Tanpa kedekatan emosional antara guru dan murid, pendidikan tidak akan berhasil maksimal.
Guru mempunyai beberapa tugas pokok, tetapi di sini saya lebih memilih 2 tugas utama seorang guru sebagai referensi tulisan ini, yakni mendidik dan mengajar.
Secara pribadi, esensi mengajar menurut saya bertujuan untuk menjadikan murid pintar, sedangkan tujuan mendidik adalah untuk membentuk karakter, adab, dan moral murid menjadi lebih baik, lebih santun, dan berwibawa.
Kepintaran atau prestasi, tidak selalu ekuivalen dengan adab seseorang. Sehingga, hampir semua guru berhasil dalam mengajar, namun sayang, tidak sedikit dari mereka, gagal dalam mendidik.
Secara pribadi, esensi mengajar menurut saya bertujuan untuk menjadikan murid pintar, sedangkan tujuan mendidik adalah untuk membentuk karakter, adab, dan moral murid menjadi lebih baik, lebih santun, dan berwibawa.
Kepintaran atau prestasi, tidak selalu ekuivalen dengan adab seseorang. Sehingga, hampir semua guru berhasil dalam mengajar, namun sayang, tidak sedikit dari mereka, gagal dalam mendidik.
Saya mengamati dalam beberapa tahun terakhir, adab para pelajar kita hampir sama bobroknya.
Fenomena ini menandakan bahwa guru guru kita lebih fokus kepada kepintaran dan prestasi [mengajar] , dari pada serius membentuk karakter dan adab murid [mendidik].
Maksimal atau tidaknya seorang guru menjalankan tugasnya, ditentukan oleh kualitas, serta nilai moral atau etika anak anak didik-nya di dalam bermasyarakat.
Adab dan karakter murid tidak semestinya disandarkan pada guru PKN dan Agama. Sebab, akan sama saja tidak berhasil maksimal apabila para guru tersebut hanya mementingkan nilai di atas kertas.
Banyak guru, entah itu pada zaman saya, dan mungkin juga pada zaman sekarang, terkesan membiarkan 'liar' perilaku anak muridnya, selama anak tersebut pintar di dalam kelas. Sementara murid yang bodoh, bahkan namanya saja pun hampir tidak dikenal.
Ketimpangan dalam mengajar dan mendidik tersebut dikarenakan adanya jarak pemisah antara guru dan murid, dan hal ini hampir tidak disadari oleh sebagian besar guru.
Karena pada intinya, guru seharusnya bukan orang lain. Guru dan murid muridnya semestinya memiliki kedekatan emosional layaknya seorang ibu kepada anak anaknya.
Sehingga dalam implementasinya, guru bukan hanya mengajar muridnya menjadi pintar, tetapi juga peduli terhadap perkembangan karakter dan adab anak didik-nya.
Selam guru menjadi orang lain, tidak akan ada prestasi, dan yang lebih memprihatinkan adalah adab serta karakter manusia kita dari generasi ke generasi bisa saja akan semakin buruk.
Karena itu, guru seharusnya adalah ayah dan ibu kandung muridnya, dan bukan orang lain.
Fenomena ini menandakan bahwa guru guru kita lebih fokus kepada kepintaran dan prestasi [mengajar] , dari pada serius membentuk karakter dan adab murid [mendidik].
Maksimal atau tidaknya seorang guru menjalankan tugasnya, ditentukan oleh kualitas, serta nilai moral atau etika anak anak didik-nya di dalam bermasyarakat.
Adab dan karakter murid tidak semestinya disandarkan pada guru PKN dan Agama. Sebab, akan sama saja tidak berhasil maksimal apabila para guru tersebut hanya mementingkan nilai di atas kertas.
Banyak guru, entah itu pada zaman saya, dan mungkin juga pada zaman sekarang, terkesan membiarkan 'liar' perilaku anak muridnya, selama anak tersebut pintar di dalam kelas. Sementara murid yang bodoh, bahkan namanya saja pun hampir tidak dikenal.
Ketimpangan dalam mengajar dan mendidik tersebut dikarenakan adanya jarak pemisah antara guru dan murid, dan hal ini hampir tidak disadari oleh sebagian besar guru.
Karena pada intinya, guru seharusnya bukan orang lain. Guru dan murid muridnya semestinya memiliki kedekatan emosional layaknya seorang ibu kepada anak anaknya.
Sehingga dalam implementasinya, guru bukan hanya mengajar muridnya menjadi pintar, tetapi juga peduli terhadap perkembangan karakter dan adab anak didik-nya.
Selam guru menjadi orang lain, tidak akan ada prestasi, dan yang lebih memprihatinkan adalah adab serta karakter manusia kita dari generasi ke generasi bisa saja akan semakin buruk.
Karena itu, guru seharusnya adalah ayah dan ibu kandung muridnya, dan bukan orang lain.
©2020 Elangmutis.com


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar di sini