Pada zaman dahulu, memiliki banyak anak merupakan suatu jaminan tersendiri ketika nanti memasuki usia tua. Namun lain dulu, lain sekarang.
Di masa sekarang, punya anak atau tidak, tetap saja kamu akan kesepian di masa tua.
Tulisan ini bisa membuktikan fakta yang banyak orang tidak sadari, tentang realita kehidupan orang orang tua yang sementara menjalani hari hari terakhir mereka.
Modernisasi mempengaruhi orang orang menjadi semakin egois, bahkan terhadap orang tua mereka sendiri.
Egois, mungkin kata yang kedengaran sedikit berlebihan, tetapi secara logika, kita adalah anak anak yang hidup di zaman di mana ego menjadi salah satu kebutuhan terpenting.
Sementara ego memotivasi kita mengejar hal hal yang kita sebut cita cita, angan, atau impian masa depan, mereka perlahan lahan dibantai kesepian.
Saya pernah membaca kisah curahan hati seorang wanita tua yang berusia kira kira 70an tahun.
Namanya nenek Laura.
Ia ditinggal mati suami dan anaknya semata wayang, akibat penyakit leukemia. Lantas ia tinggal sebatang kara di rumah mewanya, ditemani kesunyian bertahun tahun hingga akhir hidupnya.
Karena tidak ada seorang pun yang sudi menjadi teman bicara, nenek Laura memilih untuk tidak menguburkan mayat suaminya. Dengan begitu, ia bisa memiliki teman ngobrol.
Di akhir kisahnya, nenek Laura mengatakan; " seandainya harta yang saya miliki dapat ditukar dengan teman bicara, atau bisa mengembalikan nyawa suami dan anak saya, maka saya akan melakukannya dengan senang hati."
Sama halnya dengan nenek Laura yang tinggal di rumah mewah, bahkan ia barharap, seandainya bisa, ia ingin menukar harta miliknya untuk mendapatkan teman bicara.
Orang tua kita pun sebenarnya tidak terlalu membutuhkan uang dan materi, tetapi teman bicara.
Ironisnya, jika nenek Laura ditinggal mati suami dan anaknya, orang tua kita justru ditinggal pergi anaknya demi alasan impian masa depan; Dilupakan anak anaknya karena kesibukan mengurus suami/ istri dan anak anak mereka, dll.
Kesepian adalah suatu hal yang paling ditakuti semua orang, tak terkecuali orang tua kita. Dan kemungkinan, separuh dari penyebab kematian mereka adalah "dibunuh" oleh rasa sepi yang mendalam.
Saya pernah membaca kisah curahan hati seorang wanita tua yang berusia kira kira 70an tahun.
Namanya nenek Laura.
Ia ditinggal mati suami dan anaknya semata wayang, akibat penyakit leukemia. Lantas ia tinggal sebatang kara di rumah mewanya, ditemani kesunyian bertahun tahun hingga akhir hidupnya.
Karena tidak ada seorang pun yang sudi menjadi teman bicara, nenek Laura memilih untuk tidak menguburkan mayat suaminya. Dengan begitu, ia bisa memiliki teman ngobrol.
Di akhir kisahnya, nenek Laura mengatakan; " seandainya harta yang saya miliki dapat ditukar dengan teman bicara, atau bisa mengembalikan nyawa suami dan anak saya, maka saya akan melakukannya dengan senang hati."
Sama halnya dengan nenek Laura yang tinggal di rumah mewah, bahkan ia barharap, seandainya bisa, ia ingin menukar harta miliknya untuk mendapatkan teman bicara.
Orang tua kita pun sebenarnya tidak terlalu membutuhkan uang dan materi, tetapi teman bicara.
Ironisnya, jika nenek Laura ditinggal mati suami dan anaknya, orang tua kita justru ditinggal pergi anaknya demi alasan impian masa depan; Dilupakan anak anaknya karena kesibukan mengurus suami/ istri dan anak anak mereka, dll.
Kesepian adalah suatu hal yang paling ditakuti semua orang, tak terkecuali orang tua kita. Dan kemungkinan, separuh dari penyebab kematian mereka adalah "dibunuh" oleh rasa sepi yang mendalam.
Ketika kita kehilangan mereka, adakalanya kita anak anak mulai mencari cari penyebab, dengan dalih bahwa mereka tidak kekurangan apa pun. Namun pada kenyataannya, kita tidak menyadari satu fakta yang perlahan lahan membunuh mereka dari dalam: Kesepian.
©2020 Jurnal Beta


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar di sini