![]() |
| dreamstime.com |
Perselingkuhan, antara pria dan wanita pada umumnya memiliki motif, konteks, serta ending yang berbeda.
Pria umumnya berselingkuh dengan 'matanya'. Sehingga sekalipun seberapa kuat hubungan dengan pasangan selingkuh-nya, pria tetap akan kembali.
Sementara wanita berselingkuh dengan 'hatinya'. Karena itu, ending-nya wanita akan pergi.
Secara realistis, yang kita ketahui terkait alasan orang berselingkuh adalah ketidak-puasan, atau perasaan tidak cukup seseorang dalam hal tertentu dari pasangannya.
Namun apa yang kamu ketahui dari seseorang yang berselingkuh, bahkan sementara berada dalam hubungan yang bahagia?
Saya akan mengulas alasannya secara singkat, padat, dan terperinci pada artikel ini...
Sebenarnya, setiap orang bisa menipu dengan "caranya sendiri", hanya saja mereka kesulitan menemukan cara untuk jujur.
Hal ini berlaku juga untuk seseorang yang melakukan kecurangan dalam hubungan. Mereka tentu memiliki alasan tersendiri, yang mana rasanya sulit untuk menjelaskannya secara terbuka terhadap pasangannya.
Baca juga: Jangan Selingkuh! Jika Tidak Lagi Merasa Bahagia, Tinggalkan.
Selingkuh bisa terjadi karena "orangnya" yang bermasalah.
Alasan umum penyebab orang berselingkuh selalu terkait hubungan yang bermasalah.
Ini sudah jadi alasan mainstream, dan tidak perlu dijelaskan lagi.
Akan tetapi penyebab lain yang jarang kita ketahui adalah jika yang bermasalah itu, orangnya.
Orang orang seperti ini akan menolak keras ketika diberi saran, bahkan melawan ketika mendapat teguran.
Karena motivasi perselingkuhan mereka itu datang dari dalam dirinya, bukan faktor eksternal apa pun.
Sehingga mereka akan mati-matian mempertahankan diri, dan apa yang menurut mereka benar.
Alasan ketidak-setiaan dari orang orang bermasalah ini biasanya bervariasi satu dengan lainnya.
Mungkin ulasan berikut ini, bisa menggambarkan sedikit lebih jelas alasan , atau bisa dibilang persepsi yang menjadi konteks kecurangan mereka dalam hubungan.
Kebebasan.
Beberapa orang yang sangat mengagumi konsep "kebebasan", akan terlalu sulit bagi mereka untuk beradaptasi dengan komitmen yang intinya mengharuskan mereka menetap hanya dengan satu.
Se'romantis, atau se'bahagia apa pun yang mereka dapatkan dalam hubungan, tak tertutup kemungkinan, sewaktu waktu mereka akan mengintip 'keluar', lantas mencari petualangan 'sampingan' baru.
Kebiasaan
Dari modernisasi, kita kembali kepada apa yang nenek moyang kita yakini kebenarannya; Mitos....
Mitos yang paling sering kita dengar dalam kasus ini adalah, "sekali selingkuh, akan selingkuh lagi".
Meskipun diragukan kebenarannya, tetapi karena motivasi setiap pasangan selingkuh tidak sama, maka mitos tentang kebiasaan ini pun perlu kita pertimbangkan keabsahan-nya.
Kebiasaan seseorang menentukan karakternya.
Ketika karakter aslinya tidak merasa nyaman, bahkan sementara dalam hubungan yang bahagia, ia akan mencoba memuaskan hasratnya dengan cara; kembali melakukan kebiasaannya.
Keturunan
Pepatah lama yang paling mengena untuk orang bermasalah tipe ini adalah, "buah jatuh tidak akan jauh dari pohon".
Namun terkait pepatah ini, kita tidak boleh tebang sapu rata, sebab tidak semua orang yang datang dari keluarga jago selingkuh, akan melanjutkan tradisi keluarganya, yang sebenarnya merupakan faktor penyebab trauma.
Meski tidak semuanya, tetapi fakta yang sering saya lihat dari beberapa orang tua bermasalah, cenderung menurunkan tabiat buruk mereka kepada salah satu atau beberapa anaknya.
Itulah sebabnya, setiap kali memilih pasangan, harus adanya suatu 'riset' khusus terkait bibit,bobot, dan bebet orang yang akan dijadikan pilihan.
.....Tak selamanya selingkuh itu indah....
atau apa menurut-mu?
Tinggalkan komentar.
Namun apa yang kamu ketahui dari seseorang yang berselingkuh, bahkan sementara berada dalam hubungan yang bahagia?
Saya akan mengulas alasannya secara singkat, padat, dan terperinci pada artikel ini...
Sebenarnya, setiap orang bisa menipu dengan "caranya sendiri", hanya saja mereka kesulitan menemukan cara untuk jujur.
Hal ini berlaku juga untuk seseorang yang melakukan kecurangan dalam hubungan. Mereka tentu memiliki alasan tersendiri, yang mana rasanya sulit untuk menjelaskannya secara terbuka terhadap pasangannya.
Baca juga: Jangan Selingkuh! Jika Tidak Lagi Merasa Bahagia, Tinggalkan.
Selingkuh bisa terjadi karena "orangnya" yang bermasalah.
Alasan umum penyebab orang berselingkuh selalu terkait hubungan yang bermasalah.
Ini sudah jadi alasan mainstream, dan tidak perlu dijelaskan lagi.
Akan tetapi penyebab lain yang jarang kita ketahui adalah jika yang bermasalah itu, orangnya.
Orang orang seperti ini akan menolak keras ketika diberi saran, bahkan melawan ketika mendapat teguran.
Karena motivasi perselingkuhan mereka itu datang dari dalam dirinya, bukan faktor eksternal apa pun.
Sehingga mereka akan mati-matian mempertahankan diri, dan apa yang menurut mereka benar.
Alasan ketidak-setiaan dari orang orang bermasalah ini biasanya bervariasi satu dengan lainnya.
Mungkin ulasan berikut ini, bisa menggambarkan sedikit lebih jelas alasan , atau bisa dibilang persepsi yang menjadi konteks kecurangan mereka dalam hubungan.
Kebebasan.
Beberapa orang yang sangat mengagumi konsep "kebebasan", akan terlalu sulit bagi mereka untuk beradaptasi dengan komitmen yang intinya mengharuskan mereka menetap hanya dengan satu.
Se'romantis, atau se'bahagia apa pun yang mereka dapatkan dalam hubungan, tak tertutup kemungkinan, sewaktu waktu mereka akan mengintip 'keluar', lantas mencari petualangan 'sampingan' baru.
Kebiasaan
Dari modernisasi, kita kembali kepada apa yang nenek moyang kita yakini kebenarannya; Mitos....
Mitos yang paling sering kita dengar dalam kasus ini adalah, "sekali selingkuh, akan selingkuh lagi".
Meskipun diragukan kebenarannya, tetapi karena motivasi setiap pasangan selingkuh tidak sama, maka mitos tentang kebiasaan ini pun perlu kita pertimbangkan keabsahan-nya.
Kebiasaan seseorang menentukan karakternya.
Ketika karakter aslinya tidak merasa nyaman, bahkan sementara dalam hubungan yang bahagia, ia akan mencoba memuaskan hasratnya dengan cara; kembali melakukan kebiasaannya.
Keturunan
Pepatah lama yang paling mengena untuk orang bermasalah tipe ini adalah, "buah jatuh tidak akan jauh dari pohon".
Namun terkait pepatah ini, kita tidak boleh tebang sapu rata, sebab tidak semua orang yang datang dari keluarga jago selingkuh, akan melanjutkan tradisi keluarganya, yang sebenarnya merupakan faktor penyebab trauma.
Meski tidak semuanya, tetapi fakta yang sering saya lihat dari beberapa orang tua bermasalah, cenderung menurunkan tabiat buruk mereka kepada salah satu atau beberapa anaknya.
Itulah sebabnya, setiap kali memilih pasangan, harus adanya suatu 'riset' khusus terkait bibit,bobot, dan bebet orang yang akan dijadikan pilihan.
.....Tak selamanya selingkuh itu indah....
atau apa menurut-mu?
Tinggalkan komentar.
©2020 Jurnal Beta


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar di sini