![]() |
| kapanlagi.com |
Jika yang kamu ketahui tentang munculnya fenomena cinta jarak jauh, atau yang lebih dikenal dengan sebutan LDR (Long Distance Relationship), bermula semenjak adanya media sosial facebook, kamu keliru. LDR sudah lebih dahulu ada jauh sebelum era digital.
Muda mudi pada zaman sebelum generasi saya (70an - 80an), sangat terbatas dalam komunakasi jarak jauh. Namun, berkat kreativitas media masa pada waktu itu, mereka akhirnya bisa mengalihkan perhatian dari gadis/jejaka tetangga dan sekitar kampung tempat tinggalnya, seiring koran memperkenalkan korespondensi, sebagai perantara muda mudi untuk saling mengenal dan manjalin relasi spesial dengan muda mudi lain yang bahkan berjarak ribuan kilometer jauhnya.
Korespondensi bisa dibilang media sosial satu satunya anak muda generasi 70an hingga tahun 80an.
Proses terjalinnya hubungan jarak jauh versi korespondensi ini, terbilang sangat mudah.
Pada masa itu, setiap koran atau surat kabar, menyediakan 1 kolom khusus untuk para koresponden.
Mekanismenya mirip dengan situs situs pencari jodoh di internet.
Jika seorang pria atau wanita muda yang ingin menemukan pasangan korespondensi dengan pria atau wanita di daerah lain, ia akan mengrimkan biodata pribadi(umur, agama, tinggi badan, warna kulit, dll), disertai alamat rumah, dan dilengkapi dengan selembar foto berukuran 3x4 kepada koran yang terbit di daerah tujuannya itu.
Setelah di terima, pihak media (koran) akan memasang foto serta biodata koresponden tersebut pada kolom khusus yang sudah disediakan, dan akan diterbitkan pada hari berikutnya.
Selanjutnya, tergantung selera pembaca pada kawasan koran tersebut beredar. Para bujangan yang membeli koran, sudah pasti tujuan mereka hanya satu; melihat, meneliti, dan menelusuri nama, alamat, dan biodata setiap foto yang terpampang pada kolom korespondensi. Dan tentunya, pena dan secarik kertas sudah standby di tangan untuk mencatat alamat dari sang pemilik foto pilihannya.
Untuk seterusnya, pak pos (giro) yang kewalahan.😃
Konten surat pertama mungkin hanya membahas seputar perkenalan. Kemudian dilanjanjutkan dengan surat kiriman kedua yang dilengkapi dengan selembar foto dari si pengirim.
Pada tahap ini, suasana hati si pengirim seakan akan sedang berada di hadapan pasukan eksekuti mati; resah dan gelisah tak bertepi menanti balasan.
Jika dibalas, pertanda YA, namun bila menunggu 5 sampai 6 bulan tak kunnjung datang balasan, maka, andai saya di posisi si pengirim ini, saya akan menghabiskan beberapa botol miras untuk mengobati rasa kecewa.
Terkait korespondensi ini, sama halnya kita sedang berbicara tentang surat - menyurat.
Mungkin secara spesifik mengarah pada surat menyurat cinta apabila pasangan korespondensi ini saling berbalas surat, semakin akrab dan hubungan itu semakin intim.
Di zaman saya, tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang lebih mendebarkan daripada ketika membaca surat cinta.
Kamu tidak akan merasakan debaran hati serupa ini ketika berkenalan dengan seseorang di media chatting mana pun di zaman ini.
Jika dibandingkan antara LDR zaman old dan zaman now, kita akan menemukan perbedaan yang sangat kontras.
Saling berkirim surat antara para koresponden tidak sembarangan seperti kamu menulis pesan melalui sms, mesenger, atau pun whatsapp dll.
Ironisnya, kamu bisa saja terus menjalin hubungan setelah saling mencaci maki di sms, saling mengancam di mesenger, atau berbalas emoji marah di whatsapp. Kamu terkadang marah marah, sampai ada yang membanting ponselnya hanya karena balasan chat telat 5 menit.
Tetapi lain budayanya dengan korespondensi. Mereka bisa sabar menunggu balasan suratnya hingga berbulan bulan, bahkan tahun.
Mereka (para koresponden) akan menghabiskan waktu berhari hari untuk menulis sebuah surat.
Dalam menulis pun dilakukan dengan sangat berhati hati. Bahkan kata demi kata, paragraf demi paragraf, tidak akan luput dari penelitian berulang kali.
Mereka umumnya memilih kata kata yang sarat dengan makna cinta dan rasa penghargaan yang tinggi terhadap pasangannya melalui sanjungan yang puitis dan romantis, serta tentunya santun dan berwibawa.
Menurut cerita yang saya pernah dengar dari beberapa orang tua mantan koresponden, mengisahkan bahwa, tidak sedikit yang mengalami kegagalan, tetapi sebagian pasangan akhirnya ketemu dan menikah. Mungkin saat ini pasangan pasangan koresponden sukses ini sudah berstatus kakek-nenek.
Inilah korespondensi; LDR zaman dulu yang romantisnya santun dan berwibawa. Jika kamu masih bingung, bertanyalah kepada opa-oma atau kakek-nenek-mu tentang korespondensi.
©2020 Elangmutis.com


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar di sini