang membuat kamu merasa terlindung.
Begitu juga dengan pernikahan.
Memiliki hubungan yang sehat dan nyaman, serta menjalani kehidupan pernikahan yang hebat tergantung sepenuhnya dari ada atau tidaknya struktur yang mendukungnya.
Struktur berupa pintu dan tembok adalah batasan batasan diri yang harus kamu bangun sebelum tiba waktu malam (pernikahan).
Jadi, berikut ini ada beberapa batasan diri yang mesti kamu bangun sebelum menikah.
#Menjaga kehormatan
Orang orang akan memperlakukan kamu sesuai standar nilai yang kamu sendiri sematkan pada pribadimu.
Jika kamu memperlakukan dirimu dengan buruk, orang lain juga akan memperlakukan kamu sedemikian rupa, atau bahkan lebih buruk dari itu.
Kehormatan, atau apa pun yang berkaitan dengan harga dirimu adalah sesuatu yang mesti kamu junjung tinggi dalam bersosialisasi dengan orang lain.
Menjaga kehormatan adalah salah satu perihal batas batas diri, yang berarti kamu tidak akan berkompromi dengan hal hal, atau orang orang yang berpotensi melecehkan harga dirimu.
Cara kamu merespons perilaku seseorang terhadap kamu adalah cara kamu mengajar mereka untuk memperlakukan kamu.
Ingat lah bahwa CEO hidup kamu adalah kamu sendiri.
Struktur berupa pintu dan tembok adalah batasan batasan diri yang harus kamu bangun sebelum tiba waktu malam (pernikahan).
Jadi, berikut ini ada beberapa batasan diri yang mesti kamu bangun sebelum menikah.
#Menjaga kehormatan
Orang orang akan memperlakukan kamu sesuai standar nilai yang kamu sendiri sematkan pada pribadimu.
Jika kamu memperlakukan dirimu dengan buruk, orang lain juga akan memperlakukan kamu sedemikian rupa, atau bahkan lebih buruk dari itu.
Kehormatan, atau apa pun yang berkaitan dengan harga dirimu adalah sesuatu yang mesti kamu junjung tinggi dalam bersosialisasi dengan orang lain.
Menjaga kehormatan adalah salah satu perihal batas batas diri, yang berarti kamu tidak akan berkompromi dengan hal hal, atau orang orang yang berpotensi melecehkan harga dirimu.
Cara kamu merespons perilaku seseorang terhadap kamu adalah cara kamu mengajar mereka untuk memperlakukan kamu.
Ingat lah bahwa CEO hidup kamu adalah kamu sendiri.
#Tidak berkompromi dengan ketidak-jujuran
Beberapa orang dengan alasan tertentu, selalu bersedia memaafkan kesalahan orang lain, meskipun maaf itu ditujukan untuk satu kesalahan yang terulang terus menerus.
Menjadi pemaaf itu sesuatu yang baik. Namun memaafkan tanpa melihat konteks kesalahan seseorang, apa lagi berkali kali memaafkan kesalahan yang sama, bisa jadi kamu akan menjadi seseorang yang selalu dijadikan objek permainan.
Sebab itu, se'berarti apa pun seseorang bagi kamu, jangan memberi peluang ketiga dan seterusnya terhadap ketidak-jujuran mereka.
Kamu harus memiliki batas diri, dan hal itu harus dilatih semasa kamu sendiri.
#Membatasi keinginan
Beberapa orang memiliki impian yang sangat tinggi, sehingga mereka selalu tidak merasa puas dengan apa yang sudah dimiliki.
Memiliki impian setinggi apa pun itu, merupakan hal yang normal. Akan tetapi, jika kamu tidak mampu membatasi keinginan, bermakna kamu akan sulit untuk menemukan kebahagiaan.
Setiap orang tentu menginginkan kebahagiaan dalam hidup, apa lagi hal itu terkait kehidupan dalam suatu ikatan pernikahan.
Kemampuan membatasi keinginan dari hal hal yang mungkin saja di luar batas kemampuan adalah salah satu elemen penting kehidupan yang tenteram dan bahagia.
#Menjaga nama baik
Nama baik lebih berharga dari emas permata; Penggalan lirik salah satu lagu lawas yang sangat mengena akan betapa pentingnya menjaga nama baik.
Semasa hidup, mendiang ayah saya berulang kali memperingatkan kami anak anaknya, agar jangan sampai predikat atau cap pembohong, suanggi, dan pencuri melekat pada diri kami. Sebab jika pada pribadi seseorang sudah terlanjur menempel salah satu cap tersebut, seribu kali seseorang itu bertobat pun di benak orang lain, ia masih saja seorang pencuri atau suanggi (santet) yang harus diwaspadai. Ia masih seorang pembohong yang tidak boleh dipercaya omongan-nya, dll.
Sama halnya jika semasa muda, kamu membiarkan dirimu bebas tanpa batasan dalam pergaulan dan kelakuan diri yang berpotensi mencemarkan nama baik kamu sendiri.
Jadi, baik atau jeleknya nama kita, hal itu merupakan standar nilai bagi pandangan, asumsi, dan opini orang lain terhadap kita. Dan apa bila orang lain itu adalah pasangan kamu sendiri, syukur syukur kalau namamu tidak pernah cacat, atau setidaknya dia pengertian, tetapi jika tidak demikian, maka itu bisa saja menimbulkan bencana.
Beberapa orang dengan alasan tertentu, selalu bersedia memaafkan kesalahan orang lain, meskipun maaf itu ditujukan untuk satu kesalahan yang terulang terus menerus.
Menjadi pemaaf itu sesuatu yang baik. Namun memaafkan tanpa melihat konteks kesalahan seseorang, apa lagi berkali kali memaafkan kesalahan yang sama, bisa jadi kamu akan menjadi seseorang yang selalu dijadikan objek permainan.
Sebab itu, se'berarti apa pun seseorang bagi kamu, jangan memberi peluang ketiga dan seterusnya terhadap ketidak-jujuran mereka.
Kamu harus memiliki batas diri, dan hal itu harus dilatih semasa kamu sendiri.
#Membatasi keinginan
Beberapa orang memiliki impian yang sangat tinggi, sehingga mereka selalu tidak merasa puas dengan apa yang sudah dimiliki.
Memiliki impian setinggi apa pun itu, merupakan hal yang normal. Akan tetapi, jika kamu tidak mampu membatasi keinginan, bermakna kamu akan sulit untuk menemukan kebahagiaan.
Setiap orang tentu menginginkan kebahagiaan dalam hidup, apa lagi hal itu terkait kehidupan dalam suatu ikatan pernikahan.
Kemampuan membatasi keinginan dari hal hal yang mungkin saja di luar batas kemampuan adalah salah satu elemen penting kehidupan yang tenteram dan bahagia.
#Menjaga nama baik
Nama baik lebih berharga dari emas permata; Penggalan lirik salah satu lagu lawas yang sangat mengena akan betapa pentingnya menjaga nama baik.
Semasa hidup, mendiang ayah saya berulang kali memperingatkan kami anak anaknya, agar jangan sampai predikat atau cap pembohong, suanggi, dan pencuri melekat pada diri kami. Sebab jika pada pribadi seseorang sudah terlanjur menempel salah satu cap tersebut, seribu kali seseorang itu bertobat pun di benak orang lain, ia masih saja seorang pencuri atau suanggi (santet) yang harus diwaspadai. Ia masih seorang pembohong yang tidak boleh dipercaya omongan-nya, dll.
Sama halnya jika semasa muda, kamu membiarkan dirimu bebas tanpa batasan dalam pergaulan dan kelakuan diri yang berpotensi mencemarkan nama baik kamu sendiri.
Jadi, baik atau jeleknya nama kita, hal itu merupakan standar nilai bagi pandangan, asumsi, dan opini orang lain terhadap kita. Dan apa bila orang lain itu adalah pasangan kamu sendiri, syukur syukur kalau namamu tidak pernah cacat, atau setidaknya dia pengertian, tetapi jika tidak demikian, maka itu bisa saja menimbulkan bencana.
©2019 Jurnal Beta


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar di sini